Monday, September 29, 2014

Pertemuan KBK #31 Agustus 2014: Berkunjung ke rumah Nuris, sang pengantin baru

Pertemuan KBK (Klub Buku Kita/Kabeka) kali ini bertempat di rumah Nuris, pengantin baru di Cinere, Bogor. Nuris baru saja melangsungkan pernikahannya pada Minggu, 3 Agustus lalu di Mojokerto, Jawa Timur. Banyak kawan Kabeka tidak bisa hadir saat. Itu. Pertemuan Kabeka kali ini, selain memang sudah lama saling tidak bertemu, khusus untuk mengunjungi dan mengucapkan selamat berbahagia pada Nuris dan isterinya, Rizkha yang sekarang sah sebagai suami-isteri. Selamat ya!

Nah, laporan pertemuan kali ini dibuat oleh tuan rumah, Nuris sendiri. Yuk, kita simak :)

Kabeka, untuk kesekian kalinya berkumpul lagi di Cinere, tapi kali ini tidak di rumahnya Bu Lisa. Kabeka kali ini berkumpul di rumah saya, Nuris, anggota kabeka juga. Kali ini saya akan bertindak sebagai penulisnya. (Mudah-mudahan lancar dan jelas).

Pertemuan Kabeka kali ini, 31-08-2014 terasa spesial karena dilaksanakan setelah hampir tiga bulan tidak berkumpul bersama membaca buku dan makan cemilan khas masing-masing anggotanya alias potluck. Pertemuan ini juga bertepatan dengan momen halal bi halal pasca lebaran idul fitri bagi anggota kabeka yang merayakannya.

Suasana pertemuan Kabeka
Pertemuan kabeka bulan ini sekalian memperkenalkan anggota baru secara tak langsung. Karena anggota ini otomatis jadi anggota kabeka mengikuti suaminya.

Untuk menu potluck kali ini lebih banyak didominasi oleh buah-buahan, antara lain, manggis, jeruk, dan apel. Jarang sekali pada pertemuan kabeka tersedia banyak buah-buahan. Untuk jajanan ada lemper dan ote-ote (jajanan khas jawa timur kalau di Jakarta lebih familiar dengan nama bakwan). Tak lupa ada permen davos, yang entah kenapa sudah menjadi permen favorit hampir keseluruhan anggota kabeka, istimewa sekali bukan.


Buku dan Camilan
Sekarang kita bahas baca-baca bukunya, karena sebenarnya inilah inti dari setiap pertemuan kabeka, klub baca buku, tidak aneh, kan? Ada Sembilan orang yang hadir pada pertemuan kali ini, orang dan bukunya, antara lain:

1.    Nuris, hampir sebulan tak ada buku yang dibaca sama sekali, sekalinya ke toko buku, ketemu dengan komik “One Piece vol.72”. Nuris langsung membelinya karena komik ini muncul per tiga bulan sekali. Sebagai pasangan pengantin baru, Nuris tak bisa sembarangan membeli komik lagi kali ini. Apalagi istrinya tidak terlalu suka membaca komik. Kembali ke komik “One Piece”, komik bikinan komikus Asli jepang. Bercerita tentang bajak laut yang sarat dengan petualangan seru. Kisah persahabatan dan humor jenaka selalu menghiasi tiap bab yang disuguhkan oleh pengarangnya. Tak jarang banyak ditemukan kata mutiara yang sangat memotivasi pembacanya. (apalagi kalau penggemar komik pasti paham).

2.    Rizkha, angota baru otomatis. Istrinya Nuris, katanya jarang baca buku. Tapi dalam waktu senggangnya Rizkha menyempatkan diri membaca buku “Chicken Soup for The Soul”, banyak cerita istimewa yang penuh motivasi dalam tiap cerita yang ada dalam buku ini. Untuk buku semacam ini, akan lebih menjiwai kalau membaca bukunya secara langsung. Karena isi yang diceritakan dalam buku semacam ini (menurut saya –nuris-), adalah cerita tentang pengalaman seseorang dalam bentuk buku. Jadi kalau penceritanya kurang bisa mendramatisir, akan sedikit hambar.


Nuris - Rizkha

3.    Zakariya Efendi biasa dipanggil Zaki, anggota baru, temannya Nuris. Zaki seorang pendongeng dari kampong dongeng Ciputat angkatan pertama. Baru pertama kali ikut kabeka, meski sudah banyak tahu ceritanya dari Nuris. Buku yang disukai oleh Zaki adalah buku motivasi dengan gaya bahasa yang santai dan luwes. Menurut Zaki buku dengan gaya bahasa yg mudah dimengerti, akan memudahkan pembacanya untuk mencerna isi dari buku itu. Masih menurut Zaki lagi, “munculnya selera dalam membaca buku bisa muncul apabila kita sudah merasa nyaman dengan gaya bahasa dalam penulisan buku tersebut”.

4.    Fahmi, datang bersama istri dan anaknya yang otomatis menjadi anggota kabeka juga. Prolog dulu, Fahmi merasa surprise karena bertemu pendongeng kampong dongeng angkatan pertama. Karena saat ini, Fahmi tercatat sebagai alumni kampong dongeng angkatan ke-10. Jadilah ia bercerita panjang lebar dan berbagi tentang pengalaman mendongeng sebelum acara sharing baca buku dimulai. Sungguh keajaiban apabila kita berkumpul dalam suatu forum, akan ada hal menyenangkan yang tanpa kita sangka-sangka datangnya. Kembali lagi ke buku yang akan dibahas oleh Fahmi. 

Bicara tentang Fahmi, tak lengkap rasanya kalau tidak bahas tentang karya Pramoediya A.N., setelah membaca hampir semua karya Pramoedya, Fahmi mencoba memahami latar belakang penulis favoritnya ini dengan cara membaca transkrip pembicaraan Pramoedya dengan orang Belanda dalam sebuah wawancara yang bisa dijumpai dalam situs youtube.com. Isinya tentang suka duka Pramoedya dalam menulis buku yang dianggap melawan pemerintah (pada jaman orde baru). Dalam pembahasan buku Fahmi, Furqon coba bertanya. “Kenapa buku-buku karya Pramoediya banyak dibredel oleh pemerintah pada saat itu?” Bu Lisa mencoba menjawab, “karena pada saat itu, buku-buku karangan Pramoediya dianggap bahaya laten (harus selesai)”. Masih menurut Bu Lisa lagi, “setiap orang menulis sesuai dengan latar belakang kehidupannya. Eksotisme dari cerita gelap, menarik untuk diikuti.”

Satu lagi keajaiban dalam kabeka kali ini adalah pernyataan Fahmi yg ini. “saya pertama kali mendapatkan motivasi dalam membaca buku semenjak gabung dalam klub buku ini”. Sungguh pernyataan yang mengejutkan dari seorang anggota klub buku kita. Oh iya, dua anggota yang saya sebutkan tadi (istri dan anaknya Fahmi), kali ini belum ada buku yang akan dibagikan pengalaman membacanya. Semoga lain kali, patut kita tunggu ceritanya.

Zakaria - Fahi
5.    Furqon, anggota kabeka paling nyentrik, paling mujur diantara semua anggota kabeka, penjelasannya nanti dulu. Kita runut dari awal dia datang. Begini, pertama Furqon mengabarkan kalau bakal datang telat. Sampai di jalan masuk lokasi pertemuan kabeka, Furqon bingung bagaimana menuju lokasi. Akhirnya Furqon memutuskan datang ke lokasi dengan menggunakan moda transportasi darat kuno, becak, ya becak. Bisa dibayangkan serunya naik becak sambil menyanyikan lagu becak. “dunia serasa melambat sepersekian detik, saat kita naik becak”, begitulah cerita pengalaman dari Furqon.

Kembali ke pembahasan buku, Furqon lagi menggandrungi buku-buku trilogy luar negeri, salah satunya buku berjudul “Invergent”, lanjutan dari buku pertamanya yang berjudul “Divergent”. Kalau tidak salah buku ini menceritakan sekelompok masyarakat yang dibagi menjadi beberapa faksi, dengan harapan masyarakat ini bakal teratur dan tenteram. Tapi sebagai mana cerita seperti ini, pasti ada pemberontak yang berusaha menghilangkan faksi-faksi ini karena dinilai tidak manusiawi. Kalau kata Bu Lisa (lagi), aliran ini dinamakan aliran Distopia, sebuah aliran dengan pencarian harapan yang setinggi langit. Kebalikan dari utopia, tambah bingung lagi kan. J

6.    Kak Lis, sudah beberapa bulan ini belum sempat membaca buku. Tapi berita baiknya dia sudah bisa berkeliling lagi dengan motor kesayangannya kemanapun dia pergi. Lain kali kita tunggu ulasannya kalau sudah baca buku ya, Kak?


Lis
7.    Bu Lisa, membawa buku banyak sekali pada saat baru datang, dan semuanya akan dibahas secara singkat dalam pertemuan ini. Semoga penulis tidak lupa. Buku yang pertama, “Takdir”, sebuah buku penelitian tentang riwayat Pangeran Diponegoro. Bercerita juga tentang pentingnya berbaik sangka pada setiap orang. Karena setiap orang punya dinamikanya sendiri. Buku yang kedua, “Tarekat Petani”, sebuah buku analogi (mungkin), menceritakan relasi antar petani, bagaimana hubungan antar petani dalam beragama. Bisa dikatakan ini cerita tentang kehidupan religius seseorang dan dinamika rakyat bawah. Karena waktu sudah mendekati jam dua, Bu Lisa bergegas pulang hingga memberikan ulasan yang sangat singkat. Atau bisa jadi penulis yang kurang memahami maksud yang tersirat dari ulasannya Bu Lisa.

Akhir pertemuan kabeka tak lengkap tanpa door prize dari Bu Lisa. Dari Sembilan anggota yang hadir akan dipilih tiga orang yang beruntung. Hadiah pertama berupa gantungan kunci hasil rajutan Bu Lisa berhasil didapatkan Kak Lis. Dua dari buku yang diberikan sebagai hadiah jatuh kepada peserta baru kali ini. Rizkha baru bergabung dan dapat hadiah sepertinya sudah menjadi tradisi anggota baru. Dan yang sudah menjadi kebiasaan di kabeka ini, setiap ada undian disitu ada nama Furqon sebagai penerima hadiah. Sangat beruntung, hampir disetiap pertemuan ketika ada undian selalu ada nama Furqon, bisa kita sebut Furqon si mujur. Bisa dibayangkan kalau Furqon mengikuti setiap undian yang diikutinya, namanya 99% dijamin muncul. Kalau nasib baik ini bisa dipelajari, kepada Furqon lah kita harus banyak-banyak belajar. Seperti tokoh dalam cerita fiksi yang muncul ke dunia nyata.


Lis dan gantungan kunci rajut karya Lisa

Demikian laporan kabeka kali ini, mohon maaf kalau ada salah kata, ketik, dan komentar. Sampai jumpa di pertemuan kabeka berikutnya.

Monday, September 15, 2014

Foxtrott


Oleh: Elisabet Tata

Judul Buku : Foxtrott
Penulis : Helme Heine
Penerjemah : Veriana Devi
Tebal : 32 halaman
Penerbit : Carl Hanser Verlang, 2003

Buku ini berkisah tentang seekor rubah bernama Foxtrott. Ia lahir dari tempat tersepi di dunia yang digambarkan sebagai sebuah liang berongga-rongga di bawah tanah. Jika bumi diiris akan terlihat penampang rumah Foxtrott. Ada ruang makan, ruang nonton teve, ruang bermain, ruang tidur, pokoknya persis seperti ruang-ruang di rumah kita. Di rumah itu Foxtrott tinggal bersama ayah dan ibunya.



Di rumahnya yang berada jauh di dalam tanah itu, tidak ada satupun bunyi terdengar. Televisi memang menayangkan gambar, tapi tidak ada suara, itu filem bisu. Kedua orang tua Foxtrott juga tidak pernah bercakap-cakap. Mereka berkomunikasi melalui tatapan mata dan senyum saja.

Satu hari, Foxtrott mengintip keluar dari lubang rumahnya. 



Ia heran, ada banyak bunyi di atas sana. Hampir semua binatang ternyata bersuara. Lebah berdengung, kodok mengorek, dan bebek berkotek. Foxtrott bingung dibuatnya. Inilah untuk pertamakalinya ia mendengar beragam bunyi.


Kejadian itu sungguh membekas. Sejak itu Foxtrott tak henti-hentinya membuat bunyi-bunyian. Ia bernyanyi, berteriak, menabuh panci, mengadu tutup panci, dan memukul berbagai barang. Pokoknya, menimbulkan bunyi. Semakin gaduh, semakin hati Foxtrott girang. Ayah dan Ibu Foxtrott hilang akal.



Satu hari, ayah memutuskan untuk berburu ayam di peternakan ayam manusia. Malam-malam satu keluarga keluar rumah. Foxtrott ikut dengan mulut terikat – berjaga agar dia tidak menimbulkan suara. Ini perburuan penting, semua bekerja tanpa suara, berjalan pun mengendap.

Sial, mereka ketahuan. Penjaga menangkap basah keluarga Foxtrott. Ia siap membidikkan senapannya hendak membunuh ketiganya. Foxtrott kecil berhasil melarikan diri, ia melepaskan ikatan mulutnya dan bernyanyi. Nyanyian Foxtrott membuat penjaga iba dan melepaskan ketiganya.


Ayah Foxtrott bangga. Sejak itu Foxtrott diperbolehkan bernyanyi dan bermain musik sepuasnya. Foxtrott kini dikenal sebagai penyanyi di kawanan rubah. Tidak hanya itu, Foxtrott bahkan diundang untuk bernyanyi dalam pesta-pesta binatang lainnya.



Foxtrott lantas hidup bahagia dan menikah dengan seekor rubah cantik. Mereka punya banyak anak. Setiap malam satu keluarga bernyanyi dan bermain musik bersama.

Tunggu. Apakah semua? Ternyata tidak. Satu anak Foxtrott punya kebiasaan yang unik, ia tidak suka bernyanyi. Ia pendiam dan suka membaca. Bagaimana kelanjutannya? Tidak ada yang tahu, karena Heine mengakhiri ceritanya sampai di situ.



Begitulah kisah Foxtrott yang dikarang oleh Helme Heine berakhir. Ini buku anak-anak, tercetak di kertas berkualitas baik, hard cover, dan bergambar apik. Helme Heine adalah seorang penulis Jerman. Selain menulis, Heine juga seorang ilustrator dan desainer. Ilustrasi kisah Foxtrott dikerjakan sendiri oleh Heine. 

Sebagai penulis cerita anak, Heine sangat diakui karena memenangi beragam penghargaan bergengsi. Tiga tokoh rekaannya yang paling dikenal adalah tiga sekawan Charlie Rooster (ayam jago), Johnny Mouse (tikus), and Percy (babi) yang tinggal di sebuah daerah bernama Mollywoop. Melalui internet, saya baca Manajemen Kebun Binatang di Hanover, Jerman membangun satu ruang bermain untuk anak yang diberinama Mollywoop dan menghidupkan karakter ketiga binatang tersebut di sana. 

Ini foto Heine bersama ketiga tokoh rekaannya di Kebun Binatang di Hanover, Jerman:

 


Di Indonesia buku terjemahan Heine belum banyak - atau mungkin tidak ada ya, saya baru ketemu sekarang ini soalnya. Buku Foxtrott yang saya baca bersama Putri, anak saya ini diterjemahkan oleh seorang mahasiswi Universitas Negeri Jakarta bernama Veriana Devi. Penerjemahan itu bagian dari proyek kerja sama Goethe Institute dengan mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jerman.

Bukan diterbitkan kembali dalam bentuk buku, hasil terjemahan itu dicetak pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan dengan pita rekat plastik pada halaman buku. Jadi satu terjemahan dalam satu halaman buku. Memang halaman buku menjadi "kotor" dibuatnya. Tapi, ini cara paling sederhana dan murah untuk mengerti isi buku-buku anak yang bagus-bagus itu di Goethe. Seandainya saja saya mengerti bahasa Jerman..

Kembali ke Foxtrott. Saya kira Heine ingin menyampaikan pesan bahwa menyukai kesenangan yang beda dengan yang lain itu tidak mengapa. Jika itu memang membuat kamu bahagia, kenapa tidak? Asal, tentu saja gunakan kesenangan itu untuk kebaikan.

Eh, tapi saya merasa sepertinya Heine punya pesan juga buat orang tua yang mendampingi anak-anaknya membaca. Coba bayangkan, bagaimana jika punya anak yang tidak mau menuruti kebiasaan dan peraturan yang susah payah kita bangun di rumah? Ia seperti…apa ya, ibarat makhluk asing yang ada di rumah. Tak habis pikir terkadang, kok bisa dari darah-daging saya muncul manusia baru yang punya kebiasaan beda sama sekali dari saya?

Maka, jika saya jadi ibunya Foxtrott, pasti saya larang juga Foxtrott membuat gaduh di rumah. Itu kan sungguh bertentangan nilai-nilai yang diterapkan di rumah yang tenang, sepi, dan nyaman. Tapi, siapa sangka Foxtrott lah yang jadi pahlawan penyelamat saat penjaga bersiap menarik pelatuk senapan.

Foxtrott memenuhi benak saya akhir-akhir ini. Mengingatkan akan satu tulisan yang membahas soal mengapa generasi orang jenius tidak muncul lagi. Tulisan itu berakhir dengan tudingan bahwa orang tua adalah penyebab utama hilangnya generasi jenius yang baru dan tips bagaimana mendampingi anak yang suka berulah "di luar kebiasaan".

Masih menurut tulisan itu, ketidakmampuan para orang tua dalam menerima perilaku anak yang di luar kebiasaan jadi penyebabnya. Anak-anak yang sebenarnya berbeda itu “disamakan” begitu saja dengan yang lain. Akibatnya mereka kehilangan kemampuannya untuk menjadi beda. Dan lahirlah generasi yang seragam. Satu cita-cita tertentu bisa diagungkan dan cita-cita lain dicibir. 

Melalui kisah Foxtrott, Heine seolah mengingatkan bahwa dalam satu keluarga selalu ada yang punya kebiasaan unik. Kita memang tidak pernah tahu untuk apa dan kapan keunikan itu berguna kelak. Saya kira mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti berbagi, menolong sesama, dan berkarya lebih penting ketimbang menahan mereka untuk melakukan sesuatu yang disukai.

Begitulah. Menuliskannya saja sih, gampang, menjalaninya? Semoga saja ibumu ini mampu memahamimu ya, nak :) 

Catatan: Buku ini bisa dibaca di Perpustakaan Goethe Institute, Jakarta.

Wednesday, July 2, 2014

Kabeka Anak Bagian Satu

Untuk pertama kalinya, Klub Buku Kita (Kabeka) mengadakan pertemuan khusus untuk anak-anak. Pertemuan ini digagas oleh para ibu yang merasa khawatir dengan menurunnya minat baca putera-puterinya. Bekerja sama dengan Kabeka, akhirnya Kabeka Anak pun terselenggara. Berikut adalah kilasan pertemuan tersebut sebagaimana dituliskan oleh Fertina sebagai salah satu pemandu acara:

Hari Sabtu 21 Juni 2014 lalu - bertempat di rumah Tante Emil di Kalibata Utara - tante Lisa, Fahmi, dan saya sendiri mendapat tantangan asik di sana. Tepatnya, kami mengadakan “diskusi” kecil dengan adik-adik mengenai buku. Kemudian, sebagai pembuka diskusi kecil tersebut, Tante Lisa mengadakan sedikit ice breaking sebelum memasuki diskusi tersebut.

Jadi, adik-adik yang terdiri dari delapan orang (Kamil, Rifdan, Haikal, Edgar, Rasya, Muhamad, Nafisah, dan Asma) harus menggambarkan apa yang mereka bayangkan ketika melihat tiga kata ini: Hobi, Buku, dan Cita-Cita. Mereka pun tidak menggambar secara individu, melainkan kelompok yang terdiri dari tiga kelompok kecil.

Jadi bisa dibayangkan, bagaimana riweuhnya menggambungkan ide/gagasan menggambar di masing-masing kelompok itu. Dari tiga kelompok, kelompok cowok lah yang paling berisik dan sibuk mengutarakan ide mereka masing-masing. Malah cenderung saling tidak mau kalah keren di kelompok satu dengan kelompok lainnya. Kelompok cewe yang hanya terdiri dari dua orang, tetap diam, tenang, dan tidak banyak keributan.

Lucu, sih, melihat mereka segitu niatnya dalam “proyek” menggambar tersebut, bayangkan aja, mereka sampai ada yang membawa sepatu bolanya untuk dijadikan contoh gambar sepatu bola di kertas gambarnya. Bahkan ada yang mencari lambang klub bola kesukaannya di gawai-nya demi mendapatkan hasil yang maksimal.

Anak-anak asyik menggambar
Supaya, kalian bisa ikut larut dalam aktifitas kami, walaupun, tidak mengikutinya. Saya gambarkan secara garis besar adik-adik ini.

Jadi, kegiatan kami diadakan dalam rangka mengisi waktu libur mereka dengan sesuatu yang berguna. Dan kebanyakan dari mereka sudah jarang yang minat membaca buku (menurut para Ibu). Oleh karena itu ketujuh adik-adik yang merupakan satu sekolah (bahkan ada yang satu klub bola) dikumpulkan di rumah Kamil. Mereka ini adalah adik-adik yang berusia 10-11 tahun yang sedang menjajaki bangku kelas 6 SD.

Kembali ke proyek menggambar mereka, ada kejadian lucu nan unik. Kamil anak dari sang pemilik rumah, membuat kata-kata simbol, contoh: ia mau menuliskan “Hobi main bola di Ipad”, lalu ia tulis menjadi “hobi main (gambar bola) di (gambar Ipad).” Atau Menuliskan “Tergantung bukunya” menjadi “tergantung (gambar buku) nya. Lucu banget mereka.

Katanya gak suka baca?
Setelah menggambar, kami semua membentuk lingkaran untuk meneruskan ke acara selanjutnya. Acara intinya, saling berbagi dengan buku bacaan masing-masing. Sharing dimulai oleh kecerdikan Fahmi yang membawa majalah Bobo dari tahun ke tahun. Walaupun pamor majalah Bobo sudah kalah dengan kemunculan Ipad, Tablet Pc dan Gadget, tapi mereka masih mengenali majalah Bobo.

Fahmi (berkaos merah) dan anak-anak

Majalah Bobo dari masa ke masa itu menjadi daya tarik mereka untuk menganalisis sampul sampai isinya. Mereka akan ketawa sendiri melihat produk-produk zaman dulu dan membandingkannya dengan tampilan produk yang sekarang mereka jumpai. Cukup lama eksplorasi majalah Bobo ini. Selanjutnya, Fahmi menceritakan buku-buku yang ia baca  sesuai fase hidupnya dan diakhiri dengan puppet show dari Fahmi.

Kemudian secara bergantian adik-adik menceritakan isi buku yang mereka bawa dan pengalaman mereka membaca. Sebagian besar mereka mengaku bahkan dengan tegas mengatakan tidak suka membaca, tapi begitu giliran masing-masing, pernyataan tadi jadi luntur.

Ini sangat menarik.

Contohnya Edgar. Sebelum tiba gilirannya berbicara, ia selalu berdeklamasi kalau ia tidak suka membaca! Tapi begitu tiba gilirannya, ia menceritakan sebuah buku yang tebal halamannya dirasa tidak sepadan dengan orang yang mengatakan tidak suka membaca! Dan Edgar berhasil menyelesaikan buku tersebut sampai tuntas!

Kok bisa?

Setelah ditelusuri, Edgar sangat menyukai sepak bola. Ia salah satu dari mereka yang tergabung dalam klub sepak bola di Senayan. Dan buku tebal yang sukses ia baca sampai habis itu menceritakan kisah sukses pelatih U19 alias buku biografi sang pelatih! Bahkan ia bisa menyimpulkan apa yang ia dapat dari buku yang ia baca.

Lain lagi si Kamil. Kamil ini anak yang paling ribut, cerewet, gak bisa diem, tapi hebatnya logikanya jalan. Nah, dia ini juga paling lantang mengeluhkan peraturan Ibunya yang mengharuskan ia membaca buku yang ia belum mengerti. Tapi setiap temannya sedang menceritakan buku yang dibacanya, ia selalu bisa menyahut dengan kisah-kisah buku tersebut.

Contohnya saat saya menceritakan buku Harry Potter. Ia menceritakan kisah hidup J.K Rowling dari buku WHO yang ia baca. Bahkan ia menambahkan pendapatnya yang mengatakan J.K Rowling tega dengan keadaan Ibunya. Hihihi..

Saya (Fertina) dan anak-anak
Begitu juga saat Nafisyah menceritakan kisah petulangan Thea Stilton. Kamil dan Nafisyah malah sibuk mendiskusikan Thea Stilton adalah adik dari Geronimo Stilton yang kisahnya dibaca oleh Kamil. 

Monday, June 9, 2014

Tahun Kedua Klub Buku Kita



Oleh: Lisa Soeranto

Tahun 2014 bulan Mei tanggal 20 adalah hari penting untuk Indonesia dan juga hari terpenting untuk Klub Buku Kita (yang biasa disingkat menjadi KBK; namun  untuk selanjutnya saya minta ijin untuk menulisnya dengan Kabeka, sehingga tak akan dibaca "ke bi ke"). 

Dua tahun yang lalu secara sederhana klub pembaca buku ini dinyatakan ada dan diniatkan untuk dihidupkan dengan cara sederhana dan penuh cinta. Penuh cinta dalam maknanya paling sederhana yaitu didasarkan pada pengertian, toleransi, dan tanpa paksaan. 



Kabeka memahami dan bertoleransi terhadap anggota-anggotanya yang tidak terlalu pembaca namun senang mendengarkan kisah si pembaca buku; dan tak ada paksaan bagi anggota-anggotanya misalnya untuk bisa menuliskan kembali bacaannya dalam bentuk resensi atau sinopsis atau apa pun bentuknya. 



Kabeka hanya mengajak menikmati buku bersama-sama dengan cara yang tidak selalu sama untuk setiap orang.



Membaca adalah kesadaran. Mendapat inspirasi dari sebuah bacaan adalah anugerah. Maka Kabeka tak ingin menutup jalan bagi para pembaca pemula (bukan dalam arti secara usia, melainkan secara kesadaran) untuk mendapatkan inspirasi itu. Dengan demikian datanglah sedikit-demi-sedikit teman-teman baru. Apakah mereka si pembaca sejati atau si pendengar sejati, keduanya sama pentingnya buat kami.



Setahun setelah dilahirkan, Kabeka mendapat hadiah blog dari Tata. Blog ini sedianya akan diisi oleh berbagai tulisan anggota Kabeka (baik resensi atau sekedar curhat). Namun bisa ditebak bahwa hingga tahun kedua ini, blog masih didominasi -dalam makna yang paling afektif- oleh Tata, sang admin yang memang mengalir deras darah kepenulisan.



Menjelang berusia dua tahun, Tata (lagi-lagi beliau; betapa banyak gagasan yang dimilikinya! Salut!) mengusulkan agar Kabeka mendeklarasikan diri sebagai Locavore, pro pangan lokal,  agar semakin nyata identitas  kita sebagai bangsa Indonesia. Usulan ini tidak berlebihan karena sejak pertemuan awal, sajian di Kabeka adalah sajian lokal, tradisional,  dan relatif murah meriah.


Pada hari Minggu tanggal 25 Mei, setelah tertunda-tunda karena kesibukan masing-masing, beberapa  anggota Kabeka pada akhirnya bisa berkumpul untuk syukuran ulang tahun kedua. 


Keakraban saya rasakan semakin nyata. Selain saya sebagai nyonya rumah dan Tata serta putrinya Putri,  ada Bakar Japet, Nuris, dan Fahmi. Fahmi mengajak istri dan putrinya yang masih berumur 4 bulan. Ah senangnya. Jadi terasa hangat dan semakin yakin bahwa Kabeka adalah sebuah keluarga yang menyenangkan.










Tuesday, February 18, 2014

Pertemuan KBK # 9 Februari 2014: Berkunjung ke Perpustakaan Aldo Zirsov


Berfoto bersama Aldo (berbaju biru di baris belakang) di perpustakaan
Pertemuan Klub Buku Kita (KBK) pada Februari berselang tidak lama dari pertemuan di Januari. Rencana untuk mengunjungi perpustakaan Aldo Zirsov sudah dibuat sejak akhir tahun lalu. Saat menjelang Februari, Aldo menyediakan waktu di hari Minggu, 9 Februari. Jadi, demikian lah, pertemuan KBK kali ini hanya berselang 2 minggu dari pertemuan sebelumnya. Yang tercepat sejak KBK ada.
Mungkin karena sebelumnya foto-foto perpustakaan Aldo sudah beredar di grup WhatsApp KBK, jadi banyak yang tertarik ya. Ada 13 orang yang datang. Delapan anggota lama yaitu, Nuris, Fahmi, Furqon, Lis, Lisa, Tata, Ronny, dan Fertina. Sedang empat lainnya anggota baru, yaitu: Rizki, Mundir, dan pasangan suami-isteri, Zaliansyah dan Rini Lucia.
Aldo tinggal di salah satu hometown yang akhir-akhir ini menjamur di wilayah Ciputat, dekat perbatasan Bintaro. Tidak sulit menemukan rumahnya karena sebelumnya Aldo memberikan arahan yang cukup jelas. Sepertinya hanya Nuris yang tersesat, karena kebablasan hingga ke Kandang Jurank, komunitas kreatif milik artis Dik Doank.   
Tapi, baiklah, kami memaklumi. Yang penting semua bisa berkumpul dan mendengar Aldo bercerita. O ya, sebelumnya seperti biasa ada gelaran camilan di meja. Masing-masing pamer potluck yang dibawa dari rumah. Ada ketan, kacang goreng, krupuk, getuk singkong, arem-arem, combro, dan dua macam buah: semangka dan papaya Calina. 


Potluck tradisional (kiri) dan bakso sajian Aldo (kanan)
Kacang Goreng Gentong spesial
 dari Nuris
Potongan pepaya Calina dan semangka
Pepaya Calina

Keberadaan buah jarang ada di pertemuan. Kali ini, Lisa bawa pepaya Calina – orang biasa menyebutnya sebagai papaya Kalifornia, dipercaya berasal dari Kalifornia. Belum banyak yang tahu bahwa papaya Calina adalah tanaman asli Indonesia.
Adalah almarhum Professor Sriani Sujiprihati, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan ahli genetika dan pemuliaan tanaman yang menemukan varietas pepaya Calina atau IPB-9. Selain Calina, ia juga menemukan varietas pepaya lain yang diberinama Carisya atau IPB-3. Yang terakhir ini di pasar dikenal sebagai pepaya Hawaii atau papaya Havana.
Para pedagang buah menganggap penamaan baru pada jenis-jenis buah dengan nama-nama negara lain lebih menaik minat pembeli. Padahal menurut etika, ini tidak boleh dilakukan. Pedagang tahu, konsumen Indonesia masih menganggap apa-apa yang berasal dari luar negeri adalah yang terbaik dibandingkan buatan lokal, jadi mereka memanfaatkan ‘kebodohan’ itu.
Semasa hidupnya, Prof. Sriani bekerja sebagai Kepala Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman Pusat Kajian Buah Tropika IPB. Ia dikenal sebagai profesor pepaya dan cabai karena penemuannya yang luar biasa pada dua  jenis tanaman itu. 

Untuk cabai, Prof. Sriani telah menemukan empat hibrida cabai unggul yait IPB CH1, CH2, CH3, dan CH4 yang punya keunggulan adaptif, produktivitas tinggi, tahan penyakit, benih murah dan kadar capsaicin tinggi. Capsaicin adalah senyawa kimia pada cabai yang menimbulkan rasa pedas. Semakin tinggi kadar capsaicin, semakin tinggi pula nilai ekonomis cabai di pasar.  


Alm. Prof. Sriani
Pepaya Calina adalah hasil penelitian Prof. Sriani selama tujuh tahun. Varietas baru itu lekas diminati petani buah karena pembudidayaannya yang mudah, cepat panen (umur 8 bulan sudah mulai panen), dan dalam satu pohon mampu menghasilkan hingga 40 buah meski tinggi batang belum mencapai satu meter. Pedagang pun senang menjual Calina, rasanya yang lebih manis dibanding pepaya lainnya membuatnya diminati konsumen.
Untuk pepaya Carisya, bentuknya lebih kecil, panjangnya sekita 16-18 cm, diameter 7-8 cm, dan bobot buah sekitar setengah kilogram saja. Daging buah Carisya jingga kemerahan dan rasanya tak kalah manis.
Begitulah kisah ringkas pepaya Calina dan Carisya, semoga menjadikan kita paham bahwa penamaan buah-buah itu hanya tipuan pedagang saja. Barangkali mulai sekarang kita bisa ikut memasyarakatkan bahwa namanya adalah pepaya Calina (baca: Kalina) bukannya Kalifornia, dan pepaya Carisya (baca: Karisya), bukannya Hawaii atau Havana.
Sekarang kita kembali dulu ke rumah Aldo dan menyimak ceritanya tentang dirinya dan kecintaannya pada buku.
Aldo dan Buku

Aldo kecil tumbuh dalam didikan keluarga yang mencintai buku di Padang, Sumatera Barat. Ayah dan ibunya secara berkala membelikan buku dan berlangganan majalah bagi Aldo dan kakak-kakaknya sesuai umur masing-masing. Pokoknya setiap anak dapat jatah, begitu cerita Aldo. “Jatah” yang dimaksud juga termasuk jatah untuk ikut kursus. Masing-masing anak dalam keluarga Aldo wajib mengantongi ijasah dari lembaga kursus.


Mendengar cerita Aldo
Nah, mulailah perilaku Aldo yang berbeda terlihat. Jika kesenangan baca buku dan majalah masih sama dengan saudara kandung lain, lain halnya dengan kursus. “Saya hanya minta mentahnya saja, saya pakai buat beli buku. Saya yakin bisa belajar sendiri semua ketrampilan secara otodidak,” ujarnya mantap. Aldo mengaku bisa mengoperasikan komputer tanpa harus kursus sebagaimana anak muda di jamannya kala itu.
Dengan “jatah kursus” yang didapat, Aldo kini melampiaskan keinginannya untuk bertualang. “Niat saya adalah mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya baca di buku. Saya naik apa saja, dari bis hingga numpang truk, asal bisa sampai”, ceritanya seru.
Perkenalan dengan pasar buku di Kwitang, di kawasan Senin Jakarta Pusat bermula saat Aldo kecil masih duduk di bangku SMP. Aldo mengagumi semua buku yang bertumpuk dan digelar. Berjam-jam ia nongkrong di sana hingga puas. Pada 1998, saat Aldo benar-benar tinggal di Jakarta, Kwitang adalah tempat yang sering ia kunjungi.
Mulailah Aldo menjalin pertemanan dengan para pedagang buku. Tidak hanya di Kwitang, tapi juga di beberapa tempat penjualan buku bekas, di Blok M, Kuningan, Jatinegara, TMII, juga kawasan UI, Depok. Beberapa pedagang memanfaatkan kepintarannya untuk tahu isi buku yang dijual, selanjutnya pedagang meneruskannya ke calon pembeli. “Itu jadi bahan buat dia ngecap,” kata Aldo tergelak mengingat masa-masa itu. 

Aldo menikmati pertemanan itu, jika sedang ada uang, ia tak segan mentraktir makan siang para pedagang. Hingga kini, sosok Aldo tidak asing lagi bagi para pedagang buku bekas di Jakarta dan sekitarnya.
Apa manfaat dari pertemanan itu? Yang utama, kata Aldo, ia bisa beli buku dengan harga murah. Selain itu, ia juga bisa dapat buku-buku langka yang sulit dicari.

Manfaat lain adalah Aldo kini punya trik-trik membeli buku bekas, di antaranya, jika ke lapak buku bekas jangan terlalu memperlihatkan keinginan pada buku tertentu. "Kalau pedagang tahu, bakal dimahalin, jadi tenang-tenang aja, bersikap biasa atau pura-pura tidak terlalu butuh," pesan Aldo. 

Trik lainnya adalah beli buku saat akhir bulan, jangan di awal bulan. Menurut Aldo, "Pedagang akan memanfaatkan momen itu karena anggapan umum awal bulan orang habis terima gaji. Jika beli saat akhir bulan bisa ngeles, bilang lagi nggak ada uang. Atau bahkan jika sudah kenal baik bisa berhutang dulu" 

Saat Aldo kuliah di Colorado, Amerika Serikat. Kegemarannya mengoleksi buku tak juga surut. Ia puaskan berburu buku-buku yang sulit dicari di Indonesia. Sayang, saat mengirim buku ke Indonesia ada satu kontainer yang hilang. Beberapa waktu kemudian Aldo menerima banyak surat elektronik dari orang-orang yang menemukan buku-buku Aldo.
Entah bagaimana buku-buku Aldo kini tersebar ke banyak lapak penjual buku bekas. Pada setiap buku, Aldo memberi stempel nama dan alamat surat elektronik. Nama Aldo Zirsov yang unik dan mirip orang Rusia membuat orang ingin tahu, mereka mengirimkan surat elektronik sekedar menyampaikan pesan bahwa buku Aldo sekarang ada pada dirinya.  
Koleksi buku Aldo kini mencapai puluhan ribu judul. Semua tersimpan rapi di rumahnya. Soal tempat ini jadi isu tersendiri dalam kehidupan Aldo. Sejak kost di Jakarta ia harus mencari tempat yang luas. “Setidaknya punya dua atau tiga kamar, untuk buku dan satu untuk saya tidur,” ujarnya.
Kedekatan dengan buku membuat ia juga berhati-hati memilih calon pendamping. “Harus yang suka baca buku, jika tidak lebih baik putus saja. Buku sudah menjadi bagian hidup saya,” ujar Aldo yang mendapatkan jodoh dari komunitas GoodReads Indonesia ini. Sayang, sang isteri sedang tugas ke Malaysia saat KBK berkunjung ke rumahnya.
Rumah Aldo berlantai dua. Perpustakaan nyaris memenuhi lantai dua. Meski Aldo punya aturan lantai satu bebas buku, tapi niat itu tak terpenuhi, “Sulit juga ternyata..,” ujarnya sambil menunjuk beberapa tumpukan buku di beberapa sudut di ruang tempat kami bertemu di lantai satu.
Usai berbincang, Aldo mengajak kami mengunjungi perpustakaannya. Anggota KBK berdecak kagum. Beberapa buru-buru mengabadikan ruang-ruang buku dengan kamera ataupun telepon genggam. Tak jarang mereka bergaya seolah jadi pemilik buku.




Aldo tidak sembarangan menyusun buku. “Saya bikin pemetaan pribadi tentang perpustakaan ini. Jadi saya tahu pasti dimana hendak mencari jika memerlukannya,” ujarnya sambil menunjuk deretan buku yang tersusun rapi.
Puas melihat-lihat perpustakaan dan berfoto kami menikmati sajian yang ada sambil berbincang ringan. Aldo berbaik hati memasak bakso bagi kami semua.

Terima kasih dan Doorprize

Sebagai ucapan terima kasih, KBK memberikan kenangan tanaman hias bagi Aldo dan isterinya. Sayang, momen serah terima tidak sempat terfoto.
Doorprize kali ini disumbang oleh Aldo. Ada enam buku yang diperebutkan. Yang mengherankan empat anggota baru semua beruntung mendapatkan doorprize. Dua lainnya direbut Furqon dan Fertina. 


doorprize ceremony
Sebelum pulang, Aldo berpesan agar kita mulai mengoleksi buku-buku seturut asal daerah masing-masing. Aldo misalnya sudah menunjukkannya dengan mengoleksi buku-buku tentang daerah Padang. “Bisa tentang apa saja lho, masakannya, cerita rakyatnya, tempat wisata, politik, atau latar belakang, apapun pokoknya mengenai daerah itu,” ujarnya.
Rupanya Aldo berencana membuat satu jaringan perpustakaan tentang berbagai daerah di Indonesia. Jika ada yang ingin tahu tentang Semarang, misalnya, bisa langsung mencari si A. Jika ingin mencari tahu tentang Jogyakarta bisa mencari ke B. Begitu seterusnya. Menurut Aldo, inilah salah satu upaya kita untuk mencintai daerah masing-masing. Untuk mencintai Indonesia. 

Terima kasih Aldo untuk pesan dan tip membeli buku bekas serta kerelaannya menerima KBK. Terima kasih untuk keikutsertaan anggota KBK dalam pertemuan kali ini. Sampai bertemu di pertemuan bulan depan!

Thursday, February 13, 2014

Antara Amy Tan dan Gogol

Oleh: Lisa Soeranto

"Tata, pinjemin aku buku lagi dong. Terserah, apa aja."  Lalu sampailah di tangan saya sebuah novel tentang kehidupan imigran dari Asia (India) yang hijrah ke Paman Sam. Novel berjudul "The Namesake" ditulis oleh Jhumpa Lahiri berdasarkan inspirasi kisah hidupnya. Mulai dari falsafah pemberian nama, keterikatan dengan tradisi Benghali yang sangat dijaga orangtuanya (terutama ibunya) sekalipun berada ribuan kilometer jauhnya dari tanahair, hingga problematika penyesuaian diri terhadap kehidupan praktis sehari-hari.

Lawan Dari Maut - The Opposite Of FateSaya mulai membacanya dan sebelum terlampau jauh, saya teringat sebuah buku yang saya beli beberapa tahun yang lalu di lapak diskon. Jenisnya otobiografi dari penulis keturunan China, generasi kedua dari kaum imigran seperti Jhumpa Lahiri juga. Namanya Amy Tan, ia menulis "The Opposite of Fate" yang terbit tahun 2003 di Amerika. 
Pada 2006, karya Amy itu diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul "Lawan Dari Maut". 


Amy menulis banyak novel yang terinspirasi oleh kehidupan orangtua (terutama ibunya). Salah satunya, "The Joy Luck Club" (TJLC) yang terinspirasi oleh kehidupan ibunya dan teman-temannya seperantauan di tanah asing tersebut. TJLC yang menjadi best seller, kemudian diangkat menjadi sebuah filem layar lebar oleh sutradara Amerika kelahiran China, Wayne Wang pada 1993. TJLC bercerita tentang empat wanita China perantauan yang tinggal di Amerika dengan anak perempuan mereka yang masing-masing lahir di Amerika.  

The Joy Luck Club (film).jpg
Poster Filem The Joy Luck Club
Di dalam otobiografinya, Amy Tan menggambarkan kehidupan mereka yang sarat dengan keyakinan-keyakinan akan adanya takdir, nasib-nasib buruk, dan arwah-arwah nenek moyang yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. 

Sekalipun ayah Amy adalah seorang penginjil, ibunya, Daisy, ternyata masih menyimpan kepercayaan-kepercayaan lama, yang masih bisa dijadikan tempatnya bersandar di kala resah. 

TheJoyLuckClub.jpgPada saat Daisy kehilangan suami dan anak laki-lakinya (kakak Amy) karena tumor otak, Amy mulai mengangkat tragedi-tragedi yang menimpa hidupnya dan berbicara tentang kutukan. Untuk melawan kutukan itu ia mulai menyebut-nyebut arwah masa lalu, mulai berdoa di depan lukisan ibunya, menemui seorang geomancer yang akan memeriksa arsitektur spiritual alias fengshui rumahnya, dan juga mendatangi para penyembuh iman. 

Menurut Amy, semenjak ayahnya meninggal, semakin banyak hantu yang melompat dari masa lalu ibunya: gagasan tentang pembalasan karma, reinkarnasi, dan hadirnya hantu-hantu  yang ditandai dengan gogongan anjing mereka, benda yang salah letak, pintu terbanting jika ada nama tertentu yang terucap. Hal tersebut juga yang dianggap Amy berefek pada dirinya yang sering berimajinasi atau mungin juga berhalusinasi: merasa mendengar suara langkah atau pintu-pintu yang dibanting.

Menurut saya, Amy Tan mengungkapkan keseharian kehidupan mereka sebagai kaum imigran dengan cara yang sangat santai dan memandang dari sisi yang positif. Bahkan sepanjang otobiografinya, ia tidak memberi kesan bahwa mereka terintimidasi oleh kenyataan bahwa mereka adalah kaum pendatang. 

Amy Tan dan ibunya
Amy memberi gambaran bahwa mereka berada di Amerika karena mereka juga berhak atas kesetaraan, seberapun dalamnya perbedaan-perbedaan yang ada dari sisi genetis, kebudayaan, dan bahasa ibu. Tentang kesenjangan bahasa, ia pun dapat menceritakan dengan tanpa tekanan. Ia tak hidup serta merta untuk menurut pada standar yang ditetapkan oleh negara di mana ia berpijak melainkan pada kepercayaan dirinya. Mungkin itu juga diperoleh dari ibunya.  



Dalam bukunya Amy menyatakan, 

"Anda harus tahu bahwa ibuku sering menggunakan kata-kata bahasa Inggris yang sebenarnya tidak dimengerti olehnya. Ia membaca laporan-laporan dari Forbes, mendengarkan berita Wall Street Week, berbicara setiap hari dengan pialang sahamnya, dan membaca buku-buku Shirley MacLaine dengan mudah - segala macam hal yang tak kupahami. Namun, beberapa temaku berkata bahwa mereka bisa memahami lima puluh persen perkataan ibuku. Beberapa yang lain berkata mereka dapat memahami delapan puluh sampai sembilan puluh persen. Beberapa lagi berkata mereka sama sekali tidak mengerti, seakan ibuku berbicara dalam bahasa Mandarin dan bukannya bahasa Inggris. Namun bagiku, bahasa Inggris ibuku benar-benar jelas dan normal. Itulah bahasa yang kukenal sejak kecil. Di telingaku , bahasa Inggris ibuku terasa jelas, tajam, penuh pengamatan dan penggambaran. Itulah bahasa yang telah membantu membentuk caraku memandang dan mengungkapkan berbagai hal, serta memahami dunia ini".

Amy Tan tampak santai menjalani takdirnya, sejak ia tahu bahwa ia terlahir dari pasangan imigran yang merupakan kombinasi dari seorang ibu yang unik dan masih bersandar pada kepercayaan asli leluhurnya dengan ayah yang disiplin dan kuat keimanan kristianinya. Semua ia terima sebagai takdir yang menyenangkan dan pada saat bersamaan ia juga memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi pilihan dalam hidupnya. Masa  remaja yang penuh  kesalahan, menjadi penulis ternama yang harus siap menerima kritikan pedas, bahkan saat ia harus menerima kenyataan bahwa ia pada akhirnya harus menderita penyakit Lyme yang serius, semua itu adalah jalan hidup yang diterimanya dengan positif dan tetap optimis.

Di bagian awal otobiografinya, Amy Tan menulis,  

"Ibuku percaya pada kehendak Tuhan selama bertahun-tahun. Rasanya seakan-akan ia telah membuka keran alam semesta dan kebaikan terus mengucur keluar. Ia berkata imanlah yang membuat segala hal yang baik itu muncul dalam lehidupan kami, tapi semula kupikir ia mengatakan "takdir (fate)", karena ia tidak bisa melafalkan bunyi "th" dalam katan "faith". Tapi kemudian aku berpendapat mungkin semuanya memang karena takdir semata, bahwa iman hanyalah ilusi untuk menunjukkan bahwa kita masih memegang kendali. Aku menemukan bahwa yang paling banter bisa aku miliki hanyalah harapan, dan dengan itu aku tidak menyangkal adanya kemungkinan, baik maupun buruk. Jadi maksudku, kalau saja ada pilihan, Tuhan yang Baik atau siapapun Dia, di sanalah letak jawaban semuanya."

Front CoverKembali pada novel Jhumpa Lahiri. The Namesake berisi cerita yang mungkin terasa umum dijumpai di keluarga-keluarga kaum imigran, yaitu lagi-lagi berkaitan dengan pola pikir dan latar belakang budaya negeri asal. Pergolakan batin terasa kuat sepanjang cerita dengan tokoh utama Gogol yang kemudian bernama Nikhil. 

Sungguh berbeda dengan proses adaptasi Amy tan dalam kisah pribadinya, Gogol digambarkan sebagai manusia yang tak benar-benar bisa merasakan nyaman di dalam "cangkang"nya yang bernama Benghali. Sepanjang hidupnya ia ingin melepaskan driri dari takdir turunan itu. Mungkin kah itu juga penggambaran ekstrem dari proses pencarian jati diri Jhumpa Lahiri?

Secara budaya, China dan India tentu saja berbeda. India, khususnya Benghali, memiliki tradisi pemberian nama yang khas. Begitu bayi lahir dalam sebuah keluarga, ia tak akan segera diberi nama. Bayi hingga usia tertentu (bisa hingga menjelang masuk sekolah dasar) akan dipanggil dengan nama panggilan yang biasa saja. Nama resmi atau yang disebut sebagai nama bagus, harus benar-benar dipilih dengan serius karena harus pantas disandang sepanjang hidup anak itu nanti saat berkiprah di masyarakat. 

Demikian juga Gogol. Sekalipun lahir dan tinggal di Amerika, ia tak luput dari tradisi tersebut. Ia belum dinamakan secara resmi oleh orangtuanya yang sedang menunggu sebuah surat dari nenek buyutnya yang telah menyediakan pilihan nama bagus bagi cicitnya. Namun surat tak kunjung datang hingga nenek buyutnya meninggal. 

Maka, Gogol yang mendapati dirinya dengan nama panggilan yang aneh (bukan nama Amerika, bukan pula India; melainkan Rusia), tetap bernama Gogol untuk waktu yang cukup lama karena setelah kejadian surat nenek buyut yang hilang di tengah jalan itu, orangtuanya tak kunjung menemukan nama bagus.  

Saat didaftarkan di sekolah, orangtuanya tak ingin mendaftarkan Gogol sebagai Gogol (sesuai nama resminya di paspor), melainkan dengan nama bagus, Nikhil. Rencana itu ditolak pihak sekolah. Gogol kecil  juga merasa tak mengenali dirinya sebagai Nikhil, nama yang tiba-tiba harus disandangnya. Maka sepanjang masa sekolahnya Gogol dikenal, baik secara resmi atau panggilan, tetap dipanggil Gogol. 

Namun saat memasuki perguruan tinggi, Gogol mendaftarkan pergantian namanya secara resmi melalui proses legalisasi di pengadilan. Kehidupan sebagai mahasiswa dimulai dengan nama Nikhil. Meski demikian, Gogol-baru-yang-kini-bernama-Nikhil ini tetap tak bisa lepas dari kenyataan bahwa sebenarnya dia masih Gogol yang dulu - seorang anak yang masih bingung dengan konsep dirinya.

The Namesake lekat dibalut proses pencarian jati diri yang rumit, meskipun -pada akhirnya- ada penemuan. Sepanjang sejarahnya hingga usia dewasa, Gogol mencoba mencari tahu posisinya baik dalam keluarga Beghali maupun di masyarakat Amerika. 

Semua prestasi sekolah dan karirnya tak melahirkan rasa percaya diri dan bangga akan asal-usunya. Gogol tetap saja seorang penyendiri di dunia yang ramai. Ia tahu ia berbeda, dan masalahnya ia terlalu berkutat dengan perasaan berbeda itu, lupa bahwa menjadi berbeda adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Masalahnya yang lebih gawat adalah dia ingin "membeli" apa yang menurutnya akan menjadi persamaan atau kesetaraan dengan orang-orang lain.

Jhumpa Lahiri
Melalui cara pandang Gogol, Jhumpa Lahir menggambarkan kehidupan keluarga Gogol sebagai keluarga yang selalu serius cenderung kaku. Semua langkah terasa diayunkan dengan hati-hati dan berat. Yang terasa adalah situasi-situasi yang selalu penuh kemuraman yang menekan, sekalipun ada kisah-kisah perayaan, seperti beberapa pesta ritual tradisi Bengali atau bahkan Thanksgiving dan Natal yang belakangan diadopsi keluarga Gogol. Kehidupan kelompok imigran India dari kacamata Gogol menjadi terlihat puritan, akibat problematika kegalauan Gogol.

Sama seperti novel Amy Tan, The Namesake juga diangkat ke layar lebar oleh sutradara wanita kelahiran India yang tinggal di New York, Mira Nair. Filem ini diputar di Amerika pada 2007. 


Poster Filem The Namesake
Proses pencarian jati diri dengan memakai "hal kecil tapi penting" seperti nama menurut saya adalah brilian, karena bisa merepresentasikan kegelisahan semua manusia saat ia merasa tidak berada di tempat dan/atau saat yang seharusnya. Dari situ, bisa menjadi pijakan awal manusia bergerak untuk menuju diri yang lebih berarti buat dirinya dan orang lain. 

Di bagian terakhir The Namesake, digambarkan  Gogol, berusia 32 tahun, baru mulai tergerak untuk membaca buku karya Nikolai Gogol yang diberikan almarhum ayahnya saat dia ulang tahun ke-14.

Dengan merenungkan anti kimaks kisah Gogol ini,  pembaca akan tahu bahwa pencarian jati dirinya telah mendekati garis akhir. Gogol -atau siapapun- ternyata tak perlu berlari kelelahan menjauh dari keluarga (yang nota bene berarti menjauh dari dirinya yang orisinil) demi menjadi diri sendiri... hanya untuk kemudian pulang dan menyadari bahwa penerimaan diri sejak awal adalah hakekat dari akhir dari pencarin jati diri.*