Oleh: Lisa Soeranto
Mana yang dulu ada : telur atau ayam? Pertanyaan atau
tebak-tebakan ini juga berlaku untuk memilih antara membaca novel dengan latar
belakang sejarah atau membaca sejarahnya dulu.
Saat membaca Pulang, karya Leila S. Chudori yang diterbitkan KPG pada 2012 lalu, semua yang
tergambar dalam benak adalah perluasan imajinasi tokoh-tokoh nyata dan
kehidupan nyata kaum eksil. Di bagian akhir buku, Leila menyatakan
mendapatkan inspirasi cerita dari tokoh-tokoh asli di balik pendirian restoran bernama "Indonesia" di tengah kota Paris, Prancis, surganya kaum eksil negara mana pun
kala itu.
Membaca novel berlatar belakang historis bisa jadi memberi
gambaran yang lebih hidup tentang suasana sejarah di masa tertentu, meski
menjadi tak jelas, bagian mana yang sesuai, dan mana yang lebay. Penulis novel tentu
berhak memberi bumbu rahasia agar "masakannya" memiliki aroma dan
rasa khas yang tidak dimiliki penulis lain.
Semua alur yang ada dalam Pulang adalah alur kejadian dari
kisah Sobron Aidit (adik kandung D.N. Aidit) dan kawan-kawan. Tentu sekali lagi
dengan penyangatan di beberapa plot untuk dramatisasi dari kejadian sesungguhnya.
Saya tak akan menyoroti Pulang seperti para peresensi
terampil lain, karena resensi bukan keahlian saya sama sekali. Kemampuan saya
hanya merasakan apa efek buku terhadap saya sebagai pembacanya. Apa yang saya
rasakan saat dan/atau setelah membaca sebuah buku.
Seperti nasehat seorang guru, kyai di Jawa Timur, yang
mengingatkan bahwa mempelajari ilmu dari seorang alim (alim berarti yang benar-benar
berilmu) tidak boleh, ibaratnya, hanya sekedar diminum lalu disemprotkan isinya
ke luar. Namun harus diminum, dirasakan di lidah, lalu ditelan. Sehingga ilmu
itu menjadi bagian dari diri kita untuk kemudian diamalkan. Bukan sekedar
dipelajari untuk langsung dipakai menunjuk (biasanya kesalahan) orang lain.
Ilmu dipelajari untuk menganalisa diri sendiri, sehingga
menjadi bagian dari edukasi diri, yang akan mengubah perilaku diri sebagai
pembelajar yang bisa berkembang menjadi orang yang lebih baik. Dalam psikologi,
ini disebut dengan istilah internalisasi
(tidak berhenti pada kemampuan mengakuisisi ilmu pengetahuan); menjadi
berperilaku lebih baik adalah tujuan dari sebuah pembelajaran.
Jadi, saat membaca Pulang, saya langsung mengaitkan dengan
salah satu buku rujukannya berjudul: Melawan
Dengan Restoran - Kisah Sobron Aidit dan Kaun Pelarian G 30S PKI di Perancis terbitan MediaKita pada 2007. Saya baca buku itu sekitar satu tahun lalu.
Secara otomatis, saya juga mencoba memilah mana yang
sesungguhnya terjadi dan mana yang
merupakan bagian dari romantika yang dibangun penulis. Kehidupan percintaan
tokoh-tokohnya, menurut saya, menjadi terlalu "khas Prancis" dengan
bumbu di ruang yang privat. Mungkin saja, itu untuk menggambarkan suasana Paris sebagai kota
romantis, atau juga untuk menguatkan karakter (petualang, nyentrik, atau
"nyeni") dari para tokoh.
Dengan pernyataan itu, saya sesungguhnya ingin menyatakan
betapa riskannya jika kita membaca sebuah novel berlatar belakang sejarah,
tanpa memiliki pengetahuan cukup tentang sejarah yang dimaksud.
Novel adalah buku kedua yang boleh dibaca setelah kamu membaca
sejarah asli. Atau, segera cari tahulah sejarah yang sesungguhnya begitu
selesai membaca novel sejarah. Seringkali imajinasi bisa menjadi fakta yang
seolah hidup nyata jika didongengkan terus menerus di otak kita. Padahal itu hanya
fakta dalam ruang imajinasi penulis atau petutur cerita.
Kurang lebih begitu.
Meskipun perlu kehati-hatian lagi, karena sejarah seringkali
juga dituliskan oleh si penguasa dengan vested
interest masing-masing, namun ada cukup banyak rujukan yang bisa memberi
jalan tengah untuk memahami kejadian sesungguhnya (biografi atau otobiografi,
atau bahkan kesaksian).
Melawan Dengan Restoran (MDR) karya Sobron Aidit dan Budi Kurniawan adalah
sebuah buku berukuran unik (18,7cm x 11,7 m) setebal 154 halaman. Ia ditulis dengan
alur dan kisah yang melompat-lompat.
Kelemahannya adalah kurangnya detil yang menggambarkan apa dan
bagaimana perjuangan sesungguhnya selain perjuangan untuk tetap bisa hidup di
negara asing. Pastinya ada nilai-nilai perjuangan yang bisa dikuak, yaitu perjuangan
asasi nilai kemanusiaan yang berhak untuk menorehkan sejarahnya sendiri.
Tapi beberapa detil yang kurang pada MDR bisa kita temui dalam Pulang.
Meskipun sekali lagi, tak dipungkiri akan ada banyak dramatisasi atau imajinasi
yang dibuat seolah nyata.
Kedua buku itu menjadi lebih nendang jika kita pernah merasakan auranya secara langsung. Entah
saat hidup di era Orde Baru pasca Pemberontakan PKI 1965 saat era Restoran Indonesia
berjuang mempertahankan diri dari stigma dan teror (dalam Pulang, diberi nama
Restoran Tanah Air). Atau saat titik perubahan Ode Baru ke Era Reformasi yang
ditandai dengan demonstrasi 1998.
Pada akhirnya kita harus mau melangkah pada pertanyaan yang
lebih dalam, dari sekedar kesenangan membaca sebuah kisah, yaitu: apa yang bisa
dipelajari dari ini semua? Setelah tahu ada ketidakadilan, kesedihan,
kesengsaraan, apa yang bisa kita bangun untuk memperbaiki keadaan?
P.S.: Terimakasih Tata atas pinjaman novel Pulang.

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKak buku melawan dgn restoran beli dimana ? Sya nyari di kotaku gg dapat. Buat penelitian.
ReplyDelete@Kekin jein di gramedia wkt ada lapak buku murah, coba hubungi Media Kita penerbitnya di jl haji montong 57 jagakarsa jakarta selatan 12630 -telp 021-788883030. Good luck.
Delete