Oleh: Lisa Soeranto
"Tata, pinjemin
aku buku lagi dong. Terserah, apa aja." Lalu sampailah di tangan saya sebuah novel
tentang kehidupan imigran dari Asia (India) yang hijrah ke Paman Sam. Novel
berjudul "The Namesake" ditulis oleh Jhumpa Lahiri berdasarkan inspirasi kisah
hidupnya. Mulai dari falsafah pemberian nama, keterikatan dengan tradisi
Benghali yang sangat dijaga orangtuanya (terutama ibunya) sekalipun berada
ribuan kilometer jauhnya dari tanahair, hingga problematika penyesuaian diri
terhadap kehidupan praktis sehari-hari.
Pada 2006, karya Amy itu diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul "Lawan Dari Maut".
Amy menulis banyak novel yang
terinspirasi oleh kehidupan orangtua (terutama ibunya). Salah satunya, "The Joy Luck Club" (TJLC) yang terinspirasi
oleh kehidupan ibunya dan teman-temannya seperantauan di tanah asing tersebut.
TJLC yang menjadi best
seller, kemudian diangkat menjadi sebuah filem layar lebar oleh sutradara Amerika kelahiran China, Wayne Wang pada 1993. TJLC bercerita tentang empat wanita China perantauan yang tinggal di Amerika dengan anak perempuan mereka yang masing-masing lahir di Amerika.
| Poster Filem The Joy Luck Club |
Di dalam otobiografinya, Amy Tan menggambarkan kehidupan
mereka yang sarat dengan keyakinan-keyakinan akan adanya takdir, nasib-nasib
buruk, dan arwah-arwah nenek moyang yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka
sehari-hari.
Sekalipun ayah Amy adalah seorang penginjil, ibunya, Daisy, ternyata
masih menyimpan kepercayaan-kepercayaan lama, yang masih bisa dijadikan
tempatnya bersandar di kala resah.
Menurut Amy, semenjak
ayahnya meninggal, semakin banyak hantu yang melompat dari masa lalu ibunya:
gagasan tentang pembalasan karma, reinkarnasi, dan hadirnya hantu-hantu yang ditandai dengan gogongan anjing mereka,
benda yang salah letak, pintu terbanting jika ada nama tertentu yang terucap. Hal
tersebut juga yang dianggap Amy berefek pada dirinya yang sering
berimajinasi atau mungin juga berhalusinasi: merasa mendengar suara langkah
atau pintu-pintu yang dibanting.
Menurut saya, Amy Tan mengungkapkan keseharian kehidupan
mereka sebagai kaum imigran dengan cara yang sangat santai dan memandang dari
sisi yang positif. Bahkan sepanjang otobiografinya, ia tidak memberi kesan bahwa
mereka terintimidasi oleh kenyataan bahwa mereka adalah kaum pendatang.
| Amy Tan dan ibunya |
Amy memberi gambaran bahwa mereka berada di Amerika karena mereka juga berhak atas
kesetaraan, seberapun dalamnya perbedaan-perbedaan yang ada dari sisi genetis,
kebudayaan, dan bahasa ibu. Tentang kesenjangan bahasa, ia pun dapat
menceritakan dengan tanpa tekanan. Ia tak hidup serta merta untuk menurut pada
standar yang ditetapkan oleh negara di mana ia berpijak melainkan pada kepercayaan
dirinya. Mungkin itu juga diperoleh dari ibunya.
Dalam bukunya Amy menyatakan,
"Anda harus
tahu bahwa ibuku sering menggunakan kata-kata bahasa Inggris yang sebenarnya
tidak dimengerti olehnya. Ia membaca laporan-laporan dari Forbes, mendengarkan
berita Wall Street Week, berbicara setiap hari dengan pialang sahamnya, dan membaca
buku-buku Shirley MacLaine dengan mudah - segala macam hal yang tak kupahami.
Namun, beberapa temaku berkata bahwa mereka bisa memahami lima puluh persen
perkataan ibuku. Beberapa yang lain berkata mereka dapat memahami delapan puluh
sampai sembilan puluh persen. Beberapa lagi berkata mereka sama sekali tidak
mengerti, seakan ibuku berbicara dalam bahasa Mandarin dan bukannya bahasa
Inggris. Namun bagiku, bahasa Inggris ibuku benar-benar jelas dan normal.
Itulah bahasa yang kukenal sejak kecil. Di telingaku , bahasa Inggris ibuku
terasa jelas, tajam, penuh pengamatan dan penggambaran. Itulah bahasa yang
telah membantu membentuk caraku memandang dan mengungkapkan berbagai hal, serta
memahami dunia ini".
Amy Tan tampak santai menjalani takdirnya, sejak ia tahu
bahwa ia terlahir dari pasangan imigran yang merupakan kombinasi dari seorang ibu
yang unik dan masih bersandar pada kepercayaan asli leluhurnya dengan ayah
yang disiplin dan kuat keimanan kristianinya. Semua ia terima sebagai takdir
yang menyenangkan dan pada saat bersamaan ia juga memperjuangkan apa yang seharusnya
menjadi pilihan dalam hidupnya. Masa remaja yang penuh kesalahan, menjadi penulis ternama yang harus
siap menerima kritikan pedas, bahkan saat ia harus menerima kenyataan bahwa ia
pada akhirnya harus menderita penyakit Lyme yang serius, semua itu adalah jalan
hidup yang diterimanya dengan positif dan tetap optimis.
Di bagian awal otobiografinya, Amy Tan menulis,
"Ibuku percaya pada kehendak Tuhan selama
bertahun-tahun. Rasanya seakan-akan ia telah membuka keran alam semesta dan
kebaikan terus mengucur keluar. Ia berkata imanlah yang membuat segala hal yang
baik itu muncul dalam lehidupan kami, tapi semula kupikir ia mengatakan
"takdir (fate)", karena ia tidak bisa melafalkan bunyi "th"
dalam katan "faith". Tapi kemudian aku berpendapat mungkin semuanya
memang karena takdir semata, bahwa iman hanyalah ilusi untuk menunjukkan bahwa
kita masih memegang kendali. Aku menemukan bahwa yang paling banter bisa aku
miliki hanyalah harapan, dan dengan itu aku tidak menyangkal adanya
kemungkinan, baik maupun buruk. Jadi maksudku, kalau saja ada pilihan, Tuhan
yang Baik atau siapapun Dia, di sanalah letak jawaban semuanya."
Sungguh berbeda dengan proses
adaptasi Amy tan dalam kisah pribadinya, Gogol digambarkan
sebagai manusia yang tak benar-benar bisa merasakan nyaman di dalam
"cangkang"nya yang bernama Benghali. Sepanjang hidupnya ia ingin
melepaskan driri dari takdir turunan itu. Mungkin kah itu juga penggambaran ekstrem
dari proses pencarian jati diri Jhumpa Lahiri?
Secara budaya, China dan India tentu saja berbeda. India,
khususnya Benghali, memiliki tradisi pemberian nama yang khas. Begitu bayi
lahir dalam sebuah keluarga, ia tak akan segera diberi nama. Bayi hingga usia
tertentu (bisa hingga menjelang masuk sekolah dasar) akan dipanggil dengan nama
panggilan yang biasa saja. Nama resmi atau yang disebut sebagai nama bagus,
harus benar-benar dipilih dengan serius karena harus pantas disandang sepanjang
hidup anak itu nanti saat berkiprah di masyarakat.
Demikian juga Gogol. Sekalipun lahir dan tinggal di Amerika, ia tak luput dari tradisi tersebut. Ia
belum dinamakan secara resmi oleh orangtuanya yang sedang menunggu sebuah surat
dari nenek buyutnya yang telah menyediakan pilihan nama bagus bagi cicitnya.
Namun surat tak kunjung datang hingga nenek buyutnya meninggal.
Maka, Gogol yang
mendapati dirinya dengan nama panggilan yang aneh (bukan nama Amerika, bukan
pula India; melainkan Rusia), tetap bernama Gogol untuk waktu yang cukup lama
karena setelah kejadian surat nenek buyut yang hilang di tengah jalan itu,
orangtuanya tak kunjung menemukan nama bagus.
Saat didaftarkan di sekolah, orangtuanya tak
ingin mendaftarkan Gogol sebagai Gogol (sesuai nama resminya di paspor), melainkan
dengan nama bagus, Nikhil. Rencana itu ditolak pihak sekolah. Gogol kecil juga merasa tak mengenali dirinya sebagai
Nikhil, nama yang tiba-tiba harus disandangnya. Maka sepanjang masa sekolahnya Gogol dikenal, baik secara resmi atau panggilan,
tetap dipanggil Gogol.
Namun saat memasuki perguruan tinggi, Gogol mendaftarkan
pergantian namanya secara resmi melalui proses legalisasi di pengadilan. Kehidupan
sebagai mahasiswa dimulai dengan nama Nikhil. Meski demikian, Gogol-baru-yang-kini-bernama-Nikhil ini tetap tak bisa lepas
dari kenyataan bahwa sebenarnya dia masih Gogol yang dulu - seorang anak yang masih bingung
dengan konsep dirinya.
The Namesake lekat dibalut proses pencarian jati diri
yang rumit, meskipun -pada akhirnya- ada penemuan. Sepanjang sejarahnya hingga
usia dewasa, Gogol mencoba mencari tahu posisinya baik dalam keluarga Beghali
maupun di masyarakat Amerika.
Semua prestasi sekolah dan karirnya tak melahirkan
rasa percaya diri dan bangga akan asal-usunya. Gogol tetap saja seorang penyendiri
di dunia yang ramai. Ia tahu ia berbeda, dan masalahnya ia terlalu berkutat
dengan perasaan berbeda itu, lupa bahwa menjadi berbeda adalah sebuah kenyataan
yang harus diterima. Masalahnya yang lebih gawat adalah dia ingin
"membeli" apa yang menurutnya akan menjadi persamaan atau kesetaraan
dengan orang-orang lain.
| Jhumpa Lahiri |
Melalui cara pandang Gogol, Jhumpa Lahir menggambarkan kehidupan
keluarga Gogol sebagai keluarga yang selalu serius cenderung kaku. Semua langkah
terasa diayunkan dengan hati-hati dan berat. Yang terasa adalah situasi-situasi
yang selalu penuh kemuraman yang menekan, sekalipun ada kisah-kisah perayaan, seperti
beberapa pesta ritual tradisi Bengali atau bahkan Thanksgiving dan Natal yang belakangan
diadopsi keluarga Gogol. Kehidupan kelompok imigran India dari kacamata Gogol
menjadi terlihat puritan, akibat problematika kegalauan Gogol.
Sama seperti novel Amy Tan, The Namesake juga diangkat ke layar lebar oleh sutradara wanita kelahiran India yang tinggal di New York, Mira Nair. Filem ini diputar di Amerika pada 2007.
Sama seperti novel Amy Tan, The Namesake juga diangkat ke layar lebar oleh sutradara wanita kelahiran India yang tinggal di New York, Mira Nair. Filem ini diputar di Amerika pada 2007.
| Poster Filem The Namesake |
Proses pencarian jati diri dengan memakai "hal kecil
tapi penting" seperti nama menurut saya adalah brilian, karena bisa
merepresentasikan kegelisahan semua manusia saat ia merasa tidak berada di tempat
dan/atau saat yang seharusnya. Dari situ, bisa menjadi pijakan awal manusia bergerak
untuk menuju diri yang lebih berarti buat dirinya dan orang lain.
Di bagian
terakhir The Namesake, digambarkan Gogol, berusia
32 tahun, baru mulai tergerak untuk membaca buku karya Nikolai Gogol yang
diberikan almarhum ayahnya saat dia ulang tahun ke-14.
Dengan merenungkan anti kimaks kisah Gogol ini, pembaca akan tahu bahwa pencarian jati dirinya
telah mendekati garis akhir. Gogol -atau siapapun- ternyata tak perlu berlari
kelelahan menjauh dari keluarga (yang nota bene berarti menjauh dari dirinya yang
orisinil) demi menjadi diri sendiri... hanya untuk kemudian pulang dan
menyadari bahwa penerimaan diri sejak awal adalah hakekat dari akhir dari
pencarin jati diri.*
Baru skimming saja
ReplyDelete