Tuesday, December 3, 2013

Membaca Tiga Novel Okky Madasari

Oleh: Lisa Soeranto 

Pasung Jiwa. Ini adalah buku ketiga dari penulis Okky Madasari yang saya lahap  dalam tempo singkat, sehari atau dua di sela-sela kesibukan mengurus rumah dan anak.  Dari empat karyanya, hanya novel berjudul 86 yang belum saya baca.

Jenis novel yang berlatar belakang kondisi sosial politik di negeri ini mungkin bukan lagi dari jenis yang saya beli dan baca dengan tekun. Berkat teman-teman di Klub Buku Kita ini, yang memiliki beragam selera dan kebaikan hati untuk meminjamkan buku-buku mereka, maka novel-novel  yang  tidak menjadi pilihan utama saya untuk menjadi bahan koleksi, kini bisa saya nikmati.

Buku pertama karya Okky yang saya baca  berjudul Maryam (2012) yang memperoleh Khatulistiwa Literary Award 2012, baru kemudian Entrok (2010), dan terakhir Pasung Jiwa (2013). Ketiganya saya pinjam dari Tata, penggagas blog Klub Buku Kita ini, sekaligus penulis utama dan satu-satunya yang rajin.

Di sampul belakang Pasung Jiwa, disebutkan bahwa karya-karya Okky terhubung dalam satu benang merah, yaitu perlawanan atas ketidakadilan dan perjuangan untuk kebebasan dan kemanusiaan. Lebih dari itu, saya sendiri memiliki persepsi yang lebih dari sekedar perlawanan dan perjuangan. Menurut saya novel-novel Okky mengungkapkan proses pencarian diri dan bagaimana diri tersebut memposisikan diri terhadap masalah-masalah “di sini dan saat ini” serta terhadap tujuan hidupnya.

Tentu saja setiap tokoh memiliki karakter masing-masing yang digambarkan dengan sangat jelas, baik dari sisi keberbedaannya maupun kesamaannya dengan tokoh-tokoh lainnya. Jadi, lebih dari sekedar pemberontakan jiwa yang tertindas oleh situasi, tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam ketiga novel tersebut memiliki benangmerah: mereka adalah diri-diri yang berusaha mencari jati diri sendiri dan kemudian membebaskan diri masing-masing dalam menentukan pilihan. Pilihan bisa berupa: menundukkan ego (menekan kehendak bebas) atau menuruti ego (membebaskan).

Dalam Maryam (tokoh utama Maryam) dan Entrok (tokoh utama ibu dan anak: Marni dan Rahayu), para tokoh utamanya pada akhirnya dihadirkan dalam gambaran nrimo. Meskipun dalam kontek sini, nrimo bukanlah status pasif dari jiwa, justru kondisi dimana jiwa berjuang lebih keras untuk mau menerima hal-hal yang tak sesuai kehendak bebasnya atau berjuang menundukkan kehendak liarnya. Dalam pandangan saya, penggambaran karakter Maryam dan Marni serta Rahayu tak sekuat karakter tokoh utama (Sasana/Sasa dan Cak Jek) dalam Pasung Jiwa. Bahkan pembaca diberikan juga di sana – sini petunjuk-petunjuk kecil tentang karakter-karakter manusia melalui penggambaran perilaku (keji, arogan, aneh, dan lain-lain) karakter-karakter lain.

Dalam Pasung Jiwa, sejak awal cerita pembaca sudah diajak memasuki hutan lebat yang terhalang semak berduri yang rapat. Problematika dalam keluarga Sasana/ Sasa mungkin tak beda dengan hampir semua keluarga menengah saat ini di kota-kota besar di Indonesia. Orang tua yang sukses, memiliki karier yang bagus, fasilitas hidup yang sangat memadai, lingkungan sosial yang baik, dan citra keluarga bahagia. Namun di balik semua itu, tersimpan banyak sekali cerita yang tak terungkapkan, karena mungkin di(ter)abaikan atau di(ter)tutup(i). Represi mayoritas dan senioritas berlaku di dalam keluarga, sebagaimana berlaku pula di masyarakat. Ada pihak yang di atas dan pihak yang bawah, terinjak dan berteriak. Cara hidup dan kehidupan yang memiliki definisi tunggal, yang dibuat oleh pihak yang paling kuat. Demikian kuatnya tekanan dari atas, hingga yang dibawah tak berani terbuka mengungkapkan diri. Yang terjadi kemudian adalah serangkaian pemberontakan yang tak dirancang, namun terburai keluar karena dorongan besar dari dalam diri yang tak sanggup lagi menahan amukan magma. Seperti diungkapkan di dalam novel ini: semua menjadi (“seolah”) tak terkendali. Tubuh bergerak sendiri, padahal pikiran menolak. Jiwa di mana?

Dinamika-dinamika sosial dan politik Indonesia menjelang Peristiwa Besar tahun 1998, yang menjadi latar cerita, sangat tepat untuk membantu memberi penguatan pada gambaran-gambaran ekstrim gejolak jiwa manusia (atau vice versa,  gambaran ekstrim gejolak jiwa menjadi latar cerita yang menarik untuk menggambarkan betapa ekstrim dan gentingnya situasi sosial politik kala itu). Jiwa manusia yang tertekan, terpasung, frustasi, dan merindukan kebebasan dan kebahagiaan, apa pun arti bahagia dan bebas itu. Pergolakan mencari jati diri, dilalui melalui pengalaman ekstrim yang menghapus garis batas antara kewarasan dan ketidakwarasan, kewajaran dan keanehan, antara aku dan “aku”, antara aku dan orang lain. Dalam Pasung Jiwa, penulis membiarkan dua tokoh utamanya mengalami “akhir bahagia”, yaitu kebebasan sesuai definisi mereka sendiri.

Benang merah yang lain dalam tiga karya Okky adalah pengungkapan hubungan khusus antara anak dan orang tua-nya. Dalam Maryam, Entrok, maupun Pasung Jiwa, hubungan konflik orang tua dan anak menjadi tema utama, bukan semata-mata untuk menggambarkan konflik dalam tataran keluarga, namun sebagai sebuah analogi dari konflik yang lebih luas. Efek dari hubungan yang ternyata dirasa represif oleh anak, nyata-nyata berakibat sangat buruk dan berbuah derita berkepanjangan, baik bagi orang tua maupun anak. Penggambaran hubungan konflik ini juga ekspresi dari hubungan antara pemerintah dan rakyat. Anak yang ditekan memberontak. Rakyat yang ditekanpun akhirnya memberontak. Jiwa yang ditekan akan lepas membebaskan diri.


Novel Pasung Jiwa, menurut saya sudah mencekam sejak awal, jika kita benar-benar masuk menyelami jiwa-jiwa dari para tokohnya. Menyelesaikan bacaan ini adalah kelegaan, karena seperti keluar dari gelapnya hutan rimba. Lalu membutuhkan waktu sejenak untuk merenungi dan mengambil makna dari novel yang, menurut saya, kompleksitas dinamika psikologis tokohnya tinggi.*

Monday, December 2, 2013

Tentang Elmer Yang Berbeda

Oleh: Elisabet Tata



Judul buku: 5 Kisah Elmer Si Gajah Perca
Penulis: David McKee
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2011
Tebal: 144 halaman 

Ini kisah tentang Elmer. Gajah kecil yang berbeda dari gajah lainnya. Ia unik. David McKee, penciptanya, menjulukinya sebagai Si Gajah Perca (the Patchwork Elephant). Sekujur tubuhnya tidak berwarna abu-abu sebagaimana layaknya binatang gajah, melainkan berwarna-warni – mirip sambungan perca.



Elmer memang beda. Tidak hanya karena penampilan fisiknya saja, tapi perangainya pun lain. Elmer usil, suka mengganggu, ia pembosan sehingga selalu mencaritahu apa yang bisa dilakukan untuk memecah kebosanan. Ada saja ulahnya untuk membuat suasana menjadi riang. Elmer sepertinya selalu punya energi untuk melakukan keisengan.



Karena itulah Elme dikenal tidak hanya di kawanan para gajah; binatang-binatang lain di hutan pun mengenal dan menyukainya. Selain suka berkawan, Elmer juga setia kawan. Ia suka menolong binatang yang sedang dalam kesulitan. Seringkali Elmer bersusah payah untuk itu.

Buku ini tentang kehidupan Elmer. Ada lima kisah di dalamnya. Yang pertama berjudul “Elmer”. Kisah pertama menceritakan tentang siapa Elmer dan bagaimana Elmer mulai merasakan bahwa ia memang beda.

Kisah kedua dan ketiga yang masing-masing berjudul: “Elmer dan Burung Besar” dan “Elmer dan Para Kuda Nil” bercerita tentang bagaimana Elmer menolong binatang-binatang lain yang sedang kesulitan.

Saat burung-burung kecil ketakutan dengan kedatangan seekor burung besar yang jahat, Elmer mampu menunjukkan bahwa kebersamaan kawanan burung kecil ternyata mampu mengalahkan seekor burung besar.

Perihal kebersamaan ini pula yang ditawarkan Elmer pada kawanan kuda nil dan kawanan gajah saat mereka berebut sungai untuk berendam. Elmer mengajak kedua kawanan untuk bersama menyingkirkan batu-batu yang menghalangi aliran air. Nah, kini masing-masing punya sungai untuk berendam

Pada kisah keempat yang berjudul: “Elmer dan Si Ular” kita bisa tahu bahwa Elmer pun pernah merasa untuk tidak ingin melakukan apa-apa. Saat ia hanya ingin diam saja dan tidur, giliran binatang-binatang lain punya ide untuk mengisengi Elmer. Keisengan itu berakhir dengan tawa. Dan sekali lagi suasana hutan jadi riuh oleh suara tawa binatang-binatang.

Kisah terakhir yang berjudul: “Elmer dan Pelangi” menceritakan bagaimana Elmer rela berkorban untuk kebahagiaan binatang-binatang di hutan. Cerita bermula saat musim hujan tiba dan binatang-binatang tak sabar melihat pelangi.

Nyatanya, pelangi yang muncul hanya berupa lintasan garis lengkung yang berwarna pucat. Elmer pun punya ide, akan memberikan warna-warna tubuhnya pada pelangi agar pelangi bisa berwarna lagi. Dan sekali lagi, Elmer berhasil. Pelangi kini berwarna. Seluruh binatang di hutan senang.

O ya, ada satu bagian yang paling saya suka pada kisah ini. Berikut saya kutipkan beberapa kalimat pada hal. 141:

Seekor gajah bertanya pada Elmer, “..kau telah memberikan warna-warnimu pada pelangi. Tapi kok kau masih memilikinya?”
Elmer tergelak, “Ada beberapa hal yang bisa terus kau berikan tanpa kehilangan apa pun. Hal-hal seperti kebahagiaan atau cinta atau warna-warniku.”

Indah ya….kini saya mengagumi Elmer dan segala keunikannya. Keberadaan Elmer mengajarkan bahwa menjadi beda itu asyik-asyik aja. Masing-masing individu terlahir unik. Dengan keunikan itulah kita bisa membantu dan membahagiakan sesama. 

Saya kira pesan McKee dalam buku ini adalah ajakan untuk menjaga keunikan masing-masing anak. Supaya dunia tidak tumbuh membosankan nantinya.  

Pesan yang bagus di buku bagus. Sayang, buku Elmer terbitan PT Bhuana Ilmu Populer ini dijilid dengan teknik jilid lem. Kelemahan jilid lem saya kira adalah gampang lepas. Ini buku anak-anak. Seharusnya dijilid dengan teknik yang lebih kuat. Jadinya halamannya seperti ini sekarang: 


Kembali ke Elmer. Karakter Elmer diciptakan pertama kali oleh David McKee pada 1968. Pada 1989, McKee membarui Elmer dan membuat serialnya hingga kini. Saya menghitung dari Wikipedia, ada 34 judul seri Elmer. Yang terakhir, terbit pada 2013 berjudul: “Elmer and the Whales”.

Selain dalam bentuk buku, kisah Elmer juga jadi serial televisi. Saya beri salah satu link-nya di youtube untuk melihat kisah Elmer yang berjudul “Elmer” atau cerita pertama tentang siapa Elmer. Sila klik di sini. Lainnya sila cari sendiri. Banyak, kok.

David (John) McKee, penulis dan ilustrator buku anak asal Inggris. Ia lahir di Devon, Inggris pada 2 Januari 1935. McKee kuliah di Plymouth College of Art, Inggris. Sembari kuliah, ia bekerja sebagai ilustrator komik di beberapa media cetak di Inggris. Setelah menamatkan kuliah, McKee bekerja untuk beberapa majalah sebelum akhirnya membuat karyanya sendiri.

Selain “Elmer”, buku McKee yang diangkat ke menjadi serial filem lain berjudul Mr. Benn (dibuat oleh BBC). Organisasi lain baik sosial maupun komersial menyewa McKee untuk menulis cerita filem-filem yang mereka buat.

Pada 1986, McKee mendapat penghargaan Deutscher Jugendliteraturpreis dari Pemerintah Jerman atas karya-karya sastra anaknya yang luar biasa. Pada 2006, McKee dinominasikan untuk memperoleh penghargaan Hans Christian Andersen Award, penghargaan bergengsi dari International Board on Books for Young People (IBBY) yang diberikan pada penulis atau ilustrator yang berdedikasi memberi kontribusi terhadap sastra anak.*



Saturday, November 23, 2013

Kisah Seekor Singa yang Tidak Bisa Menulis

Judul asli: Die Geschichte Vom Lowen der Nicht Schreiben Konnte (2002)

Pengarang dan ilustrator: Martin Baltscheit
Penerjemah: Nathalie Sugondho Nasution
Penerbit Feliz Books, Jakarta, 2011



Oleh: Elisabet Tata

Menurut saya, buku ini wajib dibaca atau dibacakan oleh dan untuk anak-anak. Bahkan, saya berandai-andai, jika jadi Menteri Pendidikan, saya akan memasukkannya dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setidaknya untuk murid kelas 4 ke atas.

Ini fabel yang bagus, bercerita tentang seekor singa jantan muda yang begitu bangga dengan dirinya. Ia punya auman hebat dan gigi yang menakutkan. Bukankah hanya itu yang perlu dimiliki seekor singa jantan agar tampak gagah? Singa itu mengabaikan kekurangannya yang lain, yaitu: tidak bisa menulis.



Satu hari ia jatuh hati dengan seekor singa betina cantik berkacamata yang suka membaca. Singa jantan ingin mendekatinya, tapi bagaimana caranya jika ia tak bisa menulis? Ia dengar kabar singa yang suka membaca adalah singa terhormat – jadi tidak bisa didekati begitu saja.



Maka singa jantan mencari binatang-binatang lain agar menuliskan sepucuk surat untuk singa betina. Mulai dari monyet, kuda nil, kumbang kotoran, jerapah, buaya, hingga burung pemakan bangkai membantu menulis surat.

Satu persatu binatang-binatang itu menulis surat.

Monyet misalnya, menulis ajakan untuk memanjat pohon sambil makan pisang, kuda nil menulis ajakan untuk berenang di sungai, dan kumbang kotoran mengajak untuk bermain kotoran dan mengoleskan kotoran di kertas sehingga baunya sungguh menyiksa hidung singa.

Tidak ada satupun yang sesuai.



Singa menjadi sangat kesal. Ia mengaum dengan keras sambil mengungkapkan perasaan yang ingin ditulisnya. Singa betina mendengar dan bertanya, “Kenapa kamu tidak menulisnya sendiri?”

Cerita berakhir happy ending. Kedua singa kini berkawan dan singa betina mengajarkan bagaimana cara menulis.



Indah bukan? Ringkas dan apik penyampaiannya. Pesannya jelas, menulislah agar kau bisa mengungkapkan perasaan dan pikiranmu. Sepandai-pandainya orang lain menuliskan sesuatu untukmu, itu tetap tidak akan mampu menjelaskan apa pikiran dan keinginanmu yang sesungguhnya.

Martin Baltscheit (47 tahun), penulis dan ilustrator buku anak ini tinggal di Dusseldorf, Jerman. Ia menuntaskan sekolah di Communication Design, Folkwang School, Essen, Jerman. Martin juga seorang pendongeng, dulunya ia pernah bekerja sebagai pemain sandiwara radio dan pemain drama. Karya-karya fabelnya sangat dikenal di Jerman. Sejak 1992, nyaris setiap tahun ia mendapat penghargaan dari banyak organisasi atas karya-karyanya.

Saya kira kita beruntung mendapat kesempatan membaca salah satu karya Martin dalam bahasa Indonesia. Adalah Goethe Institute Jakarta, lembaga kebudayaan Jerman di Jakarta yang membantu penerbitan buku karya Martin ini dalam bahasa Indonesia.

O, ya, saya menemukan versi lain dari kisah singa yang tidak membaca ini di Youtube. Sebuah sekolah di Jerman mementaskannya menjadi satu drama anak-anak dalam sebuah acara. Jika hendak melihatnya sila klik di http://www.youtube.com/watch?v=2yHMKOz59fY, barangkali terinspirasi.

Sunday, November 17, 2013

Bertualang di Dunia Teka-teki Heimann

Judul buku: Brain Busting Bonanza

Penulis & Ilustrator: Rolf Heimann
Penerbit: Little Hare Books, Australia (2003), reprinted in 2006
Oleh: Elisabet Tata

Ini buku baru di rumah kami. Hasil obrak-abrik lapak obral Gramedia. Cuma ada satu, nyelip di antara buku-buku berbahasa Indonesia. Lumayan, harganya ‘hanya’ Rp25.000,00. Di e-bay, buku-buku karya Heiman dijual dengan harga ratusan ribu rupiah. Jadi, ini kesempatan bagus. Segera ambil dan bayar.

Buku Heimann segera jadi kesukaan semua anggota keluarga. Berempat kami, aku, suami dan dua anak, masuk dan tenggelam dalam dunia teka-teki Heimann. Setiap halaman membuat kami tertantang. Seru dan mengasyikkan.

Saya sebenarnya kesulitan menceritakan tentang isi buku ini. Barangkali karena permainan di Indonesia tidak mengenal banyak jenis teka-teki ya, sehingga saya sulit menerjemahkan nama-nama permainan yang disajikan di buku ini.

Misalnya untuk maze saja, kita hanya mengenal istilah labyrinth (dalam bahasa Indonesia disebut labirin). Dalam Kamus Bahasa Indonesia, labirin adalah 1) tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku dan simpang siur, 2) sesuatu yang sangat rumit dan berbelit-belit (ttg susunan, aturan, dsb), 3) sistem rongga atau saluran yang berhubungan.

Maze dan labyrinth sebenarnya dua istilah yang berbeda. Maze adalah permainan tour puzzle (ah..dalam bahasa Inggris lagi) dalam bentuk jalur yang bercabang-cabang. Labirin tidak bercabang, ia hanya satu jalur; ada yang bilang lebih mudah keluar dari labirin ketimbang maze.

Nah, di Indonesia kita cukup menyebut beragam permainan asah otak sebagai teka-teki. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, teka-teki adalah 1) soal yang berupa kalimat (cerita, gambar) yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk mengasah pikiran, 2) hal yang sulit dipecahkan (kurang terang, rahasia).

Padahal, di buku Heimann ini ada beragam jenis teka-teki. Ini kutipan salam Heimann pada lembar kedua bukunya: Welcome to my biggest book ever of all-new mazes, puzzles, spottos, conundrum, quizzes, teasers, stumpers and bafflers!

Saya terus terang tidak punya istilah yang tepat untuk menyampaikannya dalam bahasa Indonesia satu persatu. Barangkali kalau ada yang mau sumbang saran, silakan saja.

Karena ini buku permainan, ia tidak terlalu memerlukan penomoran halaman sebagaimana layaknya sebuah buku. Yang ada adalah penomoran untuk setiap teka-teki yang berjumlah total 96 buah. Namun, jika ingin tahu ada berapa halaman, saya sudah hitung jumlahnya ada 31 halaman.

Pada masing-masing teka-teki ada kilasan cerita agar jadi tambah menarik. Buku ini bisa untuk segala umur. Tingkat kesulitan yang disajikan beragam, ada yang mudah seperti mencari perbedaan - saya bisa menganggapnya begitu karena si bungsu yang berumur 5 tahun bisa menjawabnya. Tapi ada pula yang rumit, pokoknya kalau sudah si sulung atau saya menyerah, hanya kepala suku atau suami yang mendapat tugas memecahkannya.

Saya beri kilasan-kilasan halaman di dalam buku ya..

Bantu ular kembali ke sarang


Pertukaran barang antar diplomat di galaksi Schnopos III


Jangan percaya pantulan naga di air, mereka ternyata tidak sama


Hujan kucing dan anjing. Eh, ada satu kucing dan anjing yang berbeda lho..


Tahukah jika pemilik dan binatang peliharaan itu punya kemiripan? Itu bisa untuk mencari siapa pemilik binatang peliharaan yang terlepas.


 Rolf Heimann adalah penulis dan ilustrator kelahiran Dresden, Jerman pada 1940. Ia menjadi imigran di Australia karena tak puas dengan kondisi politik di Jerman pada sekitar 1958. Umurnya 18 tahun ketika itu, memulai kerja serabutan dari pemetik buah, buruh, sebelum menekuni kembali dunia melukisnya.

Kekagumannya pada teka-teki maze bermula ketika Heimann kecil yang berumur 7 tahun terjebak di tengah labirin pagar tanaman. Lama ia tersesat hingga berpikir akan mati kelaparan di sana. Saat berhasil keluar, Heimann menemukan momen kelegaan yang luar biasa. Ia berharap momen kelegaan itu juga yang dirasakan pembaca saat berhasil memecahkan teka-teki Heimann.

Pada beberapa halaman terakhir buku, Heimann sebenarnya memberikan jawaban atas semua teka-teki yang ia berikan. Namun, saya usul jangan terburu-buru membukanya. Itu akan mengurangi momen kelegaan seperti yang diharapkan Heimann.

Heimann kini bermukim di Australia dan jadi warga negara Australia. Ia cinta benua Kanguru dan berterima kasih karena memberikan tempat untuk bermukim. Untuk mengungkapkannya, di dalam buku-bukunya Heiman selalu menyelipkan satu peta Australia. "It might be a patch on a sleeve, a reflection in a puddle or a flower". Yang ini tambahan teka-teki dari Heimann.

Thursday, November 14, 2013

Pertemuan KBK #September 2013

Pertemuan KBK bulan September diadakan di rumah moderator KBK, Lisa di daerah Cinere Sabtu, 21 September lalu. Sepuluh orang hadir. Selain empat orang anggota KBK lama, Tata, Lisa, Lis, dan Nuris; enam lainnya adalah wajah-wajah baru. 

Yang membanggakan karena tiga orang di antaranya adalah relawan guru yang terjun ke berbagai berbagai daerah tertinggal atau wilayah yang belum memiliki guru untuk membantu anak-anak Indonesia agar setidaknya melek huruf. 

Relawan guru itu tergabung dalam kelompok Relawan Sobat Bumi di bawah Pertamina Foundation. Mereka adalah (ki-ka) Nasihin, Amin Makmur, dan Ahmad Taufik:



Kami berbincang hangat dengan ketiga relawan itu. Sungguh, niat mereka memang tulus untuk membantu pendidikan di Indonesia. Mereka bahkan rela meninggalkan pekerjaan yang sudah mereka tekuni sebelumya untuk menjadi relawan. 

Empat anggota baru KBK lainnya adalah, Furqon dan Debbie serta pasagan suami isteri: Agung dan Tita. 

Selanjutnya kami mulai bicara tentang buku. Tidak ada tema khusus dalam pertemuan kali ini. Kami hanya cerita soal isi buku masing-masing dan mendiskusikannya. 

Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, ada doorprize buku sumbangan dari penerbit Eterna yaitu The Science of Superheroes.



Berikut adalah kilasan pertemuan kami. Seperti biasa, seru dan menyenangkan!


Suasana pertemuan


ki-ka: Agung, Debbie, Lisa

Ahmad Taufik (kiri) dan Amin Makmur (kanan)

Furqon beruntung mendapat doorprize


potluck1: tape daun jambu, manisan pala, kopi sachet

 potluck2: krupuk melarat dan permen Davos

Duplex, Davos, Sinai - permen favorit anggota KBK

Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 10 pagi itu berakhir pada sekitar pukul 13 siang. Kami senang, pulang pun dengan hati riang. Pasalnya, tuan rumah menyediakan plastik-plastik untuk membawa pulang makanan yang tersaji. 



Demikianlah. Pertemuan KBK memang selalu berakhir dengan HAPPY ENDING :)


Sampai bertemu di pertemuan KBK berikutnya!

Sunday, August 11, 2013

Tentang Schmidt, Tentang Masa Tua yang Sepi

Oleh: Elisabet Tata

Di masa libur lebaran ini, penyedia teve kabel langganan saya berbaik hati membuka semua saluran teve. Lumayan buat kami sekeluarga yang tidak berniat bepergian. Meski kadang harus berbagi dengan anak-anak, hari ini saya kebagian banyak waktu untuk menghibur diri.

Salah satu film yang saya tonton berjudul “About Schmidt” – sebuah drama komedi karya sutradara Alexander Payne yang dirilis pada 2002 dan dibintangi dua aktor favorit saya, Jack Nicholson dan Kathy Bates. Ini film yang mau saya bagikan kisahnya. Ceritanya film diambil dari novel karya Louis Begley berjudul sama yang diterbitkan oleh The Ballantine Publishing Group pada 1996.

Novel "About Schmidt" punya beberapa versi sampul. Ini salah satunya:


“About Schmidt” cerita tentang seorang laki-laki pensiunan bernama Warner J. Schmidt, diperankan Jack Nicholson. Ia tinggal di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat. Kisah dimulai saat Schmidt pensiun dari sebuah perusahaan asuransi. Semenjak itu, hari-hari Schmidt penuh kemurungan.

Ini poster filmnya: 


Sebagai seorang aktuaris, tugas Schmidt dulunya menaksir berapa lama seseorang bakal bertahan hidup untuk menghitung prakiraan nilai resiko yang harus ditanggung perusahaan asuransi. Kini Schmidt menghitung berapa sisa waktu bagi dirinya sendiri. Ia merasa harus melakukan sesuatu yang baik untuk menghabiskan masa tuanya.

Namun, sebagaimana layaknya pensiunan, Scmidt sering merasa kesepian, tidak berguna, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia juga merasa asing dengan suasana rumah, bahkan dengan Helen yang sudah menjadi isterinya selama 42 tahun .

Lately...every night. I find myself asking the same question: Who is this old woman who lives in my house? Why is that every little thing she does irritates me?”

Sebuah iklan di televisi tentang program foster parents (orang tua asuh) untuk anak-anak Afrika membantu Schmidt menemukan kesibukan baru. Ndugu Umbo, seorang anak yatim piatu berumur enam tahun yang tinggal di panti asuhan di Tanzania menjadi anak asuh Schmidt. Selain mengirim cek sejumlah 22 dolar tiap bulannya, para orang tua asuh diwajibkan menulis surat kepada anak asuhnya.

Mula-mula Schmidt kikuk. Namun, tak lama ia mendapati bahwa menulis surat untuk Ndugu adalah satu-satunya tempat dimana ia bisa melampiaskan seluruh perasaannya. Ada kelegaan usai ia menceritakan hari-hari yang dilaluinya pada Ndugu.

Kematian Helen menambah sepi hari-hari Schmidt. Tidak ada seorangpun yang dirasa mampu menghiburnya, bahkan Jeannie, anak tunggalnya yang tinggal di Denver. Jeannie datang dengan tunangannya, Randal Hertzel, seorang penjual kasur air. Mereka sebentar lagi akan menikah. Schmidt tak suka dengan calon menantunya. Ia berniat membatalkan pernikahan itu.

Dan mulailah petualangan Schmidt di hari-hari menjelang pernikahan anaknya.

Mengendarai sebuah mobil caravan, Schmidt mengunjungi tempat-tempat masa lalunya. Mulai dari rumah tempat ia menghabiskan masa kecil yang sudah berubah jadi toko ban, kampus, hingga museum. Ia tak lupa menuliskan perjalanannya pada Ndugu, teman kecilnya.

Pengalaman menginap di rumah besan menjadi satu kisah tersendiri. Roberta Hertzel, ibu Randal dan janda dua kali cerai dimainkan apik oleh Kathy Bates. Polah keluarga Hertzel yang dirasa konyol makin memantapkan Schmidt bahwa ia harus membatalkan pernikahan anaknya. Schmidt lupa, Jeannie kini bukan gadis kecilnya lagi. Upayanya gagal.  

Saat pernikahan tiba. Terpaksa lah Schmidt berpidato sebagai bapak dan besan yang baik di mata teman-teman Jeannie dan keluarga Hertzel.

Schmidt akhirnya pulang kembali ke Omaha. Meratapi kesepiannya dan mengutuki kebodohannya karena tak mampu mengendalikan anaknya lagi. Merasa nelangsa.   

Sebuah surat dari Tanzania menghiburnya. Seorang biarawati menulis mewakili Ndugu yang tidak bisa menulis maupun membaca. Ndugu mengucapkan terima kasih atas cerita-cerita Schmidt dan mendoakan kesehatannya. Ndugu juga mengirimkan gambarnya untuk Schmidt. Itu gambar sederhana saja. Dua orang besar dan kecil bergandengan tangan dengan latar langit biru.

Schmidt menangis melihat gambar itu. Ternyata masih ada yang bisa dilakukannya di masa tuanya. Demikianlah, dan film pun usai.

Saya terharu melihat adegan pamungkas itu. Film ini mengisi pikiran saya sepanjang siang hingga sore. Seperti apa ya kehidupan saya di masa tua nanti?

Bayangkan, jika terhadap pasangan dulu kita sering menilai: Every little things she/he does is magic, saat tua menjadi Every little things she/he does is irritating me

Di perumahan tempat saya tinggal, banyak sekali orang-orang lanjut usia (lansia). Ada yang setiap pagi jalan-jalan, ada yang suka ngerumpi bergerombol, ada yang hanya terdengar suaranya saja meneriaki cucunya untuk tidak ini dan itu, ada juga yang tiap pagi nongkrong di pasar dan berjajan. Saya rasa mereka adalah kelompok yang sudah tak produktif lagi.  

Di tempat lain, saya juga melihat banyak lansia yang masih produktif. Ada yang buka toko kecil, membuat kerajinan, berkebun, dan menjual masakannya. Orang-orang tua itu menghabiskan sisa harinya dengan caranya masing-masing.

Saya pun ingat ibu saya di Jogya. Beliau sudah menjanda sejak ayah saya meninggal 15 tahun lalu. Mantan politisi lokal semasa orde baru itu tiap hari masih saja menyimak berita dari koran, radio, maupun televisi. Niatnya selalu ingin tahu, tapi fisik menghalanginya. Kesukaannya berorganisasi sosial pun terpaksa terhenti karenanya. Ibu kini banyak menghabiskan waktu di rumah.

Ah, masa tua. Siapa mampu membayangkan seperti apa kelak…*

Catatan:

Louis Begley - Memories of a Marriage Louis Begley lahir di Stryl, Ukraina pada 6 Oktober 1933. Pensiunan pengacara ini alumni Fakultas Hukum Universitas Harvard yang lulus dengan predikat magna cum laude. Selain “About Schmidt” ia juga menulis sembilan novel lainnya. Novel terakhirnya yang baru saja diterbitkan oleh penerbit Nan A. Talese tahun ini berjudul: “Memories of a Marriage”.

Jack Nicholson mendapat nominasi Pemeran Utama Oscar 2002 dalam “About Schmidt”, sementara Kathy Bates mendapat nominasi pemeran pendukung terbaik. Film ini memenangkan Golden Globe Award untuk Best Screenplay dan Best Performance. Ia juga diputar dalam Festival Film Cannes 2002.

Tuesday, July 23, 2013

Naga Itu Tidak Ada

Oleh: Elisabet Tata


Itu judul buku milik sulung saya. Seperti ini sampulnya: 




Sekarang si sulung sudah kelas lima SD, kemarin sore ia masih menemukan buku itu di kamarnya, ia lantas mengangsurkan ke adiknya. “Dek, minta ibu bacakan cerita ini nanti malam ya,” pesannya.

Jadilah semalam sebelum bobo si dede minta dibacakan buku itu. Saya sendiri sudah lupa apa ceritanya. Setelah baca baru ingat lagi. Ini sungguh cerita bagus. Jack Kent, penulis sekaligus ilustrator buku asal Amerika itu memang brilian.

Baiklah, saya tuliskan dulu isi bukunya ya,

Ini kisah tentang seorang anak laki-laki bernama Billy Bixbee. Satu pagi, saat terbangun dari tidur ia melihat satu naga kecil di ujung tempat tidurnya. Berkali-kali Billy mencoba memberitahu ibunya soal keberadaan naga, tapi berkali-kali pula ibunya bilang, “Naga itu tidak ada”.

Dalam waktu singkat naga kecil membesar dan membesar, membuat ibu Billy kerepotan membersihkan rumah.



Kini tak ada ruang tersisa di rumah Billy, semua dipenuhi anggota badan Naga. Namun, ibu Billy tetap tak mau mengakui keberadaan naga hingga Billy akhirnya berteriak, “Naga itu ADA!” sambil membelai kepalanya.

Ajaib, tubuh naga menyusut lebih cepat dibanding saat ia bertambah besar. Kini ia jadi kecil seperti semula. Ibu Billy menyadari kekeliruannya dan berniat merawat naga kecil itu.

Menarik, bukan?

Cerita itu menyenangkan, sederhana, mudah dimengerti alurnya. Ada awal, masalah, dan penyelesaian. Anak saya geli melihat gambar tubuh naga membesar dengan cepat sesudah makan panekuk, ia juga tergelak saat tukang pos terpaksa berlari mengejar rumah yang dibawa lari naga karena mengejar mobil roti.  



Tapi Jack Kent sepertinya tidak hanya menulis cerita untuk anak-anak saja. Ia mengirimkan pesan tidak hanya pada anak-anak tapi juga pada orang tua.

Saat tubuh naga menyusut, ibu Billy bertanya, “Kenapa sih tadi dia harus tumbuh begitu BESAR?” “Entahlah,” kata Billy, “tetapi kurasa dia cuma ingin diperhatikan”.



Nah,

Bagi anak saya, cerita Billy dan naga kecil-nya mengajarkan untuk berbagi kasih sayang. Ia lihat itu pada gambar ibu membelai kepala naga.

Namun, saya juga melihat pesan Jack Kent pada saya melalui pernyataan Billy yang tadi saya kutip. Kata “cuma” menegaskan pesan itu. Kadang kita sering enggan untuk memberi perhatian pada orang lain, atau pada anak. Saya sendiri sering melakukannya.

Si bungsu yang baru berumur lima tahun sering melakukan hal-hal yang menurut saya “tidak penting” seperti menyusun barang-barang menjadi bentuk-bentuk tertentu. Usai membuat “karya instalasi” itu ia lantas akan teriak, “Ibu, lihat ini!”. Kadang saya hanya menengok sebentar dan bilang, “Ya, bagus!”. Tapi tak jarang jika saya sedang tanggung mengerjakan sesuatu, saya akan teriak, “Nanti ya dek, main sendiri dulu..”

Jack Kent seolah mengingatkan saya bahwa memberi perhatian itu perlu. Kita tidak pernah tahu bahwa perhatian kecil akan membuat perbedaan yang besar.

Selamat Hari Anak Nasional, ya!


Catatan:
"Naga Itu Tidak Ada" diterbitkan oleh Gramedia pada 1992. Buku aslinya berjudul "There’s No Such Thing as A Dragon" terbit pada 1975 oleh Western Publishing Company, Inc. Jack Kent bernama asli John Wellington Kent (10 Maret 1920-18 Oktober 1985) banyak menulis cerita anak. Ia pernah mendapatkan penghargaan dari the Chicago Graphics Associates dan the Children’s Book Clinic untuk karyanya berjudul “Just Only John” (1968).

Monday, May 20, 2013

Satu Tahun Klub Buku Kita

Oleh: Lisa Soeranto


Tanggal 20 Mei setahun yang lalu, beberapa teman dan teman dari teman berkumpul di rumah di sebuah kompleks perumahan di daerah Cinere. Saat itu kami berkumpul dengan niat untuk berbagi apa yang menjadi minat kami: buku, hobi, pengalaman menyenangkan. 

Sesederhana itu.

Niat membentuk sebuah klub buku dalam maknanya yang paling serius tak pernah ada dalam benak saya. Membuat sebuah kumpulan para penikmat buku dalam makna yang paling sederhana saja yang membuat kumpul-kumpul sambil cemal-cemil akhirnya berwujud sebuah klub buku.

Waktu berjalan dan pertemuan demi pertemuan terjadi berkat pertemanan yang menyenangkan. Berkat Lis Indriasti, praktisi pendidikan,  yang menggiring teman-teman gurunya. Berkat Elisabet Tata yang membawa pergaulan luasnya di dunia buku, penerbitan, dan sejenisnya, karena profesinya sebagai jurnalis.

Lalu kami mulai sering menyebut klub buku kami ini sebagai klub buku kita. Kita adalah semua yang merasa berkait dengan klub ini.  Pada hakekatnya ada kebebasan untuk “ngaku-ngaku” sebagai anggota klub ini. Tak masalah buat kami karena pada hakekatnya juga kami ada untuk memberi arti bagi semua yang mencari arti kedekatan, keakraban, pencarian akar, penerimaan diri, dan apa pun arti dari proses keluar dari rasa -katakanlah- apa pun.

Jika sebagian besar klub buku “serius” berkesan menyeramkan bagi sebagian pemula, maka klub ini menjadi semacam batu loncatan uji nyali buat para pencari makna “apa itu mencintai buku dan mengapa buku itu jendela hati sekaligus jendela dunia”.

Tak ada tuntutan apa pun, kecuali kerendah-hatian untuk mau berbagi dan mendengarkan sesama. Nyali hanya diuji dengan keberanian mendengar isi buku yang sedang diceritakan ulang oleh para anggotanya. Banyak yang berisi kemirisan hidup yang selama ini kita hindari untuk dibaca karena bukan dari kisah yang menjadi favorit kita.

Kerendah-hatian juga disyaratkan karena hanya dengan sikap itulah menimba ilmu (atau dalam istilah Jawa disebut ngangsu kawruh) bisa mencapai esensinya. 

Beberapa pertemuan klub ini memang menjadi seperti berguru pada ahlinya, karena dari lima kali pertemuan, kami telah beruntung mendapat tiga kali pertemuan dengan para narasumber yang mengagumkan.

Setahun berlalu, banyak yang masihmenjadi pertanyaan mengenai apa yang dicari dari kumpulan penikmat buku ini. Klub buku ini masih berupa, dan mungkin akan selamanya, menjadi klub buku tersantai yang pernah terbentuk.

Untuk itu, saya secara pribadi harus meminta maaf pada Elisabet  Tata, yang sungguh saya kagumi tulisan-tulisannya, karena saya tak bisa mendekati standar dari kualitas penulisan yang dimilikinya. Untuk ini, dia tahu apa yang saya maksudkan. Tugas menulis resensi tak pernah saya tuntaskan. Kebaikan hatinya lah yang membuat saya harus berterimakasih karena blog Klub Buku Kita (KBK), yang akhirnya menjadi nama resmi kumpulan penikmat buku ini, bisa dilahirkan dengan selamat.

Terimakasih khusus juga untuk para guru terhebat Lis dan Nuris yang menjadi penggerak KBK tersetia. (Lisa S. untuk  setahun KBK yang tercinta)

Pertemuan KBK yang pertama 20 Mei 2012

Wednesday, April 17, 2013

Sabuk Hijau Wangari

Oleh: Elisabet Tata


Judul Buku: Gerakan Sabuk Hijau, Judul asli: The Green Belt Movement: Sharing the Approach and the Experience. Penulis: Wangari Maathai. Penerjemah: Ilsa Meidina. Penerbit: Marjin Kiri, 2012, Tebal: xvi + 136 hlm

Entah saya yang sedang galau atau karena memang momen yang saya saksikan mengharukan. Yang jelas saat itu saya kok  terharu menyaksikan Wangari Muta Maathai, perempuan asal Kenya, Afrika itu menerima Nobel Perdamaian pada 2004 lalu.

Panitia Nobel Norwegia menganggap Wangari layak menerima Nobel atas sumbangsihnya dalam “pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian” dunia. Itu semua dilakukan Wangari melalui Gerakan Sabuk Hijau yang digagasnya dan yang kini menjadi inspirasi gerakan penanaman pohon di banyak negara lain.

Wangari sudah tiada. Ia meninggal akibat kanker pada 25 September 2011 di usia 71 tahun, tapi gagasannya terus dijaga melalui lembaga Wangari Maathai Institute for Peace and Environmental Studies.

Saya tentu saja tidak ikut ke Norwegia, hanya lihat dari film dokumenter pendek berjudul Planting Hope. Ini film karya Alan Dater dan Lisa Merton dari Marlboro Production. Lewat film berdurasi 7 menit itu saya menyaksikan kilasan perjuangan Wangari bersama perempuan-perempuan perdesaan di Kenya hingga memperoleh penghargaan bergengsi: Nobel Perdamaian.

Saya sendiri merasa Wangari layak mendapatkannya setelah apa yang diperjuangkannya sejak 1974 di Kenya. Rasa hormat saya muncul bukan saja karena telah menyaksikan film pendek itu tapi juga usai membaca buku karya Wangari berjudul Gerakan Sabuk Hijau. Ini buku terbaru yang diterbitkan Marjin Kiri. Ia diluncurkan ke pasar 25 November 2012 lalu untuk turut merayakan gerakan menanam pohon di Indonesia yaitu: Hari Penanaman Pohon pada tanggal yang sama dan Bulan Menanam Pohon di sepanjang Desember.

Buku Wangari tentang Gerakan Sabuk Hijau yang pertama terbit pada 1985. Edisi revisi pertama muncul pada 2003. Revisi kedua pada 2004 setelah ada perubahan kondisi politik di Kenya, yaitu penunjukan Wangari sebagai Wakil Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam oleh Presiden Kenya, Mwai Kibaki pada 2003. Revisi ketiga muncul pada 2006, dilengkapi dengan Pengumuman Penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 2004 untuk Wangari dan wawancara dengan Wangari.  

Nah, yang saya baca adalah terjemahan dari revisi ketiga itu. Ada yang berbeda dibanding aslinya. Pada edisi terjemahan ini Marjin Kiri tidak memuat dua “pelengkap” yang saya sebutkan namun menggantinya dengan tulisan karya John Vidal berjudul “Mengenang  Wangari Maathai” yang dimuat di the Guardian, surat kabar Inggris, 26 September 2011 dan Pidato Wangari saat menerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 2004. Saya rasa keduanya benar-benar melengkapi isi buku.

Yang pertama, tulisan John Vidal, redaktur lingkungan the Guardian, adalah semacam biografi ringkas. Ini memudahkan pembaca Indonesia untuk mengenal siapa Wangari Maathai dan memahami perjuangannya demi lingkungan dan kaum perempuan. Wangari berpendapat: kaum perempuan lah yang terimbas dampak terburuk kerusakan lingkungan. Yang kedua, pidato Wangari saat menerima Nobel yang berisi ungkapan perasaan dan pikiran Wangari terhadap Gerakan Sabuk Hijau.

Isi buku Gerakan Sabuk Hijau sendiri menceritakan bagaimana awal gerakan berdiri, tujuan pendirian, pengorganisasian, berbagai kendala yang menghadang, pengukuhan gerakan, sekaligus gambaran gerakan di masa depan. Buku ini ditulis dengan gaya runut seturut perjalanan waktu. Pada bagian pembuka, pembaca diajak untuk mengenal negara Kenya, baik secara geografis maupun politis. 

Wangari adalah perempuan pertama dari Afrika Timur maupun Afrika Tengah yang meraih gelar PhD dalam bidang Kedokteran Hewan dari Universitas Nairobi, Kenya. Saat memulai Gerakan Sabuk Hijau pada 1977, ia sudah bergelar Professor dan menjadi Ketua Jurusan Anatomi Kedokteran Hewan di Universitas Nairobi.

Masuk dalam jajaran sedikit orang terpelajar sekaligus aktivis sosial di Kenya, sosok Wangari yang saat itu menjadi Ketua Palang Merah Nairobi dengan mudah menjadi incaran saat sebuah lembaga bernamaEnvironment Liasison Centre (ELC) mencari orang lokal untuk menggantikan anggota dewan yang berasal dari Utara.

ELC sendiri adalah pusat kegiatan bagi LSM-LSM Utara yang tertarik untuk menjalin kerjasama dengan United Nations Environmet Program (UNEP/Program Lingkungan PBB) yang baru saja berdiri di Nairobi pada 1972. Dalam perkembangannya, ELC kini dikenal sebagai ELCI, Environment Liasison Centre International. Sebagai catatan, pendirian UNEP ini adalah hasil dari Konferensi PBB tentang Lingkungan Manusia di Stockholm pada tahun yang sama.

Semenjak itulah isu lingkungan masuk dalam pemikirannya. Namun baru pada 1974 ia benar-benar mulai fokus pada isu penghijauan dan reboisasi. Mulanya Wangari menggunakan isu itu untuk membantu suaminya, Mwangi Mathai yang sedang kampanye politik untuk pemenangan dirinya sebagai anggota parlemen daerah. Wangari menjanjikan penggalakan penanaman pohon sekaligus membuka lowongan kerja di daerah Lang’ata, Nairobi.  

Saat suaminya memenangi pemilu, ia menepati janjinya dengan membuka perusahaan bernama Envirocare, Ltd. Ini sebuah perusahaan yang akan mempekerjakan para pemilih untuk membersihkan rumah warga di Lang’ata dan menanam pohon bilamana diperlukan. 

Jalan tak selalu mulus. Kerja Envirocare tersendat, karena dana terbatas. Namun Wangari tak patah semangat, ia mengikutsertakan perusahaan kecilnya ke pameran internasional dengan harapan mendapat perhatian dari dunia luar. Hasilnya, tak satupun yang menemuinya di pameran datang mengambil bibit. Lantas ia ikuti beberapa pertemuan yang bertaraf internasional di manca negara. Ia bertemu dan berbagi pengalaman dengan banyak aktivis lingkungan dari belahan dunia lain. Semangatnya menyala kembali.

Satu saat, dalam sebuah seminar di Nairobi, Wangari mendengar fakta yang mencengangkan tentang kondisi gizi buruk pada masyarakat di Provinsi Tengah. Salah satu hal yang membuat Wangari melebarkan telinganya adalah karena Wangari menghabiskan masa kecilnya di sana, di daerah bernama Nyeri.

Seorang pembicara menyampaikan tiga hal penyebab gizi buruk. Pertama, petani menggenjot pertanian komoditas dengan mengorbankan pertanian keluarga dengan logika bahwa areal yang sama jika digunakan untuk tanaman komoditas dapat menghasilkan pendapatan lebih. Nyatanya, ada mismanajemen sehingga petani mendapat bayaran kurang. Akibatnya keluarga petani tidak mampu memberi asupan makan seimbang hingga menyebabkan gizi buruk.

Kedua, petani berpenghasilan sedang cenderung mengorbankan makanan tradisional non-olahan seperti umbi-umbian serta sayuran lokal dan mengikuti pola makanan orang kota. Karena harga bahan makan orang kota itu cukup tinggi petani tidak mampu menyediakannya secara rutin. Ini juga mengakibatkan ketidakseimbangan asupan nutrisi dan akhirnya menimbulkan gizi buruk.

Ketiga, terjadinya kelangkaan kayu bakar yang menyebabkan beberapa keluarga memilih mengonsumsi makanan yang dimasak dengan sedikit kayu bakar atau bahkan tidak perlu sama sekali. Ini pun menimbulkan gizi buruk.

Bagi Wangari, solusi untuk permasalahan tersebut adalah menanam pohon. Memang sulit menyampaikan penjelasan yang masuk akal pada masyarakat desa. Setidaknya, yang paling jelas adalah dengan menanam pohon penduduk mudah mendapatkan kayu bakar. Meski ada kendala di awal, gerakan menanam pohon yang pertama pun berhasil dimulai tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 1977 di Nairobi.

Aksi itu menjadi awal gerakan sabuk hijau yang pertama meski saat itu program penghijauan itu bernama Selamatkan Tanah Harambee. Dalam bahasa Kiswahili, Harambee berarti “Mari kita usahakan bersama.” Program itu dilaksanakan Wangari bersama dengan NCWK (National Council Women of Kenya) yang beranggotakan mayoritas adalah perempuan desa.

Program itu disambut positif hingga tak lama kemudian, pada September 1977, aksi menanam pohon kedua diadakan kembali saat Kenya menjadi tuan rumah Konferensi PBB tentang Penggurunan di Nairobi.

Minat masyarakat untuk melakukan aksi serupa muncul di berbagai daerah di Nairobi hingga diputuskan untuk menanam barisan pohon dalam barisan sekurang-kurangnya seribu bibit guna membentuk sabuk-sabuk hijau pepohonan. Sabuk-sabuk itu kelak bermanfaat sebagai tempat berteduh, penahan angin, memfasilitasi pelestarian tanah, meningkatkan keindahan pemandangan dan memberikan tempat bagi burung-burung dan hewan kecil.

Sejak itulah aksi menanam pohon bersama-sama itu berubah menjadi Gerakan Sabuk Hijau dengan kaum perempuan sebagai penggerak utamanya. Aksi ini memulihkan citra perempuan dan bahkan memotivasi kaum pria bersama-sama melakukan penanaman pohon demi keluarganya, demi anak-cucunya. 

Wangari tak hanya menganjurkan masyarakat menanam pohon untuk keperluan kayu bakar semata ataupun memunculkan kembali mata air, melainkan juga menganjurkan untuk melestarikan tanaman sumber pangan lokal untuk ketahanan pangan. Selain itu Wangari juga memasukkan pemahaman akan isu kewarganegaraan pada masyarakat desa.

Yang terakhir itu melibatkan serangkaian aksi demonstrasi mengecam tindakan pemerintah yang dianggap tidak menjaga lingkungan. Beberapa aksi demo yang dilakukan misalnya aksi mengecam pembangunan yang dilakukan di Taman Nasional, aksi demo mengecam pejabat pemerintah yang melakukan korupsi dana pembangunan, dsb.

Gerakan Sabuk Hijau menarik minat UNEP yang kemudian meminta Waingari untuk membuat replika aksi serupa di negara-negara lain. Sejak 1988, dimulailah aksi Gerakan Sabuk Hijau di luar Nairobi dan yang kemudian merambah ke berbagai negara lain hingga kini.

Di bagian akhir buku ini, dalam pidato penerimaan Nobel, Waingari mengungkapkan masa kecilnya. Ia cerita saat kecil sering disuruh ibu mengambil air di sungai kecil di sebelah rumah. Di sungai itu Waingari kecil bisa minum air langsung, di air sungai yang jernih itu pula ia bisa melihat ribuan kecebong (anak katak) menggeliat-geliat. Sayang, saat dewasa ia mendapati sungai itu sudah kering.

Tantangannya kini, lanjut Waingari, adalah mengembalikan rumah kecebong-kecebong itu dan memberikan kembali kepada anak-anak kita sebuah dunia yang indah dan menakjubkan.

Kesan saya secara keseluruhan buku ini inspiratif. Ditulis dengan gaya dan tata bahasa yang tidak rumit, bahkan cenderung teknis di beberapa bagian. Sangat mudah dipahami. Bagi yang ingin melakukan gerakan serupa – terutama kalangan akademis yang sering kesulitan untuk berkomunikasi di lapangan - sila baca bukunya. Saya bisa katakan, inilah rujukan dan panduan terbaik yang bisa Anda baca.*

Catatan:
1. Situs Gerakan Sabuk Hijau bisa diakses di: http://www.greenbeltmovement.org
2. Film pendek Planting Hope bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=Es6eVgmPWJM