Tuesday, April 16, 2013

Bertemu di Lembayung I, 20 Mei 2012



 

Rencananya kami bertemu Sabtu, tapi diundur Minggu. Tak jadi soal, aku pun berangkat memenuhi undangan. Tak sulit menemukan lokasinya, ia ada di jalan Lembayung I di salah satu perumahan di daerah Cinere, Depok. Lisa, kawan saat kuliah di Jogja, menyambut ramah. Ia masih sama seperti dulu, perangainya ramai – suka bercanda.

Mengikuti undangan yang bertemakan camilan tradisional, aku bawa balung kuwuk. Ini semacam kripik yang terbuat dari singkong. Di meja aku lihat sudah ada macam-macam camilan. Ada lanthing – sejenis kripik juga dari singkong, rujak kangkung dan selada air, sawut – irisan singkong kukus yang dimakan dengan parutan kelapa dan gula jawa, pisang goreng, dan kacang Bogor rebus. Aku paling suka minumannya, yaitu teh sereh yang dituang dalam cangkir cantik bermotif bunga mawar berwarna merah jambu. Lisa bilang teh sereh ia buat dari rebusan air dan batang sereh yang kemudian digunakan untuk merendam daun-daun teh kering. Rasanya nikmat dan baunya juga harum.

Sebelum ke acara pokok, kami makan camilan dan mengobrol ringan soal makanan dan rajutan. Maklum, yang datang sebagian besar suka merajut. Aku pun bawa beberapa karya rajutanku: tas, jepit dan bros.  

Ini pertemuan kecil. Yang datang tak banyak, ada empat orang wanita dan satu laki-laki selain aku dan anakku, Putri. Mereka adalah Lis, Neneng, Dwi, Ida dan Nuris. Semuanya guru dan suka buku, beberapa punya aktivitas terkait buku.

Lis, misalnya, mengelola gerakan Buku Berkaki. Ini kegiatan semacam perpustakaan keliling, sasarannya panti asuhan. Secara berkala Lis dan teman-temannya berkeliling dari satu panti ke panti lainnya. Mereka menaruh buku untuk dipinjamkan, selang beberapa hari kemudian diambil untuk dipinjamkan ke panti lain. Nuris, satu-satunya tamu laki-laki di pertemuan itu, punya perpustakaan mini untuk anak-anak jalanan.

Aku salut mendengar kisah mereka.

Dalam pertemuan ini masing-masing berbagi cerita tentang buku yang disukai. Nuris giliran pertama. Ia cerita tentang serial manga berjudul Nube: Guru Ahli Roh karya penulis Jepang bernama Shou Makura dan Takeshi Okano, seniman manga. Nuris mengaku serial itulah yang memberi inspirasi saat SMA untuk jadi guru. Ia kagum dengan pak guru Nube yang meski gajinya pas-pasan rela merogoh kantong sendiri untuk keperluan murid-muridnya.

                                                     
Nuris dan Nube

Iman dan Nadhief, dua anak lak-laki Lisa ikut ambil bagian. Mereka cerita sejak kecil dipaksa baca buku oleh ibunya. Akibatnya mereka berdua jadi suka baca buku hingga kini. Nadhief memperlihatkan buku Winnetou karya Karl May yang jadi favoritnya. Nampaknya ia memang sudah baca betul, beberapa halaman buku itu terlihat sudah lepas dan tak rapi lagi. Dalam hati aku geli melihatnya. Nadhief mirip aku, kalau suka dengan satu buku dibawa kemana saja, bukunya jadi kucel. Kami barangkali bisa digolongkan tipe pembaca barbar. Jadi kalau buku terlihat rapi, bisa jadi karena sama sekali belum disentuh.

Lisa sendiri mengaku suka buku. Ia percaya, dari buku kita bisa belajar banyak hal tentang kehidupan. Dengan catatan, tambahnya, buku yang dibaca adalah buku yang baik. Lisa penganut Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi asal Afganistan. Ia suka mengoleksi karya Rumi dan melacak semua hal tentang Rumi melalui internet. 

                                                       
Lisa dan Rumi

Aku bawa buku karya Arswendo Atmowiloto berjudul Dua Ibu. Ini buku yang meraih hadiah pertama Yayasan Buku Utama 1981 untuk karya fiksi terbaik. Ia cerita tentang dua macam ibu: yaitu perempuan yang melahirkan anaknya dan merelakan kebahagiaannya sendiri untuk kebahagiaan anak orang lain. Di buku ini, ibu adalah perempuan miskin beranak satu yang harus merawat delapan anak titipan orang lain. Kasih tulusnya membuat sembilan anak itu merasakan hubungan cinta sejati seorang ibu pada anaknya, hingga melebihi perasaan pada ibu biologisnya sendiri.   

Kami sempat jeda sejenak untuk dengar Iman dan Nadhief bermain gitar dan bernyanyi. Iman belajar gitar secara khusus, tak heran petikannya bagus. Usai jeda, kami berkumpul kembali. Berdiskusi tentang capaian sementara.

Iman dan Nadhief

Sayang, aku tak mengikuti keseluruhan acara hingga selesai, Putri rewel dan minta pulang. Terpaksa mohon diri. Sebelum beranjak pergi, Lisa minta aku pilih salah satu buku dari yang sudah disediakan sebagai kenang-kenangan. Aku ambil buku resep Aneka Masakan Tahu. 

Pertemuan yang menyenangkan! 

                                                        
Kami semua

No comments:

Post a Comment