Pengarang dan ilustrator: Martin Baltscheit
Penerjemah: Nathalie Sugondho Nasution
Penerbit Feliz Books, Jakarta, 2011
Oleh: Elisabet Tata
Menurut saya, buku ini wajib dibaca atau dibacakan oleh dan untuk anak-anak. Bahkan, saya berandai-andai, jika jadi Menteri Pendidikan, saya akan memasukkannya dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setidaknya untuk murid kelas 4 ke atas.
Ini fabel yang bagus, bercerita tentang seekor singa jantan muda yang begitu bangga dengan dirinya. Ia punya auman hebat dan gigi yang menakutkan. Bukankah hanya itu yang perlu dimiliki seekor singa jantan agar tampak gagah? Singa itu mengabaikan kekurangannya yang lain, yaitu: tidak bisa menulis.

Satu hari ia jatuh hati dengan seekor singa betina cantik berkacamata yang suka membaca. Singa jantan ingin mendekatinya, tapi bagaimana caranya jika ia tak bisa menulis? Ia dengar kabar singa yang suka membaca adalah singa terhormat – jadi tidak bisa didekati begitu saja.

Maka singa jantan mencari binatang-binatang lain agar menuliskan sepucuk surat untuk singa betina. Mulai dari monyet, kuda nil, kumbang kotoran, jerapah, buaya, hingga burung pemakan bangkai membantu menulis surat.
Satu persatu binatang-binatang itu menulis surat.
Monyet misalnya, menulis ajakan untuk memanjat pohon sambil makan pisang, kuda nil menulis ajakan untuk berenang di sungai, dan kumbang kotoran mengajak untuk bermain kotoran dan mengoleskan kotoran di kertas sehingga baunya sungguh menyiksa hidung singa.
Tidak ada satupun yang sesuai.

Singa menjadi sangat kesal. Ia mengaum dengan keras sambil mengungkapkan perasaan yang ingin ditulisnya. Singa betina mendengar dan bertanya, “Kenapa kamu tidak menulisnya sendiri?”
Cerita berakhir happy ending. Kedua singa kini berkawan dan singa betina mengajarkan bagaimana cara menulis.

Indah bukan? Ringkas dan apik penyampaiannya. Pesannya jelas, menulislah agar kau bisa mengungkapkan perasaan dan pikiranmu. Sepandai-pandainya orang lain menuliskan sesuatu untukmu, itu tetap tidak akan mampu menjelaskan apa pikiran dan keinginanmu yang sesungguhnya.
Martin Baltscheit (47 tahun), penulis dan ilustrator buku anak ini tinggal di Dusseldorf, Jerman. Ia
menuntaskan sekolah di Communication Design, Folkwang School, Essen, Jerman. Martin juga seorang pendongeng, dulunya ia pernah bekerja sebagai pemain sandiwara radio dan pemain drama. Karya-karya fabelnya sangat dikenal di Jerman. Sejak 1992, nyaris setiap tahun ia mendapat penghargaan dari banyak organisasi atas karya-karyanya.
Saya kira kita beruntung mendapat kesempatan membaca salah satu karya Martin dalam bahasa Indonesia. Adalah Goethe Institute Jakarta, lembaga kebudayaan Jerman di Jakarta yang membantu penerbitan buku karya Martin ini dalam bahasa Indonesia.
O, ya, saya menemukan versi lain dari kisah singa yang tidak membaca ini di Youtube. Sebuah sekolah di Jerman mementaskannya menjadi satu drama anak-anak dalam sebuah acara. Jika hendak melihatnya sila klik di http://www.youtube.com/watch?v=2yHMKOz59fY, barangkali terinspirasi.
Penerjemah: Nathalie Sugondho Nasution
Penerbit Feliz Books, Jakarta, 2011
Oleh: Elisabet Tata
Menurut saya, buku ini wajib dibaca atau dibacakan oleh dan untuk anak-anak. Bahkan, saya berandai-andai, jika jadi Menteri Pendidikan, saya akan memasukkannya dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setidaknya untuk murid kelas 4 ke atas.
Ini fabel yang bagus, bercerita tentang seekor singa jantan muda yang begitu bangga dengan dirinya. Ia punya auman hebat dan gigi yang menakutkan. Bukankah hanya itu yang perlu dimiliki seekor singa jantan agar tampak gagah? Singa itu mengabaikan kekurangannya yang lain, yaitu: tidak bisa menulis.

Satu hari ia jatuh hati dengan seekor singa betina cantik berkacamata yang suka membaca. Singa jantan ingin mendekatinya, tapi bagaimana caranya jika ia tak bisa menulis? Ia dengar kabar singa yang suka membaca adalah singa terhormat – jadi tidak bisa didekati begitu saja.

Maka singa jantan mencari binatang-binatang lain agar menuliskan sepucuk surat untuk singa betina. Mulai dari monyet, kuda nil, kumbang kotoran, jerapah, buaya, hingga burung pemakan bangkai membantu menulis surat.
Satu persatu binatang-binatang itu menulis surat.
Monyet misalnya, menulis ajakan untuk memanjat pohon sambil makan pisang, kuda nil menulis ajakan untuk berenang di sungai, dan kumbang kotoran mengajak untuk bermain kotoran dan mengoleskan kotoran di kertas sehingga baunya sungguh menyiksa hidung singa.
Tidak ada satupun yang sesuai.

Singa menjadi sangat kesal. Ia mengaum dengan keras sambil mengungkapkan perasaan yang ingin ditulisnya. Singa betina mendengar dan bertanya, “Kenapa kamu tidak menulisnya sendiri?”
Cerita berakhir happy ending. Kedua singa kini berkawan dan singa betina mengajarkan bagaimana cara menulis.

Indah bukan? Ringkas dan apik penyampaiannya. Pesannya jelas, menulislah agar kau bisa mengungkapkan perasaan dan pikiranmu. Sepandai-pandainya orang lain menuliskan sesuatu untukmu, itu tetap tidak akan mampu menjelaskan apa pikiran dan keinginanmu yang sesungguhnya.
Martin Baltscheit (47 tahun), penulis dan ilustrator buku anak ini tinggal di Dusseldorf, Jerman. Ia
menuntaskan sekolah di Communication Design, Folkwang School, Essen, Jerman. Martin juga seorang pendongeng, dulunya ia pernah bekerja sebagai pemain sandiwara radio dan pemain drama. Karya-karya fabelnya sangat dikenal di Jerman. Sejak 1992, nyaris setiap tahun ia mendapat penghargaan dari banyak organisasi atas karya-karyanya.Saya kira kita beruntung mendapat kesempatan membaca salah satu karya Martin dalam bahasa Indonesia. Adalah Goethe Institute Jakarta, lembaga kebudayaan Jerman di Jakarta yang membantu penerbitan buku karya Martin ini dalam bahasa Indonesia.
O, ya, saya menemukan versi lain dari kisah singa yang tidak membaca ini di Youtube. Sebuah sekolah di Jerman mementaskannya menjadi satu drama anak-anak dalam sebuah acara. Jika hendak melihatnya sila klik di http://www.youtube.com/watch?v=2yHMKOz59fY, barangkali terinspirasi.


















