Monday, May 20, 2013

Satu Tahun Klub Buku Kita

Oleh: Lisa Soeranto


Tanggal 20 Mei setahun yang lalu, beberapa teman dan teman dari teman berkumpul di rumah di sebuah kompleks perumahan di daerah Cinere. Saat itu kami berkumpul dengan niat untuk berbagi apa yang menjadi minat kami: buku, hobi, pengalaman menyenangkan. 

Sesederhana itu.

Niat membentuk sebuah klub buku dalam maknanya yang paling serius tak pernah ada dalam benak saya. Membuat sebuah kumpulan para penikmat buku dalam makna yang paling sederhana saja yang membuat kumpul-kumpul sambil cemal-cemil akhirnya berwujud sebuah klub buku.

Waktu berjalan dan pertemuan demi pertemuan terjadi berkat pertemanan yang menyenangkan. Berkat Lis Indriasti, praktisi pendidikan,  yang menggiring teman-teman gurunya. Berkat Elisabet Tata yang membawa pergaulan luasnya di dunia buku, penerbitan, dan sejenisnya, karena profesinya sebagai jurnalis.

Lalu kami mulai sering menyebut klub buku kami ini sebagai klub buku kita. Kita adalah semua yang merasa berkait dengan klub ini.  Pada hakekatnya ada kebebasan untuk “ngaku-ngaku” sebagai anggota klub ini. Tak masalah buat kami karena pada hakekatnya juga kami ada untuk memberi arti bagi semua yang mencari arti kedekatan, keakraban, pencarian akar, penerimaan diri, dan apa pun arti dari proses keluar dari rasa -katakanlah- apa pun.

Jika sebagian besar klub buku “serius” berkesan menyeramkan bagi sebagian pemula, maka klub ini menjadi semacam batu loncatan uji nyali buat para pencari makna “apa itu mencintai buku dan mengapa buku itu jendela hati sekaligus jendela dunia”.

Tak ada tuntutan apa pun, kecuali kerendah-hatian untuk mau berbagi dan mendengarkan sesama. Nyali hanya diuji dengan keberanian mendengar isi buku yang sedang diceritakan ulang oleh para anggotanya. Banyak yang berisi kemirisan hidup yang selama ini kita hindari untuk dibaca karena bukan dari kisah yang menjadi favorit kita.

Kerendah-hatian juga disyaratkan karena hanya dengan sikap itulah menimba ilmu (atau dalam istilah Jawa disebut ngangsu kawruh) bisa mencapai esensinya. 

Beberapa pertemuan klub ini memang menjadi seperti berguru pada ahlinya, karena dari lima kali pertemuan, kami telah beruntung mendapat tiga kali pertemuan dengan para narasumber yang mengagumkan.

Setahun berlalu, banyak yang masihmenjadi pertanyaan mengenai apa yang dicari dari kumpulan penikmat buku ini. Klub buku ini masih berupa, dan mungkin akan selamanya, menjadi klub buku tersantai yang pernah terbentuk.

Untuk itu, saya secara pribadi harus meminta maaf pada Elisabet  Tata, yang sungguh saya kagumi tulisan-tulisannya, karena saya tak bisa mendekati standar dari kualitas penulisan yang dimilikinya. Untuk ini, dia tahu apa yang saya maksudkan. Tugas menulis resensi tak pernah saya tuntaskan. Kebaikan hatinya lah yang membuat saya harus berterimakasih karena blog Klub Buku Kita (KBK), yang akhirnya menjadi nama resmi kumpulan penikmat buku ini, bisa dilahirkan dengan selamat.

Terimakasih khusus juga untuk para guru terhebat Lis dan Nuris yang menjadi penggerak KBK tersetia. (Lisa S. untuk  setahun KBK yang tercinta)

Pertemuan KBK yang pertama 20 Mei 2012