Tuesday, July 28, 2015

People of The Book karya Geraldine Brooks

*catatan: tulisan ini dibuat untuk merayakan  Ulang Tahun ke-3 Kabeka


Tahun 2015 ini, Kabeka menginjak usia tiga tahun. Di hari lahirnya tanggal 20 Mei kemarin, sayangnya Kabeka tidak sempat mengadakan temu darat: berkumpul di salah satu rumah anggota, saling berbagi cerita kegiatan dan hobi, berbagi isi buku yang tengah dibaca, dan tentu saja berbagi makanan murah sehat dan lokal.

Kesibukan masing-masing anggota adalah  yang paling mudah dijadikan alasan (terutama oleh saya, saya akui). Namun,  saya yakin bahwa masing-masing anggota –tentunya- pasti sadar sendiri-sendiri untuk tetap membaca buku yang digemarinya.

Secara pribadi, saya ingin berbagi cerita. Saya seperti biasa tak akan meresensi, tetapi hanya sekedar “curhat”  tentang apa yang saya dapatkan dari buku yang direkomendasikan Elisabeth Tata. Buku yang pernah diusulkannya untuk menjadi diskusi buku jika saja Kabeka siap (waktu dan tenaga) untuk bertemu darat. Sayangnya tak kesampaian.

People of The Book

Novel karya Geraldine Brooks ini, menurut saya, sungguh sebuah buku yang penting untuk dibaca oleh tiap bangsa Indonesia di saat Indonesia sedang banyak mengalami ujian keberagaman dan persatuan kebangsaan.

People of The Book edisi Bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia pada 2015
Menurut pandangan saya,  sekalipun ada seorang tokoh utama yang berperan yaitu DR. Hanna Heath, namun  novel yang mendapat inspirasi dari kisah nyata ini dan berlatar tempat di Eropa dan sekitarnya,  berpusat pada  sebuah buku yang sangat istimewa, yang menurut saya justru ia-lah yang menjadi tokoh sentralnya.  

Buku doa kuno agama Yahudi (haggadah)  yang dikenal sebagai haggadah Sarajevo itu banyak menimbulkan rasa penasaran dan spekulasi baik tentang keasliannya, keanehannya (karena menampilkan ilustrasi sebagaimana buku-buku doa kaum Kristen, sementara sebagaimana kita ketahui penggambaran dan ilustrasi adalah tabu dan “haram” menurut aturan agama Yahudi), maupun perjalanan “hidup”nya yang berpindah-pindah tangan (kepemilikan) dalam rentang  sekitar lima ratus tahun-- sebelum pada akhirnya ditemukan kembali dan dikembalikan pada negara yang paling berhak mewarisinya). 

Dalam salah satu bagian dalam novel tersebut, diungkapkan haggadah ini telah mengalami kisah pahit dan getir dan ia telah menceritakan kisahnya sendiri.

Penciptaan tokoh-tokoh lain dengan  karakter-karakter dengan kuat sangat membantu memberikan pemahaman betapa situasi politik dan sosial dari abad ke abad terus –menerus mengalami gejolak dan menguatkan kesan pertarungan antara yang baik dan yang jahat. Meskipun mana si baik dan mana si jahat, bisa menjadi perdebatan, tergantung di sisi mana pembaca berdiri.  

Di antara sekian banyak tokoh yang antagonis (anggota partai Nazi yang kejam, pendeta, rabi,dan ulama yang munafik,) ada kemunculan satu-dua tokoh protagonis yang sangat menyejukkan dan memberi rasa optimis bahwa dalam tiap masa selalu ada orang-orang di sekeliling kita yang tulus dan berjiwa penolong tanpa pamrih. Brooks dengan sangat teliti mampu mengungkapkan dinamika psikologis dari tiap tokohnya. 

Geraldine Brooks
Tokoh antagonis di tangan Brooks bisa muncul sebagai tokoh yang manusiawi dan seolah boleh mendapat “pemakluman” dari sifat-sifat jahatnya dan/atau sikap-sikap kejamnya. Meskipun tetap tak bisa dimaafkan untuk kasus-kasus tertentu, seperti pada bagian tindakan-tindakan kejam yang melampaui kemanusiaan (penyikasaan fisik yang sadis). 

Pengungkapan fakta psikologis tokoh antagonis dilakukan penulis, menurut pandangan saya akan cukup membantu pembaca, agar bisa mengambil pelajaran  bahwa masalah kepribadaian dan tindakan seseorang harus bisa dipahami secara multidimensional. Ini membantu pembaca untuk memahami bahwa tiap manusia memiliki latar belakang dan alasan yang sangat kompleks sehingga ia kemudian tumbuh menjadi pribadi yang kejam, culas,  adiktif, atau oportunis.

Melalui penggambaran karakter (antagonis atau protagonis)  melalui peran-peran yang disandangkan pada tokoh-tokoh novelnya,  Brooks memberikan kesadaran bahwa sesungguhnya tak semua manusia jahat adalah seratus persen jahat karena berniat jahat. Ada banyak faktor yang membentuk seseorang menjadi demikian. Penting untuk kita renungkan bersama-sama, agar kita bisa berhati-hati untuk tidak mudah mengklaim diri paling baik dan benar, serta menunjuk pihak lain sebagai yang selalu salah dan buruk.

BrooksPeopleoftheBook.jpg
People of The Book Edisi 1
Kekayaaan latar belakang agama, budaya, dan masa lalu dari  tokoh-tokoh dalam kisah  People of The Book menjadikan novel ini sangat menarik dari segi keberagaman sekaligus persamaan. Tidak ada yang berada di satu wilayah yang secara tegas terpisah atau  benar-benar tidak tersentuh oleh wilayah lain. Selalu ada interseksi, ada wilayah arsiran yang mempertemukan dua atau lebih pihak dalam persamaan.

Manusia adalah satu ciptaan dari Yang Maha Satu, Pencipta Alam Semesta ini. Keberagaman adalah sebuah keniscayaan, sebagai sebuah konsekuensi yang alamiah saat Tuhan menetapkan untuk meletakkan tiap-tiap hambaNya pada posisi-posisi, lokasi-lokasi, dan peran-peran, serta tugas-tugas hidup yang berbeda-beda. 

Dalam pemahaman saya, tak ada yang lebih penting perannya di atas yang lain, semua berperan untuk menjadikan kehidupan di bumi ini berjalan dengan baik dan dalam harmoni. 

Keberbedaan itulah yang menyatukan. 

Perlu ada kesadaran pada tiap orang supaya  saling membantu dalam kebaikan sehingga kehidupan menjadi lebih ringan untuk dijalani bersama-sama. Pesawat terbang tidak hanya terdiri dari  sayap dan roda, ada sekrup-sekrup kecil dan tombol-tombol di ruang kokpit, serta entah berapa juta “hal” yang berbeda-beda lagi yang  menyatu bekerja sama agar pesawat dapat dikatakan berfungsi dengan baik dan layak terbang.

Harapan saya semoga demikian pula dengan Indonesia. Berbeda adalah sebuah rahmat. Demikian pula di komunitas kecil kita ini, Kabeka, tiap anggota berbeda dari banyak segi, namun ikatan kita tetap terasa semoga. 

Saya rasa kita sudah menyatu di  satu interseksi yang nyaman. Buktinya, selalu ada kerinduan untuk berkumpul dan berbicara santai tentang buku sambil mencicipi kudapan lokal yang sederhana. 

Selamat Ulang Tahun Kabeka. Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2015. Selamat atas kebhinnekaan Indonesia.

Akhirul kata, saya sangat sarankan untuk membaca novel luar biasa karya Geraldine Brooks ini. 

“Nyemplung” ke dalam situasi tegang dan penuh petualangan dari awal hingga akhir. Beliau adalah pemenang Pulitzer, jadi bisa dibayangkan betapa “berbobot” novelnya. Bahkan di bagian sampul belakang buku pun, tertulis :  melampaui batas fiksi sejarah. 

(Lisa Soeranto untuk Tiga Tahun Kabeka, untuk Indonesia Raya).