Oleh: Elisabet Tata
Di masa libur lebaran ini, penyedia teve kabel langganan saya berbaik hati membuka semua saluran teve. Lumayan buat kami sekeluarga yang tidak berniat bepergian. Meski kadang harus berbagi dengan anak-anak, hari ini saya kebagian banyak waktu untuk menghibur diri.
Salah satu film yang saya tonton berjudul “About Schmidt” – sebuah drama komedi karya sutradara Alexander Payne yang dirilis pada 2002 dan dibintangi dua aktor favorit saya, Jack Nicholson dan Kathy Bates. Ini film yang mau saya bagikan kisahnya. Ceritanya film diambil dari novel karya Louis Begley berjudul sama yang diterbitkan oleh The Ballantine Publishing Group pada 1996.
Novel "About Schmidt" punya beberapa versi sampul. Ini salah satunya:
“About Schmidt” cerita tentang seorang laki-laki pensiunan bernama Warner J. Schmidt, diperankan Jack Nicholson. Ia tinggal di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat. Kisah dimulai saat Schmidt pensiun dari sebuah perusahaan asuransi. Semenjak itu, hari-hari Schmidt penuh kemurungan.
Ini poster filmnya:
Sebagai seorang aktuaris, tugas Schmidt dulunya menaksir berapa lama seseorang bakal bertahan hidup untuk menghitung prakiraan nilai resiko yang harus ditanggung perusahaan asuransi. Kini Schmidt menghitung berapa sisa waktu bagi dirinya sendiri. Ia merasa harus melakukan sesuatu yang baik untuk menghabiskan masa tuanya.
Namun, sebagaimana layaknya pensiunan, Scmidt sering merasa kesepian, tidak berguna, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia juga merasa asing dengan suasana rumah, bahkan dengan Helen yang sudah menjadi isterinya selama 42 tahun .
“Lately...every night. I find myself asking the same question: Who is this old woman who lives in my house? Why is that every little thing she does irritates me?”
Sebuah iklan di televisi tentang program foster parents (orang tua asuh) untuk anak-anak Afrika membantu Schmidt menemukan kesibukan baru. Ndugu Umbo, seorang anak yatim piatu berumur enam tahun yang tinggal di panti asuhan di Tanzania menjadi anak asuh Schmidt. Selain mengirim cek sejumlah 22 dolar tiap bulannya, para orang tua asuh diwajibkan menulis surat kepada anak asuhnya.
Mula-mula Schmidt kikuk. Namun, tak lama ia mendapati bahwa menulis surat untuk Ndugu adalah satu-satunya tempat dimana ia bisa melampiaskan seluruh perasaannya. Ada kelegaan usai ia menceritakan hari-hari yang dilaluinya pada Ndugu.
Kematian Helen menambah sepi hari-hari Schmidt. Tidak ada seorangpun yang dirasa mampu menghiburnya, bahkan Jeannie, anak tunggalnya yang tinggal di Denver. Jeannie datang dengan tunangannya, Randal Hertzel, seorang penjual kasur air. Mereka sebentar lagi akan menikah. Schmidt tak suka dengan calon menantunya. Ia berniat membatalkan pernikahan itu.
Dan mulailah petualangan Schmidt di hari-hari menjelang pernikahan anaknya.
Mengendarai sebuah mobil caravan, Schmidt mengunjungi tempat-tempat masa lalunya. Mulai dari rumah tempat ia menghabiskan masa kecil yang sudah berubah jadi toko ban, kampus, hingga museum. Ia tak lupa menuliskan perjalanannya pada Ndugu, teman kecilnya.
Pengalaman menginap di rumah besan menjadi satu kisah tersendiri. Roberta Hertzel, ibu Randal dan janda dua kali cerai dimainkan apik oleh Kathy Bates. Polah keluarga Hertzel yang dirasa konyol makin memantapkan Schmidt bahwa ia harus membatalkan pernikahan anaknya. Schmidt lupa, Jeannie kini bukan gadis kecilnya lagi. Upayanya gagal.
Saat pernikahan tiba. Terpaksa lah Schmidt berpidato sebagai bapak dan besan yang baik di mata teman-teman Jeannie dan keluarga Hertzel.
Schmidt akhirnya pulang kembali ke Omaha. Meratapi kesepiannya dan mengutuki kebodohannya karena tak mampu mengendalikan anaknya lagi. Merasa nelangsa.
Sebuah surat dari Tanzania menghiburnya. Seorang biarawati menulis mewakili Ndugu yang tidak bisa menulis maupun membaca. Ndugu mengucapkan terima kasih atas cerita-cerita Schmidt dan mendoakan kesehatannya. Ndugu juga mengirimkan gambarnya untuk Schmidt. Itu gambar sederhana saja. Dua orang besar dan kecil bergandengan tangan dengan latar langit biru.
Schmidt menangis melihat gambar itu. Ternyata masih ada yang bisa dilakukannya di masa tuanya. Demikianlah, dan film pun usai.
Saya terharu melihat adegan pamungkas itu. Film ini mengisi pikiran saya sepanjang siang hingga sore. Seperti apa ya kehidupan saya di masa tua nanti?
Bayangkan, jika terhadap pasangan dulu kita sering menilai: Every little things she/he does is magic, saat tua menjadi Every little things she/he does is irritating me…
Di perumahan tempat saya tinggal, banyak sekali orang-orang lanjut usia (lansia). Ada yang setiap pagi jalan-jalan, ada yang suka ngerumpi bergerombol, ada yang hanya terdengar suaranya saja meneriaki cucunya untuk tidak ini dan itu, ada juga yang tiap pagi nongkrong di pasar dan berjajan. Saya rasa mereka adalah kelompok yang sudah tak produktif lagi.
Di tempat lain, saya juga melihat banyak lansia yang masih produktif. Ada yang buka toko kecil, membuat kerajinan, berkebun, dan menjual masakannya. Orang-orang tua itu menghabiskan sisa harinya dengan caranya masing-masing.
Saya pun ingat ibu saya di Jogya. Beliau sudah menjanda sejak ayah saya meninggal 15 tahun lalu. Mantan politisi lokal semasa orde baru itu tiap hari masih saja menyimak berita dari koran, radio, maupun televisi. Niatnya selalu ingin tahu, tapi fisik menghalanginya. Kesukaannya berorganisasi sosial pun terpaksa terhenti karenanya. Ibu kini banyak menghabiskan waktu di rumah.
Ah, masa tua. Siapa mampu membayangkan seperti apa kelak…*
Catatan:
Jack Nicholson mendapat nominasi Pemeran Utama Oscar 2002 dalam “About Schmidt”, sementara Kathy Bates mendapat nominasi pemeran pendukung terbaik. Film ini memenangkan Golden Globe Award untuk Best Screenplay dan Best Performance. Ia juga diputar dalam Festival Film Cannes 2002.

No comments:
Post a Comment