Monday, January 27, 2014

Kisah Anak yang Tak Terlahir

Oleh: Fertina Nurisa Mitra

Judul: Doa Ibu
Penulis: Sekar Ayu Asmara
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2009
Tebal: 270 hal.

Melihat judulnya, Doa Ibu, bukan berarti buku ini mengisahkan cerita haru biru antara anak dan Ibu. Sang penulis, Sekar Ayu Asmara, meyakinkan itu. Di balik judulnya yang manis, Doa Ibu merupakan kisah berjenis misteri yang akan semakin memunculkan misteri di tiap babnya.

Kisah ini berpusat pada dua tokoh utama; Ijen dan Madrim. Ijen adalah seorang pemuda berumur sekitar 25 tahun yang merupakan seorang pelukis dan tinggal bersama keempat temannya sesama pelukis. Sedangkan Madrim adalah istri seorang ternama dan terpandang. Ia punya satu anak yang sedang menapaki karirnya. 


Awalnya kedua tokoh utama ini sama-sama memiliki kehidupan yang sempurna dan bahagia. Tetapi setelah masing-masing mengalami satu kejadian, pelan-pelan hidup mereka yang sebenarnya mulai terungkap dan meluluhlantahkan fakta kehidupan mereka. 

Dimulai dengan pernikahan sahabat Ijen yang bernama Khaled dengan Dewanti. Ketika prosesi resepsi belum juga rampung, tiba-tiba lampu ruangan padam dan saat itu Dewanti tiba-tiba menghilang di depan ratusan pasang mata. 


Sementara itu dalam kehidupan Madrim, ketika semua berjalan dalam kendalinya, tiba-tiba suaminya yang sudah ia nikahi selama 20 tahun meninggal. Di hari pemakaman suaminya, tiba-tiba pula datang seorang wanita dan seorang anak yang menyebut suaminya dengan sebutan "Ayah".  Kejadian yang tidak pernah Madrim sangka selama usia pernikahan mereka.

Ijen mencari kehilangan Dewanti yang berakibat bunuh diri pada sahabatnya, Khaled. Pencarian Ijen menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serta misteri-misteri baru. Bukan menghasilkan, melainkan membuat Ijen semakin kehilangan. Satu-persatu sahabatnya ikut raib. 


Sedangkan, Madrim sebaliknya. Semakin ia mencari kebenaran yang hakiki dari kebohongan suaminya selama sepuluh tahun, ia semakin menemukan makna yang sebenarnya di balik itu semua - di balik kematian suaminya dan di balik kesedihan putri semata wayangnya, Sinta. 


Yang paling menimbulkan misteri di antara semuanya, rupanya hanya Ijen yang bisa mendengar suara "ruh" yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya hingga ada suatu kejadian yang menjelaskan semuanya.
            
Alur dalam buku ini sangat dijaga oleh penulisnya, dari awal sampai akhir ketegangan terus meningkat. Penulis banyak memberikan "bumbu" misteri yang selalu menimbulkan pertanyaan. Ketika intensitas semakin tinggi, kita akan sulit melepas kisahnya. 

Mungkin awalnya, kita akan terkesan membaca kisah horor, terlebih saat sampai di tengah cerita. Tapi justru itu salah satu "bumbu" yang melengkapi satu sama lain, hingga menghasilkan kisah misteri.

Penulis juga sangat piawai menyimpan jawaban. Ia tidak mau memanjakan pembaca dengan jawaban meski pada pertanyaan kecil atau selintaspun. Sebaliknya, penulis membebaskan pembaca dengan imajinasi dan pemikirannya, sebelum akhirnya ia berikan jawabannya. Menarik.



Sebagai tambahan, jika belum mengenal Sekar Ayu Asmara, dia lah penulis buku dari salah satu film thriler di Indonesia berjudul Pintu Terlarang dan penulis naskah dari film berjudul Biola Tak Berdawai. Sebelum membaca buku Doa Ibu, terlebih dahulu saya membaca Pintu Terlarang. 

Meski punya genre yang berbeda, Doa Ibu bergenre misteri dan Pintu Terlarang bergenre psychological thriller, tetapi kedua buku ini sama-sama menarik. Sama-sama menegangkan, sama-sama menimbulkan pertanyaan dan penasaran; juga sama-sama punya jeroan yang mirip. Sang penulis selalu memasukan unsur seniman, kesenian, wartawan, dan humanisme ke dalam ceritanya. 


Buat, saya buku ini sangat menghibur dan juga memuaskan hasrat saya akan buku bacaan misteri, terlebih yang saya jarang temui untuk karangan penulis Indonesia.*


No comments:

Post a Comment