Wednesday, January 8, 2014

Pertemuan KBK #Desember 2013 : Bicara Buku Anak dengan Pak Surasono

Oleh: Elisabet Tata


Klub Buku Kita (KBK) menutup tahun dengan pertemuan yang istimewa dan menyenangkan. 
Tema kali ini adalah tentang buku cerita anak. Masing-masing anggota yang hadir akan berbagi cerita tentang buku cerita anak favorit. 

Kami bertemu di kediaman keluarga Agung & Tita di Bekasi. Perjalanan cukup lancar berbekal petunjuk dari Tita, jarak tempuh dari meeting point di SPBU Fatmawati sekitar satu jam saja dengan kecepatan rata-rata 80km/jam sambil ngobrol di jalan.

Ada limabelas orang yang hadir dalam pertemuan KBK kali ini. Mereka adalah: Bintang, Tata, Lisa, Alifah, Furqon, Fachmi, Debby, Fatimah, Lis, Fertina, Ninda, Agung, Tita, Surasono, dan Sigid. Kami duduk santai di atas tikar yang digelar di ruang depan yang luas.

Yang membuat istimewa kali ini adalah kehadiran Surasono I. Soebari, penulis senior yang sudah berkiprah di dunia jurnalistik selama 30 tahun lebih. Pak Surasono, begitu kami memanggilnya, rencananya akan bicara tentang buku anak yang menjadi tema pertemuan kali ini. Sekedar informasi saja, selain sebagai jurnalis, Pak Surasono sudah menulis belasan buku baik buku anak, biografi, maupun pengetahuan populer.

Pak Surasono

Pada sekitar 1970-1980an, buku-buku anak karya Pak Surasono diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan menjadi buku ajar wajib di sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Buku terakhir karya Pak Surasono berjudul: “Pensiunpreuner: Pensiun Sukses” yang diterbitkan Penerbit Penebar Swadaya pada 2008 telah mengalami cetak ulang hingga tiga kali.

Dua buku karya Pak Surasono yang diterbitkan Diknas

Baiklah, kita kembali ke pertemuan KBK di Bekasi.

Ada tiga bagian dalam pertemuan kali ini. Yang pertama, acara kuliner. Sejak awal, setiap pertemuan KBK, acara ini sebenarnya selalu ada terselip di sela bedah buku. Meski soal kuliner disebut bukan yang utama kenyataannya, nyaris di setiap pertemuan kuliner menjadi acara favorit.

Sebagaimana kesepakatan pada awal mendirikan KBK, penganan yang tersaji dalam pertemuan sebisa mungkin adalah yang lokal. Ini dilakukan untuk turut mendukung gerakan locavore – suatu gerakan untuk kembali pada pangan lokal yang dilakukan oleh sekelompok kecil aktivis peduli pangan lokal.

Oleh karenanya, dalam setiap pertemuan, anggota KBK didorong untuk mengenal dan mau mengonsumsi camilan tradisional yang berasal dari pertanian lokal. Lisa, misalnya, membawa nasi sorgum.

Sorgum adalah tanaman rumput-rumputan yang penampakannya mirip tanaman jagung, karenanya ada yang menyebutnya sebagai jagung cantel. Peneliti menemukan ada 55 jenis sorgum. 

Jika ingin tahu penampakan sorgum, ini dia: 


Sorgum berasal dari pantai selatan Laut Tengah. Tak heran jika sorgum dikonsumsi dan bahkan menjadi bahan pangan penting di beberapa wilayah di Afrika dan Asia. Biji-biji sorgum diolah menjadi bahan pangan bagi ternak maupun manusia. Bisa diolah seperti nasi, dijadikan tepung untuk bahan kue, bahkan menjadi sirup untuk jenis sorgum yang manis.

Sebenarnya sorgum bisa dijadikan pangan alternatif pengganti beras. Kandungan proteinnya sekitar 10-11% lebih besar dibanding beras yang hanya 6-8% ataupun jagung yaitu 9%. Sorgum juga kaya vitamin B kompleks,  

Masih banyak anggota KBK yang belum kenal sorgum. Meski tidak banyak yang disajikan, kami bergantian mencicipinya. Lisa juga membawa biji sorgum yang masih mentah sehingga kami bisa memegang dan mengenal tekstur biji.

Saya sendiri membawa beberapa jajan pasar, ada nasi tiwul, cenil, jongkong, klepon, getuk, dan ketan hitam. Tidak banyak juga, tapi cukup untuk sekedar mengobati rasa ingin tahu. Camilan tradisional lain yang disajikan adalah cucur.

Nasi sorgum (dalam wadah merah) dan beragam jajan pasar

Eh, tapi di sela makanan tradisional, Ninda - putri Pak Surasono membawa kejutan manis yaitu seloyang apple struddle bikinannya sendiri. Ini camilan orang Austria dan sangat populer di Eropa. Camilan ini mengingatkan saya pada salah satu lagu dalam filem klasik "The Sound of Music" berjudul "My Favourit Things". Salah satu liriknya mengatakan bahwa apple struddle adalah makanan kesukaan Maria, si pengasuh anak yang baik dan pintar bernyanyi itu. 

Ini penampakan apple struddle bikinan Ninda; mau tahu rasanya? Sungguh lezat! 



Sesudah kehebohan soal kuliner di awal pertemuan, acara berikutnya adalah obrolan soal buku dan penulis. Pak Surasono menjadi pembicara utama kali ini. Beliau membagikan kertas berisi ringkasan pembicaraannya hari itu. Kami salut melihat kesungguhan beliau mempersiapkannya untuk acara ini.

Pak Surasono bilang, cerita anak adalah cerita yang ditulis untuk anak, berbicara tentang kehidupan anak dan sekitarnya. Ia berisi pesan moral seperti kejujuran, persahabatan, keberanian, dedikasi, kerja keras, petualangan, maupun bagaimana menghormati orang tua. Sebagai penulis anak, Pak Soerasono menegaskan bahwa cerita anak itu, “Ibarat obat yang bersalut gula,” katanya.

Keberadaan cerita anak, menurut Pak Surasono, sangat penting karena meletakkan pondasi atau dasar untuk bekal si anak dalam meniti kehidupan. Pak Surasono lantas memaparkan hasil penelitian psikolog Harvard University, David McClelland dalam bukunya “The Achieving Society”.

Di buku tersebut, McClelland menyebutkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang sempurna, masyarakat memerlukan tiga motivasi yaitu motivasi untuk berprestasi (virus n-Ach), motivasi untuk berkuasa (n-Pow), dan motivasi untuk berafiliasi/bersahabat (n-Afil).

Usai meneliti dongeng dan cerita anak di Inggris dan Spanyol, McClelland menyimpulkan bahwa dongeng yang mengandung virus n-Ach mampu membangkitkan motivasi dan semangat bagi generasi mendatang. Jenis bacaan yang dibaca saat kanak-kanak dipercaya mampu menentukan kemajuan dan kemunduran bangsa di masa depan.

Pak Surasono mengaku senang bisa ikut dalam pertemuan KBK yang bertemakan cerita anak kali ini. Ia sungguh berharap agar semua anak-anak Indonesia bisa membaca buku-buku bacaan yang bermutu untuk kehidupan bangsa yang lebih baik di masa mendatang.

Saat ini, Pak Surasono sedang mempersiapkan satu novel yang bisa dibaca oleh remaja hingga orang dewasa. Novel itu bertemakan semangat pantang menyerah dan toleransi. Dua hal yang relevan untuk menyikapi kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang majemuk ini. Kita nantikan terbitnya ya..


Suasana Diskusi

Usai diskusi dengan Pak Surasono soal buku anak. Secara bergantian kami saling berbagi cerita soal isi buku anak yang kami bawa. Masing-masing bicara, masing-masing turut berkomentar. Ternyata buku anak yang kami bawa cukup beragam. Seringkali kami tergelak karena cerita anak sungguh menarik dan lucu.

Searah jarum jam: Fertina, Lis, Furqon, dan Lisa

Waktu berlalu tak terasa sudah saatnya untuk makan siang. Kami jeda sejenak untuk menikmati sup padang yang sudah disiapkan tuan rumah. Sembari makan, kami mengobrol sana sini.

Usai makan siang, acara berlanjut dengan lebih santai. Beberapa masih asyik mengobrol, tapi ada satu lingkaran kecil di salah satu sudut ruang. Rupanya mereka menggelar kursus singkat merajut. Asyik sekali melihat mereka merajut.


Sebelum pertemuan diakhiri, doorprize diundi. Pak Surasono berbaik hati menyumbang buku karyanya berjudul “Pensiunpreuner: Pensiun Sukses”. Debby beruntung mendapatkannya. 


Pertemuan di Bekasi ini kiranya jadi penutup tahun yang manis bagi KBK. Kami bersenang-senang sekaligus memperluas wacana tidak hanya soal bacaan anak, tapi juga soal kuliner tradisional plus ketrampilan merajut. Seperti biasa, kami membawa pulang makanan yang tidak habis dimakan. 


Dan inilah sesi foto bersama yang selalu dinanti


Terima kasih Tita dan mas Agung sebagai tuan rumah, terima kasih untuk kehadiran teman-teman, terima kasih Pak Surasono, terima kasih Ninda untuk seloyang apple struddle yang lezat :)

Sampai bertemu di 2014!

No comments:

Post a Comment