Showing posts with label Curhat Buku. Show all posts
Showing posts with label Curhat Buku. Show all posts

Tuesday, July 28, 2015

People of The Book karya Geraldine Brooks

*catatan: tulisan ini dibuat untuk merayakan  Ulang Tahun ke-3 Kabeka


Tahun 2015 ini, Kabeka menginjak usia tiga tahun. Di hari lahirnya tanggal 20 Mei kemarin, sayangnya Kabeka tidak sempat mengadakan temu darat: berkumpul di salah satu rumah anggota, saling berbagi cerita kegiatan dan hobi, berbagi isi buku yang tengah dibaca, dan tentu saja berbagi makanan murah sehat dan lokal.

Kesibukan masing-masing anggota adalah  yang paling mudah dijadikan alasan (terutama oleh saya, saya akui). Namun,  saya yakin bahwa masing-masing anggota –tentunya- pasti sadar sendiri-sendiri untuk tetap membaca buku yang digemarinya.

Secara pribadi, saya ingin berbagi cerita. Saya seperti biasa tak akan meresensi, tetapi hanya sekedar “curhat”  tentang apa yang saya dapatkan dari buku yang direkomendasikan Elisabeth Tata. Buku yang pernah diusulkannya untuk menjadi diskusi buku jika saja Kabeka siap (waktu dan tenaga) untuk bertemu darat. Sayangnya tak kesampaian.

People of The Book

Novel karya Geraldine Brooks ini, menurut saya, sungguh sebuah buku yang penting untuk dibaca oleh tiap bangsa Indonesia di saat Indonesia sedang banyak mengalami ujian keberagaman dan persatuan kebangsaan.

People of The Book edisi Bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia pada 2015
Menurut pandangan saya,  sekalipun ada seorang tokoh utama yang berperan yaitu DR. Hanna Heath, namun  novel yang mendapat inspirasi dari kisah nyata ini dan berlatar tempat di Eropa dan sekitarnya,  berpusat pada  sebuah buku yang sangat istimewa, yang menurut saya justru ia-lah yang menjadi tokoh sentralnya.  

Buku doa kuno agama Yahudi (haggadah)  yang dikenal sebagai haggadah Sarajevo itu banyak menimbulkan rasa penasaran dan spekulasi baik tentang keasliannya, keanehannya (karena menampilkan ilustrasi sebagaimana buku-buku doa kaum Kristen, sementara sebagaimana kita ketahui penggambaran dan ilustrasi adalah tabu dan “haram” menurut aturan agama Yahudi), maupun perjalanan “hidup”nya yang berpindah-pindah tangan (kepemilikan) dalam rentang  sekitar lima ratus tahun-- sebelum pada akhirnya ditemukan kembali dan dikembalikan pada negara yang paling berhak mewarisinya). 

Dalam salah satu bagian dalam novel tersebut, diungkapkan haggadah ini telah mengalami kisah pahit dan getir dan ia telah menceritakan kisahnya sendiri.

Penciptaan tokoh-tokoh lain dengan  karakter-karakter dengan kuat sangat membantu memberikan pemahaman betapa situasi politik dan sosial dari abad ke abad terus –menerus mengalami gejolak dan menguatkan kesan pertarungan antara yang baik dan yang jahat. Meskipun mana si baik dan mana si jahat, bisa menjadi perdebatan, tergantung di sisi mana pembaca berdiri.  

Di antara sekian banyak tokoh yang antagonis (anggota partai Nazi yang kejam, pendeta, rabi,dan ulama yang munafik,) ada kemunculan satu-dua tokoh protagonis yang sangat menyejukkan dan memberi rasa optimis bahwa dalam tiap masa selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang tulus dan berjiwa penolong tanpa pamrih. Brooks dengan sangat teliti mampu mengungkapkan dinamika psikologis dari tiap tokohnya. 

Geraldine Brooks
Tokoh antagonis di tangan Brooks bisa muncul sebagai tokoh yang manusiawi dan seolah boleh mendapat “pemakluman” dari sifat-sifat jahatnya dan/atau sikap-sikap kejamnya. Meskipun tetap tak bisa dimaafkan untuk kasus-kasus tertentu, seperti pada bagian tindakan-tindakan kejam yang melampaui kemanusiaan (penyikasaan fisik yang sadis). 

Pengungkapan fakta psikologis tokoh antagonis dilakukan penulis, menurut pandangan saya akan cukup membantu pembaca, agar bisa mengambil pelajaran  bahwa masalah kepribadaian dan tindakan seseorang harus bisa dipahami secara multidimensional. Ini membantu pembaca untuk memahami bahwa tiap manusia memiliki latar belakang dan alasan yang sangat kompleks sehingga ia kemudian tumbuh menjadi pribadi yang kejam, culas,  adiktif, atau oportunis.

Melalui penggambaran karakter (antagonis atau protagonis)  melalui peran-peran yang disandangkan pada tokoh-tokoh novelnya,  Brooks memberikan kesadaran bahwa sesungguhnya tak semua manusia jahat adalah seratus persen jahat karena berniat jahat. Ada banyak faktor yang membentuk seseorang menjadi demikian. Penting untuk kita renungkan bersama-sama, agar kita bisa berhati-hati untuk tidak mudah mengklaim diri paling baik dan benar, serta menunjuk pihak lain sebagai yang selalu salah dan buruk.

BrooksPeopleoftheBook.jpg
People of The Book Edisi 1
Kekayaaan latar belakang agama, budaya, dan masa lalu dari  tokoh-tokoh dalam kisah  People of The Book menjadikan novel ini sangat menarik dari segi keberagaman sekaligus persamaan. Tidak ada yang berada di satu wilayah yang secara tegas terpisah atau  benar-benar tidak tersentuh oleh wilayah lain. Selalu ada interseksi, ada wilayah arsiran yang mempertemukan dua atau lebih pihak dalam persamaan.

Manusia adalah satu ciptaan dari Yang Maha Satu, Pencipta Alam Semesta ini. Keberagaman adalah sebuah keniscayaan, sebagai sebuah konsekuensi yang alamiah saat Tuhan menetapkan untuk meletakkan tiap-tiap hambaNya pada posisi-posisi, lokasi-lokasi, dan peran-peran, serta tugas-tugas hidup yang berbeda-beda. 

Dalam pemahaman saya, tak ada yang lebih penting perannya di atas yang lain, semua berperan untuk menjadikan kehidupan di bumi ini berjalan dengan baik dan dalam harmoni. 

Keberbedaan itulah yang menyatukan. 

Perlu ada kesadaran pada tiap orang supaya  saling membantu dalam kebaikan sehingga kehidupan menjadi lebih ringan untuk dijalani bersama-sama. Pesawat terbang tidak hanya terdiri dari  sayap dan roda, ada sekrup-sekrup kecil dan tombol-tombol di ruang kokpit, serta entah berapa juta “hal” yang berbeda-beda lagi yang  menyatu bekerja sama agar pesawat dapat dikatakan berfungsi dengan baik dan layak terbang.

Harapan saya semoga demikian pula dengan Indonesia. Berbeda adalah sebuah rahmat. Demikian pula di komunitas kecil kita ini, Kabeka, tiap anggota berbeda dari banyak segi, namun ikatan kita tetap terasa semoga. 

Saya rasa kita sudah menyatu di  satu interseksi yang nyaman. Buktinya, selalu ada kerinduan untuk berkumpul dan berbicara santai tentang buku sambil mencicipi kudapan lokal yang sederhana. 

Selamat Ulang Tahun Kabeka. Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2015. Selamat atas kebhinnekaan Indonesia.

Akhirul kata, saya sangat sarankan untuk membaca novel luar biasa karya Geraldine Brooks ini. 

“Nyemplung” ke dalam situasi tegang dan penuh petualangan dari awal hingga akhir. Beliau adalah pemenang Pulitzer, jadi bisa dibayangkan betapa “berbobot” novelnya. Bahkan di bagian sampul belakang buku pun, tertulis :  melampaui batas fiksi sejarah. 

(Lisa Soeranto untuk Tiga Tahun Kabeka, untuk Indonesia Raya).




Thursday, February 13, 2014

Antara Amy Tan dan Gogol

Oleh: Lisa Soeranto

"Tata, pinjemin aku buku lagi dong. Terserah, apa aja."  Lalu sampailah di tangan saya sebuah novel tentang kehidupan imigran dari Asia (India) yang hijrah ke Paman Sam. Novel berjudul "The Namesake" ditulis oleh Jhumpa Lahiri berdasarkan inspirasi kisah hidupnya. Mulai dari falsafah pemberian nama, keterikatan dengan tradisi Benghali yang sangat dijaga orangtuanya (terutama ibunya) sekalipun berada ribuan kilometer jauhnya dari tanahair, hingga problematika penyesuaian diri terhadap kehidupan praktis sehari-hari.

Lawan Dari Maut - The Opposite Of FateSaya mulai membacanya dan sebelum terlampau jauh, saya teringat sebuah buku yang saya beli beberapa tahun yang lalu di lapak diskon. Jenisnya otobiografi dari penulis keturunan China, generasi kedua dari kaum imigran seperti Jhumpa Lahiri juga. Namanya Amy Tan, ia menulis "The Opposite of Fate" yang terbit tahun 2003 di Amerika. 
Pada 2006, karya Amy itu diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul "Lawan Dari Maut". 


Amy menulis banyak novel yang terinspirasi oleh kehidupan orangtua (terutama ibunya). Salah satunya, "The Joy Luck Club" (TJLC) yang terinspirasi oleh kehidupan ibunya dan teman-temannya seperantauan di tanah asing tersebut. TJLC yang menjadi best seller, kemudian diangkat menjadi sebuah filem layar lebar oleh sutradara Amerika kelahiran China, Wayne Wang pada 1993. TJLC bercerita tentang empat wanita China perantauan yang tinggal di Amerika dengan anak perempuan mereka yang masing-masing lahir di Amerika.  

The Joy Luck Club (film).jpg
Poster Filem The Joy Luck Club
Di dalam otobiografinya, Amy Tan menggambarkan kehidupan mereka yang sarat dengan keyakinan-keyakinan akan adanya takdir, nasib-nasib buruk, dan arwah-arwah nenek moyang yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. 

Sekalipun ayah Amy adalah seorang penginjil, ibunya, Daisy, ternyata masih menyimpan kepercayaan-kepercayaan lama, yang masih bisa dijadikan tempatnya bersandar di kala resah. 

TheJoyLuckClub.jpgPada saat Daisy kehilangan suami dan anak laki-lakinya (kakak Amy) karena tumor otak, Amy mulai mengangkat tragedi-tragedi yang menimpa hidupnya dan berbicara tentang kutukan. Untuk melawan kutukan itu ia mulai menyebut-nyebut arwah masa lalu, mulai berdoa di depan lukisan ibunya, menemui seorang geomancer yang akan memeriksa arsitektur spiritual alias fengshui rumahnya, dan juga mendatangi para penyembuh iman. 

Menurut Amy, semenjak ayahnya meninggal, semakin banyak hantu yang melompat dari masa lalu ibunya: gagasan tentang pembalasan karma, reinkarnasi, dan hadirnya hantu-hantu  yang ditandai dengan gogongan anjing mereka, benda yang salah letak, pintu terbanting jika ada nama tertentu yang terucap. Hal tersebut juga yang dianggap Amy berefek pada dirinya yang sering berimajinasi atau mungin juga berhalusinasi: merasa mendengar suara langkah atau pintu-pintu yang dibanting.

Menurut saya, Amy Tan mengungkapkan keseharian kehidupan mereka sebagai kaum imigran dengan cara yang sangat santai dan memandang dari sisi yang positif. Bahkan sepanjang otobiografinya, ia tidak memberi kesan bahwa mereka terintimidasi oleh kenyataan bahwa mereka adalah kaum pendatang. 

Amy Tan dan ibunya
Amy memberi gambaran bahwa mereka berada di Amerika karena mereka juga berhak atas kesetaraan, seberapun dalamnya perbedaan-perbedaan yang ada dari sisi genetis, kebudayaan, dan bahasa ibu. Tentang kesenjangan bahasa, ia pun dapat menceritakan dengan tanpa tekanan. Ia tak hidup serta merta untuk menurut pada standar yang ditetapkan oleh negara di mana ia berpijak melainkan pada kepercayaan dirinya. Mungkin itu juga diperoleh dari ibunya.  



Dalam bukunya Amy menyatakan, 

"Anda harus tahu bahwa ibuku sering menggunakan kata-kata bahasa Inggris yang sebenarnya tidak dimengerti olehnya. Ia membaca laporan-laporan dari Forbes, mendengarkan berita Wall Street Week, berbicara setiap hari dengan pialang sahamnya, dan membaca buku-buku Shirley MacLaine dengan mudah - segala macam hal yang tak kupahami. Namun, beberapa temaku berkata bahwa mereka bisa memahami lima puluh persen perkataan ibuku. Beberapa yang lain berkata mereka dapat memahami delapan puluh sampai sembilan puluh persen. Beberapa lagi berkata mereka sama sekali tidak mengerti, seakan ibuku berbicara dalam bahasa Mandarin dan bukannya bahasa Inggris. Namun bagiku, bahasa Inggris ibuku benar-benar jelas dan normal. Itulah bahasa yang kukenal sejak kecil. Di telingaku , bahasa Inggris ibuku terasa jelas, tajam, penuh pengamatan dan penggambaran. Itulah bahasa yang telah membantu membentuk caraku memandang dan mengungkapkan berbagai hal, serta memahami dunia ini".

Amy Tan tampak santai menjalani takdirnya, sejak ia tahu bahwa ia terlahir dari pasangan imigran yang merupakan kombinasi dari seorang ibu yang unik dan masih bersandar pada kepercayaan asli leluhurnya dengan ayah yang disiplin dan kuat keimanan kristianinya. Semua ia terima sebagai takdir yang menyenangkan dan pada saat bersamaan ia juga memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi pilihan dalam hidupnya. Masa  remaja yang penuh  kesalahan, menjadi penulis ternama yang harus siap menerima kritikan pedas, bahkan saat ia harus menerima kenyataan bahwa ia pada akhirnya harus menderita penyakit Lyme yang serius, semua itu adalah jalan hidup yang diterimanya dengan positif dan tetap optimis.

Di bagian awal otobiografinya, Amy Tan menulis,  

"Ibuku percaya pada kehendak Tuhan selama bertahun-tahun. Rasanya seakan-akan ia telah membuka keran alam semesta dan kebaikan terus mengucur keluar. Ia berkata imanlah yang membuat segala hal yang baik itu muncul dalam lehidupan kami, tapi semula kupikir ia mengatakan "takdir (fate)", karena ia tidak bisa melafalkan bunyi "th" dalam katan "faith". Tapi kemudian aku berpendapat mungkin semuanya memang karena takdir semata, bahwa iman hanyalah ilusi untuk menunjukkan bahwa kita masih memegang kendali. Aku menemukan bahwa yang paling banter bisa aku miliki hanyalah harapan, dan dengan itu aku tidak menyangkal adanya kemungkinan, baik maupun buruk. Jadi maksudku, kalau saja ada pilihan, Tuhan yang Baik atau siapapun Dia, di sanalah letak jawaban semuanya."

Front CoverKembali pada novel Jhumpa Lahiri. The Namesake berisi cerita yang mungkin terasa umum dijumpai di keluarga-keluarga kaum imigran, yaitu lagi-lagi berkaitan dengan pola pikir dan latar belakang budaya negeri asal. Pergolakan batin terasa kuat sepanjang cerita dengan tokoh utama Gogol yang kemudian bernama Nikhil. 

Sungguh berbeda dengan proses adaptasi Amy tan dalam kisah pribadinya, Gogol digambarkan sebagai manusia yang tak benar-benar bisa merasakan nyaman di dalam "cangkang"nya yang bernama Benghali. Sepanjang hidupnya ia ingin melepaskan driri dari takdir turunan itu. Mungkin kah itu juga penggambaran ekstrem dari proses pencarian jati diri Jhumpa Lahiri?

Secara budaya, China dan India tentu saja berbeda. India, khususnya Benghali, memiliki tradisi pemberian nama yang khas. Begitu bayi lahir dalam sebuah keluarga, ia tak akan segera diberi nama. Bayi hingga usia tertentu (bisa hingga menjelang masuk sekolah dasar) akan dipanggil dengan nama panggilan yang biasa saja. Nama resmi atau yang disebut sebagai nama bagus, harus benar-benar dipilih dengan serius karena harus pantas disandang sepanjang hidup anak itu nanti saat berkiprah di masyarakat. 

Demikian juga Gogol. Sekalipun lahir dan tinggal di Amerika, ia tak luput dari tradisi tersebut. Ia belum dinamakan secara resmi oleh orangtuanya yang sedang menunggu sebuah surat dari nenek buyutnya yang telah menyediakan pilihan nama bagus bagi cicitnya. Namun surat tak kunjung datang hingga nenek buyutnya meninggal. 

Maka, Gogol yang mendapati dirinya dengan nama panggilan yang aneh (bukan nama Amerika, bukan pula India; melainkan Rusia), tetap bernama Gogol untuk waktu yang cukup lama karena setelah kejadian surat nenek buyut yang hilang di tengah jalan itu, orangtuanya tak kunjung menemukan nama bagus.  

Saat didaftarkan di sekolah, orangtuanya tak ingin mendaftarkan Gogol sebagai Gogol (sesuai nama resminya di paspor), melainkan dengan nama bagus, Nikhil. Rencana itu ditolak pihak sekolah. Gogol kecil  juga merasa tak mengenali dirinya sebagai Nikhil, nama yang tiba-tiba harus disandangnya. Maka sepanjang masa sekolahnya Gogol dikenal, baik secara resmi atau panggilan, tetap dipanggil Gogol. 

Namun saat memasuki perguruan tinggi, Gogol mendaftarkan pergantian namanya secara resmi melalui proses legalisasi di pengadilan. Kehidupan sebagai mahasiswa dimulai dengan nama Nikhil. Meski demikian, Gogol-baru-yang-kini-bernama-Nikhil ini tetap tak bisa lepas dari kenyataan bahwa sebenarnya dia masih Gogol yang dulu - seorang anak yang masih bingung dengan konsep dirinya.

The Namesake lekat dibalut proses pencarian jati diri yang rumit, meskipun -pada akhirnya- ada penemuan. Sepanjang sejarahnya hingga usia dewasa, Gogol mencoba mencari tahu posisinya baik dalam keluarga Beghali maupun di masyarakat Amerika. 

Semua prestasi sekolah dan karirnya tak melahirkan rasa percaya diri dan bangga akan asal-usunya. Gogol tetap saja seorang penyendiri di dunia yang ramai. Ia tahu ia berbeda, dan masalahnya ia terlalu berkutat dengan perasaan berbeda itu, lupa bahwa menjadi berbeda adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Masalahnya yang lebih gawat adalah dia ingin "membeli" apa yang menurutnya akan menjadi persamaan atau kesetaraan dengan orang-orang lain.

Jhumpa Lahiri
Melalui cara pandang Gogol, Jhumpa Lahir menggambarkan kehidupan keluarga Gogol sebagai keluarga yang selalu serius cenderung kaku. Semua langkah terasa diayunkan dengan hati-hati dan berat. Yang terasa adalah situasi-situasi yang selalu penuh kemuraman yang menekan, sekalipun ada kisah-kisah perayaan, seperti beberapa pesta ritual tradisi Bengali atau bahkan Thanksgiving dan Natal yang belakangan diadopsi keluarga Gogol. Kehidupan kelompok imigran India dari kacamata Gogol menjadi terlihat puritan, akibat problematika kegalauan Gogol.

Sama seperti novel Amy Tan, The Namesake juga diangkat ke layar lebar oleh sutradara wanita kelahiran India yang tinggal di New York, Mira Nair. Filem ini diputar di Amerika pada 2007. 


Poster Filem The Namesake
Proses pencarian jati diri dengan memakai "hal kecil tapi penting" seperti nama menurut saya adalah brilian, karena bisa merepresentasikan kegelisahan semua manusia saat ia merasa tidak berada di tempat dan/atau saat yang seharusnya. Dari situ, bisa menjadi pijakan awal manusia bergerak untuk menuju diri yang lebih berarti buat dirinya dan orang lain. 

Di bagian terakhir The Namesake, digambarkan  Gogol, berusia 32 tahun, baru mulai tergerak untuk membaca buku karya Nikolai Gogol yang diberikan almarhum ayahnya saat dia ulang tahun ke-14.

Dengan merenungkan anti kimaks kisah Gogol ini,  pembaca akan tahu bahwa pencarian jati dirinya telah mendekati garis akhir. Gogol -atau siapapun- ternyata tak perlu berlari kelelahan menjauh dari keluarga (yang nota bene berarti menjauh dari dirinya yang orisinil) demi menjadi diri sendiri... hanya untuk kemudian pulang dan menyadari bahwa penerimaan diri sejak awal adalah hakekat dari akhir dari pencarin jati diri.*






Monday, January 27, 2014

Melawan Dengan Restoran atau Pulang?

Oleh: Lisa Soeranto

Mana yang dulu ada : telur atau ayam? Pertanyaan atau tebak-tebakan ini juga berlaku untuk memilih antara membaca novel dengan latar belakang sejarah atau membaca sejarahnya dulu.

Saat membaca Pulang, karya Leila S. Chudori yang diterbitkan KPG pada 2012 lalu, semua yang tergambar dalam benak adalah perluasan imajinasi tokoh-tokoh nyata dan kehidupan nyata kaum eksil. Di bagian akhir buku, Leila menyatakan mendapatkan inspirasi cerita dari tokoh-tokoh asli di balik pendirian restoran bernama "Indonesia" di tengah kota Paris, Prancis, surganya kaum eksil negara mana pun kala itu.

Membaca novel berlatar belakang historis bisa jadi memberi gambaran yang lebih hidup tentang suasana sejarah di masa tertentu, meski menjadi tak jelas, bagian mana yang sesuai, dan mana yang lebay. Penulis novel tentu berhak memberi bumbu rahasia agar "masakannya" memiliki aroma dan rasa khas yang tidak dimiliki penulis lain.

Semua alur yang ada dalam Pulang adalah alur kejadian dari kisah Sobron Aidit (adik kandung D.N. Aidit) dan kawan-kawan. Tentu sekali lagi dengan penyangatan di beberapa plot untuk dramatisasi dari kejadian sesungguhnya.

Saya tak akan menyoroti Pulang seperti para peresensi terampil lain, karena resensi bukan keahlian saya sama sekali. Kemampuan saya hanya merasakan apa efek buku terhadap saya sebagai pembacanya. Apa yang saya rasakan saat dan/atau setelah membaca sebuah buku.

Seperti nasehat seorang guru, kyai di Jawa Timur, yang mengingatkan bahwa mempelajari ilmu dari seorang alim (alim berarti yang benar-benar berilmu) tidak boleh, ibaratnya, hanya sekedar diminum lalu disemprotkan isinya ke luar. Namun harus diminum, dirasakan di lidah, lalu ditelan. Sehingga ilmu itu menjadi bagian dari diri kita untuk kemudian diamalkan. Bukan sekedar dipelajari untuk langsung dipakai menunjuk (biasanya kesalahan) orang lain.

Ilmu dipelajari untuk menganalisa diri sendiri, sehingga menjadi bagian dari edukasi diri, yang akan mengubah perilaku diri sebagai pembelajar yang bisa berkembang menjadi orang yang lebih baik. Dalam psikologi, ini disebut dengan istilah internalisasi (tidak berhenti pada kemampuan mengakuisisi ilmu pengetahuan); menjadi berperilaku lebih baik adalah tujuan dari sebuah pembelajaran.

Jadi, saat membaca Pulang, saya langsung mengaitkan dengan salah satu  buku rujukannya berjudul: Melawan Dengan Restoran - Kisah Sobron Aidit dan Kaun Pelarian G 30S PKI di Perancis terbitan MediaKita pada 2007. Saya baca buku itu sekitar satu tahun lalu.

Secara otomatis, saya juga mencoba memilah mana yang sesungguhnya terjadi dan mana yang merupakan bagian dari romantika yang dibangun penulis. Kehidupan percintaan tokoh-tokohnya, menurut saya, menjadi terlalu "khas Prancis" dengan bumbu di ruang yang privat. Mungkin saja, itu untuk menggambarkan suasana Paris sebagai kota romantis, atau juga untuk menguatkan karakter (petualang, nyentrik, atau "nyeni") dari para tokoh.

Dengan pernyataan itu, saya sesungguhnya ingin menyatakan betapa riskannya jika kita membaca sebuah novel berlatar belakang sejarah, tanpa memiliki pengetahuan cukup tentang sejarah yang dimaksud.

Novel adalah buku kedua yang boleh dibaca setelah kamu membaca sejarah asli. Atau, segera cari tahulah sejarah yang sesungguhnya begitu selesai membaca novel sejarah. Seringkali imajinasi bisa menjadi fakta yang seolah hidup nyata jika didongengkan terus menerus di otak kita. Padahal itu hanya fakta dalam ruang imajinasi penulis atau petutur cerita.

Kurang lebih begitu.

Meskipun perlu kehati-hatian lagi, karena sejarah seringkali juga dituliskan oleh si penguasa dengan vested interest masing-masing, namun ada cukup banyak rujukan yang bisa memberi jalan tengah untuk memahami kejadian sesungguhnya (biografi atau otobiografi, atau bahkan kesaksian).

Melawan Dengan Restoran (MDR) karya Sobron Aidit dan Budi Kurniawan adalah sebuah buku berukuran unik (18,7cm x 11,7 m) setebal 154 halaman. Ia ditulis dengan alur dan kisah yang melompat-lompat.

Kelemahannya adalah kurangnya detil yang menggambarkan apa dan bagaimana perjuangan sesungguhnya selain perjuangan untuk tetap bisa hidup di negara asing. Pastinya ada nilai-nilai perjuangan yang bisa dikuak, yaitu perjuangan asasi nilai kemanusiaan yang berhak untuk menorehkan sejarahnya sendiri.  

Tapi beberapa detil yang kurang pada MDR bisa kita temui dalam Pulang. Meskipun sekali lagi, tak dipungkiri akan ada banyak dramatisasi atau imajinasi yang dibuat seolah nyata.

Kedua buku itu menjadi lebih nendang jika kita pernah merasakan auranya secara langsung. Entah saat hidup di era Orde Baru pasca Pemberontakan PKI 1965 saat era Restoran Indonesia berjuang mempertahankan diri dari stigma dan teror (dalam Pulang, diberi nama Restoran Tanah Air). Atau saat titik perubahan Ode Baru ke Era Reformasi yang ditandai dengan demonstrasi 1998.

Pada akhirnya kita harus mau melangkah pada pertanyaan yang lebih dalam, dari sekedar kesenangan membaca sebuah kisah, yaitu: apa yang bisa dipelajari dari ini semua? Setelah tahu ada ketidakadilan, kesedihan, kesengsaraan, apa yang bisa kita bangun untuk memperbaiki keadaan?

P.S.: Terimakasih Tata atas pinjaman novel Pulang.