Oleh: Elisabet Tata
Klub Buku Kita (KBK) menutup tahun dengan pertemuan yang
istimewa dan menyenangkan.
Tema kali ini adalah tentang buku cerita anak. Masing-masing anggota yang hadir akan berbagi cerita tentang buku cerita anak favorit.
Kami bertemu di kediaman keluarga Agung & Tita
di Bekasi. Perjalanan cukup lancar berbekal petunjuk dari Tita, jarak tempuh
dari meeting point di SPBU Fatmawati
sekitar satu jam saja dengan kecepatan rata-rata 80km/jam sambil ngobrol di
jalan.
Ada limabelas orang yang hadir dalam pertemuan KBK kali ini.
Mereka adalah: Bintang, Tata, Lisa, Alifah, Furqon, Fachmi, Debby, Fatimah,
Lis, Fertina, Ninda, Agung, Tita, Surasono, dan Sigid. Kami duduk santai di
atas tikar yang digelar di ruang depan yang luas.
Yang membuat istimewa kali ini adalah kehadiran Surasono I.
Soebari, penulis senior yang sudah berkiprah di dunia jurnalistik selama 30
tahun lebih. Pak Surasono, begitu kami memanggilnya, rencananya akan bicara
tentang buku anak yang menjadi tema pertemuan kali ini. Sekedar informasi saja,
selain sebagai jurnalis, Pak Surasono sudah menulis belasan buku baik buku
anak, biografi, maupun pengetahuan populer.
Pak Surasono
Pada sekitar 1970-1980an, buku-buku anak karya Pak Surasono
diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan menjadi buku ajar
wajib di sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Buku terakhir karya Pak
Surasono berjudul: “Pensiunpreuner: Pensiun Sukses” yang diterbitkan Penerbit
Penebar Swadaya pada 2008 telah mengalami cetak ulang hingga tiga kali.
Dua buku karya Pak Surasono yang diterbitkan Diknas
Baiklah, kita kembali ke pertemuan KBK di Bekasi.
Ada tiga bagian dalam pertemuan kali ini. Yang pertama,
acara kuliner. Sejak awal, setiap pertemuan KBK, acara ini sebenarnya selalu
ada terselip di sela bedah buku. Meski soal kuliner disebut bukan yang utama
kenyataannya, nyaris di setiap pertemuan kuliner menjadi acara favorit.
Sebagaimana kesepakatan pada awal mendirikan KBK, penganan
yang tersaji dalam pertemuan sebisa mungkin adalah yang lokal. Ini dilakukan
untuk turut mendukung gerakan locavore – suatu gerakan untuk kembali pada
pangan lokal yang dilakukan oleh sekelompok kecil aktivis peduli pangan lokal.
Oleh karenanya, dalam setiap pertemuan, anggota KBK didorong
untuk mengenal dan mau mengonsumsi camilan tradisional yang berasal dari
pertanian lokal. Lisa, misalnya, membawa nasi sorgum.
Sorgum adalah tanaman rumput-rumputan yang penampakannya
mirip tanaman jagung, karenanya ada yang menyebutnya sebagai jagung cantel.
Peneliti menemukan ada 55 jenis sorgum.
Jika ingin tahu penampakan sorgum, ini dia:
Sorgum berasal dari pantai selatan Laut Tengah. Tak heran jika sorgum dikonsumsi dan bahkan menjadi bahan pangan penting di beberapa wilayah di Afrika dan Asia. Biji-biji sorgum diolah menjadi bahan pangan bagi ternak maupun manusia. Bisa diolah seperti nasi, dijadikan tepung untuk bahan kue, bahkan menjadi sirup untuk jenis sorgum yang manis.
Sebenarnya sorgum bisa dijadikan pangan alternatif pengganti beras. Kandungan proteinnya sekitar 10-11% lebih besar dibanding beras yang hanya 6-8% ataupun jagung yaitu 9%. Sorgum juga kaya vitamin B kompleks,
Masih banyak anggota KBK yang belum kenal sorgum. Meski
tidak banyak yang disajikan, kami bergantian mencicipinya. Lisa juga membawa
biji sorgum yang masih mentah sehingga kami bisa memegang dan mengenal tekstur
biji.
Saya sendiri membawa beberapa jajan pasar, ada nasi tiwul,
cenil, jongkong, klepon, getuk, dan ketan hitam. Tidak banyak juga, tapi cukup
untuk sekedar mengobati rasa ingin tahu. Camilan tradisional lain yang
disajikan adalah cucur.
Nasi sorgum (dalam wadah merah) dan beragam jajan pasar
Eh, tapi di sela makanan tradisional, Ninda - putri Pak Surasono membawa kejutan manis yaitu seloyang apple struddle bikinannya sendiri. Ini camilan orang Austria dan sangat populer di Eropa. Camilan ini mengingatkan saya pada salah satu lagu dalam filem klasik "The Sound of Music" berjudul "My Favourit Things". Salah satu liriknya mengatakan bahwa apple struddle adalah makanan kesukaan Maria, si pengasuh anak yang baik dan pintar bernyanyi itu.
Ini penampakan apple struddle bikinan Ninda; mau tahu rasanya? Sungguh lezat!
Sesudah kehebohan soal kuliner di awal pertemuan, acara berikutnya adalah obrolan soal buku dan penulis. Pak Surasono menjadi
pembicara utama kali ini. Beliau membagikan kertas berisi ringkasan
pembicaraannya hari itu. Kami salut melihat kesungguhan beliau mempersiapkannya
untuk acara ini.
Pak Surasono bilang, cerita anak adalah cerita yang ditulis
untuk anak, berbicara tentang kehidupan anak dan sekitarnya. Ia berisi pesan
moral seperti kejujuran, persahabatan, keberanian, dedikasi, kerja keras,
petualangan, maupun bagaimana menghormati orang tua. Sebagai penulis anak, Pak
Soerasono menegaskan bahwa cerita anak itu, “Ibarat obat yang bersalut gula,”
katanya.
Keberadaan cerita anak, menurut Pak Surasono, sangat penting
karena meletakkan pondasi atau dasar untuk bekal si anak dalam meniti
kehidupan. Pak Surasono lantas memaparkan hasil penelitian psikolog Harvard
University, David McClelland dalam bukunya “The Achieving Society”.
Di buku tersebut, McClelland menyebutkan bahwa untuk
mewujudkan kehidupan yang sempurna, masyarakat memerlukan tiga motivasi yaitu
motivasi untuk berprestasi (virus n-Ach), motivasi untuk berkuasa (n-Pow), dan
motivasi untuk berafiliasi/bersahabat (n-Afil).
Usai meneliti dongeng dan cerita anak di Inggris dan
Spanyol, McClelland menyimpulkan bahwa dongeng yang mengandung virus n-Ach mampu
membangkitkan motivasi dan semangat bagi generasi mendatang. Jenis bacaan yang
dibaca saat kanak-kanak dipercaya mampu menentukan kemajuan dan kemunduran
bangsa di masa depan.
Pak Surasono mengaku senang bisa ikut dalam pertemuan KBK
yang bertemakan cerita anak kali ini. Ia sungguh berharap agar semua anak-anak
Indonesia bisa membaca buku-buku bacaan yang bermutu untuk kehidupan bangsa
yang lebih baik di masa mendatang.
Saat ini, Pak Surasono sedang mempersiapkan satu novel yang
bisa dibaca oleh remaja hingga orang dewasa. Novel itu bertemakan semangat
pantang menyerah dan toleransi. Dua hal yang relevan untuk menyikapi
kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang majemuk ini. Kita nantikan terbitnya
ya..
Suasana Diskusi
Usai diskusi dengan Pak Surasono soal buku anak. Secara
bergantian kami saling berbagi cerita soal isi buku anak yang kami bawa.
Masing-masing bicara, masing-masing turut berkomentar. Ternyata buku anak yang
kami bawa cukup beragam. Seringkali kami tergelak karena cerita anak sungguh
menarik dan lucu.
Searah jarum jam: Fertina, Lis, Furqon, dan Lisa
Waktu berlalu tak terasa sudah saatnya untuk makan siang.
Kami jeda sejenak untuk menikmati sup padang yang sudah disiapkan tuan rumah.
Sembari makan, kami mengobrol sana sini.
Usai makan siang, acara berlanjut dengan lebih santai.
Beberapa masih asyik mengobrol, tapi ada satu lingkaran kecil di salah satu
sudut ruang. Rupanya mereka menggelar kursus singkat merajut. Asyik sekali
melihat mereka merajut.
Sebelum pertemuan diakhiri, doorprize diundi. Pak Surasono berbaik hati menyumbang buku karyanya berjudul “Pensiunpreuner: Pensiun Sukses”. Debby beruntung mendapatkannya.
Pertemuan di Bekasi ini kiranya jadi penutup tahun yang
manis bagi KBK. Kami bersenang-senang sekaligus memperluas wacana tidak hanya
soal bacaan anak, tapi juga soal kuliner tradisional plus ketrampilan merajut. Seperti
biasa, kami membawa pulang makanan yang tidak habis dimakan.
Dan inilah sesi foto bersama yang selalu dinanti
Terima kasih Tita dan mas Agung sebagai tuan rumah, terima kasih untuk kehadiran teman-teman, terima kasih Pak Surasono, terima kasih Ninda untuk seloyang apple struddle yang lezat :)
Sampai bertemu di 2014!













No comments:
Post a Comment