Wednesday, July 2, 2014

Kabeka Anak Bagian Satu

Untuk pertama kalinya, Klub Buku Kita (Kabeka) mengadakan pertemuan khusus untuk anak-anak. Pertemuan ini digagas oleh para ibu yang merasa khawatir dengan menurunnya minat baca putera-puterinya. Bekerja sama dengan Kabeka, akhirnya Kabeka Anak pun terselenggara. Berikut adalah kilasan pertemuan tersebut sebagaimana dituliskan oleh Fertina sebagai salah satu pemandu acara:

Hari Sabtu 21 Juni 2014 lalu - bertempat di rumah Tante Emil di Kalibata Utara - tante Lisa, Fahmi, dan saya sendiri mendapat tantangan asik di sana. Tepatnya, kami mengadakan “diskusi” kecil dengan adik-adik mengenai buku. Kemudian, sebagai pembuka diskusi kecil tersebut, Tante Lisa mengadakan sedikit ice breaking sebelum memasuki diskusi tersebut.

Jadi, adik-adik yang terdiri dari delapan orang (Kamil, Rifdan, Haikal, Edgar, Rasya, Muhamad, Nafisah, dan Asma) harus menggambarkan apa yang mereka bayangkan ketika melihat tiga kata ini: Hobi, Buku, dan Cita-Cita. Mereka pun tidak menggambar secara individu, melainkan kelompok yang terdiri dari tiga kelompok kecil.

Jadi bisa dibayangkan, bagaimana riweuhnya menggambungkan ide/gagasan menggambar di masing-masing kelompok itu. Dari tiga kelompok, kelompok cowok lah yang paling berisik dan sibuk mengutarakan ide mereka masing-masing. Malah cenderung saling tidak mau kalah keren di kelompok satu dengan kelompok lainnya. Kelompok cewe yang hanya terdiri dari dua orang, tetap diam, tenang, dan tidak banyak keributan.

Lucu, sih, melihat mereka segitu niatnya dalam “proyek” menggambar tersebut, bayangkan aja, mereka sampai ada yang membawa sepatu bolanya untuk dijadikan contoh gambar sepatu bola di kertas gambarnya. Bahkan ada yang mencari lambang klub bola kesukaannya di gawai-nya demi mendapatkan hasil yang maksimal.

Anak-anak asyik menggambar
Supaya, kalian bisa ikut larut dalam aktifitas kami, walaupun, tidak mengikutinya. Saya gambarkan secara garis besar adik-adik ini.

Jadi, kegiatan kami diadakan dalam rangka mengisi waktu libur mereka dengan sesuatu yang berguna. Dan kebanyakan dari mereka sudah jarang yang minat membaca buku (menurut para Ibu). Oleh karena itu ketujuh adik-adik yang merupakan satu sekolah (bahkan ada yang satu klub bola) dikumpulkan di rumah Kamil. Mereka ini adalah adik-adik yang berusia 10-11 tahun yang sedang menjajaki bangku kelas 6 SD.

Kembali ke proyek menggambar mereka, ada kejadian lucu nan unik. Kamil anak dari sang pemilik rumah, membuat kata-kata simbol, contoh: ia mau menuliskan “Hobi main bola di Ipad”, lalu ia tulis menjadi “hobi main (gambar bola) di (gambar Ipad).” Atau Menuliskan “Tergantung bukunya” menjadi “tergantung (gambar buku) nya. Lucu banget mereka.

Katanya gak suka baca?
Setelah menggambar, kami semua membentuk lingkaran untuk meneruskan ke acara selanjutnya. Acara intinya, saling berbagi dengan buku bacaan masing-masing. Sharing dimulai oleh kecerdikan Fahmi yang membawa majalah Bobo dari tahun ke tahun. Walaupun pamor majalah Bobo sudah kalah dengan kemunculan Ipad, Tablet Pc dan Gadget, tapi mereka masih mengenali majalah Bobo.

Fahmi (berkaos merah) dan anak-anak

Majalah Bobo dari masa ke masa itu menjadi daya tarik mereka untuk menganalisis sampul sampai isinya. Mereka akan ketawa sendiri melihat produk-produk zaman dulu dan membandingkannya dengan tampilan produk yang sekarang mereka jumpai. Cukup lama eksplorasi majalah Bobo ini. Selanjutnya, Fahmi menceritakan buku-buku yang ia baca  sesuai fase hidupnya dan diakhiri dengan puppet show dari Fahmi.

Kemudian secara bergantian adik-adik menceritakan isi buku yang mereka bawa dan pengalaman mereka membaca. Sebagian besar mereka mengaku bahkan dengan tegas mengatakan tidak suka membaca, tapi begitu giliran masing-masing, pernyataan tadi jadi luntur.

Ini sangat menarik.

Contohnya Edgar. Sebelum tiba gilirannya berbicara, ia selalu berdeklamasi kalau ia tidak suka membaca! Tapi begitu tiba gilirannya, ia menceritakan sebuah buku yang tebal halamannya dirasa tidak sepadan dengan orang yang mengatakan tidak suka membaca! Dan Edgar berhasil menyelesaikan buku tersebut sampai tuntas!

Kok bisa?

Setelah ditelusuri, Edgar sangat menyukai sepak bola. Ia salah satu dari mereka yang tergabung dalam klub sepak bola di Senayan. Dan buku tebal yang sukses ia baca sampai habis itu menceritakan kisah sukses pelatih U19 alias buku biografi sang pelatih! Bahkan ia bisa menyimpulkan apa yang ia dapat dari buku yang ia baca.

Lain lagi si Kamil. Kamil ini anak yang paling ribut, cerewet, gak bisa diem, tapi hebatnya logikanya jalan. Nah, dia ini juga paling lantang mengeluhkan peraturan Ibunya yang mengharuskan ia membaca buku yang ia belum mengerti. Tapi setiap temannya sedang menceritakan buku yang dibacanya, ia selalu bisa menyahut dengan kisah-kisah buku tersebut.

Contohnya saat saya menceritakan buku Harry Potter. Ia menceritakan kisah hidup J.K Rowling dari buku WHO yang ia baca. Bahkan ia menambahkan pendapatnya yang mengatakan J.K Rowling tega dengan keadaan Ibunya. Hihihi..

Saya (Fertina) dan anak-anak
Begitu juga saat Nafisyah menceritakan kisah petulangan Thea Stilton. Kamil dan Nafisyah malah sibuk mendiskusikan Thea Stilton adalah adik dari Geronimo Stilton yang kisahnya dibaca oleh Kamil.