Tanggal 20 Mei setahun yang lalu, beberapa teman dan teman dari
teman berkumpul di rumah di sebuah kompleks perumahan di daerah Cinere. Saat
itu kami berkumpul dengan niat untuk berbagi apa yang menjadi minat kami: buku,
hobi, pengalaman menyenangkan.
Sesederhana itu.
Niat membentuk sebuah klub buku dalam maknanya yang paling serius
tak pernah ada dalam benak saya. Membuat sebuah kumpulan para penikmat buku
dalam makna yang paling sederhana saja yang membuat kumpul-kumpul sambil
cemal-cemil akhirnya berwujud sebuah klub buku.
Waktu berjalan dan pertemuan demi pertemuan terjadi berkat
pertemanan yang menyenangkan. Berkat Lis Indriasti, praktisi pendidikan, yang menggiring teman-teman gurunya. Berkat
Elisabet Tata yang membawa pergaulan luasnya di dunia buku, penerbitan, dan
sejenisnya, karena profesinya sebagai jurnalis.
Lalu kami mulai sering menyebut klub buku kami ini sebagai klub
buku kita. Kita adalah semua yang merasa berkait dengan klub ini. Pada hakekatnya ada kebebasan untuk
“ngaku-ngaku” sebagai anggota klub ini. Tak masalah buat kami karena pada
hakekatnya juga kami ada untuk memberi arti bagi semua yang mencari arti
kedekatan, keakraban, pencarian akar, penerimaan diri, dan apa pun arti dari proses
keluar dari rasa -katakanlah- apa pun.
Jika sebagian besar klub buku “serius” berkesan menyeramkan bagi
sebagian pemula, maka klub ini menjadi semacam batu loncatan uji nyali buat
para pencari makna “apa itu mencintai buku dan mengapa buku itu jendela hati
sekaligus jendela dunia”.
Tak ada tuntutan apa pun, kecuali kerendah-hatian untuk mau
berbagi dan mendengarkan sesama. Nyali hanya diuji dengan keberanian mendengar
isi buku yang sedang diceritakan ulang oleh para anggotanya. Banyak yang berisi
kemirisan hidup yang selama ini kita hindari untuk dibaca karena bukan dari
kisah yang menjadi favorit kita.
Kerendah-hatian juga disyaratkan karena hanya dengan sikap itulah
menimba ilmu (atau dalam istilah Jawa disebut ngangsu kawruh) bisa mencapai
esensinya.
Beberapa pertemuan klub ini memang menjadi seperti berguru pada
ahlinya, karena dari lima kali pertemuan, kami telah beruntung mendapat tiga
kali pertemuan dengan para narasumber yang mengagumkan.
Setahun berlalu, banyak yang masihmenjadi pertanyaan mengenai apa
yang dicari dari kumpulan penikmat buku ini. Klub buku ini masih berupa, dan
mungkin akan selamanya, menjadi klub buku tersantai yang pernah terbentuk.
Untuk itu, saya secara pribadi harus meminta maaf pada
Elisabet Tata, yang sungguh saya kagumi
tulisan-tulisannya, karena saya tak bisa mendekati standar dari kualitas
penulisan yang dimilikinya. Untuk ini, dia tahu apa yang saya maksudkan. Tugas
menulis resensi tak pernah saya tuntaskan. Kebaikan hatinya lah yang membuat
saya harus berterimakasih karena blog Klub Buku Kita (KBK), yang akhirnya
menjadi nama resmi kumpulan penikmat buku ini, bisa dilahirkan dengan selamat.
Terimakasih khusus juga untuk para guru terhebat Lis dan Nuris
yang menjadi penggerak KBK tersetia. (Lisa S. untuk setahun KBK
yang tercinta)
Pertemuan KBK yang pertama 20 Mei 2012
