Tuesday, April 16, 2013

Kopi dan Buku di Kedai Kopi Kimung, Depok, 7 April 2013



Di Depok ada tiga Kedai Kopi Kimung: satu di Perumahan Grand Depok City (Rumah Seni Minum Kopi Kimung) dan dua di Jalan Raya Margonda (Kedai Kopi Kimung 1 dan 2). Yang terakhir itu berseberangan letaknya. Memudahkan siapa saja baik yang dari arah Depok ke Lenteng Agung atau sebaliknya untuk bertandang. Maklum, jalan Raya Margonda dibatasi oleh median jalan yang cukup besar.

Minggu pagi, 7 April lalu, Klub Baca Buku (KBK) mengadakan pertemuan di Kedai Kopi Kimung 2 yang baru beberapa minggu lalu buka. Hartono, salah seorang anggota KBK berteman dengan pemiliknya, namanya Syahrizal Syarif. Menurut Hartono, Pak Rizal begitu panggilannya, juga penggemar buku. Beliau setuju saja saat Hartono usul pertemuan KBK di Kimung. “Sekalian launching,” kata Pak Rizal.

Pak Rizal menyambut dan menyalami kami yang datang satu persatu. Sewaktu saya datang, seorang wanita cantik berjilbab tengah duduk diteras depan asyik memainkan gawai - sebuah tablet berlayar 7 inci. Saya tak tahu itu isteri Pak Rizal, jadi saya lewati saja untuk bergabung dengan beberapa anggota KBK yang sudah datang.

Tak berapa lama saya duduk, wanita cantik itu beranjak mendekati Pak Rizal untuk berpamitan. Barulah saya paham. Kami semua berdiri, menyalami, dan mengucapkan selamat jalan.

Selain memperkenalkan isterinya, Pak Rizal juga memperkenalkan Sheila – puteri bungsunya. “She is the real owner of Kedai Kopi Kimung,” ucapnya. Rupanya Kimung didirikan untuk Sheila. Selepas sekolahnya,Sheila mencoba beberapa kegiatan tapi ia cepat bosan. Di Kimung ia seperti menemukan dunianya.

Sheila ramah, mirip ayahnya. Sesekali ia berbaur dengan kami, jika tidak ia menyendiri saja di meja seberang, asyik bermain dengan komputer jinjing. Belakangan saya baru tahu ternyata diam-diam Sheila mengambil gambar kami dengan kamera Blackberry-nya. Hasilnya dia unggah ke akun fesbuk miliknya.

***

Ada tigabelas orang yang datang di pertemuan KBK kali ini. Banyak yang tidak bisa hadir karena beragam alasan. Meski begitu kami senang karena ada empat kawan yang baru ikut KBK. Mereka adalah Arimbi, Akbar,Enden Dewi Hernawati, dan Haris Juhaeri.

Pak Rizal

Setelah pertemuan dibuka, Pak Rizal mengisahkan latar belakang berdirinya Kedai Kopi Kimung. Menurutnya, ia merasa budaya minum kopi mulai bergeser. Sekarang banyak orang beralih ke kopi instant, kebiasaan minum kopi racikan menjadi jarang dan nyaris terlupakan.

Secara kebetulan, harian Kompas edisi Minggu yang terbit pagi itu menurunkan laporan utama mengenai penjualan kopi instant oleh penjaja kopi bersepeda yang kini marak di Jakarta. Menurut harian itu, perputaran uang darisalah satu wilayah pemasok kopi instant di samping Sungai Ciliwung, Jakarta dalam satu hari saja sedikitnya Rp 100 juta atau Rp 3 milyar setiap bulannya.

Meski di satu sisi fenomena itu mengatasi masalah pengangguran, Pak Rizal punya pendapat lain.
“Saya ingin mengembalikan kebiasaan lama minum kopi. Saat ini saya bergabung dalam Asosiasi Pengusaha Kopi Indonesia. Saya ini menganggap diri saya sebagai pejuang kopi Indonesia dan musuh utama saya adalah kopisachet,” ujar Pak Rizal gemas.

“Di Indonesia ini, sekitar 20ribu hektar perkebunan kopi dikuasai oleh Pemerintah melalui PTP (Perusahaan Terbatas Perkebunan), swasta menguasai sekitar 25ribu hektar, sedangkan rakyat menguasai 1,25juta hektar. Jadi kopi Indonesia itu sebenarnya milik rakyat, bukan milik Pemerintah atau swasta. Saat ini, Indonesia memasok 30% kebutuhan kopi dunia, urutan ketiga setelah Vietnam dan Brazil,” terang Pak Rizal panjang lebar.

Itu pula alasan Pak Rizal untuk hanya menyediakan kopi bubuk produksi negeri sendiri, ada kopi Jawa, Aceh, Mandailing, Toraja, Papua, dan kopi luwak. Meski kopi dari dalam negeri, tapi penyajiannya boleh lahmenggunakan cara negara manca.

Menu andalan Kedai Kopi Kimung yang diberi nama Kopi Kimung, misalnya dibuat dari bubuk kopi jawa arabika. Disajikan a la Vietnam menggunakan alat penyeduh kopi Vietnam yang terbuat dari baja tahan karat berbentuk seperti topi. Pada alat tersebut terdapat bagian pinggir yang dapat ditumpu oleh cangkir kopi. Bagian tengah berbentuk silinder dan berlubang-lubang kecil. Dari sana lah cairan kopi merembes dan mengalir sedikit demi sedikit mengenai lapisan susu kental manis dalam cangkirdi bawahnya.

Sesudah semua cairan kopi mengalir ke cangkir, penyeduh kopi diangkat. Aduk campuran kopi dan susu. “Minimal 20 kali adukan,” pesan Pak Rizal. Nah, jika ingin langsung diminum hangat boleh saja, atau tuang segera ke gelas berisi es batu jika ingin kopi dingin. Rasanya? Mantap nian..

Suatu hari nanti, Pak Rizal berujar ingin menulis buku tentang kopi Indonesia. Bagi Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini, buku dan kopi memang tak terpisahkan. Saat kuliah di Australia dia selalu mampir ke kedai kopi untuk baca. Selain bisa baca koran gratis, ada kenikmatan tersendiri saat baca sambil sesekali nyeruput kopi. Di dinding Kedai Kopi Kimung, Pak Rizal menempel banyak foto-foto buku bersanding secangkir kopi hasil jepretannya.

Untuk “membalas” kebaikan kedai-kedai kopi yang dikunjunginya, Pak Rizal menyediakan koran dan buku-buku di Kimung bagi para pelanggan dengan catatan “Hanya untuk dibaca di tempat”. Kebaikan berbalas kebaikan. Beberapa turis yang bertandang ke Kimung pun berbaik hati menyumbang buku yang selama ini jadi teman perjalanan mereka.

Kopi Kimung dan Pisang Goreng Ponti

Selain menyediakan kopi produksi dalam negeri, Kimung menyajikan menu makanan tradisional. Salah satunya adalah pisang goreng Ponti yang kami cicipi. “Pisangnya saya pesan langsung dari Pontianak. Dikirim dengan kapal. Di tempat asalnya, pisang itu dihargai murah sekali. Saya ingin menaikkan harga jualnya dan memperkenalkannya ke masyarakat,” ujar Pak Rizal promosi. Tapi nyatanya pisang goreng itu memang enak, cocok untuk teman minum kopi. 

Kami sungguh keasyikan mendengar uraian Pak Rizal tentang kopi. Baru tersadar saat beliau menyudahi persoalan kopi.

***

Baiklah, kami kembali ke agenda acara.

Sebelum masing-masing berbagi isi buku, saya dan Lisa menyajikan kilasan tentang apa itu Klub Baca Kita (KBK). Dari rumah saya sudah mempersiapkan materi presentasi Powerpoint. Seorang staf Kimung membantu; membuka layar, mempersiapkan komputer jinjing dan menyambung kabel. Saya menjelaskan halaman demi halaman yang tersaji pada layar, kemudian Lisa menambahkan.

Sesudah penyajian tentang KBK, giliran Hartono memutar sebuah filem pendek tentang apa itu Rumah Baca Kids (RBK). Sudah lama Hartono mendirikan RBK, ini adalah turunan dari Komunitas Rumah Baca sebuah komunitas  diskusi buku di dunia maya yang berwujud sebuah blog. Rumah Baca dibangun sejak 2007 dan hingga kini masih terus memperbaharui isinya.  

Sebagaimana namanya, RBK ditujukan untuk anak-anak,khususnya mereka yang tinggal di sekitar rumah Hartono. RBK lebih nyata, dalam arti tidak melulu di dunia maya. Aktivitasnya berupa pertemuan rutin setiap Minggu pagi selama sekitar dua jam.

Kegiatan RBK bertempat di garasi rumah Hartono. Bersama Indriyani, isterinya dan beberapa relawan, Hartono mengajak anak-anak untuk rajin baca buku dan mengajarkan macam-macam kegiatan kreatif. Agar anak-anak tak bosan, sesekali mereka diajak jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata. Cuplikan kegiatan RBK itulah yang kami saksikan melalui filem pendek.

***

Agenda berikutnya adalah inti pertemuan KBK: berbagi isi buku yang telah dibaca.

Dimulai dari Pak Rizal. Buku “The Seven Habits of Effective People” karya Stephen Covey adalah buku pilihannya. “Buku ini memotivasi saya untuk mengubah kebiasaan lama menjadi menjadi kebiasaan baru yang lebih baik. Saya meminta mahasiswa saya untuk membacanya,” ujarnya.

Hartono memilih buku karya Bre Redana,“Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada”. Menurut Hartono, buku ini adalah catatan kecil Bre sebagai Ketua Pengurus Dewan Pelatih PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih. Tapi bukan pesan soal ketrampilan memainkan jurus-jurus silat seperti yang tertulis dibuku yang ingin disampaikan, melainkan lebih pada filosofi jurus silat sebagai pegangan dalam kehidupan.

“Buku ini memberi nasihat agar saat menjalani hidup ini kita melakukannya begitu saja, tidak usah terlalu dipikir.Just do it. Jangan terlalu ambisi. Begitu kita mulai berambisi saat melakukan sesuatu. Hampir bisa dipastikan akan menghadapi kegagalan”, begitu papar Hartono.

Suasana Diskusi

Sementara Nuris Andri, masih juga seperti dalam pertemuan KBK yang lalu, selalu suka dengan buku karya penulis Jepang. Kali ini ia bawa dua buku karya sastrawan besar Jepang, Ryunosuke Akutagawa, yaitu “Rashomon”dan “Kappa”.

Kappa adalah makhluk rekaan Akutagawa yang berwujud aneh. Dunia kappa berisi kappa-kappa dengan beragam karakter. Menurut Nuris, kehidupan di dunia kappa adalah cermin dari kehidupan dunia manusia. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sana.

Bintang, anggota yunior KBK, kembali membawa buku biografi berbentuk cerita bergambar. Kali ini ia membawa kisah tentang “Neil Armstrong”, astronot yang pertama kali mendarat di bulan.

Sementara Nadhief, yang juga anggota yunior KBK, membawa dua buku: “Tom Sawyer” dan “The Jungle Child”. Ia mengaku suka baca kisah-kisah petualangan Tom Sawyer yang seru dan mengasyikkan.

Lis membawa buku berjudul “Cincin Merah di Barat Sonne” karya Andi Arsana. Buku ini merupakan kisah Andi sebagai seorang peneliti saat berlayar dengan kapal bernama Sonne mengarungi Samudera Hindia selama 28 hari untuk memetakan dasar laut. Judul buku itu menggambarkan pemandangan menjelang matahari terbenam dari atas kapal Sonne.

Andi seorang ahli geodesi, namun ia mampu memaparkan hal-hal teknis dengan bahasa yang mudah dimengerti. “Menurut buku ini, seorang ahli tidak layak disebut ‘ahli’ jika tidak mampu mengajarkan keahliannya pada orang lain,” papar Lis. Nyatanya, menurut Lis, hal-hal teknis terkait soal pemetaan dituliskan dengan baik dan mudah dipahami.

Farida membawa buku berjudul "Agar Bidadari Cemburu Padamu" karya Salim A. Fillah. Ini buku bernafaskan Islam yang memberika saran bagaimana perempuan dan laki-laki sebaiknya berperilaku berdasarkan keadilan syari'ah Allah.

Lisa membawa buku berbahasa Inggris berjudul The Geography of Bliss karya EricWeiner, jurnalis New York Times. Didorong keinginannya untuk menemukan kebahagiaan, Weiner berkeliling ke sepuluh negara.

Negara pertama yang dikunjungi Weiner adalah Belanda. Di negara kincir angin itu Weiner mewawancarai seorang Professor untuk mendapat rujukan ilmiah tentang kebahagiaan. Uniknya, si Professor sendiri ternyata belum menemukan kebahagiaan meski ia bisa bicara panjang lebar tentang kebahagiaan.

Bagi Lisa, buku karya Weiner membawa kebahagiaan tersendiri karena memuat kisah-kisah unik dan lucu dari beragam negara.

Indri membawa buku berjudul “Perempuan Penjunjung Separuh Langit” karya suami-isteri Nicolas D. Kristof dan Sheryl WuDunn terbitan Gramedia Pustaka Utama pada 2010. Buku aslinya berjudul “Half the Sky: Turning Oppresion into Opportunity for Women Worldwide”diterbitkan satu tahun sebelumnya. Kristof dan WuDunn adalah pasangan suami isteri pertama peraih Pulitzer Award pada 1990 untuk liputan Gerakan Tiananment di Cina.

Keduanya berkolaborasi lagi melakukan perjalanan jurnalistik di beberapa negara seperti Thailand, India, Kamboja, Pakistan dan Afrika Selatan untuk menuliskan kisah-kisah kekerasan terhadap perempuan. Pada 2012,Half the Sky diwujudkan dalam bentuk filem seri dan diputar di saluran televisi lokal di Amerika. Tahun ini, filem itu akan diputar juga di berbagai negara lain.

Indri bilang ini, “Ini buku bagus, bahkan kita bisa meniru gagasannya karena banyak kisah-kisah perempuan di Indonesia yang bisa dijadikan bahan penulisan”.

Nah, sekarang giliran saya berbagi isi buku. Saya membawa novel karya Okky Madasari berjudul Entrok. Entrok adalah sebutan untuk kutang perempuan di masa lalu. Marni rela jadi satu-satunya kuli panggul perempuan dipasar untuk membeli entrok. Berkat kegigihannya, Marni berhasil juga beli entrok.Pencapaian pertama Marni itu mendorong ambisinya untuk jadi orang kaya.

Membaca Entrok menguras emosi saya. Kehidupan Marni luarbiasa. Ia sungguh berjuang mengumpulkan uang dan mempertahankan kehidupan rumah tangga bersama suami pengangguran yang suka main perempuan.

Yang menarik adalah hubungan Marni dan Rahayu, anak perempuan satu-satunya. Meski banyak perbedaan antara ibu dan anak itu, kesamaan mereka adalah bunyi sepatu-sepatu tinggi yang dituliskan “senantiasa mengganggu dan merusak jiwa” dan bahkan sanggup “mengubah warna langit dan sawah menjadi merah” serta “mengubah darah menjadi kuning”.

Secara garis besar, Entrok sebenarnya tentang militerisme di masa Orde Baru. Saya sendiri kagum pada gaya Okky bercerita. Ia menciptakan karakter-karakter yang kuat dan kemudian mematuhinya saat menyusun cerita. Novel Okky terakhir berjudul “Maryam” yang berkisah tentang pengungsi Ahmadiyah meraih Khatulistiwa Literary Award 2012.

Hampir semua yang datang dalam Pertemuan KBK aktif bicara. Membuat pertemuan kali ini jadi seru. Akbar, meski tidak bawa buku tapi semangat cerita bagaimana ia suka buku petualangan seorang bagpacker di berbagai negara. Banyak perjalanan hidup bisa diambil dari sana. Barangkali kisah-kisah itu cocok dengan karakter Akbar sebagai seorang biker. Saat mendatangi pertemuan KBK, ia juga naik sepeda saja.

Dewi yang bekerja pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kementerian Dalam Negeri, cerita tentang perempuan-perempuan perdesaan yang ia temui selama kerja lapangan. Ia berharap kisah-kisah perempuan tangguh itu kelak dibukukan untuk pembelajaran bersama.

***

Di penghujung pertemuan, door prize diundi. Haris Juhaeri mendapat buku “100 Kata” dari penerbit Antipasti dan Arimbi mendapat “Dilema: Kisah 2 Dunia dari Kapal Pesiar”. Dua buku yang sama kami serahkan kepada Pak Rizal sebagai kenang-kenangan dan ucapan terima kasih. Nuris, juragan bumbu pecel cap Gentong itu juga menyerahkan satu kemasan bumbu pecel pada Pak Rizal.

Waktu beranjak siang, Pak Rizal menyilakan kami makan siang. Menunya Lontong Sayur Daun Paku. Nikmatnya bukan main. Lekas saja piring-piring yang tersaji licin tandas.

Pertemuan KBK kali ini memang luar biasa. Semua senang, dapat wawasan baru dan dapat kawan baru. Perut kenyang pula. Sampai berjumpa di pertemuan KBK berikutnya!


No comments:

Post a Comment