Oleh: Lisa Soeranto
Pasung Jiwa. Ini adalah buku ketiga dari penulis Okky Madasari
yang saya lahap dalam tempo singkat, sehari
atau dua di sela-sela kesibukan mengurus rumah dan anak. Dari empat karyanya, hanya novel berjudul 86
yang belum saya baca.
Jenis novel yang berlatar belakang kondisi sosial politik di negeri
ini mungkin bukan lagi dari jenis yang saya beli dan baca dengan tekun. Berkat teman-teman
di Klub Buku Kita ini, yang memiliki beragam selera dan kebaikan hati untuk meminjamkan
buku-buku mereka, maka novel-novel
yang tidak menjadi pilihan utama saya
untuk menjadi bahan koleksi, kini bisa saya nikmati.
Buku pertama karya Okky yang saya baca berjudul Maryam (2012) yang memperoleh Khatulistiwa
Literary Award 2012, baru kemudian Entrok (2010), dan terakhir Pasung Jiwa
(2013). Ketiganya saya pinjam dari Tata, penggagas blog Klub Buku Kita ini,
sekaligus penulis utama dan satu-satunya yang rajin.
Di sampul belakang Pasung Jiwa, disebutkan bahwa karya-karya Okky terhubung
dalam satu benang merah, yaitu perlawanan atas ketidakadilan dan perjuangan untuk
kebebasan dan kemanusiaan. Lebih dari itu, saya sendiri memiliki persepsi yang
lebih dari sekedar perlawanan dan perjuangan. Menurut saya novel-novel Okky mengungkapkan
proses pencarian diri dan bagaimana diri tersebut memposisikan diri terhadap masalah-masalah
“di sini dan saat ini” serta terhadap tujuan hidupnya.
Tentu saja setiap tokoh memiliki karakter masing-masing yang
digambarkan dengan sangat jelas, baik dari sisi keberbedaannya maupun kesamaannya
dengan tokoh-tokoh lainnya. Jadi, lebih dari sekedar pemberontakan jiwa yang
tertindas oleh situasi, tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam ketiga novel tersebut
memiliki benangmerah: mereka adalah diri-diri yang berusaha mencari jati diri sendiri
dan kemudian membebaskan diri masing-masing dalam menentukan pilihan. Pilihan bisa
berupa: menundukkan ego (menekan kehendak bebas) atau menuruti ego (membebaskan).
Dalam Maryam (tokoh utama Maryam) dan Entrok (tokoh utama ibu dan anak:
Marni dan Rahayu), para tokoh utamanya pada akhirnya dihadirkan dalam gambaran nrimo.
Meskipun dalam kontek sini, nrimo bukanlah status pasif dari jiwa, justru kondisi
dimana jiwa berjuang lebih keras untuk mau menerima hal-hal yang tak sesuai kehendak
bebasnya atau berjuang menundukkan kehendak liarnya. Dalam pandangan saya,
penggambaran karakter Maryam dan Marni serta Rahayu tak sekuat karakter tokoh
utama (Sasana/Sasa dan Cak Jek) dalam Pasung Jiwa. Bahkan pembaca diberikan juga
di sana – sini petunjuk-petunjuk kecil tentang karakter-karakter manusia melalui
penggambaran perilaku (keji, arogan, aneh, dan lain-lain) karakter-karakter
lain.
Dalam Pasung Jiwa, sejak awal cerita pembaca sudah diajak memasuki
hutan lebat yang terhalang semak berduri yang rapat. Problematika dalam keluarga
Sasana/ Sasa mungkin tak beda dengan hampir semua keluarga menengah saat ini di
kota-kota besar di Indonesia. Orang tua yang sukses, memiliki karier yang
bagus, fasilitas hidup yang sangat memadai, lingkungan sosial yang baik, dan citra
keluarga bahagia. Namun di balik semua itu, tersimpan banyak sekali cerita yang
tak terungkapkan, karena mungkin di(ter)abaikan atau di(ter)tutup(i). Represi mayoritas
dan senioritas berlaku di dalam keluarga, sebagaimana berlaku pula di masyarakat.
Ada pihak yang di atas dan pihak yang bawah, terinjak dan berteriak. Cara hidup
dan kehidupan yang memiliki definisi tunggal, yang dibuat oleh pihak yang
paling kuat. Demikian kuatnya tekanan dari atas, hingga yang dibawah tak berani
terbuka mengungkapkan diri. Yang terjadi kemudian adalah serangkaian pemberontakan
yang tak dirancang, namun terburai keluar karena dorongan besar dari dalam diri
yang tak sanggup lagi menahan amukan magma. Seperti diungkapkan di dalam novel
ini: semua menjadi (“seolah”) tak terkendali. Tubuh bergerak sendiri, padahal pikiran
menolak. Jiwa di mana?
Dinamika-dinamika sosial dan politik Indonesia menjelang Peristiwa
Besar tahun 1998, yang menjadi latar cerita, sangat tepat untuk membantu memberi
penguatan pada gambaran-gambaran ekstrim gejolak jiwa manusia (atau vice
versa, gambaran ekstrim gejolak jiwa menjadi
latar cerita yang menarik untuk menggambarkan betapa ekstrim dan gentingnya situasi
sosial politik kala itu). Jiwa manusia yang tertekan, terpasung, frustasi, dan merindukan
kebebasan dan kebahagiaan, apa pun arti bahagia dan bebas itu. Pergolakan mencari
jati diri, dilalui melalui pengalaman ekstrim yang menghapus garis batas antara
kewarasan dan ketidakwarasan, kewajaran dan keanehan, antara aku dan “aku”, antara
aku dan orang lain. Dalam Pasung Jiwa, penulis membiarkan dua tokoh utamanya mengalami
“akhir bahagia”, yaitu kebebasan sesuai definisi mereka sendiri.
Benang merah yang lain dalam tiga karya Okky adalah pengungkapan hubungan
khusus antara anak dan orang tua-nya. Dalam Maryam, Entrok, maupun Pasung Jiwa,
hubungan konflik orang tua dan anak menjadi tema utama, bukan semata-mata untuk
menggambarkan konflik dalam tataran keluarga, namun sebagai sebuah analogi dari
konflik yang lebih luas. Efek dari hubungan yang ternyata dirasa represif oleh anak,
nyata-nyata berakibat sangat buruk dan berbuah derita berkepanjangan, baik bagi
orang tua maupun anak. Penggambaran hubungan konflik ini juga ekspresi dari hubungan
antara pemerintah dan rakyat. Anak yang ditekan memberontak. Rakyat yang
ditekanpun akhirnya memberontak. Jiwa yang ditekan akan lepas membebaskan diri.
Novel Pasung Jiwa, menurut saya sudah mencekam sejak awal, jika kita
benar-benar masuk menyelami jiwa-jiwa dari para tokohnya. Menyelesaikan bacaan ini
adalah kelegaan, karena seperti keluar dari gelapnya hutan rimba. Lalu membutuhkan
waktu sejenak untuk merenungi dan mengambil makna dari novel yang, menurut saya,
kompleksitas dinamika psikologis tokohnya tinggi.*
No comments:
Post a Comment