Tuesday, February 18, 2014

Pertemuan KBK # 9 Februari 2014: Berkunjung ke Perpustakaan Aldo Zirsov


Berfoto bersama Aldo (berbaju biru di baris belakang) di perpustakaan
Pertemuan Klub Buku Kita (KBK) pada Februari berselang tidak lama dari pertemuan di Januari. Rencana untuk mengunjungi perpustakaan Aldo Zirsov sudah dibuat sejak akhir tahun lalu. Saat menjelang Februari, Aldo menyediakan waktu di hari Minggu, 9 Februari. Jadi, demikian lah, pertemuan KBK kali ini hanya berselang 2 minggu dari pertemuan sebelumnya. Yang tercepat sejak KBK ada.
Mungkin karena sebelumnya foto-foto perpustakaan Aldo sudah beredar di grup WhatsApp KBK, jadi banyak yang tertarik ya. Ada 13 orang yang datang. Delapan anggota lama yaitu, Nuris, Fahmi, Furqon, Lis, Lisa, Tata, Ronny, dan Fertina. Sedang empat lainnya anggota baru, yaitu: Rizki, Mundir, dan pasangan suami-isteri, Zaliansyah dan Rini Lucia.
Aldo tinggal di salah satu hometown yang akhir-akhir ini menjamur di wilayah Ciputat, dekat perbatasan Bintaro. Tidak sulit menemukan rumahnya karena sebelumnya Aldo memberikan arahan yang cukup jelas. Sepertinya hanya Nuris yang tersesat, karena kebablasan hingga ke Kandang Jurank, komunitas kreatif milik artis Dik Doank.   
Tapi, baiklah, kami memaklumi. Yang penting semua bisa berkumpul dan mendengar Aldo bercerita. O ya, sebelumnya seperti biasa ada gelaran camilan di meja. Masing-masing pamer potluck yang dibawa dari rumah. Ada ketan, kacang goreng, krupuk, getuk singkong, arem-arem, combro, dan dua macam buah: semangka dan papaya Calina. 


Potluck tradisional (kiri) dan bakso sajian Aldo (kanan)
Kacang Goreng Gentong spesial
 dari Nuris
Potongan pepaya Calina dan semangka
Pepaya Calina

Keberadaan buah jarang ada di pertemuan. Kali ini, Lisa bawa pepaya Calina – orang biasa menyebutnya sebagai papaya Kalifornia, dipercaya berasal dari Kalifornia. Belum banyak yang tahu bahwa papaya Calina adalah tanaman asli Indonesia.
Adalah almarhum Professor Sriani Sujiprihati, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan ahli genetika dan pemuliaan tanaman yang menemukan varietas pepaya Calina atau IPB-9. Selain Calina, ia juga menemukan varietas pepaya lain yang diberinama Carisya atau IPB-3. Yang terakhir ini di pasar dikenal sebagai pepaya Hawaii atau papaya Havana.
Para pedagang buah menganggap penamaan baru pada jenis-jenis buah dengan nama-nama negara lain lebih menaik minat pembeli. Padahal menurut etika, ini tidak boleh dilakukan. Pedagang tahu, konsumen Indonesia masih menganggap apa-apa yang berasal dari luar negeri adalah yang terbaik dibandingkan buatan lokal, jadi mereka memanfaatkan ‘kebodohan’ itu.
Semasa hidupnya, Prof. Sriani bekerja sebagai Kepala Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman Pusat Kajian Buah Tropika IPB. Ia dikenal sebagai profesor pepaya dan cabai karena penemuannya yang luar biasa pada dua  jenis tanaman itu. 

Untuk cabai, Prof. Sriani telah menemukan empat hibrida cabai unggul yait IPB CH1, CH2, CH3, dan CH4 yang punya keunggulan adaptif, produktivitas tinggi, tahan penyakit, benih murah dan kadar capsaicin tinggi. Capsaicin adalah senyawa kimia pada cabai yang menimbulkan rasa pedas. Semakin tinggi kadar capsaicin, semakin tinggi pula nilai ekonomis cabai di pasar.  


Alm. Prof. Sriani
Pepaya Calina adalah hasil penelitian Prof. Sriani selama tujuh tahun. Varietas baru itu lekas diminati petani buah karena pembudidayaannya yang mudah, cepat panen (umur 8 bulan sudah mulai panen), dan dalam satu pohon mampu menghasilkan hingga 40 buah meski tinggi batang belum mencapai satu meter. Pedagang pun senang menjual Calina, rasanya yang lebih manis dibanding pepaya lainnya membuatnya diminati konsumen.
Untuk pepaya Carisya, bentuknya lebih kecil, panjangnya sekita 16-18 cm, diameter 7-8 cm, dan bobot buah sekitar setengah kilogram saja. Daging buah Carisya jingga kemerahan dan rasanya tak kalah manis.
Begitulah kisah ringkas pepaya Calina dan Carisya, semoga menjadikan kita paham bahwa penamaan buah-buah itu hanya tipuan pedagang saja. Barangkali mulai sekarang kita bisa ikut memasyarakatkan bahwa namanya adalah pepaya Calina (baca: Kalina) bukannya Kalifornia, dan pepaya Carisya (baca: Karisya), bukannya Hawaii atau Havana.
Sekarang kita kembali dulu ke rumah Aldo dan menyimak ceritanya tentang dirinya dan kecintaannya pada buku.
Aldo dan Buku

Aldo kecil tumbuh dalam didikan keluarga yang mencintai buku di Padang, Sumatera Barat. Ayah dan ibunya secara berkala membelikan buku dan berlangganan majalah bagi Aldo dan kakak-kakaknya sesuai umur masing-masing. Pokoknya setiap anak dapat jatah, begitu cerita Aldo. “Jatah” yang dimaksud juga termasuk jatah untuk ikut kursus. Masing-masing anak dalam keluarga Aldo wajib mengantongi ijasah dari lembaga kursus.


Mendengar cerita Aldo
Nah, mulailah perilaku Aldo yang berbeda terlihat. Jika kesenangan baca buku dan majalah masih sama dengan saudara kandung lain, lain halnya dengan kursus. “Saya hanya minta mentahnya saja, saya pakai buat beli buku. Saya yakin bisa belajar sendiri semua ketrampilan secara otodidak,” ujarnya mantap. Aldo mengaku bisa mengoperasikan komputer tanpa harus kursus sebagaimana anak muda di jamannya kala itu.
Dengan “jatah kursus” yang didapat, Aldo kini melampiaskan keinginannya untuk bertualang. “Niat saya adalah mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya baca di buku. Saya naik apa saja, dari bis hingga numpang truk, asal bisa sampai”, ceritanya seru.
Perkenalan dengan pasar buku di Kwitang, di kawasan Senin Jakarta Pusat bermula saat Aldo kecil masih duduk di bangku SMP. Aldo mengagumi semua buku yang bertumpuk dan digelar. Berjam-jam ia nongkrong di sana hingga puas. Pada 1998, saat Aldo benar-benar tinggal di Jakarta, Kwitang adalah tempat yang sering ia kunjungi.
Mulailah Aldo menjalin pertemanan dengan para pedagang buku. Tidak hanya di Kwitang, tapi juga di beberapa tempat penjualan buku bekas, di Blok M, Kuningan, Jatinegara, TMII, juga kawasan UI, Depok. Beberapa pedagang memanfaatkan kepintarannya untuk tahu isi buku yang dijual, selanjutnya pedagang meneruskannya ke calon pembeli. “Itu jadi bahan buat dia ngecap,” kata Aldo tergelak mengingat masa-masa itu. 

Aldo menikmati pertemanan itu, jika sedang ada uang, ia tak segan mentraktir makan siang para pedagang. Hingga kini, sosok Aldo tidak asing lagi bagi para pedagang buku bekas di Jakarta dan sekitarnya.
Apa manfaat dari pertemanan itu? Yang utama, kata Aldo, ia bisa beli buku dengan harga murah. Selain itu, ia juga bisa dapat buku-buku langka yang sulit dicari.

Manfaat lain adalah Aldo kini punya trik-trik membeli buku bekas, di antaranya, jika ke lapak buku bekas jangan terlalu memperlihatkan keinginan pada buku tertentu. "Kalau pedagang tahu, bakal dimahalin, jadi tenang-tenang aja, bersikap biasa atau pura-pura tidak terlalu butuh," pesan Aldo. 

Trik lainnya adalah beli buku saat akhir bulan, jangan di awal bulan. Menurut Aldo, "Pedagang akan memanfaatkan momen itu karena anggapan umum awal bulan orang habis terima gaji. Jika beli saat akhir bulan bisa ngeles, bilang lagi nggak ada uang. Atau bahkan jika sudah kenal baik bisa berhutang dulu" 

Saat Aldo kuliah di Colorado, Amerika Serikat. Kegemarannya mengoleksi buku tak juga surut. Ia puaskan berburu buku-buku yang sulit dicari di Indonesia. Sayang, saat mengirim buku ke Indonesia ada satu kontainer yang hilang. Beberapa waktu kemudian Aldo menerima banyak surat elektronik dari orang-orang yang menemukan buku-buku Aldo.
Entah bagaimana buku-buku Aldo kini tersebar ke banyak lapak penjual buku bekas. Pada setiap buku, Aldo memberi stempel nama dan alamat surat elektronik. Nama Aldo Zirsov yang unik dan mirip orang Rusia membuat orang ingin tahu, mereka mengirimkan surat elektronik sekedar menyampaikan pesan bahwa buku Aldo sekarang ada pada dirinya.  
Koleksi buku Aldo kini mencapai puluhan ribu judul. Semua tersimpan rapi di rumahnya. Soal tempat ini jadi isu tersendiri dalam kehidupan Aldo. Sejak kost di Jakarta ia harus mencari tempat yang luas. “Setidaknya punya dua atau tiga kamar, untuk buku dan satu untuk saya tidur,” ujarnya.
Kedekatan dengan buku membuat ia juga berhati-hati memilih calon pendamping. “Harus yang suka baca buku, jika tidak lebih baik putus saja. Buku sudah menjadi bagian hidup saya,” ujar Aldo yang mendapatkan jodoh dari komunitas GoodReads Indonesia ini. Sayang, sang isteri sedang tugas ke Malaysia saat KBK berkunjung ke rumahnya.
Rumah Aldo berlantai dua. Perpustakaan nyaris memenuhi lantai dua. Meski Aldo punya aturan lantai satu bebas buku, tapi niat itu tak terpenuhi, “Sulit juga ternyata..,” ujarnya sambil menunjuk beberapa tumpukan buku di beberapa sudut di ruang tempat kami bertemu di lantai satu.
Usai berbincang, Aldo mengajak kami mengunjungi perpustakaannya. Anggota KBK berdecak kagum. Beberapa buru-buru mengabadikan ruang-ruang buku dengan kamera ataupun telepon genggam. Tak jarang mereka bergaya seolah jadi pemilik buku.




Aldo tidak sembarangan menyusun buku. “Saya bikin pemetaan pribadi tentang perpustakaan ini. Jadi saya tahu pasti dimana hendak mencari jika memerlukannya,” ujarnya sambil menunjuk deretan buku yang tersusun rapi.
Puas melihat-lihat perpustakaan dan berfoto kami menikmati sajian yang ada sambil berbincang ringan. Aldo berbaik hati memasak bakso bagi kami semua.

Terima kasih dan Doorprize

Sebagai ucapan terima kasih, KBK memberikan kenangan tanaman hias bagi Aldo dan isterinya. Sayang, momen serah terima tidak sempat terfoto.
Doorprize kali ini disumbang oleh Aldo. Ada enam buku yang diperebutkan. Yang mengherankan empat anggota baru semua beruntung mendapatkan doorprize. Dua lainnya direbut Furqon dan Fertina. 


doorprize ceremony
Sebelum pulang, Aldo berpesan agar kita mulai mengoleksi buku-buku seturut asal daerah masing-masing. Aldo misalnya sudah menunjukkannya dengan mengoleksi buku-buku tentang daerah Padang. “Bisa tentang apa saja lho, masakannya, cerita rakyatnya, tempat wisata, politik, atau latar belakang, apapun pokoknya mengenai daerah itu,” ujarnya.
Rupanya Aldo berencana membuat satu jaringan perpustakaan tentang berbagai daerah di Indonesia. Jika ada yang ingin tahu tentang Semarang, misalnya, bisa langsung mencari si A. Jika ingin mencari tahu tentang Jogyakarta bisa mencari ke B. Begitu seterusnya. Menurut Aldo, inilah salah satu upaya kita untuk mencintai daerah masing-masing. Untuk mencintai Indonesia. 

Terima kasih Aldo untuk pesan dan tip membeli buku bekas serta kerelaannya menerima KBK. Terima kasih untuk keikutsertaan anggota KBK dalam pertemuan kali ini. Sampai bertemu di pertemuan bulan depan!

Thursday, February 13, 2014

Antara Amy Tan dan Gogol

Oleh: Lisa Soeranto

"Tata, pinjemin aku buku lagi dong. Terserah, apa aja."  Lalu sampailah di tangan saya sebuah novel tentang kehidupan imigran dari Asia (India) yang hijrah ke Paman Sam. Novel berjudul "The Namesake" ditulis oleh Jhumpa Lahiri berdasarkan inspirasi kisah hidupnya. Mulai dari falsafah pemberian nama, keterikatan dengan tradisi Benghali yang sangat dijaga orangtuanya (terutama ibunya) sekalipun berada ribuan kilometer jauhnya dari tanahair, hingga problematika penyesuaian diri terhadap kehidupan praktis sehari-hari.

Lawan Dari Maut - The Opposite Of FateSaya mulai membacanya dan sebelum terlampau jauh, saya teringat sebuah buku yang saya beli beberapa tahun yang lalu di lapak diskon. Jenisnya otobiografi dari penulis keturunan China, generasi kedua dari kaum imigran seperti Jhumpa Lahiri juga. Namanya Amy Tan, ia menulis "The Opposite of Fate" yang terbit tahun 2003 di Amerika. 
Pada 2006, karya Amy itu diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul "Lawan Dari Maut". 


Amy menulis banyak novel yang terinspirasi oleh kehidupan orangtua (terutama ibunya). Salah satunya, "The Joy Luck Club" (TJLC) yang terinspirasi oleh kehidupan ibunya dan teman-temannya seperantauan di tanah asing tersebut. TJLC yang menjadi best seller, kemudian diangkat menjadi sebuah filem layar lebar oleh sutradara Amerika kelahiran China, Wayne Wang pada 1993. TJLC bercerita tentang empat wanita China perantauan yang tinggal di Amerika dengan anak perempuan mereka yang masing-masing lahir di Amerika.  

The Joy Luck Club (film).jpg
Poster Filem The Joy Luck Club
Di dalam otobiografinya, Amy Tan menggambarkan kehidupan mereka yang sarat dengan keyakinan-keyakinan akan adanya takdir, nasib-nasib buruk, dan arwah-arwah nenek moyang yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. 

Sekalipun ayah Amy adalah seorang penginjil, ibunya, Daisy, ternyata masih menyimpan kepercayaan-kepercayaan lama, yang masih bisa dijadikan tempatnya bersandar di kala resah. 

TheJoyLuckClub.jpgPada saat Daisy kehilangan suami dan anak laki-lakinya (kakak Amy) karena tumor otak, Amy mulai mengangkat tragedi-tragedi yang menimpa hidupnya dan berbicara tentang kutukan. Untuk melawan kutukan itu ia mulai menyebut-nyebut arwah masa lalu, mulai berdoa di depan lukisan ibunya, menemui seorang geomancer yang akan memeriksa arsitektur spiritual alias fengshui rumahnya, dan juga mendatangi para penyembuh iman. 

Menurut Amy, semenjak ayahnya meninggal, semakin banyak hantu yang melompat dari masa lalu ibunya: gagasan tentang pembalasan karma, reinkarnasi, dan hadirnya hantu-hantu  yang ditandai dengan gogongan anjing mereka, benda yang salah letak, pintu terbanting jika ada nama tertentu yang terucap. Hal tersebut juga yang dianggap Amy berefek pada dirinya yang sering berimajinasi atau mungin juga berhalusinasi: merasa mendengar suara langkah atau pintu-pintu yang dibanting.

Menurut saya, Amy Tan mengungkapkan keseharian kehidupan mereka sebagai kaum imigran dengan cara yang sangat santai dan memandang dari sisi yang positif. Bahkan sepanjang otobiografinya, ia tidak memberi kesan bahwa mereka terintimidasi oleh kenyataan bahwa mereka adalah kaum pendatang. 

Amy Tan dan ibunya
Amy memberi gambaran bahwa mereka berada di Amerika karena mereka juga berhak atas kesetaraan, seberapun dalamnya perbedaan-perbedaan yang ada dari sisi genetis, kebudayaan, dan bahasa ibu. Tentang kesenjangan bahasa, ia pun dapat menceritakan dengan tanpa tekanan. Ia tak hidup serta merta untuk menurut pada standar yang ditetapkan oleh negara di mana ia berpijak melainkan pada kepercayaan dirinya. Mungkin itu juga diperoleh dari ibunya.  



Dalam bukunya Amy menyatakan, 

"Anda harus tahu bahwa ibuku sering menggunakan kata-kata bahasa Inggris yang sebenarnya tidak dimengerti olehnya. Ia membaca laporan-laporan dari Forbes, mendengarkan berita Wall Street Week, berbicara setiap hari dengan pialang sahamnya, dan membaca buku-buku Shirley MacLaine dengan mudah - segala macam hal yang tak kupahami. Namun, beberapa temaku berkata bahwa mereka bisa memahami lima puluh persen perkataan ibuku. Beberapa yang lain berkata mereka dapat memahami delapan puluh sampai sembilan puluh persen. Beberapa lagi berkata mereka sama sekali tidak mengerti, seakan ibuku berbicara dalam bahasa Mandarin dan bukannya bahasa Inggris. Namun bagiku, bahasa Inggris ibuku benar-benar jelas dan normal. Itulah bahasa yang kukenal sejak kecil. Di telingaku , bahasa Inggris ibuku terasa jelas, tajam, penuh pengamatan dan penggambaran. Itulah bahasa yang telah membantu membentuk caraku memandang dan mengungkapkan berbagai hal, serta memahami dunia ini".

Amy Tan tampak santai menjalani takdirnya, sejak ia tahu bahwa ia terlahir dari pasangan imigran yang merupakan kombinasi dari seorang ibu yang unik dan masih bersandar pada kepercayaan asli leluhurnya dengan ayah yang disiplin dan kuat keimanan kristianinya. Semua ia terima sebagai takdir yang menyenangkan dan pada saat bersamaan ia juga memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi pilihan dalam hidupnya. Masa  remaja yang penuh  kesalahan, menjadi penulis ternama yang harus siap menerima kritikan pedas, bahkan saat ia harus menerima kenyataan bahwa ia pada akhirnya harus menderita penyakit Lyme yang serius, semua itu adalah jalan hidup yang diterimanya dengan positif dan tetap optimis.

Di bagian awal otobiografinya, Amy Tan menulis,  

"Ibuku percaya pada kehendak Tuhan selama bertahun-tahun. Rasanya seakan-akan ia telah membuka keran alam semesta dan kebaikan terus mengucur keluar. Ia berkata imanlah yang membuat segala hal yang baik itu muncul dalam lehidupan kami, tapi semula kupikir ia mengatakan "takdir (fate)", karena ia tidak bisa melafalkan bunyi "th" dalam katan "faith". Tapi kemudian aku berpendapat mungkin semuanya memang karena takdir semata, bahwa iman hanyalah ilusi untuk menunjukkan bahwa kita masih memegang kendali. Aku menemukan bahwa yang paling banter bisa aku miliki hanyalah harapan, dan dengan itu aku tidak menyangkal adanya kemungkinan, baik maupun buruk. Jadi maksudku, kalau saja ada pilihan, Tuhan yang Baik atau siapapun Dia, di sanalah letak jawaban semuanya."

Front CoverKembali pada novel Jhumpa Lahiri. The Namesake berisi cerita yang mungkin terasa umum dijumpai di keluarga-keluarga kaum imigran, yaitu lagi-lagi berkaitan dengan pola pikir dan latar belakang budaya negeri asal. Pergolakan batin terasa kuat sepanjang cerita dengan tokoh utama Gogol yang kemudian bernama Nikhil. 

Sungguh berbeda dengan proses adaptasi Amy tan dalam kisah pribadinya, Gogol digambarkan sebagai manusia yang tak benar-benar bisa merasakan nyaman di dalam "cangkang"nya yang bernama Benghali. Sepanjang hidupnya ia ingin melepaskan driri dari takdir turunan itu. Mungkin kah itu juga penggambaran ekstrem dari proses pencarian jati diri Jhumpa Lahiri?

Secara budaya, China dan India tentu saja berbeda. India, khususnya Benghali, memiliki tradisi pemberian nama yang khas. Begitu bayi lahir dalam sebuah keluarga, ia tak akan segera diberi nama. Bayi hingga usia tertentu (bisa hingga menjelang masuk sekolah dasar) akan dipanggil dengan nama panggilan yang biasa saja. Nama resmi atau yang disebut sebagai nama bagus, harus benar-benar dipilih dengan serius karena harus pantas disandang sepanjang hidup anak itu nanti saat berkiprah di masyarakat. 

Demikian juga Gogol. Sekalipun lahir dan tinggal di Amerika, ia tak luput dari tradisi tersebut. Ia belum dinamakan secara resmi oleh orangtuanya yang sedang menunggu sebuah surat dari nenek buyutnya yang telah menyediakan pilihan nama bagus bagi cicitnya. Namun surat tak kunjung datang hingga nenek buyutnya meninggal. 

Maka, Gogol yang mendapati dirinya dengan nama panggilan yang aneh (bukan nama Amerika, bukan pula India; melainkan Rusia), tetap bernama Gogol untuk waktu yang cukup lama karena setelah kejadian surat nenek buyut yang hilang di tengah jalan itu, orangtuanya tak kunjung menemukan nama bagus.  

Saat didaftarkan di sekolah, orangtuanya tak ingin mendaftarkan Gogol sebagai Gogol (sesuai nama resminya di paspor), melainkan dengan nama bagus, Nikhil. Rencana itu ditolak pihak sekolah. Gogol kecil  juga merasa tak mengenali dirinya sebagai Nikhil, nama yang tiba-tiba harus disandangnya. Maka sepanjang masa sekolahnya Gogol dikenal, baik secara resmi atau panggilan, tetap dipanggil Gogol. 

Namun saat memasuki perguruan tinggi, Gogol mendaftarkan pergantian namanya secara resmi melalui proses legalisasi di pengadilan. Kehidupan sebagai mahasiswa dimulai dengan nama Nikhil. Meski demikian, Gogol-baru-yang-kini-bernama-Nikhil ini tetap tak bisa lepas dari kenyataan bahwa sebenarnya dia masih Gogol yang dulu - seorang anak yang masih bingung dengan konsep dirinya.

The Namesake lekat dibalut proses pencarian jati diri yang rumit, meskipun -pada akhirnya- ada penemuan. Sepanjang sejarahnya hingga usia dewasa, Gogol mencoba mencari tahu posisinya baik dalam keluarga Beghali maupun di masyarakat Amerika. 

Semua prestasi sekolah dan karirnya tak melahirkan rasa percaya diri dan bangga akan asal-usunya. Gogol tetap saja seorang penyendiri di dunia yang ramai. Ia tahu ia berbeda, dan masalahnya ia terlalu berkutat dengan perasaan berbeda itu, lupa bahwa menjadi berbeda adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Masalahnya yang lebih gawat adalah dia ingin "membeli" apa yang menurutnya akan menjadi persamaan atau kesetaraan dengan orang-orang lain.

Jhumpa Lahiri
Melalui cara pandang Gogol, Jhumpa Lahir menggambarkan kehidupan keluarga Gogol sebagai keluarga yang selalu serius cenderung kaku. Semua langkah terasa diayunkan dengan hati-hati dan berat. Yang terasa adalah situasi-situasi yang selalu penuh kemuraman yang menekan, sekalipun ada kisah-kisah perayaan, seperti beberapa pesta ritual tradisi Bengali atau bahkan Thanksgiving dan Natal yang belakangan diadopsi keluarga Gogol. Kehidupan kelompok imigran India dari kacamata Gogol menjadi terlihat puritan, akibat problematika kegalauan Gogol.

Sama seperti novel Amy Tan, The Namesake juga diangkat ke layar lebar oleh sutradara wanita kelahiran India yang tinggal di New York, Mira Nair. Filem ini diputar di Amerika pada 2007. 


Poster Filem The Namesake
Proses pencarian jati diri dengan memakai "hal kecil tapi penting" seperti nama menurut saya adalah brilian, karena bisa merepresentasikan kegelisahan semua manusia saat ia merasa tidak berada di tempat dan/atau saat yang seharusnya. Dari situ, bisa menjadi pijakan awal manusia bergerak untuk menuju diri yang lebih berarti buat dirinya dan orang lain. 

Di bagian terakhir The Namesake, digambarkan  Gogol, berusia 32 tahun, baru mulai tergerak untuk membaca buku karya Nikolai Gogol yang diberikan almarhum ayahnya saat dia ulang tahun ke-14.

Dengan merenungkan anti kimaks kisah Gogol ini,  pembaca akan tahu bahwa pencarian jati dirinya telah mendekati garis akhir. Gogol -atau siapapun- ternyata tak perlu berlari kelelahan menjauh dari keluarga (yang nota bene berarti menjauh dari dirinya yang orisinil) demi menjadi diri sendiri... hanya untuk kemudian pulang dan menyadari bahwa penerimaan diri sejak awal adalah hakekat dari akhir dari pencarin jati diri.*






Wednesday, February 12, 2014

Pertemuan KBK #26 Januari 2014, Tentang Membangun Indonesia Bersama Pak Didid

Ini pertemuan pertama di 2014. Sesuai kesepakatan semula, pertemuan bertempat di Sekolah Citra Alam Ciganjur, Jakarta Selatan. Tidak banyak yang datang. Kami hanya bersembilan orang, yaitu: Tata, Agung, Tita, Lisa, Arfi, Lis, Nuris, Fahmi, dan Furqon. Menjadi sepuluh orang dengan seorang tamu istimewa; Doktor Daddi Heryono Gunawan. Kami memanggilnya: Pak Didid.

Pak Didid adalah Dosen Fakultas Sosiologi Universitas Indonesia dan salah satu peneliti pada Lembaga Kajian Terorisme dan Konflik Sosial, Fakultas Psikologi di universitas yang sama. Sehari-hari, beliau bekerja sebagai Wakil Sekretaris Pribadi Presiden RI di Istana Negara. Pak Didid juga aktif menulis di media dan menjadi pembicara di banyak seminar dan diskusi.

Menjadi hal yang istimewa mendapati kehadiran Pak Didid dalam pertemuan Klub Buku Kita kali ini. Sungguh, ini adalah awal pertemuan yang baik di 2014.

Namun sebelum mengobrol, seperti biasa pada sesi awal kami bahas kuliner. Ada banyak camilan yang dihidangkan kali ini – padahal yang hadir hanya sedikit. Jika ditulis menjadi panjang daftarnya. Ada empek-empek Palembang, jagung rebus, gethuk singkong, kacang rebus, pie susu Bali, gemblong, kue unti, peyek kacang, peyek rebon. Ada juga minuman tradisional yaitu beras kencur dan kunyit asam.





Yang selalu hadir adalah bumbu pecel cap Gentong bikinan Nuris. Tapi kali ini, Nuris bawa juga bumbu urap. Sementara sayuran rebus pun beragam. Ada kubis, kacang panjang, tauge, kecipir, kangkung, dan yang istimewa ada daun beluntas.


Beluntas

Menurut wikipedia, beluntas merupakan tumbuhan semak yang bercabang banyak, berusuk halus, dan berbulu lembut. Umumnya tumbuhan ini ditanam sebagai tanaman pagar atau bahkan tumbuh liar, tingginya bisa mencapai 3 meter apabila tidak dipangkas, sehingga seringkali ditanam sebagai pagar pekarangan. Perbanyakannya dapat dilakukan dengan setek batang pada batang yang cukup tua

Beluntas (Pluchea Indica) adalah anggota keluarga bunga aster (Asteraceae) atau sering disebut bunga bintang. Ini adalah salah satu keluarga tanaman terbesar dan beragam. Peneliti menemukan ada sekitar 20ribu jenis spesies di planet bumi.

Begini penampakannya saat masih segar:


Hebatnya, kebanyakan anggota keluarga bunga aster bisa dimakan atau dimanfaatkan untuk pengobatan herbal. Sebut saja, bunga matahari, bunga krisan, dandelion atau ya topik kita kali ini - beluntas. Sayangnya, keluarga bunga aster mengandung zat alkaloid aktif yang bisa terkandung dalam akar, bunga, biji, atau daun sehingga kalau dikonsumsi rasanya menjadi agak pahit.

Pada beluntas, alkaloid berada pada bagian daun dan ditambah dengan zat tanin seperti yang terkandung dalam daun teh, daun beluntas getir jika dimakan. Bau daun beluntas juga agak menyengat karena mengandung minyak atsiri.

Beberapa khasiat beluntas yang sudah dikenal adalah mengatasi bau badan dan bau mulut tak sedap, mengatasi keputihan pada wanita, mengatasi nyeri haid, dan meningkatkan nafsu makan.

Meski bisa dimakan dan berkhasiat sebagai pengobatan, tampaknya belum ada yang berniat mengomersialkan daun beluntas. Nuris, pembawa pecel beluntas bilang, ia hanya minta ke tetangga yang berbaik hati memperbolehkannya memetik daun-daun beluntas untuk sajian KBK kali ini. Kehadiran si beluntas mendapat sambutan positif, Lisa, mengaku makan pecel dengan lahap gara-gara ada si beluntas. Dan, pecel pun licin tandas di akhir pertemuan KBK.

Begitulah sekilas kehadiran beluntas dalam sajian KBK. Berikutnya adalah tentang kehadiran Pak Didid yang memukau kami dengan kisah-kisah tentang Bali.


Kenapa Bali? Pak Didid mengaku lebih tertarik bicara soal Bali, karena selama beberapa tahun terakhir dia sungguh mempelajari masyarakat Bali. Bali adalah fokus utama disertasi saat meraih gelar Doktoral di Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Ini disertasi Pak Didid dalam bentuk buku: 


Pak Didid mulai perbicangan dengan menuturkan soal pencitraan Bali yang bertolak belakang dengan latar sejarah yang ada. Selama ini – atau setidaknya bagi generasi pasca kemerdekaan Indonesia, Bali dikenal sebagai daerah wisata yang cantik, tenang, dan nyaman. Pendeknya, semua tahu dan bahkan nyaris seluruh dunia mengenal Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata. 

Namun, kata Pak Didid, Bali sebenarnya punya latar sejarah yang mengerikan. Menurut Pak Didid, korban yang jatuh akibat G30S/PKI pada 1965 sebenarnya lebih banyak dibanding di Jawa. Dan jika merunut ke belakang lagi, sejarah Bali sarat dengan kekerasan dan kesadisan. Sebut saja Perang Puputan yang terjadi dua kali di Badung (1906) dan di Klungkung (1908) dimana para pejuang sungguh berjuang hingga titik darah penghabisan.

Kata “puputan” sendiri artinya berjuang sampai habis-habisan (puput), intinya saat itu mereka berjuang demi mempertahankan tanah air dari cengkeraman Belanda.

Menyimak Cerita Pak Didid 

Citra kekerasan yang ada di Bali membuat Belanda harus memikirkan suatu cara untuk 
menutupinya. Terlebih saat itu Ratu Willhelmina sudah mencanangkan adanya politik etis yang menyatakan bahwa Belanda memiliki hutang budi kepada negara jajahannya, dan oleh karenanya memiliki tanggung jawab untuk mensejahterakan rakyatnya.

Sebuah konsep khusus ditemukan untuk Bali, yaitu menjadikannya sebagai daerah tujuan wisata. Ini berangkat dari pemikiran tentang kebudayaan Bali sendiri yang pada 
kenyataannya tidak terpengaruh budaya-budaya besar yang mengelilinginya.

Sejak dua perang puputan itu, Belanda lantas mengubah kebijakan kolonialnya menjadi “Baliseering” atau Balinisasi Bali. Intinya adalah membiarkan dan bahkan melindungi orang Bali untuk meeruskan pola hidupnya sendiri yang “indah dan bebas” dari gangguan apapun. Sejak itulah, Belanda melihat Bali sebagai “museum hidup” - dunia yang mesti dilidungi dan dipertahankan keberadaannya.

Promosi wisata kemudian dibikin besar-besaran, brosur-brosur dicetak, beragam penelitian diadakan untuk membentuk citra Bali sebagai daerah yang sungguh berbudaya, sebagai daerah tujuan wisata yang cantik.

Begitu kuatnya pelaksanaan kebijakan itu, hingga sesudah Indonesia merdeka, kita dan bahkan dunia mengenal sebagai kawasan wisata yang indah. Bahkan lebih dikenal ketimbang Indonesia sendiri. Kita tidak peduli bahwa dengan itu masyarakat Bali justru kehilangan identitas. Kita melupakan bahwa Bali yang sekarang adalah Bali yang dibangun sesuai pemikiran Belanda.

Pada masa Orde Baru, lagi-lagi pemerintah mengonfirmasi kebijakan Belanda dengan mengonstruksi Bali secara besar-besaran, mirip cara Belanda. Di samping promosi wisata yang gencar, juga terlihat dengan dibangunnya kawasan Nusa Dua menjadi satu daerah wisata khusus tempat banyak seminar baik skala nasional hingga internasional sering diadakan.

Di masa kini, kenyataan Bali sebagai tujuan wisata menimbulkan konsekuensi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang harus ditanggung sendiri oleh masyarakat Bali. Dari sisi ekonomi dimana wisata digemborkan sebagai pendapatan utama, misalnya, terjadi ketimpangan pendapatan yang besar antara penduduk yang di perkotaan maupun di perdesaan.

Menurut penelitian, transaksi wisata berhenti sampai di kota karena wisatawan sering menggunakan jasa paket wisata yang kebanyakan diatur oleh pengusaha pariwisata di kota. Akibatnya penduduk di perdesaan nyaris tidak mendapat sepeser pun keuntungan. Mereka hanya menjadi obyek wisata dan bahkan harus mengeluarkan ongkos untuk menjaga agar lingkungan tetap eksotis di mata wisatawan.

Akibat kebijakan yang terus menerus dilakukan tanpa melihat kenyataan dan masa lalu Bali, hingga kini masyarakat di Bali merasa tidak sanggup hidup tanpa pariwisata.

Sebagai akademisi, Pak Didid menganjurkan untuk me-rekonstruksi Bali kembali bukan dari sudut pandang warisan kolonial ataupun dari pemerintah melainkan dari sudut pandang Bali sendiri. “Ini bukan saja tentang Bali. Melainkan tentang bagaimana kita menjadikan Indonesia yang baru. Ini tentang keterbukaan, kita harus melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia beragam. Jadi ini juga soal pluralisme”, tegas Pak Didid.

Konsep “Indonesia in the making” menurut Pak Didid, adalah tanggung jawab bersama, bukan melulu kepentingan sekelompok elit pemerintah. Dalam hidup sehari-hari, Pak Didid mengajak kita untuk menerjemahkan keindonesiaan seturut kemampuan masing-masing. 

Membuat kelompok baca buku seperti KBK adalah salah satu keikutsertaan yang positif dalam membangun Indonesia.“Karena komunitas buku adalah salah satu lokomotif perubahan,” ujar Pak Didid.

Waduh, tentu saja kami bangga mendengarnya. Namun, bukan itu saja yang membuat kami senang. Semua yang hadir merasa semakin terbuka mata dan pikirannya setelah mendengar dan berdiskusi dengan Pak Didid.

“Sungguh bersyukur saya bisa ikut mendengar Pak Didid bicara,” begitu kata Lisa. Yang lain pun mengamini dan berharap Pak Didid bersedia hadir lagi dalam pertemuan KBK yang akan datang.

Apa jawaban Pak Didid? “Ya, tentu saja saya mau, asal ada kacang rebus lagi,” katanya melalui pesan di telepon genggam. Baik, Pak, nanti pasti kami sediakan  :)

Di penghujung acara, kami membagi doorprize. Arfi beruntung mendapatkan pembakar dari Bali. Senyumnya sumringah saat namanya disebut sebagai pemenang doorprize,

  


Kami juga memberi ucapan terima kasih pada Pak Didid berupa bumbu pecel Gentong dan bubuk Jahe Merah. 


Pak Didid sendiri memberikan kenang-kenangan berupa dua buku tentang keindahan Indonesia kepada KBK yang selanjutnya disumbangkan kepada Perpustakaan Sekolah Citra Alam Ciganjur. Terima kasih, Pak Didid.

Dari Pak Didid ke KBK diterima Lisa

Dari Lisa ke Sekolah Citra Alam Ciganjur diterima ibu Anisa

Berikutnya adalah sesi foto bersama, sampai bertemu di bulan Februari :)