Monday, January 27, 2014

Melawan Dengan Restoran atau Pulang?

Oleh: Lisa Soeranto

Mana yang dulu ada : telur atau ayam? Pertanyaan atau tebak-tebakan ini juga berlaku untuk memilih antara membaca novel dengan latar belakang sejarah atau membaca sejarahnya dulu.

Saat membaca Pulang, karya Leila S. Chudori yang diterbitkan KPG pada 2012 lalu, semua yang tergambar dalam benak adalah perluasan imajinasi tokoh-tokoh nyata dan kehidupan nyata kaum eksil. Di bagian akhir buku, Leila menyatakan mendapatkan inspirasi cerita dari tokoh-tokoh asli di balik pendirian restoran bernama "Indonesia" di tengah kota Paris, Prancis, surganya kaum eksil negara mana pun kala itu.

Membaca novel berlatar belakang historis bisa jadi memberi gambaran yang lebih hidup tentang suasana sejarah di masa tertentu, meski menjadi tak jelas, bagian mana yang sesuai, dan mana yang lebay. Penulis novel tentu berhak memberi bumbu rahasia agar "masakannya" memiliki aroma dan rasa khas yang tidak dimiliki penulis lain.

Semua alur yang ada dalam Pulang adalah alur kejadian dari kisah Sobron Aidit (adik kandung D.N. Aidit) dan kawan-kawan. Tentu sekali lagi dengan penyangatan di beberapa plot untuk dramatisasi dari kejadian sesungguhnya.

Saya tak akan menyoroti Pulang seperti para peresensi terampil lain, karena resensi bukan keahlian saya sama sekali. Kemampuan saya hanya merasakan apa efek buku terhadap saya sebagai pembacanya. Apa yang saya rasakan saat dan/atau setelah membaca sebuah buku.

Seperti nasehat seorang guru, kyai di Jawa Timur, yang mengingatkan bahwa mempelajari ilmu dari seorang alim (alim berarti yang benar-benar berilmu) tidak boleh, ibaratnya, hanya sekedar diminum lalu disemprotkan isinya ke luar. Namun harus diminum, dirasakan di lidah, lalu ditelan. Sehingga ilmu itu menjadi bagian dari diri kita untuk kemudian diamalkan. Bukan sekedar dipelajari untuk langsung dipakai menunjuk (biasanya kesalahan) orang lain.

Ilmu dipelajari untuk menganalisa diri sendiri, sehingga menjadi bagian dari edukasi diri, yang akan mengubah perilaku diri sebagai pembelajar yang bisa berkembang menjadi orang yang lebih baik. Dalam psikologi, ini disebut dengan istilah internalisasi (tidak berhenti pada kemampuan mengakuisisi ilmu pengetahuan); menjadi berperilaku lebih baik adalah tujuan dari sebuah pembelajaran.

Jadi, saat membaca Pulang, saya langsung mengaitkan dengan salah satu  buku rujukannya berjudul: Melawan Dengan Restoran - Kisah Sobron Aidit dan Kaun Pelarian G 30S PKI di Perancis terbitan MediaKita pada 2007. Saya baca buku itu sekitar satu tahun lalu.

Secara otomatis, saya juga mencoba memilah mana yang sesungguhnya terjadi dan mana yang merupakan bagian dari romantika yang dibangun penulis. Kehidupan percintaan tokoh-tokohnya, menurut saya, menjadi terlalu "khas Prancis" dengan bumbu di ruang yang privat. Mungkin saja, itu untuk menggambarkan suasana Paris sebagai kota romantis, atau juga untuk menguatkan karakter (petualang, nyentrik, atau "nyeni") dari para tokoh.

Dengan pernyataan itu, saya sesungguhnya ingin menyatakan betapa riskannya jika kita membaca sebuah novel berlatar belakang sejarah, tanpa memiliki pengetahuan cukup tentang sejarah yang dimaksud.

Novel adalah buku kedua yang boleh dibaca setelah kamu membaca sejarah asli. Atau, segera cari tahulah sejarah yang sesungguhnya begitu selesai membaca novel sejarah. Seringkali imajinasi bisa menjadi fakta yang seolah hidup nyata jika didongengkan terus menerus di otak kita. Padahal itu hanya fakta dalam ruang imajinasi penulis atau petutur cerita.

Kurang lebih begitu.

Meskipun perlu kehati-hatian lagi, karena sejarah seringkali juga dituliskan oleh si penguasa dengan vested interest masing-masing, namun ada cukup banyak rujukan yang bisa memberi jalan tengah untuk memahami kejadian sesungguhnya (biografi atau otobiografi, atau bahkan kesaksian).

Melawan Dengan Restoran (MDR) karya Sobron Aidit dan Budi Kurniawan adalah sebuah buku berukuran unik (18,7cm x 11,7 m) setebal 154 halaman. Ia ditulis dengan alur dan kisah yang melompat-lompat.

Kelemahannya adalah kurangnya detil yang menggambarkan apa dan bagaimana perjuangan sesungguhnya selain perjuangan untuk tetap bisa hidup di negara asing. Pastinya ada nilai-nilai perjuangan yang bisa dikuak, yaitu perjuangan asasi nilai kemanusiaan yang berhak untuk menorehkan sejarahnya sendiri.  

Tapi beberapa detil yang kurang pada MDR bisa kita temui dalam Pulang. Meskipun sekali lagi, tak dipungkiri akan ada banyak dramatisasi atau imajinasi yang dibuat seolah nyata.

Kedua buku itu menjadi lebih nendang jika kita pernah merasakan auranya secara langsung. Entah saat hidup di era Orde Baru pasca Pemberontakan PKI 1965 saat era Restoran Indonesia berjuang mempertahankan diri dari stigma dan teror (dalam Pulang, diberi nama Restoran Tanah Air). Atau saat titik perubahan Ode Baru ke Era Reformasi yang ditandai dengan demonstrasi 1998.

Pada akhirnya kita harus mau melangkah pada pertanyaan yang lebih dalam, dari sekedar kesenangan membaca sebuah kisah, yaitu: apa yang bisa dipelajari dari ini semua? Setelah tahu ada ketidakadilan, kesedihan, kesengsaraan, apa yang bisa kita bangun untuk memperbaiki keadaan?

P.S.: Terimakasih Tata atas pinjaman novel Pulang.



3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Kak buku melawan dgn restoran beli dimana ? Sya nyari di kotaku gg dapat. Buat penelitian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Kekin jein di gramedia wkt ada lapak buku murah, coba hubungi Media Kita penerbitnya di jl haji montong 57 jagakarsa jakarta selatan 12630 -telp 021-788883030. Good luck.

      Delete