Tuesday, December 3, 2013

Membaca Tiga Novel Okky Madasari

Oleh: Lisa Soeranto 

Pasung Jiwa. Ini adalah buku ketiga dari penulis Okky Madasari yang saya lahap  dalam tempo singkat, sehari atau dua di sela-sela kesibukan mengurus rumah dan anak.  Dari empat karyanya, hanya novel berjudul 86 yang belum saya baca.

Jenis novel yang berlatar belakang kondisi sosial politik di negeri ini mungkin bukan lagi dari jenis yang saya beli dan baca dengan tekun. Berkat teman-teman di Klub Buku Kita ini, yang memiliki beragam selera dan kebaikan hati untuk meminjamkan buku-buku mereka, maka novel-novel  yang  tidak menjadi pilihan utama saya untuk menjadi bahan koleksi, kini bisa saya nikmati.

Buku pertama karya Okky yang saya baca  berjudul Maryam (2012) yang memperoleh Khatulistiwa Literary Award 2012, baru kemudian Entrok (2010), dan terakhir Pasung Jiwa (2013). Ketiganya saya pinjam dari Tata, penggagas blog Klub Buku Kita ini, sekaligus penulis utama dan satu-satunya yang rajin.

Di sampul belakang Pasung Jiwa, disebutkan bahwa karya-karya Okky terhubung dalam satu benang merah, yaitu perlawanan atas ketidakadilan dan perjuangan untuk kebebasan dan kemanusiaan. Lebih dari itu, saya sendiri memiliki persepsi yang lebih dari sekedar perlawanan dan perjuangan. Menurut saya novel-novel Okky mengungkapkan proses pencarian diri dan bagaimana diri tersebut memposisikan diri terhadap masalah-masalah “di sini dan saat ini” serta terhadap tujuan hidupnya.

Tentu saja setiap tokoh memiliki karakter masing-masing yang digambarkan dengan sangat jelas, baik dari sisi keberbedaannya maupun kesamaannya dengan tokoh-tokoh lainnya. Jadi, lebih dari sekedar pemberontakan jiwa yang tertindas oleh situasi, tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam ketiga novel tersebut memiliki benangmerah: mereka adalah diri-diri yang berusaha mencari jati diri sendiri dan kemudian membebaskan diri masing-masing dalam menentukan pilihan. Pilihan bisa berupa: menundukkan ego (menekan kehendak bebas) atau menuruti ego (membebaskan).

Dalam Maryam (tokoh utama Maryam) dan Entrok (tokoh utama ibu dan anak: Marni dan Rahayu), para tokoh utamanya pada akhirnya dihadirkan dalam gambaran nrimo. Meskipun dalam kontek sini, nrimo bukanlah status pasif dari jiwa, justru kondisi dimana jiwa berjuang lebih keras untuk mau menerima hal-hal yang tak sesuai kehendak bebasnya atau berjuang menundukkan kehendak liarnya. Dalam pandangan saya, penggambaran karakter Maryam dan Marni serta Rahayu tak sekuat karakter tokoh utama (Sasana/Sasa dan Cak Jek) dalam Pasung Jiwa. Bahkan pembaca diberikan juga di sana – sini petunjuk-petunjuk kecil tentang karakter-karakter manusia melalui penggambaran perilaku (keji, arogan, aneh, dan lain-lain) karakter-karakter lain.

Dalam Pasung Jiwa, sejak awal cerita pembaca sudah diajak memasuki hutan lebat yang terhalang semak berduri yang rapat. Problematika dalam keluarga Sasana/ Sasa mungkin tak beda dengan hampir semua keluarga menengah saat ini di kota-kota besar di Indonesia. Orang tua yang sukses, memiliki karier yang bagus, fasilitas hidup yang sangat memadai, lingkungan sosial yang baik, dan citra keluarga bahagia. Namun di balik semua itu, tersimpan banyak sekali cerita yang tak terungkapkan, karena mungkin di(ter)abaikan atau di(ter)tutup(i). Represi mayoritas dan senioritas berlaku di dalam keluarga, sebagaimana berlaku pula di masyarakat. Ada pihak yang di atas dan pihak yang bawah, terinjak dan berteriak. Cara hidup dan kehidupan yang memiliki definisi tunggal, yang dibuat oleh pihak yang paling kuat. Demikian kuatnya tekanan dari atas, hingga yang dibawah tak berani terbuka mengungkapkan diri. Yang terjadi kemudian adalah serangkaian pemberontakan yang tak dirancang, namun terburai keluar karena dorongan besar dari dalam diri yang tak sanggup lagi menahan amukan magma. Seperti diungkapkan di dalam novel ini: semua menjadi (“seolah”) tak terkendali. Tubuh bergerak sendiri, padahal pikiran menolak. Jiwa di mana?

Dinamika-dinamika sosial dan politik Indonesia menjelang Peristiwa Besar tahun 1998, yang menjadi latar cerita, sangat tepat untuk membantu memberi penguatan pada gambaran-gambaran ekstrim gejolak jiwa manusia (atau vice versa,  gambaran ekstrim gejolak jiwa menjadi latar cerita yang menarik untuk menggambarkan betapa ekstrim dan gentingnya situasi sosial politik kala itu). Jiwa manusia yang tertekan, terpasung, frustasi, dan merindukan kebebasan dan kebahagiaan, apa pun arti bahagia dan bebas itu. Pergolakan mencari jati diri, dilalui melalui pengalaman ekstrim yang menghapus garis batas antara kewarasan dan ketidakwarasan, kewajaran dan keanehan, antara aku dan “aku”, antara aku dan orang lain. Dalam Pasung Jiwa, penulis membiarkan dua tokoh utamanya mengalami “akhir bahagia”, yaitu kebebasan sesuai definisi mereka sendiri.

Benang merah yang lain dalam tiga karya Okky adalah pengungkapan hubungan khusus antara anak dan orang tua-nya. Dalam Maryam, Entrok, maupun Pasung Jiwa, hubungan konflik orang tua dan anak menjadi tema utama, bukan semata-mata untuk menggambarkan konflik dalam tataran keluarga, namun sebagai sebuah analogi dari konflik yang lebih luas. Efek dari hubungan yang ternyata dirasa represif oleh anak, nyata-nyata berakibat sangat buruk dan berbuah derita berkepanjangan, baik bagi orang tua maupun anak. Penggambaran hubungan konflik ini juga ekspresi dari hubungan antara pemerintah dan rakyat. Anak yang ditekan memberontak. Rakyat yang ditekanpun akhirnya memberontak. Jiwa yang ditekan akan lepas membebaskan diri.


Novel Pasung Jiwa, menurut saya sudah mencekam sejak awal, jika kita benar-benar masuk menyelami jiwa-jiwa dari para tokohnya. Menyelesaikan bacaan ini adalah kelegaan, karena seperti keluar dari gelapnya hutan rimba. Lalu membutuhkan waktu sejenak untuk merenungi dan mengambil makna dari novel yang, menurut saya, kompleksitas dinamika psikologis tokohnya tinggi.*

No comments:

Post a Comment