Showing posts with label Buku dan Pengarang. Show all posts
Showing posts with label Buku dan Pengarang. Show all posts

Monday, May 23, 2016

Kekuatan Bubuk Kentut

Oleh: Elisabet Tata



Judul Buku : Doctor’s Proctors Fart Powder
Judul Asli: Doktor Proktors Prompepulver 
Penulis : Jo Nesbo
Ilustrator : Mike Lowery
Penerbit : Alladin - Divisi Anak Penerbit Simon & Schuster, 2010
Penerjemah : Tiara Chaez dari bahasa Norwegia
Tebal Buku : 265 halaman





Bagi kami sekeluarga, pameran buku Big Bad Wolf di Serpong menjadi kebahagiaan tersendiri. Betapa tidak, lokasinya dekat dan mudah dijangkau dari rumah. Kemudahan itu membuat kami bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk berkunjung. Dua kali saya ke sana dan tidak menemui kendala yang berarti (baca: antrian panjang atau berdesakan).

Satu-satunya kendala adalah keterbatasan dana. Kok yaaa...pameran buku itu pas dengan rusaknya beberapa benda yang mendukung rumah tangga. Jadi, demi keberlangsungan kehidupan domestik, kami hanya membeli buku “secukupnya” saja. Keranjang penuh saat wira-wiri di antara tumpukan buku, dan tinggal separuhnya saat mendekati kasir.

Bisa ditebak, kebanyakan buku yang terbeli kemudian adalah buku anak. Orang tua terpaksa mengalah. Kami beruntung bisa mengoleksi dua karya Jo Nesbo (56th), penulis novel kriminal paling digemari di Norwegia yang kini merambah dunia anak.

Lisa, Nilly, dan Doktor Prokton
Salah satu karya Nesbo itu berjudul Doctor’s Proctors Fart Powder. Ini karya pertama Nesbo untuk anak-anak yang diterbitkan pada 2007 dan kemudian jadi serial. Tokohnya ada tiga, seorang anak laki-laki bernama Nilly, seorang anak perempuan bernama Lisa, dan Doktor Proctor. Nilly dan Lisa berumur 10 tahun. Lokasi cerita di Oslo yang disebut sebagai sebuah ibukota yang sangat kecil dari sebuah negara yang sangat kecil yaitu Norwegia.

Cerita bermula di Cannon Avenue, Oslo. Saat itu bulan Mei, tujuhbelas hari menjelang Hari Kemerdekaan Norwegia. Nilly yang baru saja pindah dan menempati rumah yang sebelumnya dihuni Anna, sahabat Lisa. Keramahan Nilly membuat Lisa tak kesepian lagi. Tak hanya itu, kepiawaian Nilly memainkan terompet memperkenalkannya pada Doktor Proctor.

Doktor Proctor seorang ilmuwan. Ia sering melakukan beragam eksperimen untuk menemukan sesuatu hal yang ia harap menjadi kebaikan bagi banyak orang. Sayang, eksperimen itu seringkali gagal.

Bubuk Kentut adalah salah satu temuan Doctor Proctor. Itu adalah temuan yang tidak disengaja. Alih-alih menemukan obat untuk mengatasi demam ia malah menemukan bubuk yang membuat seseorang buang angin tapi tak berbau sama sekali. Temuan lainnya adalah bubuk fosfor yang bisa membuat seseorang memancarkan cahaya hijau.

Ada dua macam bubuk kentut Doctor Proctor, satu adalah bubuk kentut yang menyebabkan seseorang kentut dengan kekuatan yang biasa saja. Yang lain adalah bubuk kentut dengan kekuatan luar biasa hingga mampu membuatmu melesat tinggi hingga keluar angkasa. Ia dinamakan Doctor’s Proctor Fartonout Powder.


Fartonout Powder membuat Nilly melesat keluar angkasa
Nilly, Lisa, dan Doctor Proctor berniat menjual bubuk kentut dengan kekuatan biasa saja ke anak-anak. Mereka yakin anak-anak menyukainya. Ya, siapa tak tertawa mendengar bunyi kentut, terlebih kentut tak bau – pasti akan menyenangkan.

Orang-orang menyukai suara ledakan - saat perayaan hari istimewa bunyi ledakan petasan terdengar dimana-mana. Saat itu adalah beberapa hari menjelang Hari Kemerdekaan Norwegia, bukankah itu saat yang tepat untuk menjual bubuk kentut? Alih-alih membunyikan petasan, orang-orang akan kentut beramai-ramai. Begitu pemikiran Nilly, Lisa, dan Doctor Proctor. Mereka semangat. Masing-masing punya harapan untuk apa uang yang diperoleh nanti.

Papan iklan bubuk kentut
Fartonout Powder tidak dijual bebas, tapi akan dijual ke NASA. Jika punya bubuk kentut itu, NASA tak perlu repot menghabiskan biaya untuk membuat roket. Seorang astronot cukup menelan satu sendok makan bubuk kentut dan ia akan melesat keluar angkasa.

Bubuk kentut ternyata laku keras pada penjualan pertama. Anak-anak menyukainya. Antrian panjang mengular di halaman rumah Doktor Procton. Mereka senang merasakan sensasi kentut dengan berbagai gaya dan bunyi.


Sayang rencana berikutnya tak sesuai harapan. Bubuk kentut dicuri dan Doktor Procton dilaporkan ke Polisi karena dianggap melakukan eksperimen yang membahayakan anak-anak. Nilly mengajukan diri untuk ditangkap dengan alasan ia yang membuat anak-anak menelan bubuk kentut demi menemani Doktor Procton. Mereka berdua di penjara bawah tanah.

Lisa tak masuk penjara, tapi bukan berarti ia diam saja. Lisa menyusun strategi untuk membalas si pencuri. Sementara itu Nilly yang cerdik mencari akal untuk kabur dari penjara.

Petualangan Lisa dan Nilly seru dan menegangkan. Jo Nesbo memang piawai merangkai cerita. Semua tokoh dan semua kejadian yang semula terlihat bagai potongan-potongan puzzle di awal cerita perlahan-lahan menyatu.

Sistem saluran pembuangan air atau dunia bawah tanah kota Oslo yang sejak awal digambarkan ganjil karena dihuni oleh ratus norvegicus (tikus Norwegia) dan seekor ular anakonda ternyata bukan sekedar bumbu cerita. Mereka menguatkan petualangan saat Nilly kabur dari penjara.


Nilly bertemu anakonda
Cerita diakhiri dengan tertangkapnya si pencuri bubuk kentut. Polisi akhirnya mendapat pemahaman tentang siapa sebenarnya yang salah. Pemerintah tidak lagi melihat bubuk kentut sebagai barang yang berbahaya. Mereka bahkan menggunakannya untuk memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan Norwegia sebagai pengganti hilangnya satu kotak bubuk mesiu yang diimpor dari China.

Untuk pertama kalinya, meriam-meriam tidak berbunyi saat perayaan Hari Kemerdekaan Norwegia. Sebagai gantinya tujuh orang penjaga Benteng Akershus, sebuah benteng yang dibangun pada abad 13 untuk melindungi Norwegia, berderet menungging. Bayangkan apa yang terjadi saat mereka menelan satu sendok bubuk kentut. Seru!

Tentang Penulis

    
Joe Nesbo
Saya baru pertama kali baca karya Jo Nesbo (56 tahun). Menemukan buku ini karena tertarik dengan tema kentut yang dipilih. Saat membaca ringkasannya pun tampaknya ini buku asyik dan seru. Pada baju buku bagian belakang – buku ini tercetak hard cover – tertulis Jo Nesbo is the most successful Norwegian author of all time. Karya-karyanya sudah diterjemahkan dalam 25 bahasa.

Nesbo lahir dari keluarga penggemar buku. Ibunya seorang pustakawan dan ayahnya rajin membacakan banyak buku untuk Nesbo. Sehingga masa kecil Nesbo dipenuhi beragam cerita.

Sebelum menjadi penulis novel kriminal, Nesbo pernah menjadi pemain sepakbola, pemusik, dan pialang saham. Tahun 1997 novel Nesbo pertama berjudul The Bat mendapat penghargaan Riverton Prize untuk novel kriminal terbaik Norwegia. Momen itu menyadarkan Nesbo. Karya-karyanya terus lahir sejak itu dan penghargaan-penghargaan berdatangan menguatkan keberadaannya sebagai penulis handal.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Nesbo dan karya-karyanya, sila klik situs resminya di sini. 

Serial Doctor Procton's Fart Powder

Sejak diterbitkan pertama kali di Norwegia hingga kini seri Doktor Procton sudah ada empat judul dan semuanya sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris yakni: Doctor’s Procton Fart Powder(2007), Doctor’s Procton Fart Powder: Bubble in the Bathub (2008), Doctor’s Procton Fart Powder: Who Cut the Cheese (2010), Doctor’s Procton Fart Powder: The Great Gold Robbery (2012).

Doctor’s Procton Fart Powder diangkat ke layar lebar sebagai film komedi pada 2014. Jika mau lihat cuplikannya bisa mengaksesnya di kanal Youtube di sini. Tapi menurut saya, lebih seru membaca bukunya ketimbang nonton filmnya.*

  















Tuesday, July 28, 2015

People of The Book karya Geraldine Brooks

*catatan: tulisan ini dibuat untuk merayakan  Ulang Tahun ke-3 Kabeka


Tahun 2015 ini, Kabeka menginjak usia tiga tahun. Di hari lahirnya tanggal 20 Mei kemarin, sayangnya Kabeka tidak sempat mengadakan temu darat: berkumpul di salah satu rumah anggota, saling berbagi cerita kegiatan dan hobi, berbagi isi buku yang tengah dibaca, dan tentu saja berbagi makanan murah sehat dan lokal.

Kesibukan masing-masing anggota adalah  yang paling mudah dijadikan alasan (terutama oleh saya, saya akui). Namun,  saya yakin bahwa masing-masing anggota –tentunya- pasti sadar sendiri-sendiri untuk tetap membaca buku yang digemarinya.

Secara pribadi, saya ingin berbagi cerita. Saya seperti biasa tak akan meresensi, tetapi hanya sekedar “curhat”  tentang apa yang saya dapatkan dari buku yang direkomendasikan Elisabeth Tata. Buku yang pernah diusulkannya untuk menjadi diskusi buku jika saja Kabeka siap (waktu dan tenaga) untuk bertemu darat. Sayangnya tak kesampaian.

People of The Book

Novel karya Geraldine Brooks ini, menurut saya, sungguh sebuah buku yang penting untuk dibaca oleh tiap bangsa Indonesia di saat Indonesia sedang banyak mengalami ujian keberagaman dan persatuan kebangsaan.

People of The Book edisi Bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia pada 2015
Menurut pandangan saya,  sekalipun ada seorang tokoh utama yang berperan yaitu DR. Hanna Heath, namun  novel yang mendapat inspirasi dari kisah nyata ini dan berlatar tempat di Eropa dan sekitarnya,  berpusat pada  sebuah buku yang sangat istimewa, yang menurut saya justru ia-lah yang menjadi tokoh sentralnya.  

Buku doa kuno agama Yahudi (haggadah)  yang dikenal sebagai haggadah Sarajevo itu banyak menimbulkan rasa penasaran dan spekulasi baik tentang keasliannya, keanehannya (karena menampilkan ilustrasi sebagaimana buku-buku doa kaum Kristen, sementara sebagaimana kita ketahui penggambaran dan ilustrasi adalah tabu dan “haram” menurut aturan agama Yahudi), maupun perjalanan “hidup”nya yang berpindah-pindah tangan (kepemilikan) dalam rentang  sekitar lima ratus tahun-- sebelum pada akhirnya ditemukan kembali dan dikembalikan pada negara yang paling berhak mewarisinya). 

Dalam salah satu bagian dalam novel tersebut, diungkapkan haggadah ini telah mengalami kisah pahit dan getir dan ia telah menceritakan kisahnya sendiri.

Penciptaan tokoh-tokoh lain dengan  karakter-karakter dengan kuat sangat membantu memberikan pemahaman betapa situasi politik dan sosial dari abad ke abad terus –menerus mengalami gejolak dan menguatkan kesan pertarungan antara yang baik dan yang jahat. Meskipun mana si baik dan mana si jahat, bisa menjadi perdebatan, tergantung di sisi mana pembaca berdiri.  

Di antara sekian banyak tokoh yang antagonis (anggota partai Nazi yang kejam, pendeta, rabi,dan ulama yang munafik,) ada kemunculan satu-dua tokoh protagonis yang sangat menyejukkan dan memberi rasa optimis bahwa dalam tiap masa selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang tulus dan berjiwa penolong tanpa pamrih. Brooks dengan sangat teliti mampu mengungkapkan dinamika psikologis dari tiap tokohnya. 

Geraldine Brooks
Tokoh antagonis di tangan Brooks bisa muncul sebagai tokoh yang manusiawi dan seolah boleh mendapat “pemakluman” dari sifat-sifat jahatnya dan/atau sikap-sikap kejamnya. Meskipun tetap tak bisa dimaafkan untuk kasus-kasus tertentu, seperti pada bagian tindakan-tindakan kejam yang melampaui kemanusiaan (penyikasaan fisik yang sadis). 

Pengungkapan fakta psikologis tokoh antagonis dilakukan penulis, menurut pandangan saya akan cukup membantu pembaca, agar bisa mengambil pelajaran  bahwa masalah kepribadaian dan tindakan seseorang harus bisa dipahami secara multidimensional. Ini membantu pembaca untuk memahami bahwa tiap manusia memiliki latar belakang dan alasan yang sangat kompleks sehingga ia kemudian tumbuh menjadi pribadi yang kejam, culas,  adiktif, atau oportunis.

Melalui penggambaran karakter (antagonis atau protagonis)  melalui peran-peran yang disandangkan pada tokoh-tokoh novelnya,  Brooks memberikan kesadaran bahwa sesungguhnya tak semua manusia jahat adalah seratus persen jahat karena berniat jahat. Ada banyak faktor yang membentuk seseorang menjadi demikian. Penting untuk kita renungkan bersama-sama, agar kita bisa berhati-hati untuk tidak mudah mengklaim diri paling baik dan benar, serta menunjuk pihak lain sebagai yang selalu salah dan buruk.

BrooksPeopleoftheBook.jpg
People of The Book Edisi 1
Kekayaaan latar belakang agama, budaya, dan masa lalu dari  tokoh-tokoh dalam kisah  People of The Book menjadikan novel ini sangat menarik dari segi keberagaman sekaligus persamaan. Tidak ada yang berada di satu wilayah yang secara tegas terpisah atau  benar-benar tidak tersentuh oleh wilayah lain. Selalu ada interseksi, ada wilayah arsiran yang mempertemukan dua atau lebih pihak dalam persamaan.

Manusia adalah satu ciptaan dari Yang Maha Satu, Pencipta Alam Semesta ini. Keberagaman adalah sebuah keniscayaan, sebagai sebuah konsekuensi yang alamiah saat Tuhan menetapkan untuk meletakkan tiap-tiap hambaNya pada posisi-posisi, lokasi-lokasi, dan peran-peran, serta tugas-tugas hidup yang berbeda-beda. 

Dalam pemahaman saya, tak ada yang lebih penting perannya di atas yang lain, semua berperan untuk menjadikan kehidupan di bumi ini berjalan dengan baik dan dalam harmoni. 

Keberbedaan itulah yang menyatukan. 

Perlu ada kesadaran pada tiap orang supaya  saling membantu dalam kebaikan sehingga kehidupan menjadi lebih ringan untuk dijalani bersama-sama. Pesawat terbang tidak hanya terdiri dari  sayap dan roda, ada sekrup-sekrup kecil dan tombol-tombol di ruang kokpit, serta entah berapa juta “hal” yang berbeda-beda lagi yang  menyatu bekerja sama agar pesawat dapat dikatakan berfungsi dengan baik dan layak terbang.

Harapan saya semoga demikian pula dengan Indonesia. Berbeda adalah sebuah rahmat. Demikian pula di komunitas kecil kita ini, Kabeka, tiap anggota berbeda dari banyak segi, namun ikatan kita tetap terasa semoga. 

Saya rasa kita sudah menyatu di  satu interseksi yang nyaman. Buktinya, selalu ada kerinduan untuk berkumpul dan berbicara santai tentang buku sambil mencicipi kudapan lokal yang sederhana. 

Selamat Ulang Tahun Kabeka. Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2015. Selamat atas kebhinnekaan Indonesia.

Akhirul kata, saya sangat sarankan untuk membaca novel luar biasa karya Geraldine Brooks ini. 

“Nyemplung” ke dalam situasi tegang dan penuh petualangan dari awal hingga akhir. Beliau adalah pemenang Pulitzer, jadi bisa dibayangkan betapa “berbobot” novelnya. Bahkan di bagian sampul belakang buku pun, tertulis :  melampaui batas fiksi sejarah. 

(Lisa Soeranto untuk Tiga Tahun Kabeka, untuk Indonesia Raya).




Monday, September 15, 2014

Foxtrott


Oleh: Elisabet Tata

Judul Buku : Foxtrott
Penulis : Helme Heine
Penerjemah : Veriana Devi
Tebal : 32 halaman
Penerbit : Carl Hanser Verlang, 2003

Buku ini berkisah tentang seekor rubah bernama Foxtrott. Ia lahir dari tempat tersepi di dunia yang digambarkan sebagai sebuah liang berongga-rongga di bawah tanah. Jika bumi diiris akan terlihat penampang rumah Foxtrott. Ada ruang makan, ruang nonton teve, ruang bermain, ruang tidur, pokoknya persis seperti ruang-ruang di rumah kita. Di rumah itu Foxtrott tinggal bersama ayah dan ibunya.



Di rumahnya yang berada jauh di dalam tanah itu, tidak ada satupun bunyi terdengar. Televisi memang menayangkan gambar, tapi tidak ada suara, itu filem bisu. Kedua orang tua Foxtrott juga tidak pernah bercakap-cakap. Mereka berkomunikasi melalui tatapan mata dan senyum saja.

Satu hari, Foxtrott mengintip keluar dari lubang rumahnya. 



Ia heran, ada banyak bunyi di atas sana. Hampir semua binatang ternyata bersuara. Lebah berdengung, kodok mengorek, dan bebek berkotek. Foxtrott bingung dibuatnya. Inilah untuk pertamakalinya ia mendengar beragam bunyi.


Kejadian itu sungguh membekas. Sejak itu Foxtrott tak henti-hentinya membuat bunyi-bunyian. Ia bernyanyi, berteriak, menabuh panci, mengadu tutup panci, dan memukul berbagai barang. Pokoknya, menimbulkan bunyi. Semakin gaduh, semakin hati Foxtrott girang. Ayah dan Ibu Foxtrott hilang akal.



Satu hari, ayah memutuskan untuk berburu ayam di peternakan ayam manusia. Malam-malam satu keluarga keluar rumah. Foxtrott ikut dengan mulut terikat – berjaga agar dia tidak menimbulkan suara. Ini perburuan penting, semua bekerja tanpa suara, berjalan pun mengendap.

Sial, mereka ketahuan. Penjaga menangkap basah keluarga Foxtrott. Ia siap membidikkan senapannya hendak membunuh ketiganya. Foxtrott kecil berhasil melarikan diri, ia melepaskan ikatan mulutnya dan bernyanyi. Nyanyian Foxtrott membuat penjaga iba dan melepaskan ketiganya.


Ayah Foxtrott bangga. Sejak itu Foxtrott diperbolehkan bernyanyi dan bermain musik sepuasnya. Foxtrott kini dikenal sebagai penyanyi di kawanan rubah. Tidak hanya itu, Foxtrott bahkan diundang untuk bernyanyi dalam pesta-pesta binatang lainnya.



Foxtrott lantas hidup bahagia dan menikah dengan seekor rubah cantik. Mereka punya banyak anak. Setiap malam satu keluarga bernyanyi dan bermain musik bersama.

Tunggu. Apakah semua? Ternyata tidak. Satu anak Foxtrott punya kebiasaan yang unik, ia tidak suka bernyanyi. Ia pendiam dan suka membaca. Bagaimana kelanjutannya? Tidak ada yang tahu, karena Heine mengakhiri ceritanya sampai di situ.



Begitulah kisah Foxtrott yang dikarang oleh Helme Heine berakhir. Ini buku anak-anak, tercetak di kertas berkualitas baik, hard cover, dan bergambar apik. Helme Heine adalah seorang penulis Jerman. Selain menulis, Heine juga seorang ilustrator dan desainer. Ilustrasi kisah Foxtrott dikerjakan sendiri oleh Heine. 

Sebagai penulis cerita anak, Heine sangat diakui karena memenangi beragam penghargaan bergengsi. Tiga tokoh rekaannya yang paling dikenal adalah tiga sekawan Charlie Rooster (ayam jago), Johnny Mouse (tikus), and Percy (babi) yang tinggal di sebuah daerah bernama Mollywoop. Melalui internet, saya baca Manajemen Kebun Binatang di Hanover, Jerman membangun satu ruang bermain untuk anak yang diberinama Mollywoop dan menghidupkan karakter ketiga binatang tersebut di sana. 

Ini foto Heine bersama ketiga tokoh rekaannya di Kebun Binatang di Hanover, Jerman:

 


Di Indonesia buku terjemahan Heine belum banyak - atau mungkin tidak ada ya, saya baru ketemu sekarang ini soalnya. Buku Foxtrott yang saya baca bersama Putri, anak saya ini diterjemahkan oleh seorang mahasiswi Universitas Negeri Jakarta bernama Veriana Devi. Penerjemahan itu bagian dari proyek kerja sama Goethe Institute dengan mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jerman.

Bukan diterbitkan kembali dalam bentuk buku, hasil terjemahan itu dicetak pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan dengan pita rekat plastik pada halaman buku. Jadi satu terjemahan dalam satu halaman buku. Memang halaman buku menjadi "kotor" dibuatnya. Tapi, ini cara paling sederhana dan murah untuk mengerti isi buku-buku anak yang bagus-bagus itu di Goethe. Seandainya saja saya mengerti bahasa Jerman..

Kembali ke Foxtrott. Saya kira Heine ingin menyampaikan pesan bahwa menyukai kesenangan yang beda dengan yang lain itu tidak mengapa. Jika itu memang membuat kamu bahagia, kenapa tidak? Asal, tentu saja gunakan kesenangan itu untuk kebaikan.

Eh, tapi saya merasa sepertinya Heine punya pesan juga buat orang tua yang mendampingi anak-anaknya membaca. Coba bayangkan, bagaimana jika punya anak yang tidak mau menuruti kebiasaan dan peraturan yang susah payah kita bangun di rumah? Ia seperti…apa ya, ibarat makhluk asing yang ada di rumah. Tak habis pikir terkadang, kok bisa dari darah-daging saya muncul manusia baru yang punya kebiasaan beda sama sekali dari saya?

Maka, jika saya jadi ibunya Foxtrott, pasti saya larang juga Foxtrott membuat gaduh di rumah. Itu kan sungguh bertentangan nilai-nilai yang diterapkan di rumah yang tenang, sepi, dan nyaman. Tapi, siapa sangka Foxtrott lah yang jadi pahlawan penyelamat saat penjaga bersiap menarik pelatuk senapan.

Foxtrott memenuhi benak saya akhir-akhir ini. Mengingatkan akan satu tulisan yang membahas soal mengapa generasi orang jenius tidak muncul lagi. Tulisan itu berakhir dengan tudingan bahwa orang tua adalah penyebab utama hilangnya generasi jenius yang baru dan tips bagaimana mendampingi anak yang suka berulah "di luar kebiasaan".

Masih menurut tulisan itu, ketidakmampuan para orang tua dalam menerima perilaku anak yang di luar kebiasaan jadi penyebabnya. Anak-anak yang sebenarnya berbeda itu “disamakan” begitu saja dengan yang lain. Akibatnya mereka kehilangan kemampuannya untuk menjadi beda. Dan lahirlah generasi yang seragam. Satu cita-cita tertentu bisa diagungkan dan cita-cita lain dicibir. 

Melalui kisah Foxtrott, Heine seolah mengingatkan bahwa dalam satu keluarga selalu ada yang punya kebiasaan unik. Kita memang tidak pernah tahu untuk apa dan kapan keunikan itu berguna kelak. Saya kira mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti berbagi, menolong sesama, dan berkarya lebih penting ketimbang menahan mereka untuk melakukan sesuatu yang disukai.

Begitulah. Menuliskannya saja sih, gampang, menjalaninya? Semoga saja ibumu ini mampu memahamimu ya, nak :) 

Catatan: Buku ini bisa dibaca di Perpustakaan Goethe Institute, Jakarta.

Monday, January 27, 2014

Kisah Anak yang Tak Terlahir

Oleh: Fertina Nurisa Mitra

Judul: Doa Ibu
Penulis: Sekar Ayu Asmara
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2009
Tebal: 270 hal.

Melihat judulnya, Doa Ibu, bukan berarti buku ini mengisahkan cerita haru biru antara anak dan Ibu. Sang penulis, Sekar Ayu Asmara, meyakinkan itu. Di balik judulnya yang manis, Doa Ibu merupakan kisah berjenis misteri yang akan semakin memunculkan misteri di tiap babnya.

Kisah ini berpusat pada dua tokoh utama; Ijen dan Madrim. Ijen adalah seorang pemuda berumur sekitar 25 tahun yang merupakan seorang pelukis dan tinggal bersama keempat temannya sesama pelukis. Sedangkan Madrim adalah istri seorang ternama dan terpandang. Ia punya satu anak yang sedang menapaki karirnya. 


Awalnya kedua tokoh utama ini sama-sama memiliki kehidupan yang sempurna dan bahagia. Tetapi setelah masing-masing mengalami satu kejadian, pelan-pelan hidup mereka yang sebenarnya mulai terungkap dan meluluhlantahkan fakta kehidupan mereka. 

Dimulai dengan pernikahan sahabat Ijen yang bernama Khaled dengan Dewanti. Ketika prosesi resepsi belum juga rampung, tiba-tiba lampu ruangan padam dan saat itu Dewanti tiba-tiba menghilang di depan ratusan pasang mata. 


Sementara itu dalam kehidupan Madrim, ketika semua berjalan dalam kendalinya, tiba-tiba suaminya yang sudah ia nikahi selama 20 tahun meninggal. Di hari pemakaman suaminya, tiba-tiba pula datang seorang wanita dan seorang anak yang menyebut suaminya dengan sebutan "Ayah".  Kejadian yang tidak pernah Madrim sangka selama usia pernikahan mereka.

Ijen mencari kehilangan Dewanti yang berakibat bunuh diri pada sahabatnya, Khaled. Pencarian Ijen menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serta misteri-misteri baru. Bukan menghasilkan, melainkan membuat Ijen semakin kehilangan. Satu-persatu sahabatnya ikut raib. 


Sedangkan, Madrim sebaliknya. Semakin ia mencari kebenaran yang hakiki dari kebohongan suaminya selama sepuluh tahun, ia semakin menemukan makna yang sebenarnya di balik itu semua - di balik kematian suaminya dan di balik kesedihan putri semata wayangnya, Sinta. 


Yang paling menimbulkan misteri di antara semuanya, rupanya hanya Ijen yang bisa mendengar suara "ruh" yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya hingga ada suatu kejadian yang menjelaskan semuanya.
            
Alur dalam buku ini sangat dijaga oleh penulisnya, dari awal sampai akhir ketegangan terus meningkat. Penulis banyak memberikan "bumbu" misteri yang selalu menimbulkan pertanyaan. Ketika intensitas semakin tinggi, kita akan sulit melepas kisahnya. 

Mungkin awalnya, kita akan terkesan membaca kisah horor, terlebih saat sampai di tengah cerita. Tapi justru itu salah satu "bumbu" yang melengkapi satu sama lain, hingga menghasilkan kisah misteri.

Penulis juga sangat piawai menyimpan jawaban. Ia tidak mau memanjakan pembaca dengan jawaban meski pada pertanyaan kecil atau selintaspun. Sebaliknya, penulis membebaskan pembaca dengan imajinasi dan pemikirannya, sebelum akhirnya ia berikan jawabannya. Menarik.



Sebagai tambahan, jika belum mengenal Sekar Ayu Asmara, dia lah penulis buku dari salah satu film thriler di Indonesia berjudul Pintu Terlarang dan penulis naskah dari film berjudul Biola Tak Berdawai. Sebelum membaca buku Doa Ibu, terlebih dahulu saya membaca Pintu Terlarang. 

Meski punya genre yang berbeda, Doa Ibu bergenre misteri dan Pintu Terlarang bergenre psychological thriller, tetapi kedua buku ini sama-sama menarik. Sama-sama menegangkan, sama-sama menimbulkan pertanyaan dan penasaran; juga sama-sama punya jeroan yang mirip. Sang penulis selalu memasukan unsur seniman, kesenian, wartawan, dan humanisme ke dalam ceritanya. 


Buat, saya buku ini sangat menghibur dan juga memuaskan hasrat saya akan buku bacaan misteri, terlebih yang saya jarang temui untuk karangan penulis Indonesia.*


Tuesday, December 3, 2013

Membaca Tiga Novel Okky Madasari

Oleh: Lisa Soeranto 

Pasung Jiwa. Ini adalah buku ketiga dari penulis Okky Madasari yang saya lahap  dalam tempo singkat, sehari atau dua di sela-sela kesibukan mengurus rumah dan anak.  Dari empat karyanya, hanya novel berjudul 86 yang belum saya baca.

Jenis novel yang berlatar belakang kondisi sosial politik di negeri ini mungkin bukan lagi dari jenis yang saya beli dan baca dengan tekun. Berkat teman-teman di Klub Buku Kita ini, yang memiliki beragam selera dan kebaikan hati untuk meminjamkan buku-buku mereka, maka novel-novel  yang  tidak menjadi pilihan utama saya untuk menjadi bahan koleksi, kini bisa saya nikmati.

Buku pertama karya Okky yang saya baca  berjudul Maryam (2012) yang memperoleh Khatulistiwa Literary Award 2012, baru kemudian Entrok (2010), dan terakhir Pasung Jiwa (2013). Ketiganya saya pinjam dari Tata, penggagas blog Klub Buku Kita ini, sekaligus penulis utama dan satu-satunya yang rajin.

Di sampul belakang Pasung Jiwa, disebutkan bahwa karya-karya Okky terhubung dalam satu benang merah, yaitu perlawanan atas ketidakadilan dan perjuangan untuk kebebasan dan kemanusiaan. Lebih dari itu, saya sendiri memiliki persepsi yang lebih dari sekedar perlawanan dan perjuangan. Menurut saya novel-novel Okky mengungkapkan proses pencarian diri dan bagaimana diri tersebut memposisikan diri terhadap masalah-masalah “di sini dan saat ini” serta terhadap tujuan hidupnya.

Tentu saja setiap tokoh memiliki karakter masing-masing yang digambarkan dengan sangat jelas, baik dari sisi keberbedaannya maupun kesamaannya dengan tokoh-tokoh lainnya. Jadi, lebih dari sekedar pemberontakan jiwa yang tertindas oleh situasi, tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam ketiga novel tersebut memiliki benangmerah: mereka adalah diri-diri yang berusaha mencari jati diri sendiri dan kemudian membebaskan diri masing-masing dalam menentukan pilihan. Pilihan bisa berupa: menundukkan ego (menekan kehendak bebas) atau menuruti ego (membebaskan).

Dalam Maryam (tokoh utama Maryam) dan Entrok (tokoh utama ibu dan anak: Marni dan Rahayu), para tokoh utamanya pada akhirnya dihadirkan dalam gambaran nrimo. Meskipun dalam kontek sini, nrimo bukanlah status pasif dari jiwa, justru kondisi dimana jiwa berjuang lebih keras untuk mau menerima hal-hal yang tak sesuai kehendak bebasnya atau berjuang menundukkan kehendak liarnya. Dalam pandangan saya, penggambaran karakter Maryam dan Marni serta Rahayu tak sekuat karakter tokoh utama (Sasana/Sasa dan Cak Jek) dalam Pasung Jiwa. Bahkan pembaca diberikan juga di sana – sini petunjuk-petunjuk kecil tentang karakter-karakter manusia melalui penggambaran perilaku (keji, arogan, aneh, dan lain-lain) karakter-karakter lain.

Dalam Pasung Jiwa, sejak awal cerita pembaca sudah diajak memasuki hutan lebat yang terhalang semak berduri yang rapat. Problematika dalam keluarga Sasana/ Sasa mungkin tak beda dengan hampir semua keluarga menengah saat ini di kota-kota besar di Indonesia. Orang tua yang sukses, memiliki karier yang bagus, fasilitas hidup yang sangat memadai, lingkungan sosial yang baik, dan citra keluarga bahagia. Namun di balik semua itu, tersimpan banyak sekali cerita yang tak terungkapkan, karena mungkin di(ter)abaikan atau di(ter)tutup(i). Represi mayoritas dan senioritas berlaku di dalam keluarga, sebagaimana berlaku pula di masyarakat. Ada pihak yang di atas dan pihak yang bawah, terinjak dan berteriak. Cara hidup dan kehidupan yang memiliki definisi tunggal, yang dibuat oleh pihak yang paling kuat. Demikian kuatnya tekanan dari atas, hingga yang dibawah tak berani terbuka mengungkapkan diri. Yang terjadi kemudian adalah serangkaian pemberontakan yang tak dirancang, namun terburai keluar karena dorongan besar dari dalam diri yang tak sanggup lagi menahan amukan magma. Seperti diungkapkan di dalam novel ini: semua menjadi (“seolah”) tak terkendali. Tubuh bergerak sendiri, padahal pikiran menolak. Jiwa di mana?

Dinamika-dinamika sosial dan politik Indonesia menjelang Peristiwa Besar tahun 1998, yang menjadi latar cerita, sangat tepat untuk membantu memberi penguatan pada gambaran-gambaran ekstrim gejolak jiwa manusia (atau vice versa,  gambaran ekstrim gejolak jiwa menjadi latar cerita yang menarik untuk menggambarkan betapa ekstrim dan gentingnya situasi sosial politik kala itu). Jiwa manusia yang tertekan, terpasung, frustasi, dan merindukan kebebasan dan kebahagiaan, apa pun arti bahagia dan bebas itu. Pergolakan mencari jati diri, dilalui melalui pengalaman ekstrim yang menghapus garis batas antara kewarasan dan ketidakwarasan, kewajaran dan keanehan, antara aku dan “aku”, antara aku dan orang lain. Dalam Pasung Jiwa, penulis membiarkan dua tokoh utamanya mengalami “akhir bahagia”, yaitu kebebasan sesuai definisi mereka sendiri.

Benang merah yang lain dalam tiga karya Okky adalah pengungkapan hubungan khusus antara anak dan orang tua-nya. Dalam Maryam, Entrok, maupun Pasung Jiwa, hubungan konflik orang tua dan anak menjadi tema utama, bukan semata-mata untuk menggambarkan konflik dalam tataran keluarga, namun sebagai sebuah analogi dari konflik yang lebih luas. Efek dari hubungan yang ternyata dirasa represif oleh anak, nyata-nyata berakibat sangat buruk dan berbuah derita berkepanjangan, baik bagi orang tua maupun anak. Penggambaran hubungan konflik ini juga ekspresi dari hubungan antara pemerintah dan rakyat. Anak yang ditekan memberontak. Rakyat yang ditekanpun akhirnya memberontak. Jiwa yang ditekan akan lepas membebaskan diri.


Novel Pasung Jiwa, menurut saya sudah mencekam sejak awal, jika kita benar-benar masuk menyelami jiwa-jiwa dari para tokohnya. Menyelesaikan bacaan ini adalah kelegaan, karena seperti keluar dari gelapnya hutan rimba. Lalu membutuhkan waktu sejenak untuk merenungi dan mengambil makna dari novel yang, menurut saya, kompleksitas dinamika psikologis tokohnya tinggi.*

Monday, December 2, 2013

Tentang Elmer Yang Berbeda

Oleh: Elisabet Tata



Judul buku: 5 Kisah Elmer Si Gajah Perca
Penulis: David McKee
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2011
Tebal: 144 halaman 

Ini kisah tentang Elmer. Gajah kecil yang berbeda dari gajah lainnya. Ia unik. David McKee, penciptanya, menjulukinya sebagai Si Gajah Perca (the Patchwork Elephant). Sekujur tubuhnya tidak berwarna abu-abu sebagaimana layaknya binatang gajah, melainkan berwarna-warni – mirip sambungan perca.



Elmer memang beda. Tidak hanya karena penampilan fisiknya saja, tapi perangainya pun lain. Elmer usil, suka mengganggu, ia pembosan sehingga selalu mencaritahu apa yang bisa dilakukan untuk memecah kebosanan. Ada saja ulahnya untuk membuat suasana menjadi riang. Elmer sepertinya selalu punya energi untuk melakukan keisengan.



Karena itulah Elme dikenal tidak hanya di kawanan para gajah; binatang-binatang lain di hutan pun mengenal dan menyukainya. Selain suka berkawan, Elmer juga setia kawan. Ia suka menolong binatang yang sedang dalam kesulitan. Seringkali Elmer bersusah payah untuk itu.

Buku ini tentang kehidupan Elmer. Ada lima kisah di dalamnya. Yang pertama berjudul “Elmer”. Kisah pertama menceritakan tentang siapa Elmer dan bagaimana Elmer mulai merasakan bahwa ia memang beda.

Kisah kedua dan ketiga yang masing-masing berjudul: “Elmer dan Burung Besar” dan “Elmer dan Para Kuda Nil” bercerita tentang bagaimana Elmer menolong binatang-binatang lain yang sedang kesulitan.

Saat burung-burung kecil ketakutan dengan kedatangan seekor burung besar yang jahat, Elmer mampu menunjukkan bahwa kebersamaan kawanan burung kecil ternyata mampu mengalahkan seekor burung besar.

Perihal kebersamaan ini pula yang ditawarkan Elmer pada kawanan kuda nil dan kawanan gajah saat mereka berebut sungai untuk berendam. Elmer mengajak kedua kawanan untuk bersama menyingkirkan batu-batu yang menghalangi aliran air. Nah, kini masing-masing punya sungai untuk berendam

Pada kisah keempat yang berjudul: “Elmer dan Si Ular” kita bisa tahu bahwa Elmer pun pernah merasa untuk tidak ingin melakukan apa-apa. Saat ia hanya ingin diam saja dan tidur, giliran binatang-binatang lain punya ide untuk mengisengi Elmer. Keisengan itu berakhir dengan tawa. Dan sekali lagi suasana hutan jadi riuh oleh suara tawa binatang-binatang.

Kisah terakhir yang berjudul: “Elmer dan Pelangi” menceritakan bagaimana Elmer rela berkorban untuk kebahagiaan binatang-binatang di hutan. Cerita bermula saat musim hujan tiba dan binatang-binatang tak sabar melihat pelangi.

Nyatanya, pelangi yang muncul hanya berupa lintasan garis lengkung yang berwarna pucat. Elmer pun punya ide, akan memberikan warna-warna tubuhnya pada pelangi agar pelangi bisa berwarna lagi. Dan sekali lagi, Elmer berhasil. Pelangi kini berwarna. Seluruh binatang di hutan senang.

O ya, ada satu bagian yang paling saya suka pada kisah ini. Berikut saya kutipkan beberapa kalimat pada hal. 141:

Seekor gajah bertanya pada Elmer, “..kau telah memberikan warna-warnimu pada pelangi. Tapi kok kau masih memilikinya?”
Elmer tergelak, “Ada beberapa hal yang bisa terus kau berikan tanpa kehilangan apa pun. Hal-hal seperti kebahagiaan atau cinta atau warna-warniku.”

Indah ya….kini saya mengagumi Elmer dan segala keunikannya. Keberadaan Elmer mengajarkan bahwa menjadi beda itu asyik-asyik aja. Masing-masing individu terlahir unik. Dengan keunikan itulah kita bisa membantu dan membahagiakan sesama. 

Saya kira pesan McKee dalam buku ini adalah ajakan untuk menjaga keunikan masing-masing anak. Supaya dunia tidak tumbuh membosankan nantinya.  

Pesan yang bagus di buku bagus. Sayang, buku Elmer terbitan PT Bhuana Ilmu Populer ini dijilid dengan teknik jilid lem. Kelemahan jilid lem saya kira adalah gampang lepas. Ini buku anak-anak. Seharusnya dijilid dengan teknik yang lebih kuat. Jadinya halamannya seperti ini sekarang: 


Kembali ke Elmer. Karakter Elmer diciptakan pertama kali oleh David McKee pada 1968. Pada 1989, McKee membarui Elmer dan membuat serialnya hingga kini. Saya menghitung dari Wikipedia, ada 34 judul seri Elmer. Yang terakhir, terbit pada 2013 berjudul: “Elmer and the Whales”.

Selain dalam bentuk buku, kisah Elmer juga jadi serial televisi. Saya beri salah satu link-nya di youtube untuk melihat kisah Elmer yang berjudul “Elmer” atau cerita pertama tentang siapa Elmer. Sila klik di sini. Lainnya sila cari sendiri. Banyak, kok.

David (John) McKee, penulis dan ilustrator buku anak asal Inggris. Ia lahir di Devon, Inggris pada 2 Januari 1935. McKee kuliah di Plymouth College of Art, Inggris. Sembari kuliah, ia bekerja sebagai ilustrator komik di beberapa media cetak di Inggris. Setelah menamatkan kuliah, McKee bekerja untuk beberapa majalah sebelum akhirnya membuat karyanya sendiri.

Selain “Elmer”, buku McKee yang diangkat ke menjadi serial filem lain berjudul Mr. Benn (dibuat oleh BBC). Organisasi lain baik sosial maupun komersial menyewa McKee untuk menulis cerita filem-filem yang mereka buat.

Pada 1986, McKee mendapat penghargaan Deutscher Jugendliteraturpreis dari Pemerintah Jerman atas karya-karya sastra anaknya yang luar biasa. Pada 2006, McKee dinominasikan untuk memperoleh penghargaan Hans Christian Andersen Award, penghargaan bergengsi dari International Board on Books for Young People (IBBY) yang diberikan pada penulis atau ilustrator yang berdedikasi memberi kontribusi terhadap sastra anak.*



Saturday, November 23, 2013

Kisah Seekor Singa yang Tidak Bisa Menulis

Judul asli: Die Geschichte Vom Lowen der Nicht Schreiben Konnte (2002)

Pengarang dan ilustrator: Martin Baltscheit
Penerjemah: Nathalie Sugondho Nasution
Penerbit Feliz Books, Jakarta, 2011



Oleh: Elisabet Tata

Menurut saya, buku ini wajib dibaca atau dibacakan oleh dan untuk anak-anak. Bahkan, saya berandai-andai, jika jadi Menteri Pendidikan, saya akan memasukkannya dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setidaknya untuk murid kelas 4 ke atas.

Ini fabel yang bagus, bercerita tentang seekor singa jantan muda yang begitu bangga dengan dirinya. Ia punya auman hebat dan gigi yang menakutkan. Bukankah hanya itu yang perlu dimiliki seekor singa jantan agar tampak gagah? Singa itu mengabaikan kekurangannya yang lain, yaitu: tidak bisa menulis.



Satu hari ia jatuh hati dengan seekor singa betina cantik berkacamata yang suka membaca. Singa jantan ingin mendekatinya, tapi bagaimana caranya jika ia tak bisa menulis? Ia dengar kabar singa yang suka membaca adalah singa terhormat – jadi tidak bisa didekati begitu saja.



Maka singa jantan mencari binatang-binatang lain agar menuliskan sepucuk surat untuk singa betina. Mulai dari monyet, kuda nil, kumbang kotoran, jerapah, buaya, hingga burung pemakan bangkai membantu menulis surat.

Satu persatu binatang-binatang itu menulis surat.

Monyet misalnya, menulis ajakan untuk memanjat pohon sambil makan pisang, kuda nil menulis ajakan untuk berenang di sungai, dan kumbang kotoran mengajak untuk bermain kotoran dan mengoleskan kotoran di kertas sehingga baunya sungguh menyiksa hidung singa.

Tidak ada satupun yang sesuai.



Singa menjadi sangat kesal. Ia mengaum dengan keras sambil mengungkapkan perasaan yang ingin ditulisnya. Singa betina mendengar dan bertanya, “Kenapa kamu tidak menulisnya sendiri?”

Cerita berakhir happy ending. Kedua singa kini berkawan dan singa betina mengajarkan bagaimana cara menulis.



Indah bukan? Ringkas dan apik penyampaiannya. Pesannya jelas, menulislah agar kau bisa mengungkapkan perasaan dan pikiranmu. Sepandai-pandainya orang lain menuliskan sesuatu untukmu, itu tetap tidak akan mampu menjelaskan apa pikiran dan keinginanmu yang sesungguhnya.

Martin Baltscheit (47 tahun), penulis dan ilustrator buku anak ini tinggal di Dusseldorf, Jerman. Ia menuntaskan sekolah di Communication Design, Folkwang School, Essen, Jerman. Martin juga seorang pendongeng, dulunya ia pernah bekerja sebagai pemain sandiwara radio dan pemain drama. Karya-karya fabelnya sangat dikenal di Jerman. Sejak 1992, nyaris setiap tahun ia mendapat penghargaan dari banyak organisasi atas karya-karyanya.

Saya kira kita beruntung mendapat kesempatan membaca salah satu karya Martin dalam bahasa Indonesia. Adalah Goethe Institute Jakarta, lembaga kebudayaan Jerman di Jakarta yang membantu penerbitan buku karya Martin ini dalam bahasa Indonesia.

O, ya, saya menemukan versi lain dari kisah singa yang tidak membaca ini di Youtube. Sebuah sekolah di Jerman mementaskannya menjadi satu drama anak-anak dalam sebuah acara. Jika hendak melihatnya sila klik di http://www.youtube.com/watch?v=2yHMKOz59fY, barangkali terinspirasi.

Sunday, November 17, 2013

Bertualang di Dunia Teka-teki Heimann

Judul buku: Brain Busting Bonanza

Penulis & Ilustrator: Rolf Heimann
Penerbit: Little Hare Books, Australia (2003), reprinted in 2006
Oleh: Elisabet Tata

Ini buku baru di rumah kami. Hasil obrak-abrik lapak obral Gramedia. Cuma ada satu, nyelip di antara buku-buku berbahasa Indonesia. Lumayan, harganya ‘hanya’ Rp25.000,00. Di e-bay, buku-buku karya Heiman dijual dengan harga ratusan ribu rupiah. Jadi, ini kesempatan bagus. Segera ambil dan bayar.

Buku Heimann segera jadi kesukaan semua anggota keluarga. Berempat kami, aku, suami dan dua anak, masuk dan tenggelam dalam dunia teka-teki Heimann. Setiap halaman membuat kami tertantang. Seru dan mengasyikkan.

Saya sebenarnya kesulitan menceritakan tentang isi buku ini. Barangkali karena permainan di Indonesia tidak mengenal banyak jenis teka-teki ya, sehingga saya sulit menerjemahkan nama-nama permainan yang disajikan di buku ini.

Misalnya untuk maze saja, kita hanya mengenal istilah labyrinth (dalam bahasa Indonesia disebut labirin). Dalam Kamus Bahasa Indonesia, labirin adalah 1) tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku dan simpang siur, 2) sesuatu yang sangat rumit dan berbelit-belit (ttg susunan, aturan, dsb), 3) sistem rongga atau saluran yang berhubungan.

Maze dan labyrinth sebenarnya dua istilah yang berbeda. Maze adalah permainan tour puzzle (ah..dalam bahasa Inggris lagi) dalam bentuk jalur yang bercabang-cabang. Labirin tidak bercabang, ia hanya satu jalur; ada yang bilang lebih mudah keluar dari labirin ketimbang maze.

Nah, di Indonesia kita cukup menyebut beragam permainan asah otak sebagai teka-teki. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, teka-teki adalah 1) soal yang berupa kalimat (cerita, gambar) yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk mengasah pikiran, 2) hal yang sulit dipecahkan (kurang terang, rahasia).

Padahal, di buku Heimann ini ada beragam jenis teka-teki. Ini kutipan salam Heimann pada lembar kedua bukunya: Welcome to my biggest book ever of all-new mazes, puzzles, spottos, conundrum, quizzes, teasers, stumpers and bafflers!

Saya terus terang tidak punya istilah yang tepat untuk menyampaikannya dalam bahasa Indonesia satu persatu. Barangkali kalau ada yang mau sumbang saran, silakan saja.

Karena ini buku permainan, ia tidak terlalu memerlukan penomoran halaman sebagaimana layaknya sebuah buku. Yang ada adalah penomoran untuk setiap teka-teki yang berjumlah total 96 buah. Namun, jika ingin tahu ada berapa halaman, saya sudah hitung jumlahnya ada 31 halaman.

Pada masing-masing teka-teki ada kilasan cerita agar jadi tambah menarik. Buku ini bisa untuk segala umur. Tingkat kesulitan yang disajikan beragam, ada yang mudah seperti mencari perbedaan - saya bisa menganggapnya begitu karena si bungsu yang berumur 5 tahun bisa menjawabnya. Tapi ada pula yang rumit, pokoknya kalau sudah si sulung atau saya menyerah, hanya kepala suku atau suami yang mendapat tugas memecahkannya.

Saya beri kilasan-kilasan halaman di dalam buku ya..

Bantu ular kembali ke sarang


Pertukaran barang antar diplomat di galaksi Schnopos III


Jangan percaya pantulan naga di air, mereka ternyata tidak sama


Hujan kucing dan anjing. Eh, ada satu kucing dan anjing yang berbeda lho..


Tahukah jika pemilik dan binatang peliharaan itu punya kemiripan? Itu bisa untuk mencari siapa pemilik binatang peliharaan yang terlepas.


 Rolf Heimann adalah penulis dan ilustrator kelahiran Dresden, Jerman pada 1940. Ia menjadi imigran di Australia karena tak puas dengan kondisi politik di Jerman pada sekitar 1958. Umurnya 18 tahun ketika itu, memulai kerja serabutan dari pemetik buah, buruh, sebelum menekuni kembali dunia melukisnya.

Kekagumannya pada teka-teki maze bermula ketika Heimann kecil yang berumur 7 tahun terjebak di tengah labirin pagar tanaman. Lama ia tersesat hingga berpikir akan mati kelaparan di sana. Saat berhasil keluar, Heimann menemukan momen kelegaan yang luar biasa. Ia berharap momen kelegaan itu juga yang dirasakan pembaca saat berhasil memecahkan teka-teki Heimann.

Pada beberapa halaman terakhir buku, Heimann sebenarnya memberikan jawaban atas semua teka-teki yang ia berikan. Namun, saya usul jangan terburu-buru membukanya. Itu akan mengurangi momen kelegaan seperti yang diharapkan Heimann.

Heimann kini bermukim di Australia dan jadi warga negara Australia. Ia cinta benua Kanguru dan berterima kasih karena memberikan tempat untuk bermukim. Untuk mengungkapkannya, di dalam buku-bukunya Heiman selalu menyelipkan satu peta Australia. "It might be a patch on a sleeve, a reflection in a puddle or a flower". Yang ini tambahan teka-teki dari Heimann.