Thursday, February 13, 2014

Antara Amy Tan dan Gogol

Oleh: Lisa Soeranto

"Tata, pinjemin aku buku lagi dong. Terserah, apa aja."  Lalu sampailah di tangan saya sebuah novel tentang kehidupan imigran dari Asia (India) yang hijrah ke Paman Sam. Novel berjudul "The Namesake" ditulis oleh Jhumpa Lahiri berdasarkan inspirasi kisah hidupnya. Mulai dari falsafah pemberian nama, keterikatan dengan tradisi Benghali yang sangat dijaga orangtuanya (terutama ibunya) sekalipun berada ribuan kilometer jauhnya dari tanahair, hingga problematika penyesuaian diri terhadap kehidupan praktis sehari-hari.

Lawan Dari Maut - The Opposite Of FateSaya mulai membacanya dan sebelum terlampau jauh, saya teringat sebuah buku yang saya beli beberapa tahun yang lalu di lapak diskon. Jenisnya otobiografi dari penulis keturunan China, generasi kedua dari kaum imigran seperti Jhumpa Lahiri juga. Namanya Amy Tan, ia menulis "The Opposite of Fate" yang terbit tahun 2003 di Amerika. 
Pada 2006, karya Amy itu diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul "Lawan Dari Maut". 


Amy menulis banyak novel yang terinspirasi oleh kehidupan orangtua (terutama ibunya). Salah satunya, "The Joy Luck Club" (TJLC) yang terinspirasi oleh kehidupan ibunya dan teman-temannya seperantauan di tanah asing tersebut. TJLC yang menjadi best seller, kemudian diangkat menjadi sebuah filem layar lebar oleh sutradara Amerika kelahiran China, Wayne Wang pada 1993. TJLC bercerita tentang empat wanita China perantauan yang tinggal di Amerika dengan anak perempuan mereka yang masing-masing lahir di Amerika.  

The Joy Luck Club (film).jpg
Poster Filem The Joy Luck Club
Di dalam otobiografinya, Amy Tan menggambarkan kehidupan mereka yang sarat dengan keyakinan-keyakinan akan adanya takdir, nasib-nasib buruk, dan arwah-arwah nenek moyang yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. 

Sekalipun ayah Amy adalah seorang penginjil, ibunya, Daisy, ternyata masih menyimpan kepercayaan-kepercayaan lama, yang masih bisa dijadikan tempatnya bersandar di kala resah. 

TheJoyLuckClub.jpgPada saat Daisy kehilangan suami dan anak laki-lakinya (kakak Amy) karena tumor otak, Amy mulai mengangkat tragedi-tragedi yang menimpa hidupnya dan berbicara tentang kutukan. Untuk melawan kutukan itu ia mulai menyebut-nyebut arwah masa lalu, mulai berdoa di depan lukisan ibunya, menemui seorang geomancer yang akan memeriksa arsitektur spiritual alias fengshui rumahnya, dan juga mendatangi para penyembuh iman. 

Menurut Amy, semenjak ayahnya meninggal, semakin banyak hantu yang melompat dari masa lalu ibunya: gagasan tentang pembalasan karma, reinkarnasi, dan hadirnya hantu-hantu  yang ditandai dengan gogongan anjing mereka, benda yang salah letak, pintu terbanting jika ada nama tertentu yang terucap. Hal tersebut juga yang dianggap Amy berefek pada dirinya yang sering berimajinasi atau mungin juga berhalusinasi: merasa mendengar suara langkah atau pintu-pintu yang dibanting.

Menurut saya, Amy Tan mengungkapkan keseharian kehidupan mereka sebagai kaum imigran dengan cara yang sangat santai dan memandang dari sisi yang positif. Bahkan sepanjang otobiografinya, ia tidak memberi kesan bahwa mereka terintimidasi oleh kenyataan bahwa mereka adalah kaum pendatang. 

Amy Tan dan ibunya
Amy memberi gambaran bahwa mereka berada di Amerika karena mereka juga berhak atas kesetaraan, seberapun dalamnya perbedaan-perbedaan yang ada dari sisi genetis, kebudayaan, dan bahasa ibu. Tentang kesenjangan bahasa, ia pun dapat menceritakan dengan tanpa tekanan. Ia tak hidup serta merta untuk menurut pada standar yang ditetapkan oleh negara di mana ia berpijak melainkan pada kepercayaan dirinya. Mungkin itu juga diperoleh dari ibunya.  



Dalam bukunya Amy menyatakan, 

"Anda harus tahu bahwa ibuku sering menggunakan kata-kata bahasa Inggris yang sebenarnya tidak dimengerti olehnya. Ia membaca laporan-laporan dari Forbes, mendengarkan berita Wall Street Week, berbicara setiap hari dengan pialang sahamnya, dan membaca buku-buku Shirley MacLaine dengan mudah - segala macam hal yang tak kupahami. Namun, beberapa temaku berkata bahwa mereka bisa memahami lima puluh persen perkataan ibuku. Beberapa yang lain berkata mereka dapat memahami delapan puluh sampai sembilan puluh persen. Beberapa lagi berkata mereka sama sekali tidak mengerti, seakan ibuku berbicara dalam bahasa Mandarin dan bukannya bahasa Inggris. Namun bagiku, bahasa Inggris ibuku benar-benar jelas dan normal. Itulah bahasa yang kukenal sejak kecil. Di telingaku , bahasa Inggris ibuku terasa jelas, tajam, penuh pengamatan dan penggambaran. Itulah bahasa yang telah membantu membentuk caraku memandang dan mengungkapkan berbagai hal, serta memahami dunia ini".

Amy Tan tampak santai menjalani takdirnya, sejak ia tahu bahwa ia terlahir dari pasangan imigran yang merupakan kombinasi dari seorang ibu yang unik dan masih bersandar pada kepercayaan asli leluhurnya dengan ayah yang disiplin dan kuat keimanan kristianinya. Semua ia terima sebagai takdir yang menyenangkan dan pada saat bersamaan ia juga memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi pilihan dalam hidupnya. Masa  remaja yang penuh  kesalahan, menjadi penulis ternama yang harus siap menerima kritikan pedas, bahkan saat ia harus menerima kenyataan bahwa ia pada akhirnya harus menderita penyakit Lyme yang serius, semua itu adalah jalan hidup yang diterimanya dengan positif dan tetap optimis.

Di bagian awal otobiografinya, Amy Tan menulis,  

"Ibuku percaya pada kehendak Tuhan selama bertahun-tahun. Rasanya seakan-akan ia telah membuka keran alam semesta dan kebaikan terus mengucur keluar. Ia berkata imanlah yang membuat segala hal yang baik itu muncul dalam lehidupan kami, tapi semula kupikir ia mengatakan "takdir (fate)", karena ia tidak bisa melafalkan bunyi "th" dalam katan "faith". Tapi kemudian aku berpendapat mungkin semuanya memang karena takdir semata, bahwa iman hanyalah ilusi untuk menunjukkan bahwa kita masih memegang kendali. Aku menemukan bahwa yang paling banter bisa aku miliki hanyalah harapan, dan dengan itu aku tidak menyangkal adanya kemungkinan, baik maupun buruk. Jadi maksudku, kalau saja ada pilihan, Tuhan yang Baik atau siapapun Dia, di sanalah letak jawaban semuanya."

Front CoverKembali pada novel Jhumpa Lahiri. The Namesake berisi cerita yang mungkin terasa umum dijumpai di keluarga-keluarga kaum imigran, yaitu lagi-lagi berkaitan dengan pola pikir dan latar belakang budaya negeri asal. Pergolakan batin terasa kuat sepanjang cerita dengan tokoh utama Gogol yang kemudian bernama Nikhil. 

Sungguh berbeda dengan proses adaptasi Amy tan dalam kisah pribadinya, Gogol digambarkan sebagai manusia yang tak benar-benar bisa merasakan nyaman di dalam "cangkang"nya yang bernama Benghali. Sepanjang hidupnya ia ingin melepaskan driri dari takdir turunan itu. Mungkin kah itu juga penggambaran ekstrem dari proses pencarian jati diri Jhumpa Lahiri?

Secara budaya, China dan India tentu saja berbeda. India, khususnya Benghali, memiliki tradisi pemberian nama yang khas. Begitu bayi lahir dalam sebuah keluarga, ia tak akan segera diberi nama. Bayi hingga usia tertentu (bisa hingga menjelang masuk sekolah dasar) akan dipanggil dengan nama panggilan yang biasa saja. Nama resmi atau yang disebut sebagai nama bagus, harus benar-benar dipilih dengan serius karena harus pantas disandang sepanjang hidup anak itu nanti saat berkiprah di masyarakat. 

Demikian juga Gogol. Sekalipun lahir dan tinggal di Amerika, ia tak luput dari tradisi tersebut. Ia belum dinamakan secara resmi oleh orangtuanya yang sedang menunggu sebuah surat dari nenek buyutnya yang telah menyediakan pilihan nama bagus bagi cicitnya. Namun surat tak kunjung datang hingga nenek buyutnya meninggal. 

Maka, Gogol yang mendapati dirinya dengan nama panggilan yang aneh (bukan nama Amerika, bukan pula India; melainkan Rusia), tetap bernama Gogol untuk waktu yang cukup lama karena setelah kejadian surat nenek buyut yang hilang di tengah jalan itu, orangtuanya tak kunjung menemukan nama bagus.  

Saat didaftarkan di sekolah, orangtuanya tak ingin mendaftarkan Gogol sebagai Gogol (sesuai nama resminya di paspor), melainkan dengan nama bagus, Nikhil. Rencana itu ditolak pihak sekolah. Gogol kecil  juga merasa tak mengenali dirinya sebagai Nikhil, nama yang tiba-tiba harus disandangnya. Maka sepanjang masa sekolahnya Gogol dikenal, baik secara resmi atau panggilan, tetap dipanggil Gogol. 

Namun saat memasuki perguruan tinggi, Gogol mendaftarkan pergantian namanya secara resmi melalui proses legalisasi di pengadilan. Kehidupan sebagai mahasiswa dimulai dengan nama Nikhil. Meski demikian, Gogol-baru-yang-kini-bernama-Nikhil ini tetap tak bisa lepas dari kenyataan bahwa sebenarnya dia masih Gogol yang dulu - seorang anak yang masih bingung dengan konsep dirinya.

The Namesake lekat dibalut proses pencarian jati diri yang rumit, meskipun -pada akhirnya- ada penemuan. Sepanjang sejarahnya hingga usia dewasa, Gogol mencoba mencari tahu posisinya baik dalam keluarga Beghali maupun di masyarakat Amerika. 

Semua prestasi sekolah dan karirnya tak melahirkan rasa percaya diri dan bangga akan asal-usunya. Gogol tetap saja seorang penyendiri di dunia yang ramai. Ia tahu ia berbeda, dan masalahnya ia terlalu berkutat dengan perasaan berbeda itu, lupa bahwa menjadi berbeda adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Masalahnya yang lebih gawat adalah dia ingin "membeli" apa yang menurutnya akan menjadi persamaan atau kesetaraan dengan orang-orang lain.

Jhumpa Lahiri
Melalui cara pandang Gogol, Jhumpa Lahir menggambarkan kehidupan keluarga Gogol sebagai keluarga yang selalu serius cenderung kaku. Semua langkah terasa diayunkan dengan hati-hati dan berat. Yang terasa adalah situasi-situasi yang selalu penuh kemuraman yang menekan, sekalipun ada kisah-kisah perayaan, seperti beberapa pesta ritual tradisi Bengali atau bahkan Thanksgiving dan Natal yang belakangan diadopsi keluarga Gogol. Kehidupan kelompok imigran India dari kacamata Gogol menjadi terlihat puritan, akibat problematika kegalauan Gogol.

Sama seperti novel Amy Tan, The Namesake juga diangkat ke layar lebar oleh sutradara wanita kelahiran India yang tinggal di New York, Mira Nair. Filem ini diputar di Amerika pada 2007. 


Poster Filem The Namesake
Proses pencarian jati diri dengan memakai "hal kecil tapi penting" seperti nama menurut saya adalah brilian, karena bisa merepresentasikan kegelisahan semua manusia saat ia merasa tidak berada di tempat dan/atau saat yang seharusnya. Dari situ, bisa menjadi pijakan awal manusia bergerak untuk menuju diri yang lebih berarti buat dirinya dan orang lain. 

Di bagian terakhir The Namesake, digambarkan  Gogol, berusia 32 tahun, baru mulai tergerak untuk membaca buku karya Nikolai Gogol yang diberikan almarhum ayahnya saat dia ulang tahun ke-14.

Dengan merenungkan anti kimaks kisah Gogol ini,  pembaca akan tahu bahwa pencarian jati dirinya telah mendekati garis akhir. Gogol -atau siapapun- ternyata tak perlu berlari kelelahan menjauh dari keluarga (yang nota bene berarti menjauh dari dirinya yang orisinil) demi menjadi diri sendiri... hanya untuk kemudian pulang dan menyadari bahwa penerimaan diri sejak awal adalah hakekat dari akhir dari pencarin jati diri.*






1 comment: