Tuesday, February 18, 2014

Pertemuan KBK # 9 Februari 2014: Berkunjung ke Perpustakaan Aldo Zirsov


Berfoto bersama Aldo (berbaju biru di baris belakang) di perpustakaan
Pertemuan Klub Buku Kita (KBK) pada Februari berselang tidak lama dari pertemuan di Januari. Rencana untuk mengunjungi perpustakaan Aldo Zirsov sudah dibuat sejak akhir tahun lalu. Saat menjelang Februari, Aldo menyediakan waktu di hari Minggu, 9 Februari. Jadi, demikian lah, pertemuan KBK kali ini hanya berselang 2 minggu dari pertemuan sebelumnya. Yang tercepat sejak KBK ada.
Mungkin karena sebelumnya foto-foto perpustakaan Aldo sudah beredar di grup WhatsApp KBK, jadi banyak yang tertarik ya. Ada 13 orang yang datang. Delapan anggota lama yaitu, Nuris, Fahmi, Furqon, Lis, Lisa, Tata, Ronny, dan Fertina. Sedang empat lainnya anggota baru, yaitu: Rizki, Mundir, dan pasangan suami-isteri, Zaliansyah dan Rini Lucia.
Aldo tinggal di salah satu hometown yang akhir-akhir ini menjamur di wilayah Ciputat, dekat perbatasan Bintaro. Tidak sulit menemukan rumahnya karena sebelumnya Aldo memberikan arahan yang cukup jelas. Sepertinya hanya Nuris yang tersesat, karena kebablasan hingga ke Kandang Jurank, komunitas kreatif milik artis Dik Doank.   
Tapi, baiklah, kami memaklumi. Yang penting semua bisa berkumpul dan mendengar Aldo bercerita. O ya, sebelumnya seperti biasa ada gelaran camilan di meja. Masing-masing pamer potluck yang dibawa dari rumah. Ada ketan, kacang goreng, krupuk, getuk singkong, arem-arem, combro, dan dua macam buah: semangka dan papaya Calina. 


Potluck tradisional (kiri) dan bakso sajian Aldo (kanan)
Kacang Goreng Gentong spesial
 dari Nuris
Potongan pepaya Calina dan semangka
Pepaya Calina

Keberadaan buah jarang ada di pertemuan. Kali ini, Lisa bawa pepaya Calina – orang biasa menyebutnya sebagai papaya Kalifornia, dipercaya berasal dari Kalifornia. Belum banyak yang tahu bahwa papaya Calina adalah tanaman asli Indonesia.
Adalah almarhum Professor Sriani Sujiprihati, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan ahli genetika dan pemuliaan tanaman yang menemukan varietas pepaya Calina atau IPB-9. Selain Calina, ia juga menemukan varietas pepaya lain yang diberinama Carisya atau IPB-3. Yang terakhir ini di pasar dikenal sebagai pepaya Hawaii atau papaya Havana.
Para pedagang buah menganggap penamaan baru pada jenis-jenis buah dengan nama-nama negara lain lebih menaik minat pembeli. Padahal menurut etika, ini tidak boleh dilakukan. Pedagang tahu, konsumen Indonesia masih menganggap apa-apa yang berasal dari luar negeri adalah yang terbaik dibandingkan buatan lokal, jadi mereka memanfaatkan ‘kebodohan’ itu.
Semasa hidupnya, Prof. Sriani bekerja sebagai Kepala Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman Pusat Kajian Buah Tropika IPB. Ia dikenal sebagai profesor pepaya dan cabai karena penemuannya yang luar biasa pada dua  jenis tanaman itu. 

Untuk cabai, Prof. Sriani telah menemukan empat hibrida cabai unggul yait IPB CH1, CH2, CH3, dan CH4 yang punya keunggulan adaptif, produktivitas tinggi, tahan penyakit, benih murah dan kadar capsaicin tinggi. Capsaicin adalah senyawa kimia pada cabai yang menimbulkan rasa pedas. Semakin tinggi kadar capsaicin, semakin tinggi pula nilai ekonomis cabai di pasar.  


Alm. Prof. Sriani
Pepaya Calina adalah hasil penelitian Prof. Sriani selama tujuh tahun. Varietas baru itu lekas diminati petani buah karena pembudidayaannya yang mudah, cepat panen (umur 8 bulan sudah mulai panen), dan dalam satu pohon mampu menghasilkan hingga 40 buah meski tinggi batang belum mencapai satu meter. Pedagang pun senang menjual Calina, rasanya yang lebih manis dibanding pepaya lainnya membuatnya diminati konsumen.
Untuk pepaya Carisya, bentuknya lebih kecil, panjangnya sekita 16-18 cm, diameter 7-8 cm, dan bobot buah sekitar setengah kilogram saja. Daging buah Carisya jingga kemerahan dan rasanya tak kalah manis.
Begitulah kisah ringkas pepaya Calina dan Carisya, semoga menjadikan kita paham bahwa penamaan buah-buah itu hanya tipuan pedagang saja. Barangkali mulai sekarang kita bisa ikut memasyarakatkan bahwa namanya adalah pepaya Calina (baca: Kalina) bukannya Kalifornia, dan pepaya Carisya (baca: Karisya), bukannya Hawaii atau Havana.
Sekarang kita kembali dulu ke rumah Aldo dan menyimak ceritanya tentang dirinya dan kecintaannya pada buku.
Aldo dan Buku

Aldo kecil tumbuh dalam didikan keluarga yang mencintai buku di Padang, Sumatera Barat. Ayah dan ibunya secara berkala membelikan buku dan berlangganan majalah bagi Aldo dan kakak-kakaknya sesuai umur masing-masing. Pokoknya setiap anak dapat jatah, begitu cerita Aldo. “Jatah” yang dimaksud juga termasuk jatah untuk ikut kursus. Masing-masing anak dalam keluarga Aldo wajib mengantongi ijasah dari lembaga kursus.


Mendengar cerita Aldo
Nah, mulailah perilaku Aldo yang berbeda terlihat. Jika kesenangan baca buku dan majalah masih sama dengan saudara kandung lain, lain halnya dengan kursus. “Saya hanya minta mentahnya saja, saya pakai buat beli buku. Saya yakin bisa belajar sendiri semua ketrampilan secara otodidak,” ujarnya mantap. Aldo mengaku bisa mengoperasikan komputer tanpa harus kursus sebagaimana anak muda di jamannya kala itu.
Dengan “jatah kursus” yang didapat, Aldo kini melampiaskan keinginannya untuk bertualang. “Niat saya adalah mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya baca di buku. Saya naik apa saja, dari bis hingga numpang truk, asal bisa sampai”, ceritanya seru.
Perkenalan dengan pasar buku di Kwitang, di kawasan Senin Jakarta Pusat bermula saat Aldo kecil masih duduk di bangku SMP. Aldo mengagumi semua buku yang bertumpuk dan digelar. Berjam-jam ia nongkrong di sana hingga puas. Pada 1998, saat Aldo benar-benar tinggal di Jakarta, Kwitang adalah tempat yang sering ia kunjungi.
Mulailah Aldo menjalin pertemanan dengan para pedagang buku. Tidak hanya di Kwitang, tapi juga di beberapa tempat penjualan buku bekas, di Blok M, Kuningan, Jatinegara, TMII, juga kawasan UI, Depok. Beberapa pedagang memanfaatkan kepintarannya untuk tahu isi buku yang dijual, selanjutnya pedagang meneruskannya ke calon pembeli. “Itu jadi bahan buat dia ngecap,” kata Aldo tergelak mengingat masa-masa itu. 

Aldo menikmati pertemanan itu, jika sedang ada uang, ia tak segan mentraktir makan siang para pedagang. Hingga kini, sosok Aldo tidak asing lagi bagi para pedagang buku bekas di Jakarta dan sekitarnya.
Apa manfaat dari pertemanan itu? Yang utama, kata Aldo, ia bisa beli buku dengan harga murah. Selain itu, ia juga bisa dapat buku-buku langka yang sulit dicari.

Manfaat lain adalah Aldo kini punya trik-trik membeli buku bekas, di antaranya, jika ke lapak buku bekas jangan terlalu memperlihatkan keinginan pada buku tertentu. "Kalau pedagang tahu, bakal dimahalin, jadi tenang-tenang aja, bersikap biasa atau pura-pura tidak terlalu butuh," pesan Aldo. 

Trik lainnya adalah beli buku saat akhir bulan, jangan di awal bulan. Menurut Aldo, "Pedagang akan memanfaatkan momen itu karena anggapan umum awal bulan orang habis terima gaji. Jika beli saat akhir bulan bisa ngeles, bilang lagi nggak ada uang. Atau bahkan jika sudah kenal baik bisa berhutang dulu" 

Saat Aldo kuliah di Colorado, Amerika Serikat. Kegemarannya mengoleksi buku tak juga surut. Ia puaskan berburu buku-buku yang sulit dicari di Indonesia. Sayang, saat mengirim buku ke Indonesia ada satu kontainer yang hilang. Beberapa waktu kemudian Aldo menerima banyak surat elektronik dari orang-orang yang menemukan buku-buku Aldo.
Entah bagaimana buku-buku Aldo kini tersebar ke banyak lapak penjual buku bekas. Pada setiap buku, Aldo memberi stempel nama dan alamat surat elektronik. Nama Aldo Zirsov yang unik dan mirip orang Rusia membuat orang ingin tahu, mereka mengirimkan surat elektronik sekedar menyampaikan pesan bahwa buku Aldo sekarang ada pada dirinya.  
Koleksi buku Aldo kini mencapai puluhan ribu judul. Semua tersimpan rapi di rumahnya. Soal tempat ini jadi isu tersendiri dalam kehidupan Aldo. Sejak kost di Jakarta ia harus mencari tempat yang luas. “Setidaknya punya dua atau tiga kamar, untuk buku dan satu untuk saya tidur,” ujarnya.
Kedekatan dengan buku membuat ia juga berhati-hati memilih calon pendamping. “Harus yang suka baca buku, jika tidak lebih baik putus saja. Buku sudah menjadi bagian hidup saya,” ujar Aldo yang mendapatkan jodoh dari komunitas GoodReads Indonesia ini. Sayang, sang isteri sedang tugas ke Malaysia saat KBK berkunjung ke rumahnya.
Rumah Aldo berlantai dua. Perpustakaan nyaris memenuhi lantai dua. Meski Aldo punya aturan lantai satu bebas buku, tapi niat itu tak terpenuhi, “Sulit juga ternyata..,” ujarnya sambil menunjuk beberapa tumpukan buku di beberapa sudut di ruang tempat kami bertemu di lantai satu.
Usai berbincang, Aldo mengajak kami mengunjungi perpustakaannya. Anggota KBK berdecak kagum. Beberapa buru-buru mengabadikan ruang-ruang buku dengan kamera ataupun telepon genggam. Tak jarang mereka bergaya seolah jadi pemilik buku.




Aldo tidak sembarangan menyusun buku. “Saya bikin pemetaan pribadi tentang perpustakaan ini. Jadi saya tahu pasti dimana hendak mencari jika memerlukannya,” ujarnya sambil menunjuk deretan buku yang tersusun rapi.
Puas melihat-lihat perpustakaan dan berfoto kami menikmati sajian yang ada sambil berbincang ringan. Aldo berbaik hati memasak bakso bagi kami semua.

Terima kasih dan Doorprize

Sebagai ucapan terima kasih, KBK memberikan kenangan tanaman hias bagi Aldo dan isterinya. Sayang, momen serah terima tidak sempat terfoto.
Doorprize kali ini disumbang oleh Aldo. Ada enam buku yang diperebutkan. Yang mengherankan empat anggota baru semua beruntung mendapatkan doorprize. Dua lainnya direbut Furqon dan Fertina. 


doorprize ceremony
Sebelum pulang, Aldo berpesan agar kita mulai mengoleksi buku-buku seturut asal daerah masing-masing. Aldo misalnya sudah menunjukkannya dengan mengoleksi buku-buku tentang daerah Padang. “Bisa tentang apa saja lho, masakannya, cerita rakyatnya, tempat wisata, politik, atau latar belakang, apapun pokoknya mengenai daerah itu,” ujarnya.
Rupanya Aldo berencana membuat satu jaringan perpustakaan tentang berbagai daerah di Indonesia. Jika ada yang ingin tahu tentang Semarang, misalnya, bisa langsung mencari si A. Jika ingin mencari tahu tentang Jogyakarta bisa mencari ke B. Begitu seterusnya. Menurut Aldo, inilah salah satu upaya kita untuk mencintai daerah masing-masing. Untuk mencintai Indonesia. 

Terima kasih Aldo untuk pesan dan tip membeli buku bekas serta kerelaannya menerima KBK. Terima kasih untuk keikutsertaan anggota KBK dalam pertemuan kali ini. Sampai bertemu di pertemuan bulan depan!

3 comments:

  1. Pertama, membaca adalah jendela dunia ... lalu terjadi lompatan: membaca menjadi kendaraan /alat transportasi yang benar-benar membawa kita ke berbagai tempat.
    *pastikan pilihan bukunya!*

    ReplyDelete
  2. tidak sabar untuk pertemuan berikutnya

    ReplyDelete
  3. Wah itu gila banget ya bukunya, banyak banget.

    Jadi mau bergabung ni.

    Salam Literasi.

    ReplyDelete