Ini pertemuan pertama di 2014. Sesuai kesepakatan semula,
pertemuan bertempat di Sekolah Citra Alam Ciganjur, Jakarta Selatan. Tidak
banyak yang datang. Kami hanya bersembilan orang, yaitu: Tata, Agung, Tita,
Lisa, Arfi, Lis, Nuris, Fahmi, dan Furqon. Menjadi sepuluh orang dengan seorang
tamu istimewa; Doktor Daddi Heryono Gunawan. Kami memanggilnya: Pak Didid.
Pak Didid adalah Dosen Fakultas Sosiologi Universitas Indonesia
dan salah satu peneliti pada Lembaga Kajian Terorisme dan Konflik Sosial,
Fakultas Psikologi di universitas yang sama. Sehari-hari, beliau bekerja
sebagai Wakil Sekretaris Pribadi Presiden RI di Istana Negara. Pak Didid juga
aktif menulis di media dan menjadi pembicara di banyak seminar dan diskusi.
Menjadi hal yang istimewa mendapati kehadiran Pak Didid dalam
pertemuan Klub Buku Kita kali ini. Sungguh, ini adalah awal pertemuan yang baik
di 2014.
Namun sebelum mengobrol, seperti biasa pada sesi awal kami bahas
kuliner. Ada banyak camilan yang dihidangkan kali ini – padahal yang hadir
hanya sedikit. Jika ditulis menjadi panjang daftarnya. Ada empek-empek
Palembang, jagung rebus, gethuk singkong, kacang rebus, pie susu Bali,
gemblong, kue unti, peyek kacang, peyek rebon. Ada juga minuman tradisional
yaitu beras kencur dan kunyit asam.
Yang selalu hadir adalah bumbu pecel cap Gentong bikinan Nuris.
Tapi kali ini, Nuris bawa juga bumbu urap. Sementara sayuran rebus pun beragam.
Ada kubis, kacang panjang, tauge, kecipir, kangkung, dan yang istimewa ada daun
beluntas.
Beluntas
Menurut wikipedia, beluntas merupakan tumbuhan semak yang bercabang banyak, berusuk
halus, dan berbulu lembut. Umumnya tumbuhan ini ditanam sebagai tanaman pagar
atau bahkan tumbuh liar, tingginya bisa mencapai 3 meter apabila tidak dipangkas, sehingga seringkali ditanam sebagai
pagar pekarangan. Perbanyakannya dapat dilakukan dengan setek batang pada
batang yang cukup tua
Beluntas (Pluchea Indica)
adalah anggota keluarga bunga aster (Asteraceae)
atau sering disebut bunga bintang. Ini adalah salah satu keluarga tanaman
terbesar dan beragam. Peneliti menemukan ada sekitar 20ribu jenis spesies di
planet bumi.
Begini penampakannya saat masih segar:

Hebatnya, kebanyakan anggota keluarga bunga aster bisa dimakan
atau dimanfaatkan untuk pengobatan herbal. Sebut saja, bunga matahari, bunga
krisan, dandelion atau ya topik kita kali ini - beluntas. Sayangnya, keluarga
bunga aster mengandung zat alkaloid aktif yang bisa terkandung dalam akar,
bunga, biji, atau daun sehingga kalau dikonsumsi rasanya menjadi agak pahit.
Pada beluntas, alkaloid berada pada bagian daun dan ditambah
dengan zat tanin seperti yang terkandung dalam daun teh, daun beluntas getir
jika dimakan. Bau daun beluntas juga agak menyengat karena mengandung minyak
atsiri.
Beberapa khasiat beluntas yang sudah dikenal adalah mengatasi bau
badan dan bau mulut tak sedap, mengatasi keputihan pada wanita, mengatasi nyeri
haid, dan meningkatkan nafsu makan.
Meski bisa dimakan dan berkhasiat sebagai pengobatan, tampaknya
belum ada yang berniat mengomersialkan daun beluntas. Nuris, pembawa pecel
beluntas bilang, ia hanya minta ke tetangga yang berbaik hati memperbolehkannya
memetik daun-daun beluntas untuk sajian KBK kali ini. Kehadiran si beluntas
mendapat sambutan positif, Lisa, mengaku makan pecel dengan lahap gara-gara ada
si beluntas. Dan, pecel pun licin tandas di akhir pertemuan KBK.
Begitulah sekilas kehadiran beluntas dalam sajian KBK. Berikutnya
adalah tentang kehadiran Pak Didid yang memukau kami dengan kisah-kisah tentang
Bali.
Kenapa Bali? Pak Didid mengaku lebih tertarik bicara soal Bali,
karena selama beberapa tahun terakhir dia sungguh mempelajari masyarakat Bali.
Bali adalah fokus utama disertasi saat meraih gelar Doktoral di Universitas
Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.
Ini disertasi Pak Didid dalam bentuk buku:
Pak Didid mulai perbicangan dengan menuturkan soal pencitraan Bali
yang bertolak belakang dengan latar sejarah yang ada. Selama ini – atau
setidaknya bagi generasi pasca kemerdekaan Indonesia, Bali dikenal sebagai daerah
wisata yang cantik, tenang, dan nyaman. Pendeknya, semua tahu dan bahkan nyaris
seluruh dunia mengenal Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata.
Namun, kata Pak Didid, Bali sebenarnya punya latar sejarah yang
mengerikan. Menurut Pak Didid, korban yang jatuh akibat G30S/PKI pada 1965
sebenarnya lebih banyak dibanding di Jawa. Dan jika merunut ke belakang lagi,
sejarah Bali sarat dengan kekerasan dan kesadisan. Sebut saja Perang Puputan yang
terjadi dua kali di Badung (1906) dan di Klungkung (1908) dimana para pejuang
sungguh berjuang hingga titik darah penghabisan.
Kata “puputan” sendiri artinya berjuang sampai habis-habisan
(puput), intinya saat itu mereka berjuang demi mempertahankan tanah air dari
cengkeraman Belanda.
Menyimak Cerita Pak Didid
Citra kekerasan yang ada di Bali membuat Belanda harus memikirkan
suatu cara untuk
menutupinya. Terlebih saat itu Ratu Willhelmina sudah
mencanangkan adanya politik etis yang menyatakan bahwa Belanda memiliki hutang
budi kepada negara jajahannya, dan oleh karenanya memiliki tanggung jawab untuk
mensejahterakan rakyatnya.
Sebuah konsep khusus ditemukan untuk Bali, yaitu menjadikannya
sebagai daerah tujuan wisata. Ini berangkat dari pemikiran tentang kebudayaan
Bali sendiri yang pada
kenyataannya tidak terpengaruh budaya-budaya besar yang
mengelilinginya.
Sejak dua perang puputan itu, Belanda lantas mengubah kebijakan
kolonialnya menjadi “Baliseering” atau Balinisasi Bali. Intinya adalah
membiarkan dan bahkan melindungi orang Bali untuk meeruskan pola hidupnya
sendiri yang “indah dan bebas” dari gangguan apapun. Sejak itulah, Belanda
melihat Bali sebagai “museum hidup” - dunia yang mesti dilidungi dan
dipertahankan keberadaannya.
Promosi wisata kemudian dibikin besar-besaran, brosur-brosur
dicetak, beragam penelitian diadakan untuk membentuk citra Bali sebagai daerah
yang sungguh berbudaya, sebagai daerah tujuan wisata yang cantik.
Begitu kuatnya pelaksanaan kebijakan itu, hingga sesudah Indonesia
merdeka, kita dan bahkan dunia mengenal sebagai kawasan wisata yang indah.
Bahkan lebih dikenal ketimbang Indonesia sendiri. Kita tidak peduli bahwa
dengan itu masyarakat Bali justru kehilangan identitas. Kita melupakan bahwa Bali
yang sekarang adalah Bali yang dibangun sesuai pemikiran Belanda.
Pada masa Orde Baru, lagi-lagi pemerintah mengonfirmasi kebijakan
Belanda dengan mengonstruksi Bali secara besar-besaran, mirip cara
Belanda. Di samping promosi wisata yang gencar, juga terlihat dengan dibangunnya kawasan Nusa Dua menjadi satu daerah
wisata khusus tempat banyak seminar baik skala nasional hingga internasional
sering diadakan.
Di masa kini, kenyataan Bali sebagai tujuan wisata menimbulkan konsekuensi
sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang harus ditanggung sendiri oleh
masyarakat Bali. Dari sisi ekonomi dimana wisata digemborkan sebagai pendapatan
utama, misalnya, terjadi ketimpangan pendapatan yang besar antara penduduk yang
di perkotaan maupun di perdesaan.
Menurut penelitian, transaksi wisata berhenti
sampai di kota karena wisatawan sering menggunakan jasa paket wisata yang kebanyakan diatur oleh pengusaha pariwisata di kota. Akibatnya
penduduk di perdesaan nyaris tidak mendapat sepeser pun keuntungan. Mereka
hanya menjadi obyek wisata dan bahkan harus mengeluarkan ongkos untuk
menjaga agar lingkungan tetap eksotis di mata wisatawan.
Akibat kebijakan yang terus menerus dilakukan tanpa melihat kenyataan
dan masa lalu Bali, hingga kini masyarakat di Bali merasa tidak sanggup hidup
tanpa pariwisata.
Sebagai akademisi, Pak Didid menganjurkan untuk me-rekonstruksi
Bali kembali bukan dari sudut pandang warisan kolonial ataupun dari pemerintah melainkan dari sudut pandang Bali sendiri.
“Ini bukan saja tentang Bali. Melainkan tentang bagaimana kita menjadikan
Indonesia yang baru. Ini tentang keterbukaan, kita harus melihat kenyataan
bahwa masyarakat Indonesia beragam. Jadi ini juga soal pluralisme”, tegas Pak Didid.
Konsep “Indonesia in the making” menurut Pak Didid, adalah
tanggung jawab bersama, bukan melulu kepentingan sekelompok elit pemerintah.
Dalam hidup sehari-hari, Pak Didid mengajak kita untuk menerjemahkan
keindonesiaan seturut kemampuan masing-masing.
Membuat
kelompok baca buku seperti KBK adalah salah satu keikutsertaan yang positif
dalam membangun Indonesia.“Karena komunitas buku adalah salah satu lokomotif perubahan,”
ujar Pak Didid.
Waduh, tentu saja kami bangga mendengarnya. Namun, bukan itu saja
yang membuat kami senang. Semua yang hadir merasa semakin
terbuka mata dan pikirannya setelah mendengar dan berdiskusi dengan Pak Didid.
“Sungguh bersyukur saya bisa ikut mendengar Pak Didid bicara,”
begitu kata Lisa. Yang lain pun mengamini dan berharap Pak Didid bersedia hadir
lagi dalam pertemuan KBK yang akan datang.
Apa jawaban Pak Didid? “Ya, tentu saja saya mau, asal ada kacang
rebus lagi,” katanya melalui pesan di telepon genggam. Baik, Pak, nanti pasti kami
sediakan :)
Di penghujung acara, kami membagi doorprize. Arfi beruntung mendapatkan pembakar dari Bali. Senyumnya sumringah saat namanya disebut sebagai pemenang doorprize,













Awal tahun yang bagus krn di awali dengan materi yang top. Jd tercerahkan dan menumbuhkan kesadatan baru.
ReplyDelete