Wednesday, April 17, 2013

Usai Ber-Jhumpa Lahiri

Oleh Elisabet Tata

BOLEH DIKATA aku telat ber-Jhumpa Lahiri. Karya pertamanya, Interpreter of Maladies berupa kumpulan cerita pendek terbit pada 1999 di Amerika. Versi bahasa Indonesia-nya, dengan judul “Benua Ketiga dan Terakhir”, pertama kali diterbitkan Jalasutra pada 2002. Sementara aku baru menemui bukunya beberapa minggu lalu di Gramedia di tumpukan buku diskon 20%. Judulnya “Penerjemah Luka”. Gramedia menerbitkannya pada 2006. Tak lama Jhumpa sudah membuatku terpesona. 

Ini “oleh-oleh” usai aku ber-Jhumpa Lahiri. 


ADA RENTANG delapan tahun, setelah namanya dikenalkan di Indonesia, aku tak paham siapa itu Jhumpa Lahiri. Bahkan, aku sama sekali tak tahu kalau salah satu karyanya, The Namesake, ternyata ada di tumpukan buku di rumah. Suamiku, Ronny Agustinus, sudah membelinya, entah kapan, meski dia belum baca seutuhnya. Ini novel, bukan kumpulan cerpen. Gramedia yang menerbitkannya dengan judul “Makna Sebuah Nama.” Kedua karya Jhumpa Lahiri yang diterbitkan Gramedia dialihbahasakan Gita Yuliani K. 

Ronny cerita, ia tahu soal Jhumpa Lahiri dari seorang kawan. Awal tahun 2000-an itu, ia baca kumpulan cerpen Jhumpa Lahiri dengan judul “Penafsir Kepedihan” yang diterbitkan Akubaca. Ia bilang paling suka dengan cerpen The Third and Final Continent (Benua Ketiga dan Terakhir). Cerpen ini terpilih sebagai the best American short stories pada 2000.



Cerita kedua, The Treatment of Bibi Haldar, mengisahkan seorang wanita bernama Bibi Haldar yang menderita penyakit aneh. Umurnya 29 tahun dan belum menikah. Ia tinggal bersama sepupunya yang lebih tua, yang dipanggil Haldar. Haldar dan isterinya mengelola sebuah toko kelontong. 

Jadi ada tiga penerbit Indonesia yang menerbitkan Interpreter of Maladies; Jalasutra, Akubaca, dan Gramedia. Masing-masing dengan judul yang berbeda. Barangkali hanya Gramedia yang mengantongi hak cipta, yang lainnya tidak. Tapi aku tak bisa membandingkan terbitan mana yang lebih baik. Yang aku baca hanya yang terbitan Gramedia. Menurutku, terjemahannya bagus. Membuat pembaca nyaman mengikuti jalan cerita hingga akhir. 

JHUMPA LAHIRI lahir di London, 11 Juli 1967. Orangtuanya, imigran asal Bengali, India. Namanya ketika itu Nilanjana Sudeshna (Svdeshna) Lahiri. Umurnya tiga tahun ketika ayahnya, Amar Lahiri, mendapat kerja sebagai pustakawan di University of Rhode Island, Kingston, Rhode Island. Di sanalah Nilanjana dibesarkan dan merasa menjadi seorang Amerika. "I wasn't born here, but I might as well have been", ujarnya..Meski begitu, ibunya selalu mengingatkan segala hal tentang India. Mengenalkan budaya Bengali, dan mengunjungi Kalkuta (sekarang Kolkata), India sekali tempo untuk bertemu kerabat. 

Jhumpa mengangkat permasalahan dilematis imigran India di Amerika yang disebabkan perbedaan budaya melalui cerita fiksinya. Menurut resensi buku yang aku baca di internet, kekuatan Jhumpa terletak pada gaya bahasanya yang “plain”, dengan pilihan kata yang memudahkan pembaca untuk memahami isi cerita. Menurutku, Gita K. Yuliani si penerjemah, juga berhasil menunjukkan kekuatan Jhumpa dalam versi Indonesia. 


Pada mulanya tidak ada penerbit yang mau menerbitkan karya-karya Jhumpa. Bertahun-tahun lamanya Jhumpa ditolak para penerbit. Hingga akhirnya pada 1999, Houghton Mifflin Harcourt Publishing Co. yang berkantor di Boston, Amerika Serikat bersedia menerbitkan Interpreter of Maladies. Buku yang berisi sembilan cerpen ini memenangi O Henry Award (1999), Hemingway Award (1999), dan Pulitzer Award untuk karya fiksi (2000).


ADA DUA cerita yang paling aku sukai di Interpreter of Maladies. Yaitu Interpreter of Maladies (Penerjemah Luka) dan The Treatment of Bibi Haldar (Pengobatan Bibi Haldar). 


Yang pertama bercerita tentang Mr. Kapasi. Semenjak kecil Mr. Kapasi bercita-cita menjadi seorang penerjemah di kalangan diplomat. Cita-citanya kandas dan berakhir sebagai asisten seorang dokter di akhir minggu. Tugasnya menerjemahkan keluhan pasien yang bicara dalam bahasa Gujarat pada dokter. 



Isterinya tak suka karena Mr. Kapasi “menyelamatkan orang lain dengan caranya yang sepele.”

Untuk mengisi waktu, sehari-hari Mr. Kapasi menjadi pemandu wisata. Satu kali ia bertemu keluarga Das, suami isteri dengan dua anak, mereka keturunan India yang kini tinggal di New Jersey, Amerika. 


Siapa sangka profesi Mr. Kapasi justru membuat Mrs. Das tertarik dan menyebutnya sebagai jenis pekerjaan yang “sangat romantis.” Hati Mr. Kapasi berbunga-bunga. Ia segera jatuh cinta pada Mrs. Das. Namun, bagi Mrs. Das, Mr. Kapasi adalah ruang untuk bicara tentang rahasis pribadi yang tak diketahui suaminya. Bertahun-tahun Mrs. Das memendam luka hatinya dan kini ia mendapatkan seseorang untuk menerjemahkan kesedihannya. 


Aku kira kita memang perlu profesi penerjemah luka itu. Seseorang yang mampu membantu mengungkapkan rasa sakit. Itu akan memudahkan proses penyembuhan, kukira. 


Di malam hari ia melolong dan kelojotan di lantai. Ia bisa pingsan sewaktu-waktu atau mengoceh tak karuan. Berbagai upaya dilakukan, Bibi tak kunjung sembuh. Ia sering bicara soal hasratnya untuk menikah dan kekhawatirannya jika tidak pernah menikah. Suatu hari, tiga tukang ramal didatangkan. Mereka memeriksa gurat tangan Bibi dan memastikan bahwa “hubungan dengan lawan jenis akan menenangkan darahnya.”

Pengumuman dipasang untuk mencari calon suami. Tak satupun laki-laki tertarik. Ketika isteri Haldar hamil, Bibi tidak diperkenankan lagi tinggal satu ruangan. Isteri Haldar khawatir penyakit aneh Bibi menular ke jabang bayi. Dan ketika seorang bayi lahir, Haldar dan keluarganya meninggalkan Bibi sendirian. 


Sejak itu Bibi jarang terlihat. Hingga tetangga mendapatinya terbaring di ranjang dengan kondisi hamil empat bulan. Entah siapa yang menanam benih. Bibi juga tak mengatakan apapun. Kelahiran seorang bayi membuat hidup Bibi berubah. Ia sembuh dan bahagia membesarkan anaknya. 


Ini cerita yang menurutku menunjukkan sisi kewanitaan Jhumpa. Aku ingat satu filem tentang satu lingkaran penuh yang mesti dipenuhi wanita. Sayang lupa judulnya. Lingkaran yang dimaksud adalah: lahir, menikah, dan memiliki anak. Menurut filem ini, wanita akan mendapati kebahagiaan sepenuhnya jika memenuhi lingkaran itu. Tradisi timur mengajarkan kepercayaan ini. Dan menganggap tabu jika wanita tak segera menikah atau memilih melajang. 


SAAT DUDUK di bangku TK, Nilanjana menemui benturan-budaya-pertamanya. Nama Bengalinya sulit diucapkan. "I always felt so embarrassed by my name.... You feel like you're causing someone pain just by being who you are," kenangnya. Gurunya memilih memanggilnya sebagai Jhumpa, ini nama kesayangannya. 


Dalam tradisi masyarakat Bengali, setiap anak memiliki dua nama: nama kesayangan (pet name) dan nama resmi (good name). Nama kesayangan hanya digunakan dalam lingkaran keluarga. Sementara nama resmi digunakan di luar, untuk urusan kemasyarakatan. Inilah peristiwa yang memberinya ide untuk menulis The Namesake, novel dengan rentang cerita 30 tahun. Dimulai pada 1968 saat pemuda Ashoke mengikuti tradisi perjodohan dan membawa istrinya, Ashima, ke Amerika. Di negeri yang jaraknya bermil-mil jauhnya dari India inilah mereka membangun keluarga dan saling mengenal. 


M
eski The Namesake juga menunjukkan masalah lain yang harus dihadapi imigran India di Amerika, namun soal “nama” tetap jadi yang utama. Persis seperti Jhumpa kecil, Gogol, anak pertama pasangan Ashima dan Ashoke, mengalami benturan-budaya-pertamanya di TK. Ini memang kisah Gogol. Secara genetik ia orang India, tapi lahir dan besar di Amerika. Ia bicara dengan aksen Amerika, menyerap pergaulan Amerika, dan mengubah namanya menjadi Nikhil. Ia mencecap ganja, minuman keras, dan seks bebas. 

Perkawinan Gogol dengan wanita Bengali melegakan banyak orang terutama ibunya, Ashima – yang sudah menjanda semenjak Ashoke kena serangan jantung – dan kerabat-kerabatnya. Nyatanya tidak seperti yang diharapkan. Isteri Gogol, Moushomi, tak jauh beda dari Gogol. Ia lahir dan dibesarkan di Amerika, kemudian kuliah di Perancis. Moushomi perokok berat, ia selalu menyimpan keinginan untuk menjadi orang bebas. Perselingkuhannya dengan Dmitri lebih untuk memuaskan keinginannya akan kebebasan ketimbang cinta. Perkawinan Gogol hancur. 


The NamesakeDi ujung cerita, Gogol menemukan kembali buku karya Nikolai Gogol, pengarang Rusia yang namanya dipinjam ayahnya untuk diberikan kepadanya. Ini buku hadiah ulang tahun dari ayahnya di usianya yang ke 15. Setelah apa yang dilaluinya, pada usia 30an tahun, Gogol baru menyadari, betapa nama itu besar artinya bagi dirinya. 

KISAH GOGOL mengingatkan akan diri sendiri. Aku pernah mengalami saat tak suka dengan nama yang diberikan bapakku. Elisabet Repelita Kuswijayanti. Nama yang tak biasa dan sering jadi guyonan. Ada teman memanggilku GBHN. Namaku juga memancing orang untuk bertanya. Jika menuliskan atau menyebutkan nama, pasti ada yang komentar. Tapi nama panjangku membuat siapa saja bisa memilih mau memanggilku siapa. Jadinya aku punya macam-macam nama panggilan. Ada yang memanggil Ita, Tata, Kuswi, atau Yanti. Ada bulek (tante) yang memanggilku Tiwi. 


Bapakku (alm) memberi nama anak-anaknya seturut apa yang sedang terjadi saat itu. Repelita itu karena pas aku lahir bertepatan tahunnya dengan pencanangan program Rencana Pembangunan Lima Tahun. Sementara Elisabet itu nama babtis. Seturut abjad, orang bisa tahu aku anak kelima, huruf-huruf sebelumnya dipakai kakak-kakaku: Antonius, Bernardus, Christophora, Damiana. Kuswijayanti itu karena semua anak bapak menggunakan suku kata Kus yang diikuti dengan kata yang menyimpan harapan untuk anak-anak bapak. Wijayanti berarti saat itu kondisi keluarga tengah membaik, berjaya. Bapak mengharap aku tak pernah mengalami masa sulit. Ah, semoga kondisi anakmu ini memang demikian adanya. Terima kasih, pak. 


Karena sering merepotkan, aku memilih menggunakan nama panggilan rumah: Tata. Mudah diingat dan diucap. Tapi sesuai pesan bapak, nama babtis harus selalu ditulis. Baiklah, pak. Jadilah aku menuliskan Elisabet Tata ketimbang nama panjangku itu di akhir tulisan yang kubuat. Aku ingat Anugerah Perkasa nyeletuk saat nama lengkapku disebut pada penutupan kursus menulis di ETF. “Lho, mana Tata-nya?” ujarnya. 


PADA 2006 The Namesake diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Ia disutradarai Mira Nair – sutradara dan produser film India yang tinggal di New York, Amerika. Aku sudah menduga, bakal bagus jika ada filmnya. Yuk, kita cari filem-nya. ***

No comments:

Post a Comment