*catatan: tulisan ini dibuat untuk merayakan Ulang Tahun ke-3 Kabeka
Tahun 2015 ini, Kabeka menginjak usia tiga
tahun. Di hari lahirnya tanggal 20 Mei kemarin, sayangnya Kabeka tidak sempat mengadakan temu
darat: berkumpul di salah satu rumah anggota, saling berbagi cerita kegiatan
dan hobi, berbagi isi buku yang tengah dibaca, dan tentu saja berbagi makanan
murah sehat dan lokal.
Kesibukan masing-masing anggota adalah yang paling mudah dijadikan alasan (terutama
oleh saya, saya akui). Namun, saya yakin
bahwa masing-masing anggota –tentunya- pasti sadar sendiri-sendiri untuk tetap membaca buku yang digemarinya.
Secara pribadi, saya ingin berbagi cerita.
Saya seperti biasa tak akan meresensi, tetapi hanya sekedar “curhat” tentang apa yang saya dapatkan dari buku yang
direkomendasikan Elisabeth Tata. Buku yang pernah diusulkannya untuk menjadi
diskusi buku jika saja Kabeka siap (waktu dan tenaga) untuk bertemu darat.
Sayangnya tak kesampaian.
People of The Book
Novel karya Geraldine
Brooks ini, menurut saya, sungguh sebuah buku yang penting untuk dibaca oleh
tiap bangsa Indonesia di saat Indonesia sedang banyak mengalami ujian
keberagaman dan persatuan kebangsaan.
![]() |
| People of The Book edisi Bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia pada 2015 |
Menurut
pandangan saya, sekalipun ada seorang
tokoh utama yang berperan yaitu DR. Hanna Heath, namun novel yang mendapat inspirasi dari kisah nyata
ini dan berlatar tempat di Eropa dan sekitarnya, berpusat pada sebuah buku yang sangat istimewa, yang menurut
saya justru ia-lah yang menjadi tokoh sentralnya.
Buku doa kuno agama Yahudi (haggadah) yang dikenal sebagai haggadah
Sarajevo itu banyak menimbulkan rasa penasaran dan spekulasi baik tentang
keasliannya, keanehannya (karena menampilkan ilustrasi sebagaimana buku-buku
doa kaum Kristen, sementara sebagaimana kita ketahui penggambaran dan ilustrasi
adalah tabu dan “haram” menurut aturan agama Yahudi), maupun perjalanan
“hidup”nya yang berpindah-pindah tangan (kepemilikan) dalam rentang sekitar lima ratus tahun-- sebelum pada
akhirnya ditemukan kembali dan dikembalikan pada negara yang paling berhak
mewarisinya).
Dalam salah satu bagian dalam novel tersebut, diungkapkan haggadah
ini telah mengalami kisah pahit dan getir dan ia telah menceritakan kisahnya
sendiri.
Penciptaan
tokoh-tokoh lain dengan karakter-karakter
dengan kuat sangat membantu memberikan pemahaman betapa situasi politik dan
sosial dari abad ke abad terus –menerus mengalami gejolak dan menguatkan kesan
pertarungan antara yang baik dan yang jahat. Meskipun mana si baik dan mana si
jahat, bisa menjadi perdebatan, tergantung di sisi mana pembaca berdiri.
Di antara sekian banyak tokoh yang antagonis
(anggota partai Nazi yang kejam, pendeta, rabi,dan ulama yang munafik,) ada
kemunculan satu-dua tokoh protagonis yang sangat menyejukkan dan memberi rasa
optimis bahwa dalam tiap masa selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang
tulus dan berjiwa penolong tanpa pamrih. Brooks dengan sangat teliti mampu
mengungkapkan dinamika psikologis dari tiap tokohnya.
![]() |
| Geraldine Brooks |
Tokoh antagonis di tangan
Brooks bisa muncul sebagai tokoh yang manusiawi dan seolah boleh mendapat
“pemakluman” dari sifat-sifat jahatnya dan/atau sikap-sikap kejamnya. Meskipun
tetap tak bisa dimaafkan untuk kasus-kasus tertentu, seperti pada bagian tindakan-tindakan
kejam yang melampaui kemanusiaan (penyikasaan fisik yang sadis).
Pengungkapan
fakta psikologis tokoh antagonis dilakukan penulis, menurut pandangan saya akan
cukup membantu pembaca, agar bisa mengambil pelajaran bahwa masalah kepribadaian dan tindakan
seseorang harus bisa dipahami secara multidimensional. Ini membantu pembaca untuk
memahami bahwa tiap manusia memiliki latar belakang dan alasan yang sangat
kompleks sehingga ia kemudian tumbuh menjadi pribadi yang kejam, culas, adiktif, atau oportunis.
Melalui
penggambaran karakter (antagonis atau protagonis) melalui peran-peran yang disandangkan pada
tokoh-tokoh novelnya, Brooks memberikan
kesadaran bahwa sesungguhnya tak semua manusia jahat adalah seratus persen
jahat karena berniat jahat. Ada banyak faktor yang membentuk seseorang menjadi
demikian. Penting untuk kita renungkan bersama-sama, agar kita bisa berhati-hati
untuk tidak mudah mengklaim diri paling baik dan benar, serta menunjuk pihak
lain sebagai yang selalu salah dan buruk.
| People of The Book Edisi 1 |
Kekayaaan latar
belakang agama, budaya, dan masa lalu dari tokoh-tokoh dalam kisah People of The Book menjadikan novel ini
sangat menarik dari segi keberagaman sekaligus persamaan. Tidak ada yang berada
di satu wilayah yang secara tegas terpisah atau
benar-benar tidak tersentuh oleh wilayah lain. Selalu ada interseksi,
ada wilayah arsiran yang mempertemukan dua atau lebih pihak dalam persamaan.
Manusia adalah satu
ciptaan dari Yang Maha Satu, Pencipta Alam Semesta ini. Keberagaman adalah
sebuah keniscayaan, sebagai sebuah konsekuensi yang alamiah saat Tuhan menetapkan
untuk meletakkan tiap-tiap hambaNya pada posisi-posisi, lokasi-lokasi, dan
peran-peran, serta tugas-tugas hidup yang berbeda-beda.
Dalam pemahaman saya,
tak ada yang lebih penting perannya di atas yang lain, semua berperan untuk
menjadikan kehidupan di bumi ini berjalan dengan baik dan dalam harmoni.
Keberbedaan
itulah yang menyatukan.
Perlu ada kesadaran pada tiap orang supaya saling membantu dalam kebaikan sehingga
kehidupan menjadi lebih ringan untuk dijalani bersama-sama. Pesawat terbang
tidak hanya terdiri dari sayap dan roda,
ada sekrup-sekrup kecil dan tombol-tombol di ruang kokpit, serta entah berapa
juta “hal” yang berbeda-beda lagi yang
menyatu bekerja sama agar pesawat dapat dikatakan berfungsi dengan baik
dan layak terbang.
Harapan saya semoga
demikian pula dengan Indonesia. Berbeda adalah sebuah rahmat. Demikian pula di
komunitas kecil kita ini, Kabeka, tiap anggota berbeda dari banyak segi, namun
ikatan kita tetap terasa semoga.
Saya rasa kita sudah menyatu di satu interseksi yang nyaman. Buktinya, selalu
ada kerinduan untuk berkumpul dan berbicara santai tentang buku sambil
mencicipi kudapan lokal yang sederhana.
Selamat Ulang Tahun Kabeka. Selamat
Hari Kebangkitan Nasional 2015. Selamat atas kebhinnekaan Indonesia.
Akhirul kata, saya
sangat sarankan untuk membaca novel luar biasa karya Geraldine Brooks ini.
“Nyemplung” ke dalam situasi tegang dan penuh petualangan dari awal hingga
akhir. Beliau adalah pemenang Pulitzer, jadi bisa dibayangkan betapa “berbobot”
novelnya. Bahkan di bagian sampul belakang buku pun, tertulis : melampaui batas fiksi sejarah.
(Lisa Soeranto
untuk Tiga Tahun Kabeka, untuk Indonesia Raya).

