Saturday, November 23, 2013

Kisah Seekor Singa yang Tidak Bisa Menulis

Judul asli: Die Geschichte Vom Lowen der Nicht Schreiben Konnte (2002)

Pengarang dan ilustrator: Martin Baltscheit
Penerjemah: Nathalie Sugondho Nasution
Penerbit Feliz Books, Jakarta, 2011



Oleh: Elisabet Tata

Menurut saya, buku ini wajib dibaca atau dibacakan oleh dan untuk anak-anak. Bahkan, saya berandai-andai, jika jadi Menteri Pendidikan, saya akan memasukkannya dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setidaknya untuk murid kelas 4 ke atas.

Ini fabel yang bagus, bercerita tentang seekor singa jantan muda yang begitu bangga dengan dirinya. Ia punya auman hebat dan gigi yang menakutkan. Bukankah hanya itu yang perlu dimiliki seekor singa jantan agar tampak gagah? Singa itu mengabaikan kekurangannya yang lain, yaitu: tidak bisa menulis.



Satu hari ia jatuh hati dengan seekor singa betina cantik berkacamata yang suka membaca. Singa jantan ingin mendekatinya, tapi bagaimana caranya jika ia tak bisa menulis? Ia dengar kabar singa yang suka membaca adalah singa terhormat – jadi tidak bisa didekati begitu saja.



Maka singa jantan mencari binatang-binatang lain agar menuliskan sepucuk surat untuk singa betina. Mulai dari monyet, kuda nil, kumbang kotoran, jerapah, buaya, hingga burung pemakan bangkai membantu menulis surat.

Satu persatu binatang-binatang itu menulis surat.

Monyet misalnya, menulis ajakan untuk memanjat pohon sambil makan pisang, kuda nil menulis ajakan untuk berenang di sungai, dan kumbang kotoran mengajak untuk bermain kotoran dan mengoleskan kotoran di kertas sehingga baunya sungguh menyiksa hidung singa.

Tidak ada satupun yang sesuai.



Singa menjadi sangat kesal. Ia mengaum dengan keras sambil mengungkapkan perasaan yang ingin ditulisnya. Singa betina mendengar dan bertanya, “Kenapa kamu tidak menulisnya sendiri?”

Cerita berakhir happy ending. Kedua singa kini berkawan dan singa betina mengajarkan bagaimana cara menulis.



Indah bukan? Ringkas dan apik penyampaiannya. Pesannya jelas, menulislah agar kau bisa mengungkapkan perasaan dan pikiranmu. Sepandai-pandainya orang lain menuliskan sesuatu untukmu, itu tetap tidak akan mampu menjelaskan apa pikiran dan keinginanmu yang sesungguhnya.

Martin Baltscheit (47 tahun), penulis dan ilustrator buku anak ini tinggal di Dusseldorf, Jerman. Ia menuntaskan sekolah di Communication Design, Folkwang School, Essen, Jerman. Martin juga seorang pendongeng, dulunya ia pernah bekerja sebagai pemain sandiwara radio dan pemain drama. Karya-karya fabelnya sangat dikenal di Jerman. Sejak 1992, nyaris setiap tahun ia mendapat penghargaan dari banyak organisasi atas karya-karyanya.

Saya kira kita beruntung mendapat kesempatan membaca salah satu karya Martin dalam bahasa Indonesia. Adalah Goethe Institute Jakarta, lembaga kebudayaan Jerman di Jakarta yang membantu penerbitan buku karya Martin ini dalam bahasa Indonesia.

O, ya, saya menemukan versi lain dari kisah singa yang tidak membaca ini di Youtube. Sebuah sekolah di Jerman mementaskannya menjadi satu drama anak-anak dalam sebuah acara. Jika hendak melihatnya sila klik di http://www.youtube.com/watch?v=2yHMKOz59fY, barangkali terinspirasi.

Sunday, November 17, 2013

Bertualang di Dunia Teka-teki Heimann

Judul buku: Brain Busting Bonanza

Penulis & Ilustrator: Rolf Heimann
Penerbit: Little Hare Books, Australia (2003), reprinted in 2006
Oleh: Elisabet Tata

Ini buku baru di rumah kami. Hasil obrak-abrik lapak obral Gramedia. Cuma ada satu, nyelip di antara buku-buku berbahasa Indonesia. Lumayan, harganya ‘hanya’ Rp25.000,00. Di e-bay, buku-buku karya Heiman dijual dengan harga ratusan ribu rupiah. Jadi, ini kesempatan bagus. Segera ambil dan bayar.

Buku Heimann segera jadi kesukaan semua anggota keluarga. Berempat kami, aku, suami dan dua anak, masuk dan tenggelam dalam dunia teka-teki Heimann. Setiap halaman membuat kami tertantang. Seru dan mengasyikkan.

Saya sebenarnya kesulitan menceritakan tentang isi buku ini. Barangkali karena permainan di Indonesia tidak mengenal banyak jenis teka-teki ya, sehingga saya sulit menerjemahkan nama-nama permainan yang disajikan di buku ini.

Misalnya untuk maze saja, kita hanya mengenal istilah labyrinth (dalam bahasa Indonesia disebut labirin). Dalam Kamus Bahasa Indonesia, labirin adalah 1) tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku dan simpang siur, 2) sesuatu yang sangat rumit dan berbelit-belit (ttg susunan, aturan, dsb), 3) sistem rongga atau saluran yang berhubungan.

Maze dan labyrinth sebenarnya dua istilah yang berbeda. Maze adalah permainan tour puzzle (ah..dalam bahasa Inggris lagi) dalam bentuk jalur yang bercabang-cabang. Labirin tidak bercabang, ia hanya satu jalur; ada yang bilang lebih mudah keluar dari labirin ketimbang maze.

Nah, di Indonesia kita cukup menyebut beragam permainan asah otak sebagai teka-teki. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, teka-teki adalah 1) soal yang berupa kalimat (cerita, gambar) yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk mengasah pikiran, 2) hal yang sulit dipecahkan (kurang terang, rahasia).

Padahal, di buku Heimann ini ada beragam jenis teka-teki. Ini kutipan salam Heimann pada lembar kedua bukunya: Welcome to my biggest book ever of all-new mazes, puzzles, spottos, conundrum, quizzes, teasers, stumpers and bafflers!

Saya terus terang tidak punya istilah yang tepat untuk menyampaikannya dalam bahasa Indonesia satu persatu. Barangkali kalau ada yang mau sumbang saran, silakan saja.

Karena ini buku permainan, ia tidak terlalu memerlukan penomoran halaman sebagaimana layaknya sebuah buku. Yang ada adalah penomoran untuk setiap teka-teki yang berjumlah total 96 buah. Namun, jika ingin tahu ada berapa halaman, saya sudah hitung jumlahnya ada 31 halaman.

Pada masing-masing teka-teki ada kilasan cerita agar jadi tambah menarik. Buku ini bisa untuk segala umur. Tingkat kesulitan yang disajikan beragam, ada yang mudah seperti mencari perbedaan - saya bisa menganggapnya begitu karena si bungsu yang berumur 5 tahun bisa menjawabnya. Tapi ada pula yang rumit, pokoknya kalau sudah si sulung atau saya menyerah, hanya kepala suku atau suami yang mendapat tugas memecahkannya.

Saya beri kilasan-kilasan halaman di dalam buku ya..

Bantu ular kembali ke sarang


Pertukaran barang antar diplomat di galaksi Schnopos III


Jangan percaya pantulan naga di air, mereka ternyata tidak sama


Hujan kucing dan anjing. Eh, ada satu kucing dan anjing yang berbeda lho..


Tahukah jika pemilik dan binatang peliharaan itu punya kemiripan? Itu bisa untuk mencari siapa pemilik binatang peliharaan yang terlepas.


 Rolf Heimann adalah penulis dan ilustrator kelahiran Dresden, Jerman pada 1940. Ia menjadi imigran di Australia karena tak puas dengan kondisi politik di Jerman pada sekitar 1958. Umurnya 18 tahun ketika itu, memulai kerja serabutan dari pemetik buah, buruh, sebelum menekuni kembali dunia melukisnya.

Kekagumannya pada teka-teki maze bermula ketika Heimann kecil yang berumur 7 tahun terjebak di tengah labirin pagar tanaman. Lama ia tersesat hingga berpikir akan mati kelaparan di sana. Saat berhasil keluar, Heimann menemukan momen kelegaan yang luar biasa. Ia berharap momen kelegaan itu juga yang dirasakan pembaca saat berhasil memecahkan teka-teki Heimann.

Pada beberapa halaman terakhir buku, Heimann sebenarnya memberikan jawaban atas semua teka-teki yang ia berikan. Namun, saya usul jangan terburu-buru membukanya. Itu akan mengurangi momen kelegaan seperti yang diharapkan Heimann.

Heimann kini bermukim di Australia dan jadi warga negara Australia. Ia cinta benua Kanguru dan berterima kasih karena memberikan tempat untuk bermukim. Untuk mengungkapkannya, di dalam buku-bukunya Heiman selalu menyelipkan satu peta Australia. "It might be a patch on a sleeve, a reflection in a puddle or a flower". Yang ini tambahan teka-teki dari Heimann.

Thursday, November 14, 2013

Pertemuan KBK #September 2013

Pertemuan KBK bulan September diadakan di rumah moderator KBK, Lisa di daerah Cinere Sabtu, 21 September lalu. Sepuluh orang hadir. Selain empat orang anggota KBK lama, Tata, Lisa, Lis, dan Nuris; enam lainnya adalah wajah-wajah baru. 

Yang membanggakan karena tiga orang di antaranya adalah relawan guru yang terjun ke berbagai berbagai daerah tertinggal atau wilayah yang belum memiliki guru untuk membantu anak-anak Indonesia agar setidaknya melek huruf. 

Relawan guru itu tergabung dalam kelompok Relawan Sobat Bumi di bawah Pertamina Foundation. Mereka adalah (ki-ka) Nasihin, Amin Makmur, dan Ahmad Taufik:



Kami berbincang hangat dengan ketiga relawan itu. Sungguh, niat mereka memang tulus untuk membantu pendidikan di Indonesia. Mereka bahkan rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mereka tekuni sebelumya untuk menjadi relawan. 

Empat anggota baru KBK lainnya adalah, Furqon dan Debbie serta pasagan suami isteri: Agung dan Tita. 

Selanjutnya kami mulai bicara tentang buku. Tidak ada tema khusus dalam pertemuan kali ini. Kami hanya cerita soal isi buku masing-masing dan mendiskusikannya. 

Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, ada doorprize buku sumbangan dari penerbit Eterna yaitu The Science of Superheroes.



Berikut adalah kilasan pertemuan kami. Seperti biasa, seru dan menyenangkan!


Suasana pertemuan


ki-ka: Agung, Debbie, Lisa

Ahmad Taufik (kiri) dan Amin Makmur (kanan)

Furqon beruntung mendapat doorprize


potluck1: tape daun jambu, manisan pala, kopi sachet

 potluck2: krupuk melarat dan permen Davos

Duplex, Davos, Sinai - permen favorit anggota KBK

Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 10 pagi itu berakhir pada sekitar pukul 13 siang. Kami senang, pulang pun dengan hati riang. Pasalnya, tuan rumah menyediakan plastik-plastik untuk membawa pulang makanan yang tersaji. 



Demikianlah. Pertemuan KBK memang selalu berakhir dengan HAPPY ENDING :)


Sampai bertemu di pertemuan KBK berikutnya!