Monday, September 29, 2014

Pertemuan KBK #31 Agustus 2014: Berkunjung ke rumah Nuris, sang pengantin baru

Pertemuan KBK (Klub Buku Kita/Kabeka) kali ini bertempat di rumah Nuris, pengantin baru di Cinere, Bogor. Nuris baru saja melangsungkan pernikahannya pada Minggu, 3 Agustus lalu di Mojokerto, Jawa Timur. Banyak kawan Kabeka tidak bisa hadir saat. Itu. Pertemuan Kabeka kali ini, selain memang sudah lama saling tidak bertemu, khusus untuk mengunjungi dan mengucapkan selamat berbahagia pada Nuris dan isterinya, Rizkha yang sekarang sah sebagai suami-isteri. Selamat ya!

Nah, laporan pertemuan kali ini dibuat oleh tuan rumah, Nuris sendiri. Yuk, kita simak :)

Kabeka, untuk kesekian kalinya berkumpul lagi di Cinere, tapi kali ini tidak di rumahnya Bu Lisa. Kabeka kali ini berkumpul di rumah saya, Nuris, anggota kabeka juga. Kali ini saya akan bertindak sebagai penulisnya. (Mudah-mudahan lancar dan jelas).

Pertemuan Kabeka kali ini, 31-08-2014 terasa spesial karena dilaksanakan setelah hampir tiga bulan tidak berkumpul bersama membaca buku dan makan cemilan khas masing-masing anggotanya alias potluck. Pertemuan ini juga bertepatan dengan momen halal bi halal pasca lebaran idul fitri bagi anggota kabeka yang merayakannya.

Suasana pertemuan Kabeka
Pertemuan kabeka bulan ini sekalian memperkenalkan anggota baru secara tak langsung. Karena anggota ini otomatis jadi anggota kabeka mengikuti suaminya.

Untuk menu potluck kali ini lebih banyak didominasi oleh buah-buahan, antara lain, manggis, jeruk, dan apel. Jarang sekali pada pertemuan kabeka tersedia banyak buah-buahan. Untuk jajanan ada lemper dan ote-ote (jajanan khas jawa timur kalau di Jakarta lebih familiar dengan nama bakwan). Tak lupa ada permen davos, yang entah kenapa sudah menjadi permen favorit hampir keseluruhan anggota kabeka, istimewa sekali bukan.


Buku dan Camilan
Sekarang kita bahas baca-baca bukunya, karena sebenarnya inilah inti dari setiap pertemuan kabeka, klub baca buku, tidak aneh, kan? Ada Sembilan orang yang hadir pada pertemuan kali ini, orang dan bukunya, antara lain:

1.    Nuris, hampir sebulan tak ada buku yang dibaca sama sekali, sekalinya ke toko buku, ketemu dengan komik “One Piece vol.72”. Nuris langsung membelinya karena komik ini muncul per tiga bulan sekali. Sebagai pasangan pengantin baru, Nuris tak bisa sembarangan membeli komik lagi kali ini. Apalagi istrinya tidak terlalu suka membaca komik. Kembali ke komik “One Piece”, komik bikinan komikus Asli jepang. Bercerita tentang bajak laut yang sarat dengan petualangan seru. Kisah persahabatan dan humor jenaka selalu menghiasi tiap bab yang disuguhkan oleh pengarangnya. Tak jarang banyak ditemukan kata mutiara yang sangat memotivasi pembacanya. (apalagi kalau penggemar komik pasti paham).

2.    Rizkha, angota baru otomatis. Istrinya Nuris, katanya jarang baca buku. Tapi dalam waktu senggangnya Rizkha menyempatkan diri membaca buku “Chicken Soup for The Soul”, banyak cerita istimewa yang penuh motivasi dalam tiap cerita yang ada dalam buku ini. Untuk buku semacam ini, akan lebih menjiwai kalau membaca bukunya secara langsung. Karena isi yang diceritakan dalam buku semacam ini (menurut saya –nuris-), adalah cerita tentang pengalaman seseorang dalam bentuk buku. Jadi kalau penceritanya kurang bisa mendramatisir, akan sedikit hambar.


Nuris - Rizkha

3.    Zakariya Efendi biasa dipanggil Zaki, anggota baru, temannya Nuris. Zaki seorang pendongeng dari kampong dongeng Ciputat angkatan pertama. Baru pertama kali ikut kabeka, meski sudah banyak tahu ceritanya dari Nuris. Buku yang disukai oleh Zaki adalah buku motivasi dengan gaya bahasa yang santai dan luwes. Menurut Zaki buku dengan gaya bahasa yg mudah dimengerti, akan memudahkan pembacanya untuk mencerna isi dari buku itu. Masih menurut Zaki lagi, “munculnya selera dalam membaca buku bisa muncul apabila kita sudah merasa nyaman dengan gaya bahasa dalam penulisan buku tersebut”.

4.    Fahmi, datang bersama istri dan anaknya yang otomatis menjadi anggota kabeka juga. Prolog dulu, Fahmi merasa surprise karena bertemu pendongeng kampong dongeng angkatan pertama. Karena saat ini, Fahmi tercatat sebagai alumni kampong dongeng angkatan ke-10. Jadilah ia bercerita panjang lebar dan berbagi tentang pengalaman mendongeng sebelum acara sharing baca buku dimulai. Sungguh keajaiban apabila kita berkumpul dalam suatu forum, akan ada hal menyenangkan yang tanpa kita sangka-sangka datangnya. Kembali lagi ke buku yang akan dibahas oleh Fahmi. 

Bicara tentang Fahmi, tak lengkap rasanya kalau tidak bahas tentang karya Pramoediya A.N., setelah membaca hampir semua karya Pramoedya, Fahmi mencoba memahami latar belakang penulis favoritnya ini dengan cara membaca transkrip pembicaraan Pramoedya dengan orang Belanda dalam sebuah wawancara yang bisa dijumpai dalam situs youtube.com. Isinya tentang suka duka Pramoedya dalam menulis buku yang dianggap melawan pemerintah (pada jaman orde baru). Dalam pembahasan buku Fahmi, Furqon coba bertanya. “Kenapa buku-buku karya Pramoediya banyak dibredel oleh pemerintah pada saat itu?” Bu Lisa mencoba menjawab, “karena pada saat itu, buku-buku karangan Pramoediya dianggap bahaya laten (harus selesai)”. Masih menurut Bu Lisa lagi, “setiap orang menulis sesuai dengan latar belakang kehidupannya. Eksotisme dari cerita gelap, menarik untuk diikuti.”

Satu lagi keajaiban dalam kabeka kali ini adalah pernyataan Fahmi yg ini. “saya pertama kali mendapatkan motivasi dalam membaca buku semenjak gabung dalam klub buku ini”. Sungguh pernyataan yang mengejutkan dari seorang anggota klub buku kita. Oh iya, dua anggota yang saya sebutkan tadi (istri dan anaknya Fahmi), kali ini belum ada buku yang akan dibagikan pengalaman membacanya. Semoga lain kali, patut kita tunggu ceritanya.

Zakaria - Fahi
5.    Furqon, anggota kabeka paling nyentrik, paling mujur diantara semua anggota kabeka, penjelasannya nanti dulu. Kita runut dari awal dia datang. Begini, pertama Furqon mengabarkan kalau bakal datang telat. Sampai di jalan masuk lokasi pertemuan kabeka, Furqon bingung bagaimana menuju lokasi. Akhirnya Furqon memutuskan datang ke lokasi dengan menggunakan moda transportasi darat kuno, becak, ya becak. Bisa dibayangkan serunya naik becak sambil menyanyikan lagu becak. “dunia serasa melambat sepersekian detik, saat kita naik becak”, begitulah cerita pengalaman dari Furqon.

Kembali ke pembahasan buku, Furqon lagi menggandrungi buku-buku trilogy luar negeri, salah satunya buku berjudul “Invergent”, lanjutan dari buku pertamanya yang berjudul “Divergent”. Kalau tidak salah buku ini menceritakan sekelompok masyarakat yang dibagi menjadi beberapa faksi, dengan harapan masyarakat ini bakal teratur dan tenteram. Tapi sebagai mana cerita seperti ini, pasti ada pemberontak yang berusaha menghilangkan faksi-faksi ini karena dinilai tidak manusiawi. Kalau kata Bu Lisa (lagi), aliran ini dinamakan aliran Distopia, sebuah aliran dengan pencarian harapan yang setinggi langit. Kebalikan dari utopia, tambah bingung lagi kan. J

6.    Kak Lis, sudah beberapa bulan ini belum sempat membaca buku. Tapi berita baiknya dia sudah bisa berkeliling lagi dengan motor kesayangannya kemanapun dia pergi. Lain kali kita tunggu ulasannya kalau sudah baca buku ya, Kak?


Lis
7.    Bu Lisa, membawa buku banyak sekali pada saat baru datang, dan semuanya akan dibahas secara singkat dalam pertemuan ini. Semoga penulis tidak lupa. Buku yang pertama, “Takdir”, sebuah buku penelitian tentang riwayat Pangeran Diponegoro. Bercerita juga tentang pentingnya berbaik sangka pada setiap orang. Karena setiap orang punya dinamikanya sendiri. Buku yang kedua, “Tarekat Petani”, sebuah buku analogi (mungkin), menceritakan relasi antar petani, bagaimana hubungan antar petani dalam beragama. Bisa dikatakan ini cerita tentang kehidupan religius seseorang dan dinamika rakyat bawah. Karena waktu sudah mendekati jam dua, Bu Lisa bergegas pulang hingga memberikan ulasan yang sangat singkat. Atau bisa jadi penulis yang kurang memahami maksud yang tersirat dari ulasannya Bu Lisa.

Akhir pertemuan kabeka tak lengkap tanpa door prize dari Bu Lisa. Dari Sembilan anggota yang hadir akan dipilih tiga orang yang beruntung. Hadiah pertama berupa gantungan kunci hasil rajutan Bu Lisa berhasil didapatkan Kak Lis. Dua dari buku yang diberikan sebagai hadiah jatuh kepada peserta baru kali ini. Rizkha baru bergabung dan dapat hadiah sepertinya sudah menjadi tradisi anggota baru. Dan yang sudah menjadi kebiasaan di kabeka ini, setiap ada undian disitu ada nama Furqon sebagai penerima hadiah. Sangat beruntung, hampir disetiap pertemuan ketika ada undian selalu ada nama Furqon, bisa kita sebut Furqon si mujur. Bisa dibayangkan kalau Furqon mengikuti setiap undian yang diikutinya, namanya 99% dijamin muncul. Kalau nasib baik ini bisa dipelajari, kepada Furqon lah kita harus banyak-banyak belajar. Seperti tokoh dalam cerita fiksi yang muncul ke dunia nyata.


Lis dan gantungan kunci rajut karya Lisa

Demikian laporan kabeka kali ini, mohon maaf kalau ada salah kata, ketik, dan komentar. Sampai jumpa di pertemuan kabeka berikutnya.

Monday, September 15, 2014

Foxtrott


Oleh: Elisabet Tata

Judul Buku : Foxtrott
Penulis : Helme Heine
Penerjemah : Veriana Devi
Tebal : 32 halaman
Penerbit : Carl Hanser Verlang, 2003

Buku ini berkisah tentang seekor rubah bernama Foxtrott. Ia lahir dari tempat tersepi di dunia yang digambarkan sebagai sebuah liang berongga-rongga di bawah tanah. Jika bumi diiris akan terlihat penampang rumah Foxtrott. Ada ruang makan, ruang nonton teve, ruang bermain, ruang tidur, pokoknya persis seperti ruang-ruang di rumah kita. Di rumah itu Foxtrott tinggal bersama ayah dan ibunya.



Di rumahnya yang berada jauh di dalam tanah itu, tidak ada satupun bunyi terdengar. Televisi memang menayangkan gambar, tapi tidak ada suara, itu filem bisu. Kedua orang tua Foxtrott juga tidak pernah bercakap-cakap. Mereka berkomunikasi melalui tatapan mata dan senyum saja.

Satu hari, Foxtrott mengintip keluar dari lubang rumahnya. 



Ia heran, ada banyak bunyi di atas sana. Hampir semua binatang ternyata bersuara. Lebah berdengung, kodok mengorek, dan bebek berkotek. Foxtrott bingung dibuatnya. Inilah untuk pertamakalinya ia mendengar beragam bunyi.


Kejadian itu sungguh membekas. Sejak itu Foxtrott tak henti-hentinya membuat bunyi-bunyian. Ia bernyanyi, berteriak, menabuh panci, mengadu tutup panci, dan memukul berbagai barang. Pokoknya, menimbulkan bunyi. Semakin gaduh, semakin hati Foxtrott girang. Ayah dan Ibu Foxtrott hilang akal.



Satu hari, ayah memutuskan untuk berburu ayam di peternakan ayam manusia. Malam-malam satu keluarga keluar rumah. Foxtrott ikut dengan mulut terikat – berjaga agar dia tidak menimbulkan suara. Ini perburuan penting, semua bekerja tanpa suara, berjalan pun mengendap.

Sial, mereka ketahuan. Penjaga menangkap basah keluarga Foxtrott. Ia siap membidikkan senapannya hendak membunuh ketiganya. Foxtrott kecil berhasil melarikan diri, ia melepaskan ikatan mulutnya dan bernyanyi. Nyanyian Foxtrott membuat penjaga iba dan melepaskan ketiganya.


Ayah Foxtrott bangga. Sejak itu Foxtrott diperbolehkan bernyanyi dan bermain musik sepuasnya. Foxtrott kini dikenal sebagai penyanyi di kawanan rubah. Tidak hanya itu, Foxtrott bahkan diundang untuk bernyanyi dalam pesta-pesta binatang lainnya.



Foxtrott lantas hidup bahagia dan menikah dengan seekor rubah cantik. Mereka punya banyak anak. Setiap malam satu keluarga bernyanyi dan bermain musik bersama.

Tunggu. Apakah semua? Ternyata tidak. Satu anak Foxtrott punya kebiasaan yang unik, ia tidak suka bernyanyi. Ia pendiam dan suka membaca. Bagaimana kelanjutannya? Tidak ada yang tahu, karena Heine mengakhiri ceritanya sampai di situ.



Begitulah kisah Foxtrott yang dikarang oleh Helme Heine berakhir. Ini buku anak-anak, tercetak di kertas berkualitas baik, hard cover, dan bergambar apik. Helme Heine adalah seorang penulis Jerman. Selain menulis, Heine juga seorang ilustrator dan desainer. Ilustrasi kisah Foxtrott dikerjakan sendiri oleh Heine. 

Sebagai penulis cerita anak, Heine sangat diakui karena memenangi beragam penghargaan bergengsi. Tiga tokoh rekaannya yang paling dikenal adalah tiga sekawan Charlie Rooster (ayam jago), Johnny Mouse (tikus), and Percy (babi) yang tinggal di sebuah daerah bernama Mollywoop. Melalui internet, saya baca Manajemen Kebun Binatang di Hanover, Jerman membangun satu ruang bermain untuk anak yang diberinama Mollywoop dan menghidupkan karakter ketiga binatang tersebut di sana. 

Ini foto Heine bersama ketiga tokoh rekaannya di Kebun Binatang di Hanover, Jerman:

 


Di Indonesia buku terjemahan Heine belum banyak - atau mungkin tidak ada ya, saya baru ketemu sekarang ini soalnya. Buku Foxtrott yang saya baca bersama Putri, anak saya ini diterjemahkan oleh seorang mahasiswi Universitas Negeri Jakarta bernama Veriana Devi. Penerjemahan itu bagian dari proyek kerja sama Goethe Institute dengan mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jerman.

Bukan diterbitkan kembali dalam bentuk buku, hasil terjemahan itu dicetak pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan dengan pita rekat plastik pada halaman buku. Jadi satu terjemahan dalam satu halaman buku. Memang halaman buku menjadi "kotor" dibuatnya. Tapi, ini cara paling sederhana dan murah untuk mengerti isi buku-buku anak yang bagus-bagus itu di Goethe. Seandainya saja saya mengerti bahasa Jerman..

Kembali ke Foxtrott. Saya kira Heine ingin menyampaikan pesan bahwa menyukai kesenangan yang beda dengan yang lain itu tidak mengapa. Jika itu memang membuat kamu bahagia, kenapa tidak? Asal, tentu saja gunakan kesenangan itu untuk kebaikan.

Eh, tapi saya merasa sepertinya Heine punya pesan juga buat orang tua yang mendampingi anak-anaknya membaca. Coba bayangkan, bagaimana jika punya anak yang tidak mau menuruti kebiasaan dan peraturan yang susah payah kita bangun di rumah? Ia seperti…apa ya, ibarat makhluk asing yang ada di rumah. Tak habis pikir terkadang, kok bisa dari darah-daging saya muncul manusia baru yang punya kebiasaan beda sama sekali dari saya?

Maka, jika saya jadi ibunya Foxtrott, pasti saya larang juga Foxtrott membuat gaduh di rumah. Itu kan sungguh bertentangan nilai-nilai yang diterapkan di rumah yang tenang, sepi, dan nyaman. Tapi, siapa sangka Foxtrott lah yang jadi pahlawan penyelamat saat penjaga bersiap menarik pelatuk senapan.

Foxtrott memenuhi benak saya akhir-akhir ini. Mengingatkan akan satu tulisan yang membahas soal mengapa generasi orang jenius tidak muncul lagi. Tulisan itu berakhir dengan tudingan bahwa orang tua adalah penyebab utama hilangnya generasi jenius yang baru dan tips bagaimana mendampingi anak yang suka berulah "di luar kebiasaan".

Masih menurut tulisan itu, ketidakmampuan para orang tua dalam menerima perilaku anak yang di luar kebiasaan jadi penyebabnya. Anak-anak yang sebenarnya berbeda itu “disamakan” begitu saja dengan yang lain. Akibatnya mereka kehilangan kemampuannya untuk menjadi beda. Dan lahirlah generasi yang seragam. Satu cita-cita tertentu bisa diagungkan dan cita-cita lain dicibir. 

Melalui kisah Foxtrott, Heine seolah mengingatkan bahwa dalam satu keluarga selalu ada yang punya kebiasaan unik. Kita memang tidak pernah tahu untuk apa dan kapan keunikan itu berguna kelak. Saya kira mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti berbagi, menolong sesama, dan berkarya lebih penting ketimbang menahan mereka untuk melakukan sesuatu yang disukai.

Begitulah. Menuliskannya saja sih, gampang, menjalaninya? Semoga saja ibumu ini mampu memahamimu ya, nak :) 

Catatan: Buku ini bisa dibaca di Perpustakaan Goethe Institute, Jakarta.