Tuesday, April 16, 2013

Membaca Biografi, 20 Januari 2013



Akhirnya kami berkumpul kembali. Seharusnya Desember 2012 lalu Klub Buku Kita (KBK) sudah mengadakan pertemuan, tapi banyak hal ia diundur. Dan jadilah pertemuan Januari membuka perjalanan KBK di tahun 2013.

Tidak ada tamu khusus yang diundang sebagai pembicara. Pertemuan kali ini milik kami saja, jadi isinya adalah berbagi isi buku dan mengobrol santai. Di Minggu pagi, 20 Januari yang menyenangkan - tidak hujan dan lalu lintas lengang - itu kami saling bertemu di rumah Lisa, Cinere-Depok. 

Sesuai kesepakatan, biografi jadi tema pertemuan. Masing-masing anggota akan berbagi biografi yang dipilihnya. Namun sebelumnya kami ngobrol dulu untuk menyepakati apa itu biografi sebelum nantinya berbagi resensi secara lisan.

Berikut adalah isi obrolan itu - mengenai biografi sepanjang pengetahuan kami,  

Biografi berasal dari dua kata yaitu bios yang artinya hidup dan graphien yang artinya tulisan. Jadi biografi adalah tulisan tentang (riwayat) hidup seseorang atau tulisan mengenai perjalanan hidup seseorang. Bisa panjang ataupun pendek. Bisa berupa kisah hidup sejak lahir hingga mati atau penggalan kisah hidupnya saja namun bisa juga berupa kisah perjalanan karir seseorang.  

Ada beberapa jenis biografi berdasar persoalan yang ditulis yaitu biografi politik yang ditulis berdasarkan sudut pandang politik, biografi intelektual yang ditulis berdasarkan hasil riset/pemikiran tokoh, dan biografi jurnalistik/sastra yang ditulis berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh. Jenis biografi yang terakhir itulah yang biasanya paling diminati karena lebih ringan dibanding dua yang pertama.  

Biografi menarik karena membuat pembaca bisa mengambil hikmah dari jatuh bangunnya perjalanan ataupun perjuangan seseorang untuk bisa mendapatkan sesuatu.

Meski begitu, seseorang yang dikisahkan dalam tulisan itu pun tidak harus selalu orang yang terkenal. Kisah-kisah orang biasa sebagaimana dituturkan oleh Malcolm Gladwell, seorang penulis dan jurnalis yang bekerja untuk The New Yorker sebuah majalah Amerika yang terbit sejak 1925, bisa dijadikan contoh.

Biografi selalu dituliskan oleh orang lain. Namun, seseorang juga bisa menuliskan riwayat hidupnya sendiri. Nah, biografi seperti itu disebut Autobiografi. Di masa kini, jadi rahasia umum ada orang yang meminta seorang ghost writer untuk menuliskan kisah hidupnya dan mengklaimnya sebagai sebuah autobiografi. Ghost writer adalah seorang penulis yang dibayar untuk menulis atas nama si pembayar. Nama ghost writer sendiri tidak akan pernah tercantum - ibarat hantu (ghost) yang tidak terlihat. 

Sebagaimana yang dilakukan Malcolm Gladwell dalam tulisannya, riwayat hidup seseorang bukanlah kisah fiktif. Ia nyata terjadi dan bukan rekaan. Tulisan Gladwell sendiri punya ciri kaya informasi detil karena dibuat dengan riset mendalam.

Satu kisah perjalanan seseorang yang kemudian dibumbui dengan tulisan rekaan atau kisah imajinasi penulis bukan lagi sebuah biografi ataupun autobiografi. Buku berjudul “9 Summers and 10 Autumns” karya Iwan Setiawan misalnya. Meski ditulis berdasar kisah hidup penulis sendiri namun ia menambahkan imajinasinya pada beberapa bagian dan dengan demikian buku itu bukan lagi sebuah autobiografi. Iwan mengakuinya dan menambahkan kata “Sebuah Novel” pada sampul bukunya sebagai penegasan bahwa ini adalah kisah fiktif.


Begitulah kami mencapai beberapa kesepakatan soal apa itu biografi. Selanjutnya kami berbagi cerita buku masing-masing.

Hartono membawa buku berjudul "The Sampoerna Legacy", ini kisah Liem Seeng Tee, pendiri imperium rokok kretek Dji-Sam-Soe. Cerita buku disusun oleh puterinya, Michelle Sampoerna dan ditulis serta diberi ilustrasi oleh Diana Hollingsworth Gessler. 

Perjuangan Liem Seeng Tee membesarkan bisnis rokoknya memberikan kesan mendalam bagi Hartono. Sepanjang hidupnya, Liem Seeng Tee percaya bahwa angka Sembilan memberi keberuntungan dan mendekati kesempurnaan. Itulah sebabnya produk rokoknya diberi nama Dji-Sam-Soe atau Dua-Tiga-Empat yang jika dijumlahkan menjadi sembilan.

Perhitungan untuk mendekati kesempurnaan itulah yang membekas di benak Hartono. Ia jadi percaya bahwa apapun yang akan kita lakukan dalam hidup hendaknya diperhitungkan terlebih dahulu baik buruknya.

Nuris Andri membawa buku berjudul "Shinsengumi", karya Romulus Hillsborough. Ini buku yang menceritakan tentang pasukan terakhir sebelum era shogun berakhir di Jepang. Meskipun ini cerita mengenai satu kelompok pasukan yang berjumlah 12 orang, namun ada satu tokoh yaitu Saito Hajime yang disukai Nuris. Ia terkesan dengan Saito Hajime karena punya prinsip yang kuat.

Lisa punya buku berjudul "Jungle Child" karya Sabine Kuegler, seorang penulis wanita asal Jerman. Ini sebuah autobiografi. Sabine menuturkan sendiri masa kecilnya saat ikut orang tuanya yang bertugas sebagai misionaris di Papua, Indonesia. Menghabiskan sepuluh tahun di Papua membuat Sabine merasa sebagai orang Papua ketimbang orang Jerman. Saat pulang kembali ke tanah airnya, Sabine mengalami kegelisahan budaya. Isi buku itu bercerita tentang dinamika psikologis Sabine.

Lisa menyukai tulisan Sabine karena kisah Sabine mirip dengan apa yang terjadi pada dirinya dan beberapa kawannya yang ketika kecil mengikuti orang tuanya bertugas di luar negeri.

Biografi yang dibawa Lis dan Bintang bentuknya bukan melulu tulisan, melainkan cerita bergambar. Biografi semacam ini sah saja. Pembuat biografi menginginkan agar pesannya sampai ke masyarakat, bagaimana caranya beragam. Bisa dibuat cerita bergambar, ataupun tulisan yang dipenuhi ilustrasi gambar seperti buku The Sampoerna Legacy, ataupun tulisan dengan foto-foto. Intinya memudahkan dan membuat nyaman pembaca. 

Jika Lis membawa biografi "Gus Dur", Bintang membawa biografi "Bill Gates", pendiri Microsoft. 

Bintang anggota KBK termuda. Usianya baru 10 tahun. Ketekunan dan ketertarikan Bill Gates pada piranti lunak komputer membuat Bintang suka membaca buku itu. Ini karena Bintang juga suka utak-atik komputer. Jika besar, ia ingin seperti Bill Gates dan punya perusahaan komputer sendiri.

Tata membawa buku berjudul "Gerakan Sabuk Hijau" karya Wangari Maathai. Ini bukan autobiografi riwayat hidup, melainkan tulisan tentang sepenggal kisah hidup Wangari. Yaitu saat Wangari mewujudkan cita-citanya untuk memperjuangkan lingkungan dan kaum perempuan melalui gerakan penanaman pohon di Kenya, Afrika. Kegiatan itu diberinama Gerakan Sabuk Hijau. 

Wangari mulanya hanya ingin memperbaiki kondisi gizi buruk yang menimpa kampung halamannya, tempat ia melewatkan masa kecilnya dengan bahagia. Ia bertekad mengembalikan kebahagiaan masa kecilnya dengan memperbaiki lingkungan. Caranya, ya itu tadi, "hanya" dengan menanam pohon untuk memunculkan mata air dan mendapatkan kayu bakar serta menanam kembali tanaman pangan lokal untuk ketahanan pangan masyarakat. 

Upaya Wangari dan perempuan Kenya mendapatkan perhatian tidak hanya di Afrika namun juga dunia luar. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNEP) yang kemudian memintanya untuk membuat replika kegiatan serupa. Kini, Gerakan Sabuk Hijau menjadi inspirasi di banyak negara untuk menanam pohon demi perbaikan lingkungan dan masyarakat.

Cerita Neneng lain lagi. Sebagai guru agama, ia banyak membaca biografi ulama dan nabi-nabi. Usai membaca, biasanya ia akan menceritakan kembali isinya pada anak muridnya. Dari semua biografi yang dibacanya itu ia mendapat satu benang merah, yaitu bahwa berdakwah hendaknya tidak menggunakan kekerasan melainkan kasih sayang.

Siti Munisah bercerita tentang biografi "Muhammad Iqbal", seorang filsuf, politisi, dan penyair dari Pakistan. Nisah menaruh hormat pada Iqbal. Ia mengingat pesan Iqbal agar manusia selalu melakukan yang terbaik bagi kebaikan umat. Sebenarnya ini buku yang dibacanya saat SMA namun hingga sekarang masih member kesan mendalam. Iqbal adalah seorang pemikir. Saat mendapati sedang dalam masalah, Iqbal lebih suka diam dan menyendiri. Tanpa disadari ternyata Nisah pun sering meniru kebiasaan itu, begitu kesaksian teman yang mengamati perilaku Nisah di kantor. 

Begitulah kami berbincang dan berbagi kisah. Meski ada juga yang tak membawa biografi, namun dalam diskusi kami saling melengkapi, memberikan pendapat, dan mengkritisi satu sama lain.

Untuk menyemarakkan pertemuan, seperti biasa diadakan doorprize dari Penerbit Marjin Kiri. Yang beruntung kali ini adalah Annisa Muzzizah. Ia mendapatkan buku Gerakan Sabuk Hijau karya Wangari Maathai. 

Tak seru jika kami hanya berbicara dan berbicara. Beragam camilan tradisional tersaji di hadapan kami. Itu potluck yang kami bawa. Kali ini didominasi oleh camilan dari singkong - ada yang digoreng, direbus begitu saja, ada yang direbus kemudian diberi gula jawa, ada yang dijadikan combro. Camilan lainnya bolu kukus gula merah, peyek kacang, dan cucur. Eh, ada juga buah salak. Pendeknya camilan KBK selalu eksotis dan bikin suasana jadi asyik dan seru. Minumannya pun luar biasa: teh serai yang tersaji dalam cangkir-cangkir klasik.

Terima kasih buat semua dan sampai jumpa di pertemuan berikutnya!

No comments:

Post a Comment