Wednesday, February 12, 2014

Pertemuan KBK #26 Januari 2014, Tentang Membangun Indonesia Bersama Pak Didid

Ini pertemuan pertama di 2014. Sesuai kesepakatan semula, pertemuan bertempat di Sekolah Citra Alam Ciganjur, Jakarta Selatan. Tidak banyak yang datang. Kami hanya bersembilan orang, yaitu: Tata, Agung, Tita, Lisa, Arfi, Lis, Nuris, Fahmi, dan Furqon. Menjadi sepuluh orang dengan seorang tamu istimewa; Doktor Daddi Heryono Gunawan. Kami memanggilnya: Pak Didid.

Pak Didid adalah Dosen Fakultas Sosiologi Universitas Indonesia dan salah satu peneliti pada Lembaga Kajian Terorisme dan Konflik Sosial, Fakultas Psikologi di universitas yang sama. Sehari-hari, beliau bekerja sebagai Wakil Sekretaris Pribadi Presiden RI di Istana Negara. Pak Didid juga aktif menulis di media dan menjadi pembicara di banyak seminar dan diskusi.

Menjadi hal yang istimewa mendapati kehadiran Pak Didid dalam pertemuan Klub Buku Kita kali ini. Sungguh, ini adalah awal pertemuan yang baik di 2014.

Namun sebelum mengobrol, seperti biasa pada sesi awal kami bahas kuliner. Ada banyak camilan yang dihidangkan kali ini – padahal yang hadir hanya sedikit. Jika ditulis menjadi panjang daftarnya. Ada empek-empek Palembang, jagung rebus, gethuk singkong, kacang rebus, pie susu Bali, gemblong, kue unti, peyek kacang, peyek rebon. Ada juga minuman tradisional yaitu beras kencur dan kunyit asam.





Yang selalu hadir adalah bumbu pecel cap Gentong bikinan Nuris. Tapi kali ini, Nuris bawa juga bumbu urap. Sementara sayuran rebus pun beragam. Ada kubis, kacang panjang, tauge, kecipir, kangkung, dan yang istimewa ada daun beluntas.


Beluntas

Menurut wikipedia, beluntas merupakan tumbuhan semak yang bercabang banyak, berusuk halus, dan berbulu lembut. Umumnya tumbuhan ini ditanam sebagai tanaman pagar atau bahkan tumbuh liar, tingginya bisa mencapai 3 meter apabila tidak dipangkas, sehingga seringkali ditanam sebagai pagar pekarangan. Perbanyakannya dapat dilakukan dengan setek batang pada batang yang cukup tua

Beluntas (Pluchea Indica) adalah anggota keluarga bunga aster (Asteraceae) atau sering disebut bunga bintang. Ini adalah salah satu keluarga tanaman terbesar dan beragam. Peneliti menemukan ada sekitar 20ribu jenis spesies di planet bumi.

Begini penampakannya saat masih segar:


Hebatnya, kebanyakan anggota keluarga bunga aster bisa dimakan atau dimanfaatkan untuk pengobatan herbal. Sebut saja, bunga matahari, bunga krisan, dandelion atau ya topik kita kali ini - beluntas. Sayangnya, keluarga bunga aster mengandung zat alkaloid aktif yang bisa terkandung dalam akar, bunga, biji, atau daun sehingga kalau dikonsumsi rasanya menjadi agak pahit.

Pada beluntas, alkaloid berada pada bagian daun dan ditambah dengan zat tanin seperti yang terkandung dalam daun teh, daun beluntas getir jika dimakan. Bau daun beluntas juga agak menyengat karena mengandung minyak atsiri.

Beberapa khasiat beluntas yang sudah dikenal adalah mengatasi bau badan dan bau mulut tak sedap, mengatasi keputihan pada wanita, mengatasi nyeri haid, dan meningkatkan nafsu makan.

Meski bisa dimakan dan berkhasiat sebagai pengobatan, tampaknya belum ada yang berniat mengomersialkan daun beluntas. Nuris, pembawa pecel beluntas bilang, ia hanya minta ke tetangga yang berbaik hati memperbolehkannya memetik daun-daun beluntas untuk sajian KBK kali ini. Kehadiran si beluntas mendapat sambutan positif, Lisa, mengaku makan pecel dengan lahap gara-gara ada si beluntas. Dan, pecel pun licin tandas di akhir pertemuan KBK.

Begitulah sekilas kehadiran beluntas dalam sajian KBK. Berikutnya adalah tentang kehadiran Pak Didid yang memukau kami dengan kisah-kisah tentang Bali.


Kenapa Bali? Pak Didid mengaku lebih tertarik bicara soal Bali, karena selama beberapa tahun terakhir dia sungguh mempelajari masyarakat Bali. Bali adalah fokus utama disertasi saat meraih gelar Doktoral di Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Ini disertasi Pak Didid dalam bentuk buku: 


Pak Didid mulai perbicangan dengan menuturkan soal pencitraan Bali yang bertolak belakang dengan latar sejarah yang ada. Selama ini – atau setidaknya bagi generasi pasca kemerdekaan Indonesia, Bali dikenal sebagai daerah wisata yang cantik, tenang, dan nyaman. Pendeknya, semua tahu dan bahkan nyaris seluruh dunia mengenal Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata. 

Namun, kata Pak Didid, Bali sebenarnya punya latar sejarah yang mengerikan. Menurut Pak Didid, korban yang jatuh akibat G30S/PKI pada 1965 sebenarnya lebih banyak dibanding di Jawa. Dan jika merunut ke belakang lagi, sejarah Bali sarat dengan kekerasan dan kesadisan. Sebut saja Perang Puputan yang terjadi dua kali di Badung (1906) dan di Klungkung (1908) dimana para pejuang sungguh berjuang hingga titik darah penghabisan.

Kata “puputan” sendiri artinya berjuang sampai habis-habisan (puput), intinya saat itu mereka berjuang demi mempertahankan tanah air dari cengkeraman Belanda.

Menyimak Cerita Pak Didid 

Citra kekerasan yang ada di Bali membuat Belanda harus memikirkan suatu cara untuk 
menutupinya. Terlebih saat itu Ratu Willhelmina sudah mencanangkan adanya politik etis yang menyatakan bahwa Belanda memiliki hutang budi kepada negara jajahannya, dan oleh karenanya memiliki tanggung jawab untuk mensejahterakan rakyatnya.

Sebuah konsep khusus ditemukan untuk Bali, yaitu menjadikannya sebagai daerah tujuan wisata. Ini berangkat dari pemikiran tentang kebudayaan Bali sendiri yang pada 
kenyataannya tidak terpengaruh budaya-budaya besar yang mengelilinginya.

Sejak dua perang puputan itu, Belanda lantas mengubah kebijakan kolonialnya menjadi “Baliseering” atau Balinisasi Bali. Intinya adalah membiarkan dan bahkan melindungi orang Bali untuk meeruskan pola hidupnya sendiri yang “indah dan bebas” dari gangguan apapun. Sejak itulah, Belanda melihat Bali sebagai “museum hidup” - dunia yang mesti dilidungi dan dipertahankan keberadaannya.

Promosi wisata kemudian dibikin besar-besaran, brosur-brosur dicetak, beragam penelitian diadakan untuk membentuk citra Bali sebagai daerah yang sungguh berbudaya, sebagai daerah tujuan wisata yang cantik.

Begitu kuatnya pelaksanaan kebijakan itu, hingga sesudah Indonesia merdeka, kita dan bahkan dunia mengenal sebagai kawasan wisata yang indah. Bahkan lebih dikenal ketimbang Indonesia sendiri. Kita tidak peduli bahwa dengan itu masyarakat Bali justru kehilangan identitas. Kita melupakan bahwa Bali yang sekarang adalah Bali yang dibangun sesuai pemikiran Belanda.

Pada masa Orde Baru, lagi-lagi pemerintah mengonfirmasi kebijakan Belanda dengan mengonstruksi Bali secara besar-besaran, mirip cara Belanda. Di samping promosi wisata yang gencar, juga terlihat dengan dibangunnya kawasan Nusa Dua menjadi satu daerah wisata khusus tempat banyak seminar baik skala nasional hingga internasional sering diadakan.

Di masa kini, kenyataan Bali sebagai tujuan wisata menimbulkan konsekuensi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang harus ditanggung sendiri oleh masyarakat Bali. Dari sisi ekonomi dimana wisata digemborkan sebagai pendapatan utama, misalnya, terjadi ketimpangan pendapatan yang besar antara penduduk yang di perkotaan maupun di perdesaan.

Menurut penelitian, transaksi wisata berhenti sampai di kota karena wisatawan sering menggunakan jasa paket wisata yang kebanyakan diatur oleh pengusaha pariwisata di kota. Akibatnya penduduk di perdesaan nyaris tidak mendapat sepeser pun keuntungan. Mereka hanya menjadi obyek wisata dan bahkan harus mengeluarkan ongkos untuk menjaga agar lingkungan tetap eksotis di mata wisatawan.

Akibat kebijakan yang terus menerus dilakukan tanpa melihat kenyataan dan masa lalu Bali, hingga kini masyarakat di Bali merasa tidak sanggup hidup tanpa pariwisata.

Sebagai akademisi, Pak Didid menganjurkan untuk me-rekonstruksi Bali kembali bukan dari sudut pandang warisan kolonial ataupun dari pemerintah melainkan dari sudut pandang Bali sendiri. “Ini bukan saja tentang Bali. Melainkan tentang bagaimana kita menjadikan Indonesia yang baru. Ini tentang keterbukaan, kita harus melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia beragam. Jadi ini juga soal pluralisme”, tegas Pak Didid.

Konsep “Indonesia in the making” menurut Pak Didid, adalah tanggung jawab bersama, bukan melulu kepentingan sekelompok elit pemerintah. Dalam hidup sehari-hari, Pak Didid mengajak kita untuk menerjemahkan keindonesiaan seturut kemampuan masing-masing. 

Membuat kelompok baca buku seperti KBK adalah salah satu keikutsertaan yang positif dalam membangun Indonesia.“Karena komunitas buku adalah salah satu lokomotif perubahan,” ujar Pak Didid.

Waduh, tentu saja kami bangga mendengarnya. Namun, bukan itu saja yang membuat kami senang. Semua yang hadir merasa semakin terbuka mata dan pikirannya setelah mendengar dan berdiskusi dengan Pak Didid.

“Sungguh bersyukur saya bisa ikut mendengar Pak Didid bicara,” begitu kata Lisa. Yang lain pun mengamini dan berharap Pak Didid bersedia hadir lagi dalam pertemuan KBK yang akan datang.

Apa jawaban Pak Didid? “Ya, tentu saja saya mau, asal ada kacang rebus lagi,” katanya melalui pesan di telepon genggam. Baik, Pak, nanti pasti kami sediakan  :)

Di penghujung acara, kami membagi doorprize. Arfi beruntung mendapatkan pembakar dari Bali. Senyumnya sumringah saat namanya disebut sebagai pemenang doorprize,

  


Kami juga memberi ucapan terima kasih pada Pak Didid berupa bumbu pecel Gentong dan bubuk Jahe Merah. 


Pak Didid sendiri memberikan kenang-kenangan berupa dua buku tentang keindahan Indonesia kepada KBK yang selanjutnya disumbangkan kepada Perpustakaan Sekolah Citra Alam Ciganjur. Terima kasih, Pak Didid.

Dari Pak Didid ke KBK diterima Lisa

Dari Lisa ke Sekolah Citra Alam Ciganjur diterima ibu Anisa

Berikutnya adalah sesi foto bersama, sampai bertemu di bulan Februari :)



1 comment:

  1. Awal tahun yang bagus krn di awali dengan materi yang top. Jd tercerahkan dan menumbuhkan kesadatan baru.

    ReplyDelete