Monday, June 9, 2014

Tahun Kedua Klub Buku Kita



Oleh: Lisa Soeranto

Tahun 2014 bulan Mei tanggal 20 adalah hari penting untuk Indonesia dan juga hari terpenting untuk Klub Buku Kita (yang biasa disingkat menjadi KBK; namun  untuk selanjutnya saya minta ijin untuk menulisnya dengan Kabeka, sehingga tak akan dibaca "ke bi ke"). 

Dua tahun yang lalu secara sederhana klub pembaca buku ini dinyatakan ada dan diniatkan untuk dihidupkan dengan cara sederhana dan penuh cinta. Penuh cinta dalam maknanya paling sederhana yaitu didasarkan pada pengertian, toleransi, dan tanpa paksaan. 



Kabeka memahami dan bertoleransi terhadap anggota-anggotanya yang tidak terlalu pembaca namun senang mendengarkan kisah si pembaca buku; dan tak ada paksaan bagi anggota-anggotanya misalnya untuk bisa menuliskan kembali bacaannya dalam bentuk resensi atau sinopsis atau apa pun bentuknya. 



Kabeka hanya mengajak menikmati buku bersama-sama dengan cara yang tidak selalu sama untuk setiap orang.



Membaca adalah kesadaran. Mendapat inspirasi dari sebuah bacaan adalah anugerah. Maka Kabeka tak ingin menutup jalan bagi para pembaca pemula (bukan dalam arti secara usia, melainkan secara kesadaran) untuk mendapatkan inspirasi itu. Dengan demikian datanglah sedikit-demi-sedikit teman-teman baru. Apakah mereka si pembaca sejati atau si pendengar sejati, keduanya sama pentingnya buat kami.



Setahun setelah dilahirkan, Kabeka mendapat hadiah blog dari Tata. Blog ini sedianya akan diisi oleh berbagai tulisan anggota Kabeka (baik resensi atau sekedar curhat). Namun bisa ditebak bahwa hingga tahun kedua ini, blog masih didominasi -dalam makna yang paling afektif- oleh Tata, sang admin yang memang mengalir deras darah kepenulisan.



Menjelang berusia dua tahun, Tata (lagi-lagi beliau; betapa banyak gagasan yang dimilikinya! Salut!) mengusulkan agar Kabeka mendeklarasikan diri sebagai Locavore, pro pangan lokal,  agar semakin nyata identitas  kita sebagai bangsa Indonesia. Usulan ini tidak berlebihan karena sejak pertemuan awal, sajian di Kabeka adalah sajian lokal, tradisional,  dan relatif murah meriah.


Pada hari Minggu tanggal 25 Mei, setelah tertunda-tunda karena kesibukan masing-masing, beberapa  anggota Kabeka pada akhirnya bisa berkumpul untuk syukuran ulang tahun kedua. 


Keakraban saya rasakan semakin nyata. Selain saya sebagai nyonya rumah dan Tata serta putrinya Putri,  ada Bakar Japet, Nuris, dan Fahmi. Fahmi mengajak istri dan putrinya yang masih berumur 4 bulan. Ah senangnya. Jadi terasa hangat dan semakin yakin bahwa Kabeka adalah sebuah keluarga yang menyenangkan.