Tuesday, April 16, 2013

Berbincang Tentang Resensi Buku, 25 November 2012




Klub Buku Kita tidak hanya tentang berbagi pengalaman soal buku yang dibaca, tapi juga mencari-tahu segala hal tentang buku. Pada pokoknya Klub dibentuk agar para anggota yang memang suka membaca buku tidak sekedar membaca buku tapi juga mendapatkan buku yang bermutu. Di masa sekarang, saat gerakan menerbitkan buku di Indonesia tengah menggeliat - penerbit besar, kecil, maupun yang sifatnya independen seperti tengah berlomba untuk meramaikan pasar buku. Tapi bagaimana memilih buku yang bagus, mengasyikkan, dan bermutu?

Di situlah peran resensi buku. Ia, ibaratnya adalah jembatan antara penerbit dan pembaca buku. Di antara keterbatasan waktu, keberlimpahan ragam buku di pasar, dan keinginan untuk membaca - jujur saja, kita perlu resensi buku.

Masalahnya, tak semua resensi buku bisa dipercaya; dan lingkaran setan pun dimulai.

Nah, itu salah satu hal yang dibincangkan dalam pertemuan Klub Buku Kita pada Minggu, 25 November lalu di kediaman Ronny Agustinus, Pemimpin Redaksi Marjin Kiri di kawasan Serpong Utara, Tangerang Selatan. Hal lainnya adalah, membangkitkan semangat berbagi – yang dimaksud tentu adalah berbagi pengalaman usai membaca satu buku. Tidak hanya secara lisan, melainkan dalam bentuk tulisan: sebuah resensi buku.

Pertemuan kali ini menggembirakan karena selain bertemu dengan Ronny Agustinus (1) anggota Klub juga bertemu dengan Hartono Rakiman, pengasuh blog Rumah Baca (2) – sebuah blog yang ditujukan untuk mendiskusikan buku, dan Aldo Zirsov, anggota GoodReads (3) dan mantan moderator GoodReads Indonesia. Ketiganya bicara soal resensi buku dari berbagai perspektif yang berbeda.

ki-ka: Hartono, Aldo, Ronny

Ditambah mereka bertiga, jumlah kami semua yang ikut pertemuan hari itu ada 12 orang yaitu anggota Klub Buku: Restanti Ria Natalisa, Elisabet Tata, Neneng Rahmawati, Lies Indriati, Nuris Andri, Fachmi dan anggota Komunitas Rumah Baca yaitu Indriyani Hartono, Annisa Muzzizah, dan Nisa.  

Ronny memulai perbincangan dengan cerita terkenal dari dunia resensi Indonesia. Diawali dengan dimuatnya satu resensi Saleh Iskandar (S.I) Poeradisastra, seorang sastrawan cum jurnalis di Majalah Tempo pada 16 September 1978. Resensi berjudul “Dari Barat, atau Islam?” itu menyoal buku karya Profesor Slamet Iman Santoso, pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan tokoh pemerhati pendidikan di tanah air berjudul “Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan.”

Buku Profesor Slamet yang diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Buku Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada 1977 itu diulas habis-habisan oleh Poeradisastra atau yang juga punya nama pena Boejoeng Saleh. Kealpaan Profesor Slamet menuliskan runutan sejarah – dari masa Yunani melompat ke abad Pencerahan di Eropa tanpa menyinggung peran Islam menjadi kritik utamanya.

Menyadari kekeliruannya, Profesor Slamet meminta buku itu ditarik dari peredaran.

Itu tadi contoh resensi yang berdampak besar. Sifatnya mengkritik. Resensi semacam ini bisa jadi pedang bermata dua. Ia positif dalam arti menunjukkan salah satu kekeliruan dari sebuah tulisan. Juga jadi satu “peringatan” bagi para penulis buku untuk jangan asal dalam berkarya ataupun bagi penerbit agar jangan asal menerbitkan buku. Baik itu untuk buku-buku hasil tulisan sendiri maupun hasil terjemahan dari karya orang lain. Di sinilah pentingnya resensi kritis. Ia jadi satu ujian tersendiri apakah buku itu bagus, bermutu, dan diminati masyarakat ataukah tidak.

Ronny yang juga seorang penerjemah sastra Amerika Latin mengaku menekuni dan mengoleksi sastra-sastra Amerika Latin untuk memperdalam pemahamannya. Menurut pendapatnya, menerjemahkan satu tulisan dari bahasa asing ke Bahasa Indonesia bukan sekadar soal bahasa semata.  

Di sisi persaingan pasar buku, resensi yang bersifat kritis atau resensi kritik bisa jadi sesuatu yang negatif karena digunakan sebagai alat “pertempuran” antar penerbit. Penerbit yang menghalalkan segala cara agar buku yang diterbitkannya laku bisa saja membayar seorang penulis resensi untuk menjelek-jelekkan buku terbitan penerbit lainnya. Namun, jika sekali saja praktik seperti ini ketahuan masyarakat, sudah pasti harga diri mereka – baik penerbit maupun penulis resensi – akan jatuh.

Hartono Rakiman punya pendapat lain. Ia bilang, resensi yang hanya menjelek-jelekkan karya orang lain adalah sampah belaka. “Dunia ini indah, kenapa harus saling mencerca?” ujarnya. Saat membangun blog Rumah Baca di dunia maya, Hartono punya misi untuk menyebarkan kebaikan bagi siapa saja melalui baca buku. Karena itu, resensi yang dimuat dalam blog bersifat cerita saja. Mengungkap kisah pribadi saat membaca buku, mengambil hal-hal positif dari isinya dan menuliskannya.  

Menuliskan kisah pribadi saat membuat resensi buku merupakan cara yang disukai Aldo Zirsov. Meski mengaku ia jarang menulis resensi, tapi menuliskan hal-hal remeh seperti bagaimana buku diperoleh – apakah beli atau pemberian teman, dimana lokasi membacanya, atau apa yang ia dapat usai membaca buku menjadi satu hal yang menarik. Resensi macam itupula yang dicari Aldo sebelum membeli buku. Aldo bilang, itu satu bukti otentik bahwa tulisan itu adalah murni hasil karyanya. Ia menyebut banyaknya resensi yang sifatnya standard hanya menuliskan kembali isi buku atau bahkan menyalin resensi orang lain. Resensi macam itu, “tak menarik sama sekali,” ujarnya.

Supaya tidak terkecoh dengan satu resensi buku, bagi Aldo yang penting adalah tahu siapa yang menulisnya. Mendapatkan resensi buku yang bagus akan membuat Aldo menghemat uang dan waktu – dua hal yang sungguh berharga. Tapi, darimana tahu mana penulis resensi yang baik dan mana yang tidak? Di situlah pentingnya bergabung dalam satu komunitas pecinta buku. Aldo cerita, dengan bergabung di GoodReads Indonesia ia telah berkenalan dengan banyak orang yang mengerti buku. Ia mengaku mendapat banyak manfaat positif dari sana.

Fachmi, anggota Klub Buku Kita, tanya, “Bagaimana membuat resensi yang baik itu?”

Ronny dan Aldo tak memberikan jawaban detil. Mereka merujuk ke sosok yang sangat dikenal dalam dunia resensi Indonesia yaitu Hernadi Tanzil (4). Di dunia maya, Hernadi membangun blog yang berisi resensi terhadap buku-buku yang sudah dibacanya (5). Dari sana, kita bisa belajar bagaimana menulis satu resensi yang baik.

Soal gaya penulisan bisa menyusul kemudian. Seorang pemula bisa mengawali dengan meniru terlebih dahulu, lambat laun ia akan menemukan gayanya tersendiri. Namun yang terpenting adalah “mulai menulis”.

Tak perlu khawatir soal bagus atau tidak, yang penting berlatih meresensi. Untuk menguji barangkali bisa dimuat di blog pribadi dulu, atau di jejaring sosial untuk mendapat tanggapan balik. Baru kemudian meluas ke blog komunitas seperti Rumah Baca yang diasuh Hartono Rakiman, misalnya. Jika ingin melewati tahap berikutnya bisa dikirim ke media massa – barangkali yang lokal dulu baru kemudian meningkat lagi ke skala nasional.

Satu hal lagi yang dituturkan Ronny, resensi sebuah buku tidak melulu menyoal satu buku itu saja. Akan lebih menarik jika penulis resensi juga membandingkan dengan buku-buku lain yang menyoal hal yang sama. Meski di Indonesia gaya penulisan resensi macam ini belum populer, tak ada salahnya jika kita mencoba membuatnya. 

Fachmi ingin tahu lagi, “Apakah menulis resensi bisa dijadikan sebagai satu profesi?”

Ronny tidak menjawab langsung. Ia hanya cerita ada sosok penulis resensi bernama Ijul atau Yuliono (6) yang direkrut oleh sebuah penerbitan gara-gara hobi menulis resensi. Ijul punya ciri khas menyoroti satu buku dari sisi yang kelihatannya “sepele” macam desain tipografi, penempatan tanda baca, pemenggalan kata, pemakaian huruf besar, dan hal-hal macam itu. Ini nampaknya tak perlu-perlu amat, tapi sebenarnya hal yang sangat positif dalam upaya memproduksi buku-buku yang berkualitas - tidak hanya dari sisi isi tapi juga fisiknya. Dunia perbukuan yang baru menggeliat di Indonesia tentu butuh sosok seperti Ijul.

Sebuah penerbitan yang tertarik dengan cara Ijul menawarinya posisi sebagai proof-reader di kantornya atau seseorang yang tugasnya adalah meneliti kesalahan teks yang nampaknya “sepele” tadi.

Hartono punya jawaban tersendiri untuk Fachmi. Ia bilang, pekerjaan menulis, menerjemahkan, ataupun meresensi buku bisa saja dijadikan sebagai satu profesi dengan catatan ia harus berada pada tingkat yang paling tinggi dalam hal itu. Jika sekadar menulis satu atau dua tulisan atau masih dalam tingkat yang biasa-biasa saja – tentu saja belum cukup.

Obrolan tentang resensi buku siang itu mengalir ditingkah canda dan – tentu saja – kudapan yang tersedia. Seperti dalam pertemuan buku yang sudah-sudah, kudapan yang tersaji adalah kudapan tradisional. Kali ini, karena banyak yang membawa kudapan dari rumah, ragamnya jadi banyak. Ada kedelai kukus, pisang kukus, pisang goreng pasir, bolu kukus gula aren, kueh ku, tape ketan bungkus daun jambu, dan cak-we. Ada juga permen ting-ting jahe dan Davos.

Sebagai penutup, apalagi kalau bukan gado-gado dengan bumbu dari Nuris Andri, anggota Klub Buku Kita.

Singkat kata, pertemuan Klub Buku Kita kali ini berlangsung seperti yang lalu-lalu juga. Menyenangkan, mengasyikkan, mengenyangkan, menyehatkan, menambah wawasan dan semangat untuk baca dan baca lagi…Terima kasih buat semua! 


Catatan kaki: 
1) Alamat blog Ronny Agustinus: http://sastraalibi.blogspot.com/
2) Alamat blog Rumah Baca: http://rumahbaca.wordpress.com/
3) Aldo Zirsov di GoodReads: http://www.goodreads.com/user/show/1205587
5) Blog Hernadi Tanzil: http://bukuygkubaca.blogspot.com/
*) buku tentang bagaimana meresensi buku: http://indonesiabuku.com/?p=9308

Membaca Sejarah, 7 Oktober 2012




Anggota Klub Buku bertemu lagi, Minggu 7 Oktober lalu. Agak istimewa karena diadakan di Semut-Semut the Natural School di daerah Cimanggis, Depok; bukan di rumah. Temanya tentang buku sejarah. Kami mengundang Andi Achdian, sejahrawan cum penulis untuk bicara; memberi masukan dan rujukan atau apapun yang terkait dengan bacaan yang menyoal sejarah.

Selain menulis di banyak media dan menjadi editor di Majalah Loka (www.loka-majalah.com). Hingga saat ini Andi telah menulis tiga buku yaitu: Tanah Bagi Yang Tak Bertanah (2008), Guru dan Secangkir Kopi (2010), dan yang terbaru: The Angle of Visions - Mereka yang tak menyerah pada sejarah (2012). Sehari-hari Andi bekerja sebagai Direktur Fair Institute di Jakarta. Ini sebuah lembaga kajian dan advokasi independen yang memperjuangkan gagasan keadilan dan kesejahteraan sebagai prinsip yang melatari agenda kebijakan publik di Indonesia. Situsnya bisa diakses di www.fair-institute.org

Ada 16 orang yang hadir. Bukan jumlah yang besar memang, tapi itu sudah cukup untuk membuat satu pertemuan yang menyenangkan, asyik, dan berisi. Kami berkumpul di ruang kantin sekolah. Meja dan kursi kami singkirkan. Kami memilih duduk di bawah pakai tikar. Melingkar. Piring-piring berisi combro dan cucur ada di hadapan kami. Air minum dalam kemasan juga tersedia. Boleh makan dan minum sembari ngobrol. Santai saja.

Suara burung dan kumbang yang bersarang di atas pohon-pohon besar yang menaungi kami terdengar ramai. Dari kejauhan ada bunyi musik mengalun, tidak terlalu keras jadi tak mengganggu. Arfi Destianti, Direktur Semut-Semut the Natural School bilang, setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, sekolah menyetel musik angklung. "Itu perlu supaya anak-anak tidak stress, setelah menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah yang jauh dan kadang macet." ujarnya memberi alasan. 

Anggota Klub Buku kami kebanyakan berprofesi sebagai guru sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Mereka berasal dari beragam sekolah. Pada pertemuan kali ini ada perwakilan dari empat sekolah yang berbeda yaitu Semut-semut the Natural School, Sekolah Citra Alam Ciganjur, Little Earth School, dan Al Ikhsan. Lantas ada pula orang tua murid Semut-semut. Yang istimewa, kami kedatangan seorang penyair dan penulis bernama Sigit. Ia kami minta untuk cerita soal novel terbarunya yang berlatar belakang sejarah. 

Andi Achdian, atau biasa dipanggil AA pandai bertutur. Ia memulai pembicaraan dengan menceritakan kebandelannya saat di bangku SMP. AA kecil sangat tidak suka pelajaran sejarah. Ia pun memilih membolos jika ada pelajaran sejarah. 

Mendengar AA bicara

Ini awal yang menarik - setidaknya bisa menyamakan 'derajat' kami yang kebanyakan tak suka pelajaran sejarah. Tapi tentu saja, pertemuan kali ini bukan untuk sekadar bicara keburukan pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. AA mengajak untuk mengkritisi. "Ada tantangan dalam pendidikan sejarah di Indonesia," ujarnya. "Di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika, pelajaran sejarah itu suatu keharusan. Bahkan, jika mau naik tingkat, seorang murid harus lulus di mata pelajaran sejarah." 

Mengapa?

Itu semacam indoktrinasi. Sejak kecil anak-anak dicekoki pengetahuan soal betapa hebat negaranya. Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah berkisah tentang negara mereka yang hebat dan orang-orangnya yang tak kalah jagoan karena telah melakukan ini dan itu - tidak saja bagi untuk negaranya sendiri, melainkan juga dunia. Segala informasi soal kehebatan bangsa dan negaranya itu memupuk harga diri anak-anak. Dan kelak, kemanapun dan dimanapun mereka berada, mereka punya kebanggaan. Harga diri itu pula yang nantinya jadi dasar untuk melanjutkan segala kebaikan dan kehebatan para pendahulu mereka. Tentu saja, melalui apapun profesi yang dipilih. 

Dari sini sepertinya mulai ada pemahaman bahwa sejarah itu penting; ia ternyata adalah dasar bagi suatu bangsa untuk tumbuh dan bernegara. 

Kata AA, ada tiga hal yang menjadikan pelajaran sejarah itu penting dan perlu diajarkan sejak dini, yaitu: untuk pembentukan karakter (character building), pendidikan kewarganegaraan (civic education), dan sebagai pengetahuan/kesadaran diri (knowledge) untuk memahami siapa diri kita. Yang terakhir ini biasanya baru dimengerti setelah seseorang berada jauh dari kampung halamannya. Saat itu barulah ia sadar perlunya menjawab pertanyaan-pertanyaan atau mungkin bercerita tentang jati-diri nya sendiri. 

Sayang, pemahaman soal pentingnya mengajarkan sejarah di Indonesia belum utuh. AA menilai  tujuan pengajaran sejarah belum final. Sistem dan fondasinya pun belum kuat sehingga di lapangan guru-guru terpaksa harus melakukan riset sendiri untuk memperkaya pelajaran sejarah. Sejauh ini pelajaran sejarah masih berupa informasi; tanggal dan tahun sebuah peristiwa, nama tokoh-tokoh, nama tempat.

Itu semua belum cukup. Pelajaran sejarah harus menjadi suatu pengetahuan. "Kita terlalu banyak dijejali informasi dari sekolah dasar tapi tidak pernah menjadi sebuah pengetahuan." Misalnya saja, kenyataan bahwa pelajaran sejarah di Indonesia hanya membahas perang-perangan, dari perang Diponegoro hingga perang melawan kolonialisme. Dan di akhir semua kisah perang itu, tentara adalah sosok utama-nya. "Barangkali itu sebabnya banyak pelajar suka tawuran," ujar AA setengah bergurau. 

Tanpa merendahkan peran tentara, menurut AA salah satu yang perlu digunakan saat mengajar sejarah adalah metode argumentatif - mengajak anak untuk diskusi. Untuk itu kata kunci yang harus selalu dilontarkan adalah "Mengapa?". Ajak juga anak-anak untuk melihat masa lalu dengan berkunjung ke museum-museum. Membaca buku juga adalah salah satu cara terbaik untuk membawa diri ke masa lalu. Dengan catatan, tentu saja selalu bangun sikap kritis untuk semua bacaan tadi. 

Masuk ke soal buku, kini buku-buku sejarah banyak hadir dengan pendekatan populer. Ini tentu menguntungkan pembaca karena memudahkan, membuat sejarah menjadi sesuatu yang tidak membosankan. Peran guru tentu saja penting. Ketika pendidikan sejarah rendah, rasa menghargai terhadap bangsa dan negara pun jadi rendah pula. Dampak negatifnya adalah munculnya pemahaman yang sempit terhadap peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh sejarah. 

Buku karya AA yang kiranya mampu membuka mata soal apa guna paham sejarah berjudul: "Sang Guru dan Secangkir Kopi." Ini buku tentang Onghokham, sejarawan Indonesia yang oleh AA disebut sebagai Sang Guru itu menyadarkan AA pentingnya memahami sejarah. Menurut AA, Ong yang keturunan Tionghoa dan mendapat pendidikan Belanda itu bukan sekadar punya kewarganegaraan Indonesia, ia adalah seseorang yang sungguh mencintai Indonesia lebih dari segalanya. "Indonesia adalah sebuah pembebasan", begitu kata Ong pada AA. 

Melalui pemahaman sejarah, Ong mendapati bahwa terbentuknya Indonesia membuat setiap warga negara Indonesia menjadi sama derajatnya. Keberadaan Negara Indonesia membebaskan bangsa Indonesia dari ikatan-ikatan primordial. "Jika tidak ada negara Indonesia, kita akan tetap berjalan terbungkuk-bungkuk di hadapan raja," ujar Ong. Itulah sebabnya saat masih duduk di bangku sekolah HBS (Sekolah Menengah Belanda), saat dihadapkan pada pilihan kewarganegaraan, Ong adalah satu-satunya murid di kelasnya yang memilih untuk menjadi warga negara Indonesia - bukan Belanda.

Karya terbaru AA berjudul "The Angle of Vision: Mereka yang tidak menyerah pada sejarah" bercerita tentang delapan orang dalam rentang waktu satu abad. Mereka adalah Kartini, Sukarno, Soedjatmoko, Gunawan Wiradi, Onghokham, Imam Muhaji, Bre Redana, dan Linda Christanty. Kisah mereka menarik untuk disimak. AA mencontohkan kisah Kartini yang sejak usia 16 tahun sudah mengkritisi ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya melalui tulisan-tulisan dan korespondensi nya dengan temannya di Belanda. Lantas, kisah Sukarno yang memulai perjuangannya sendiri di usia belasan tahun saat berorasi mengecam kolonialisme Belanda di Bandung pada 1923. 

Kisah delapan orang dalam buku The Angle of Vision memberi hikmah bahwa setiap orang pada kenyataannya menghadapi dilema-nya sendiri-sendiri. Ada banyak pilihan yang harus dipilih, namun hanya satu yang diambil meski dengan resiko tragis sekalipun. Ke delapan orang itu adalah mereka yang berani mengambil keputusan untuk memilih jalan sendiri meski berat perjalanan yang harus ditempuh.

Begitulah, AA mengajak anggota Klub Buku untuk mengunjungi sebuah negeri yang lain; negeri yang disebut sebagai "masa lalu" yang mengasyikkan, mencerahkan, dan bahkan mampu memberi harapan akan masa depan.  

Kami, tentu saja keasyikan mendengar AA bicara dan bercerita. Beberapa kali ada yang menyela, bertanya, atau saling melontarkan gurauan. Antar peserta sendiri ada yang saling memberi saran atau rujukan. Pendeknya, obrolan siang itu hidup dan hangat.

Waktu berlalu cepat. Di penghujung acara, Lisa salah seorang koordinator Klub Buku menyampaikan resume diskusi. Kami mengucapkan terima kasih pada AA dan memberinya bumbu pecel cap Gentong. Ini bikinan Nuris Andri, anggota Klub Buku dan guru di Sekolah Citra Alam Ciganjur. Lisa juga memberi satu buku sumbangan dari Penerbit Marjin Kiri berjudul Pak Tua Yang Membaca Kisah Cinta karya Luis Sepulveda pada Fachmi, anggota baru Klub Buku dan guru di Sekolah Little Earth.

Sebelum pulang, kami menikmati gado-gado yang tersaji dan minum rujak degan/kelapa muda. Nikmat sekali. 

Jadi, siang itu kami mendapat makanan bergizi bagi otak dan menyehatkan bagi badan. Terima kasih untuk semua! Sampai bertemu di pertemuan Klub Buku bulan depan :)

Kami berfoto usai diskusi

Bertemu di Lembayung I, 20 Mei 2012



 

Rencananya kami bertemu Sabtu, tapi diundur Minggu. Tak jadi soal, aku pun berangkat memenuhi undangan. Tak sulit menemukan lokasinya, ia ada di jalan Lembayung I di salah satu perumahan di daerah Cinere, Depok. Lisa, kawan saat kuliah di Jogja, menyambut ramah. Ia masih sama seperti dulu, perangainya ramai – suka bercanda.

Mengikuti undangan yang bertemakan camilan tradisional, aku bawa balung kuwuk. Ini semacam kripik yang terbuat dari singkong. Di meja aku lihat sudah ada macam-macam camilan. Ada lanthing – sejenis kripik juga dari singkong, rujak kangkung dan selada air, sawut – irisan singkong kukus yang dimakan dengan parutan kelapa dan gula jawa, pisang goreng, dan kacang Bogor rebus. Aku paling suka minumannya, yaitu teh sereh yang dituang dalam cangkir cantik bermotif bunga mawar berwarna merah jambu. Lisa bilang teh sereh ia buat dari rebusan air dan batang sereh yang kemudian digunakan untuk merendam daun-daun teh kering. Rasanya nikmat dan baunya juga harum.

Sebelum ke acara pokok, kami makan camilan dan mengobrol ringan soal makanan dan rajutan. Maklum, yang datang sebagian besar suka merajut. Aku pun bawa beberapa karya rajutanku: tas, jepit dan bros.  

Ini pertemuan kecil. Yang datang tak banyak, ada empat orang wanita dan satu laki-laki selain aku dan anakku, Putri. Mereka adalah Lis, Neneng, Dwi, Ida dan Nuris. Semuanya guru dan suka buku, beberapa punya aktivitas terkait buku.

Lis, misalnya, mengelola gerakan Buku Berkaki. Ini kegiatan semacam perpustakaan keliling, sasarannya panti asuhan. Secara berkala Lis dan teman-temannya berkeliling dari satu panti ke panti lainnya. Mereka menaruh buku untuk dipinjamkan, selang beberapa hari kemudian diambil untuk dipinjamkan ke panti lain. Nuris, satu-satunya tamu laki-laki di pertemuan itu, punya perpustakaan mini untuk anak-anak jalanan.

Aku salut mendengar kisah mereka.

Dalam pertemuan ini masing-masing berbagi cerita tentang buku yang disukai. Nuris giliran pertama. Ia cerita tentang serial manga berjudul Nube: Guru Ahli Roh karya penulis Jepang bernama Shou Makura dan Takeshi Okano, seniman manga. Nuris mengaku serial itulah yang memberi inspirasi saat SMA untuk jadi guru. Ia kagum dengan pak guru Nube yang meski gajinya pas-pasan rela merogoh kantong sendiri untuk keperluan murid-muridnya.

                                                     
Nuris dan Nube

Iman dan Nadhief, dua anak lak-laki Lisa ikut ambil bagian. Mereka cerita sejak kecil dipaksa baca buku oleh ibunya. Akibatnya mereka berdua jadi suka baca buku hingga kini. Nadhief memperlihatkan buku Winnetou karya Karl May yang jadi favoritnya. Nampaknya ia memang sudah baca betul, beberapa halaman buku itu terlihat sudah lepas dan tak rapi lagi. Dalam hati aku geli melihatnya. Nadhief mirip aku, kalau suka dengan satu buku dibawa kemana saja, bukunya jadi kucel. Kami barangkali bisa digolongkan tipe pembaca barbar. Jadi kalau buku terlihat rapi, bisa jadi karena sama sekali belum disentuh.

Lisa sendiri mengaku suka buku. Ia percaya, dari buku kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan. Dengan catatan, tambahnya, buku yang dibaca adalah buku yang baik. Lisa penganut Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi asal Afganistan. Ia suka mengoleksi karya Rumi dan melacak semua hal tentang Rumi melalui internet. 

                                                       
Lisa dan Rumi

Aku bawa buku karya Arswendo Atmowiloto berjudul Dua Ibu. Ini buku yang meraih hadiah pertama Yayasan Buku Utama 1981 untuk karya fiksi terbaik. Ia cerita tentang dua macam ibu: yaitu perempuan yang melahirkan anaknya dan merelakan kebahagiaannya sendiri untuk kebahagiaan anak orang lain. Di buku ini, ibu adalah perempuan miskin beranak satu yang harus merawat delapan anak titipan orang lain. Kasih tulusnya membuat sembilan anak itu merasakan hubungan cinta sejati seorang ibu pada anaknya, hingga melebihi perasaan pada ibu biologisnya sendiri.   

Kami sempat jeda sejenak untuk dengar Iman dan Nadhief bermain gitar dan bernyanyi. Iman belajar gitar secara khusus, tak heran petikannya bagus. Usai jeda, kami berkumpul kembali. Berdiskusi tentang capaian sementara.

Iman dan Nadhief

Sayang, aku tak mengikuti keseluruhan acara hingga selesai, Putri rewel dan minta pulang. Terpaksa mohon diri. Sebelum beranjak pergi, Lisa minta aku pilih salah satu buku dari yang sudah disediakan sebagai kenang-kenangan. Aku ambil buku resep Aneka Masakan Tahu. 

Pertemuan yang menyenangkan! 

                                                        
Kami semua