Wednesday, April 17, 2013

Sabuk Hijau Wangari

Oleh: Elisabet Tata


Judul Buku: Gerakan Sabuk Hijau, Judul asli: The Green Belt Movement: Sharing the Approach and the Experience. Penulis: Wangari Maathai. Penerjemah: Ilsa Meidina. Penerbit: Marjin Kiri, 2012, Tebal: xvi + 136 hlm

Entah saya yang sedang galau atau karena memang momen yang saya saksikan mengharukan. Yang jelas saat itu saya kok  terharu menyaksikan Wangari Muta Maathai, perempuan asal Kenya, Afrika itu menerima Nobel Perdamaian pada 2004 lalu.

Panitia Nobel Norwegia menganggap Wangari layak menerima Nobel atas sumbangsihnya dalam “pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian” dunia. Itu semua dilakukan Wangari melalui Gerakan Sabuk Hijau yang digagasnya dan yang kini menjadi inspirasi gerakan penanaman pohon di banyak negara lain.

Wangari sudah tiada. Ia meninggal akibat kanker pada 25 September 2011 di usia 71 tahun, tapi gagasannya terus dijaga melalui lembaga Wangari Maathai Institute for Peace and Environmental Studies.

Saya tentu saja tidak ikut ke Norwegia, hanya lihat dari film dokumenter pendek berjudul Planting Hope. Ini film karya Alan Dater dan Lisa Merton dari Marlboro Production. Lewat film berdurasi 7 menit itu saya menyaksikan kilasan perjuangan Wangari bersama perempuan-perempuan perdesaan di Kenya hingga memperoleh penghargaan bergengsi: Nobel Perdamaian.

Saya sendiri merasa Wangari layak mendapatkannya setelah apa yang diperjuangkannya sejak 1974 di Kenya. Rasa hormat saya muncul bukan saja karena telah menyaksikan film pendek itu tapi juga usai membaca buku karya Wangari berjudul Gerakan Sabuk Hijau. Ini buku terbaru yang diterbitkan Marjin Kiri. Ia diluncurkan ke pasar 25 November 2012 lalu untuk turut merayakan gerakan menanam pohon di Indonesia yaitu: Hari Penanaman Pohon pada tanggal yang sama dan Bulan Menanam Pohon di sepanjang Desember.

Buku Wangari tentang Gerakan Sabuk Hijau yang pertama terbit pada 1985. Edisi revisi pertama muncul pada 2003. Revisi kedua pada 2004 setelah ada perubahan kondisi politik di Kenya, yaitu penunjukan Wangari sebagai Wakil Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam oleh Presiden Kenya, Mwai Kibaki pada 2003. Revisi ketiga muncul pada 2006, dilengkapi dengan Pengumuman Penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 2004 untuk Wangari dan wawancara dengan Wangari.  

Nah, yang saya baca adalah terjemahan dari revisi ketiga itu. Ada yang berbeda dibanding aslinya. Pada edisi terjemahan ini Marjin Kiri tidak memuat dua “pelengkap” yang saya sebutkan namun menggantinya dengan tulisan karya John Vidal berjudul “Mengenang  Wangari Maathai” yang dimuat di the Guardian, surat kabar Inggris, 26 September 2011 dan Pidato Wangari saat menerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 2004. Saya rasa keduanya benar-benar melengkapi isi buku.

Yang pertama, tulisan John Vidal, redaktur lingkungan the Guardian, adalah semacam biografi ringkas. Ini memudahkan pembaca Indonesia untuk mengenal siapa Wangari Maathai dan memahami perjuangannya demi lingkungan dan kaum perempuan. Wangari berpendapat: kaum perempuan lah yang terimbas dampak terburuk kerusakan lingkungan. Yang kedua, pidato Wangari saat menerima Nobel yang berisi ungkapan perasaan dan pikiran Wangari terhadap Gerakan Sabuk Hijau.

Isi buku Gerakan Sabuk Hijau sendiri menceritakan bagaimana awal gerakan berdiri, tujuan pendirian, pengorganisasian, berbagai kendala yang menghadang, pengukuhan gerakan, sekaligus gambaran gerakan di masa depan. Buku ini ditulis dengan gaya runut seturut perjalanan waktu. Pada bagian pembuka, pembaca diajak untuk mengenal negara Kenya, baik secara geografis maupun politis. 

Wangari adalah perempuan pertama dari Afrika Timur maupun Afrika Tengah yang meraih gelar PhD dalam bidang Kedokteran Hewan dari Universitas Nairobi, Kenya. Saat memulai Gerakan Sabuk Hijau pada 1977, ia sudah bergelar Professor dan menjadi Ketua Jurusan Anatomi Kedokteran Hewan di Universitas Nairobi.

Masuk dalam jajaran sedikit orang terpelajar sekaligus aktivis sosial di Kenya, sosok Wangari yang saat itu menjadi Ketua Palang Merah Nairobi dengan mudah menjadi incaran saat sebuah lembaga bernamaEnvironment Liasison Centre (ELC) mencari orang lokal untuk menggantikan anggota dewan yang berasal dari Utara.

ELC sendiri adalah pusat kegiatan bagi LSM-LSM Utara yang tertarik untuk menjalin kerjasama dengan United Nations Environmet Program (UNEP/Program Lingkungan PBB) yang baru saja berdiri di Nairobi pada 1972. Dalam perkembangannya, ELC kini dikenal sebagai ELCI, Environment Liasison Centre International. Sebagai catatan, pendirian UNEP ini adalah hasil dari Konferensi PBB tentang Lingkungan Manusia di Stockholm pada tahun yang sama.

Semenjak itulah isu lingkungan masuk dalam pemikirannya. Namun baru pada 1974 ia benar-benar mulai fokus pada isu penghijauan dan reboisasi. Mulanya Wangari menggunakan isu itu untuk membantu suaminya, Mwangi Mathai yang sedang kampanye politik untuk pemenangan dirinya sebagai anggota parlemen daerah. Wangari menjanjikan penggalakan penanaman pohon sekaligus membuka lowongan kerja di daerah Lang’ata, Nairobi.  

Saat suaminya memenangi pemilu, ia menepati janjinya dengan membuka perusahaan bernama Envirocare, Ltd. Ini sebuah perusahaan yang akan mempekerjakan para pemilih untuk membersihkan rumah warga di Lang’ata dan menanam pohon bilamana diperlukan. 

Jalan tak selalu mulus. Kerja Envirocare tersendat, karena dana terbatas. Namun Wangari tak patah semangat, ia mengikutsertakan perusahaan kecilnya ke pameran internasional dengan harapan mendapat perhatian dari dunia luar. Hasilnya, tak satupun yang menemuinya di pameran datang mengambil bibit. Lantas ia ikuti beberapa pertemuan yang bertaraf internasional di manca negara. Ia bertemu dan berbagi pengalaman dengan banyak aktivis lingkungan dari belahan dunia lain. Semangatnya menyala kembali.

Satu saat, dalam sebuah seminar di Nairobi, Wangari mendengar fakta yang mencengangkan tentang kondisi gizi buruk pada masyarakat di Provinsi Tengah. Salah satu hal yang membuat Wangari melebarkan telinganya adalah karena Wangari menghabiskan masa kecilnya di sana, di daerah bernama Nyeri.

Seorang pembicara menyampaikan tiga hal penyebab gizi buruk. Pertama, petani menggenjot pertanian komoditas dengan mengorbankan pertanian keluarga dengan logika bahwa areal yang sama jika digunakan untuk tanaman komoditas dapat menghasilkan pendapatan lebih. Nyatanya, ada mismanajemen sehingga petani mendapat bayaran kurang. Akibatnya keluarga petani tidak mampu memberi asupan makan seimbang hingga menyebabkan gizi buruk.

Kedua, petani berpenghasilan sedang cenderung mengorbankan makanan tradisional non-olahan seperti umbi-umbian serta sayuran lokal dan mengikuti pola makanan orang kota. Karena harga bahan makan orang kota itu cukup tinggi petani tidak mampu menyediakannya secara rutin. Ini juga mengakibatkan ketidakseimbangan asupan nutrisi dan akhirnya menimbulkan gizi buruk.

Ketiga, terjadinya kelangkaan kayu bakar yang menyebabkan beberapa keluarga memilih mengonsumsi makanan yang dimasak dengan sedikit kayu bakar atau bahkan tidak perlu sama sekali. Ini pun menimbulkan gizi buruk.

Bagi Wangari, solusi untuk permasalahan tersebut adalah menanam pohon. Memang sulit menyampaikan penjelasan yang masuk akal pada masyarakat desa. Setidaknya, yang paling jelas adalah dengan menanam pohon penduduk mudah mendapatkan kayu bakar. Meski ada kendala di awal, gerakan menanam pohon yang pertama pun berhasil dimulai tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 1977 di Nairobi.

Aksi itu menjadi awal gerakan sabuk hijau yang pertama meski saat itu program penghijauan itu bernama Selamatkan Tanah Harambee. Dalam bahasa Kiswahili, Harambee berarti “Mari kita usahakan bersama.” Program itu dilaksanakan Wangari bersama dengan NCWK (National Council Women of Kenya) yang beranggotakan mayoritas adalah perempuan desa.

Program itu disambut positif hingga tak lama kemudian, pada September 1977, aksi menanam pohon kedua diadakan kembali saat Kenya menjadi tuan rumah Konferensi PBB tentang Penggurunan di Nairobi.

Minat masyarakat untuk melakukan aksi serupa muncul di berbagai daerah di Nairobi hingga diputuskan untuk menanam barisan pohon dalam barisan sekurang-kurangnya seribu bibit guna membentuk sabuk-sabuk hijau pepohonan. Sabuk-sabuk itu kelak bermanfaat sebagai tempat berteduh, penahan angin, memfasilitasi pelestarian tanah, meningkatkan keindahan pemandangan dan memberikan tempat bagi burung-burung dan hewan kecil.

Sejak itulah aksi menanam pohon bersama-sama itu berubah menjadi Gerakan Sabuk Hijau dengan kaum perempuan sebagai penggerak utamanya. Aksi ini memulihkan citra perempuan dan bahkan memotivasi kaum pria bersama-sama melakukan penanaman pohon demi keluarganya, demi anak-cucunya. 

Wangari tak hanya menganjurkan masyarakat menanam pohon untuk keperluan kayu bakar semata ataupun memunculkan kembali mata air, melainkan juga menganjurkan untuk melestarikan tanaman sumber pangan lokal untuk ketahanan pangan. Selain itu Wangari juga memasukkan pemahaman akan isu kewarganegaraan pada masyarakat desa.

Yang terakhir itu melibatkan serangkaian aksi demonstrasi mengecam tindakan pemerintah yang dianggap tidak menjaga lingkungan. Beberapa aksi demo yang dilakukan misalnya aksi mengecam pembangunan yang dilakukan di Taman Nasional, aksi demo mengecam pejabat pemerintah yang melakukan korupsi dana pembangunan, dsb.

Gerakan Sabuk Hijau menarik minat UNEP yang kemudian meminta Waingari untuk membuat replika aksi serupa di negara-negara lain. Sejak 1988, dimulailah aksi Gerakan Sabuk Hijau di luar Nairobi dan yang kemudian merambah ke berbagai negara lain hingga kini.

Di bagian akhir buku ini, dalam pidato penerimaan Nobel, Waingari mengungkapkan masa kecilnya. Ia cerita saat kecil sering disuruh ibu mengambil air di sungai kecil di sebelah rumah. Di sungai itu Waingari kecil bisa minum air langsung, di air sungai yang jernih itu pula ia bisa melihat ribuan kecebong (anak katak) menggeliat-geliat. Sayang, saat dewasa ia mendapati sungai itu sudah kering.

Tantangannya kini, lanjut Waingari, adalah mengembalikan rumah kecebong-kecebong itu dan memberikan kembali kepada anak-anak kita sebuah dunia yang indah dan menakjubkan.

Kesan saya secara keseluruhan buku ini inspiratif. Ditulis dengan gaya dan tata bahasa yang tidak rumit, bahkan cenderung teknis di beberapa bagian. Sangat mudah dipahami. Bagi yang ingin melakukan gerakan serupa – terutama kalangan akademis yang sering kesulitan untuk berkomunikasi di lapangan - sila baca bukunya. Saya bisa katakan, inilah rujukan dan panduan terbaik yang bisa Anda baca.*

Catatan:
1. Situs Gerakan Sabuk Hijau bisa diakses di: http://www.greenbeltmovement.org
2. Film pendek Planting Hope bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=Es6eVgmPWJM

Usai Ber-Jhumpa Lahiri

Oleh Elisabet Tata

BOLEH DIKATA aku telat ber-Jhumpa Lahiri. Karya pertamanya, Interpreter of Maladies berupa kumpulan cerita pendek terbit pada 1999 di Amerika. Versi bahasa Indonesia-nya, dengan judul “Benua Ketiga dan Terakhir”, pertama kali diterbitkan Jalasutra pada 2002. Sementara aku baru menemui bukunya beberapa minggu lalu di Gramedia di tumpukan buku diskon 20%. Judulnya “Penerjemah Luka”. Gramedia menerbitkannya pada 2006. Tak lama Jhumpa sudah membuatku terpesona. 

Ini “oleh-oleh” usai aku ber-Jhumpa Lahiri. 


ADA RENTANG delapan tahun, setelah namanya dikenalkan di Indonesia, aku tak paham siapa itu Jhumpa Lahiri. Bahkan, aku sama sekali tak tahu kalau salah satu karyanya, The Namesake, ternyata ada di tumpukan buku di rumah. Suamiku, Ronny Agustinus, sudah membelinya, entah kapan, meski dia belum baca seutuhnya. Ini novel, bukan kumpulan cerpen. Gramedia yang menerbitkannya dengan judul “Makna Sebuah Nama.” Kedua karya Jhumpa Lahiri yang diterbitkan Gramedia dialihbahasakan Gita Yuliani K. 

Ronny cerita, ia tahu soal Jhumpa Lahiri dari seorang kawan. Awal tahun 2000-an itu, ia baca kumpulan cerpen Jhumpa Lahiri dengan judul “Penafsir Kepedihan” yang diterbitkan Akubaca. Ia bilang paling suka dengan cerpen The Third and Final Continent (Benua Ketiga dan Terakhir). Cerpen ini terpilih sebagai the best American short stories pada 2000.



Cerita kedua, The Treatment of Bibi Haldar, mengisahkan seorang wanita bernama Bibi Haldar yang menderita penyakit aneh. Umurnya 29 tahun dan belum menikah. Ia tinggal bersama sepupunya yang lebih tua, yang dipanggil Haldar. Haldar dan isterinya mengelola sebuah toko kelontong. 

Jadi ada tiga penerbit Indonesia yang menerbitkan Interpreter of Maladies; Jalasutra, Akubaca, dan Gramedia. Masing-masing dengan judul yang berbeda. Barangkali hanya Gramedia yang mengantongi hak cipta, yang lainnya tidak. Tapi aku tak bisa membandingkan terbitan mana yang lebih baik. Yang aku baca hanya yang terbitan Gramedia. Menurutku, terjemahannya bagus. Membuat pembaca nyaman mengikuti jalan cerita hingga akhir. 

JHUMPA LAHIRI lahir di London, 11 Juli 1967. Orangtuanya, imigran asal Bengali, India. Namanya ketika itu Nilanjana Sudeshna (Svdeshna) Lahiri. Umurnya tiga tahun ketika ayahnya, Amar Lahiri, mendapat kerja sebagai pustakawan di University of Rhode Island, Kingston, Rhode Island. Di sanalah Nilanjana dibesarkan dan merasa menjadi seorang Amerika. "I wasn't born here, but I might as well have been", ujarnya..Meski begitu, ibunya selalu mengingatkan segala hal tentang India. Mengenalkan budaya Bengali, dan mengunjungi Kalkuta (sekarang Kolkata), India sekali tempo untuk bertemu kerabat. 

Jhumpa mengangkat permasalahan dilematis imigran India di Amerika yang disebabkan perbedaan budaya melalui cerita fiksinya. Menurut resensi buku yang aku baca di internet, kekuatan Jhumpa terletak pada gaya bahasanya yang “plain”, dengan pilihan kata yang memudahkan pembaca untuk memahami isi cerita. Menurutku, Gita K. Yuliani si penerjemah, juga berhasil menunjukkan kekuatan Jhumpa dalam versi Indonesia. 


Pada mulanya tidak ada penerbit yang mau menerbitkan karya-karya Jhumpa. Bertahun-tahun lamanya Jhumpa ditolak para penerbit. Hingga akhirnya pada 1999, Houghton Mifflin Harcourt Publishing Co. yang berkantor di Boston, Amerika Serikat bersedia menerbitkan Interpreter of Maladies. Buku yang berisi sembilan cerpen ini memenangi O Henry Award (1999), Hemingway Award (1999), dan Pulitzer Award untuk karya fiksi (2000).


ADA DUA cerita yang paling aku sukai di Interpreter of Maladies. Yaitu Interpreter of Maladies (Penerjemah Luka) dan The Treatment of Bibi Haldar (Pengobatan Bibi Haldar). 


Yang pertama bercerita tentang Mr. Kapasi. Semenjak kecil Mr. Kapasi bercita-cita menjadi seorang penerjemah di kalangan diplomat. Cita-citanya kandas dan berakhir sebagai asisten seorang dokter di akhir minggu. Tugasnya menerjemahkan keluhan pasien yang bicara dalam bahasa Gujarat pada dokter. 



Isterinya tak suka karena Mr. Kapasi “menyelamatkan orang lain dengan caranya yang sepele.”

Untuk mengisi waktu, sehari-hari Mr. Kapasi menjadi pemandu wisata. Satu kali ia bertemu keluarga Das, suami isteri dengan dua anak, mereka keturunan India yang kini tinggal di New Jersey, Amerika. 


Siapa sangka profesi Mr. Kapasi justru membuat Mrs. Das tertarik dan menyebutnya sebagai jenis pekerjaan yang “sangat romantis.” Hati Mr. Kapasi berbunga-bunga. Ia segera jatuh cinta pada Mrs. Das. Namun, bagi Mrs. Das, Mr. Kapasi adalah ruang untuk bicara tentang rahasis pribadi yang tak diketahui suaminya. Bertahun-tahun Mrs. Das memendam luka hatinya dan kini ia mendapatkan seseorang untuk menerjemahkan kesedihannya. 


Aku kira kita memang perlu profesi penerjemah luka itu. Seseorang yang mampu membantu mengungkapkan rasa sakit. Itu akan memudahkan proses penyembuhan, kukira. 


Di malam hari ia melolong dan kelojotan di lantai. Ia bisa pingsan sewaktu-waktu atau mengoceh tak karuan. Berbagai upaya dilakukan, Bibi tak kunjung sembuh. Ia sering bicara soal hasratnya untuk menikah dan kekhawatirannya jika tidak pernah menikah. Suatu hari, tiga tukang ramal didatangkan. Mereka memeriksa gurat tangan Bibi dan memastikan bahwa “hubungan dengan lawan jenis akan menenangkan darahnya.”

Pengumuman dipasang untuk mencari calon suami. Tak satupun laki-laki tertarik. Ketika isteri Haldar hamil, Bibi tidak diperkenankan lagi tinggal satu ruangan. Isteri Haldar khawatir penyakit aneh Bibi menular ke jabang bayi. Dan ketika seorang bayi lahir, Haldar dan keluarganya meninggalkan Bibi sendirian. 


Sejak itu Bibi jarang terlihat. Hingga tetangga mendapatinya terbaring di ranjang dengan kondisi hamil empat bulan. Entah siapa yang menanam benih. Bibi juga tak mengatakan apapun. Kelahiran seorang bayi membuat hidup Bibi berubah. Ia sembuh dan bahagia membesarkan anaknya. 


Ini cerita yang menurutku menunjukkan sisi kewanitaan Jhumpa. Aku ingat satu filem tentang satu lingkaran penuh yang mesti dipenuhi wanita. Sayang lupa judulnya. Lingkaran yang dimaksud adalah: lahir, menikah, dan memiliki anak. Menurut filem ini, wanita akan mendapati kebahagiaan sepenuhnya jika memenuhi lingkaran itu. Tradisi timur mengajarkan kepercayaan ini. Dan menganggap tabu jika wanita tak segera menikah atau memilih melajang. 


SAAT DUDUK di bangku TK, Nilanjana menemui benturan-budaya-pertamanya. Nama Bengalinya sulit diucapkan. "I always felt so embarrassed by my name.... You feel like you're causing someone pain just by being who you are," kenangnya. Gurunya memilih memanggilnya sebagai Jhumpa, ini nama kesayangannya. 


Dalam tradisi masyarakat Bengali, setiap anak memiliki dua nama: nama kesayangan (pet name) dan nama resmi (good name). Nama kesayangan hanya digunakan dalam lingkaran keluarga. Sementara nama resmi digunakan di luar, untuk urusan kemasyarakatan. Inilah peristiwa yang memberinya ide untuk menulis The Namesake, novel dengan rentang cerita 30 tahun. Dimulai pada 1968 saat pemuda Ashoke mengikuti tradisi perjodohan dan membawa istrinya, Ashima, ke Amerika. Di negeri yang jaraknya bermil-mil jauhnya dari India inilah mereka membangun keluarga dan saling mengenal. 


M
eski The Namesake juga menunjukkan masalah lain yang harus dihadapi imigran India di Amerika, namun soal “nama” tetap jadi yang utama. Persis seperti Jhumpa kecil, Gogol, anak pertama pasangan Ashima dan Ashoke, mengalami benturan-budaya-pertamanya di TK. Ini memang kisah Gogol. Secara genetik ia orang India, tapi lahir dan besar di Amerika. Ia bicara dengan aksen Amerika, menyerap pergaulan Amerika, dan mengubah namanya menjadi Nikhil. Ia mencecap ganja, minuman keras, dan seks bebas. 

Perkawinan Gogol dengan wanita Bengali melegakan banyak orang terutama ibunya, Ashima – yang sudah menjanda semenjak Ashoke kena serangan jantung – dan kerabat-kerabatnya. Nyatanya tidak seperti yang diharapkan. Isteri Gogol, Moushomi, tak jauh beda dari Gogol. Ia lahir dan dibesarkan di Amerika, kemudian kuliah di Perancis. Moushomi perokok berat, ia selalu menyimpan keinginan untuk menjadi orang bebas. Perselingkuhannya dengan Dmitri lebih untuk memuaskan keinginannya akan kebebasan ketimbang cinta. Perkawinan Gogol hancur. 


The NamesakeDi ujung cerita, Gogol menemukan kembali buku karya Nikolai Gogol, pengarang Rusia yang namanya dipinjam ayahnya untuk diberikan kepadanya. Ini buku hadiah ulang tahun dari ayahnya di usianya yang ke 15. Setelah apa yang dilaluinya, pada usia 30an tahun, Gogol baru menyadari, betapa nama itu besar artinya bagi dirinya. 

KISAH GOGOL mengingatkan akan diri sendiri. Aku pernah mengalami saat tak suka dengan nama yang diberikan bapakku. Elisabet Repelita Kuswijayanti. Nama yang tak biasa dan sering jadi guyonan. Ada teman memanggilku GBHN. Namaku juga memancing orang untuk bertanya. Jika menuliskan atau menyebutkan nama, pasti ada yang komentar. Tapi nama panjangku membuat siapa saja bisa memilih mau memanggilku siapa. Jadinya aku punya macam-macam nama panggilan. Ada yang memanggil Ita, Tata, Kuswi, atau Yanti. Ada bulek (tante) yang memanggilku Tiwi. 


Bapakku (alm) memberi nama anak-anaknya seturut apa yang sedang terjadi saat itu. Repelita itu karena pas aku lahir bertepatan tahunnya dengan pencanangan program Rencana Pembangunan Lima Tahun. Sementara Elisabet itu nama babtis. Seturut abjad, orang bisa tahu aku anak kelima, huruf-huruf sebelumnya dipakai kakak-kakaku: Antonius, Bernardus, Christophora, Damiana. Kuswijayanti itu karena semua anak bapak menggunakan suku kata Kus yang diikuti dengan kata yang menyimpan harapan untuk anak-anak bapak. Wijayanti berarti saat itu kondisi keluarga tengah membaik, berjaya. Bapak mengharap aku tak pernah mengalami masa sulit. Ah, semoga kondisi anakmu ini memang demikian adanya. Terima kasih, pak. 


Karena sering merepotkan, aku memilih menggunakan nama panggilan rumah: Tata. Mudah diingat dan diucap. Tapi sesuai pesan bapak, nama babtis harus selalu ditulis. Baiklah, pak. Jadilah aku menuliskan Elisabet Tata ketimbang nama panjangku itu di akhir tulisan yang kubuat. Aku ingat Anugerah Perkasa nyeletuk saat nama lengkapku disebut pada penutupan kursus menulis di ETF. “Lho, mana Tata-nya?” ujarnya. 


PADA 2006 The Namesake diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Ia disutradarai Mira Nair – sutradara dan produser film India yang tinggal di New York, Amerika. Aku sudah menduga, bakal bagus jika ada filmnya. Yuk, kita cari filem-nya. ***

Tuesday, April 16, 2013

Kopi dan Buku di Kedai Kopi Kimung, Depok, 7 April 2013



Di Depok ada tiga Kedai Kopi Kimung: satu di Perumahan Grand Depok City (Rumah Seni Minum Kopi Kimung) dan dua di Jalan Raya Margonda (Kedai Kopi Kimung 1 dan 2). Yang terakhir itu berseberangan letaknya. Memudahkan siapa saja baik yang dari arah Depok ke Lenteng Agung atau sebaliknya untuk bertandang. Maklum, jalan Raya Margonda dibatasi oleh median jalan yang cukup besar.

Minggu pagi, 7 April lalu, Klub Baca Buku (KBK) mengadakan pertemuan di Kedai Kopi Kimung 2 yang baru beberapa minggu lalu buka. Hartono, salah seorang anggota KBK berteman dengan pemiliknya, namanya Syahrizal Syarif. Menurut Hartono, Pak Rizal begitu panggilannya, juga penggemar buku. Beliau setuju saja saat Hartono usul pertemuan KBK di Kimung. “Sekalian launching,” kata Pak Rizal.

Pak Rizal menyambut dan menyalami kami yang datang satu persatu. Sewaktu saya datang, seorang wanita cantik berjilbab tengah duduk diteras depan asyik memainkan gawai - sebuah tablet berlayar 7 inci. Saya tak tahu itu isteri Pak Rizal, jadi saya lewati saja untuk bergabung dengan beberapa anggota KBK yang sudah datang.

Tak berapa lama saya duduk, wanita cantik itu beranjak mendekati Pak Rizal untuk berpamitan. Barulah saya paham. Kami semua berdiri, menyalami, dan mengucapkan selamat jalan.

Selain memperkenalkan isterinya, Pak Rizal juga memperkenalkan Sheila – puteri bungsunya. “She is the real owner of Kedai Kopi Kimung,” ucapnya. Rupanya Kimung didirikan untuk Sheila. Selepas sekolahnya,Sheila mencoba beberapa kegiatan tapi ia cepat bosan. Di Kimung ia seperti menemukan dunianya.

Sheila ramah, mirip ayahnya. Sesekali ia berbaur dengan kami, jika tidak ia menyendiri saja di meja seberang, asyik bermain dengan komputer jinjing. Belakangan saya baru tahu ternyata diam-diam Sheila mengambil gambar kami dengan kamera Blackberry-nya. Hasilnya dia unggah ke akun fesbuk miliknya.

***

Ada tigabelas orang yang datang di pertemuan KBK kali ini. Banyak yang tidak bisa hadir karena beragam alasan. Meski begitu kami senang karena ada empat kawan yang baru ikut KBK. Mereka adalah Arimbi, Akbar,Enden Dewi Hernawati, dan Haris Juhaeri.

Pak Rizal

Setelah pertemuan dibuka, Pak Rizal mengisahkan latar belakang berdirinya Kedai Kopi Kimung. Menurutnya, ia merasa budaya minum kopi mulai bergeser. Sekarang banyak orang beralih ke kopi instant, kebiasaan minum kopi racikan menjadi jarang dan nyaris terlupakan.

Secara kebetulan, harian Kompas edisi Minggu yang terbit pagi itu menurunkan laporan utama mengenai penjualan kopi instant oleh penjaja kopi bersepeda yang kini marak di Jakarta. Menurut harian itu, perputaran uang darisalah satu wilayah pemasok kopi instant di samping Sungai Ciliwung, Jakarta dalam satu hari saja sedikitnya Rp 100 juta atau Rp 3 milyar setiap bulannya.

Meski di satu sisi fenomena itu mengatasi masalah pengangguran, Pak Rizal punya pendapat lain.
“Saya ingin mengembalikan kebiasaan lama minum kopi. Saat ini saya bergabung dalam Asosiasi Pengusaha Kopi Indonesia. Saya ini menganggap diri saya sebagai pejuang kopi Indonesia dan musuh utama saya adalah kopisachet,” ujar Pak Rizal gemas.

“Di Indonesia ini, sekitar 20ribu hektar perkebunan kopi dikuasai oleh Pemerintah melalui PTP (Perusahaan Terbatas Perkebunan), swasta menguasai sekitar 25ribu hektar, sedangkan rakyat menguasai 1,25juta hektar. Jadi kopi Indonesia itu sebenarnya milik rakyat, bukan milik Pemerintah atau swasta. Saat ini, Indonesia memasok 30% kebutuhan kopi dunia, urutan ketiga setelah Vietnam dan Brazil,” terang Pak Rizal panjang lebar.

Itu pula alasan Pak Rizal untuk hanya menyediakan kopi bubuk produksi negeri sendiri, ada kopi Jawa, Aceh, Mandailing, Toraja, Papua, dan kopi luwak. Meski kopi dari dalam negeri, tapi penyajiannya boleh lahmenggunakan cara negara manca.

Menu andalan Kedai Kopi Kimung yang diberi nama Kopi Kimung, misalnya dibuat dari bubuk kopi jawa arabika. Disajikan a la Vietnam menggunakan alat penyeduh kopi Vietnam yang terbuat dari baja tahan karat berbentuk seperti topi. Pada alat tersebut terdapat bagian pinggir yang dapat ditumpu oleh cangkir kopi. Bagian tengah berbentuk silinder dan berlubang-lubang kecil. Dari sana lah cairan kopi merembes dan mengalir sedikit demi sedikit mengenai lapisan susu kental manis dalam cangkirdi bawahnya.

Sesudah semua cairan kopi mengalir ke cangkir, penyeduh kopi diangkat. Aduk campuran kopi dan susu. “Minimal 20 kali adukan,” pesan Pak Rizal. Nah, jika ingin langsung diminum hangat boleh saja, atau tuang segera ke gelas berisi es batu jika ingin kopi dingin. Rasanya? Mantap nian..

Suatu hari nanti, Pak Rizal berujar ingin menulis buku tentang kopi Indonesia. Bagi Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini, buku dan kopi memang tak terpisahkan. Saat kuliah di Australia dia selalu mampir ke kedai kopi untuk baca. Selain bisa baca koran gratis, ada kenikmatan tersendiri saat baca sambil sesekali nyeruput kopi. Di dinding Kedai Kopi Kimung, Pak Rizal menempel banyak foto-foto buku bersanding secangkir kopi hasil jepretannya.

Untuk “membalas” kebaikan kedai-kedai kopi yang dikunjunginya, Pak Rizal menyediakan koran dan buku-buku di Kimung bagi para pelanggan dengan catatan “Hanya untuk dibaca di tempat”. Kebaikan berbalas kebaikan. Beberapa turis yang bertandang ke Kimung pun berbaik hati menyumbang buku yang selama ini jadi teman perjalanan mereka.

Kopi Kimung dan Pisang Goreng Ponti

Selain menyediakan kopi produksi dalam negeri, Kimung menyajikan menu makanan tradisional. Salah satunya adalah pisang goreng Ponti yang kami cicipi. “Pisangnya saya pesan langsung dari Pontianak. Dikirim dengan kapal. Di tempat asalnya, pisang itu dihargai murah sekali. Saya ingin menaikkan harga jualnya dan memperkenalkannya ke masyarakat,” ujar Pak Rizal promosi. Tapi nyatanya pisang goreng itu memang enak, cocok untuk teman minum kopi. 

Kami sungguh keasyikan mendengar uraian Pak Rizal tentang kopi. Baru tersadar saat beliau menyudahi persoalan kopi.

***

Baiklah, kami kembali ke agenda acara.

Sebelum masing-masing berbagi isi buku, saya dan Lisa menyajikan kilasan tentang apa itu Klub Baca Kita (KBK). Dari rumah saya sudah mempersiapkan materi presentasi Powerpoint. Seorang staf Kimung membantu; membuka layar, mempersiapkan komputer jinjing dan menyambung kabel. Saya menjelaskan halaman demi halaman yang tersaji pada layar, kemudian Lisa menambahkan.

Sesudah penyajian tentang KBK, giliran Hartono memutar sebuah filem pendek tentang apa itu Rumah Baca Kids (RBK). Sudah lama Hartono mendirikan RBK, ini adalah turunan dari Komunitas Rumah Baca sebuah komunitas  diskusi buku di dunia maya yang berwujud sebuah blog. Rumah Baca dibangun sejak 2007 dan hingga kini masih terus memperbaharui isinya.  

Sebagaimana namanya, RBK ditujukan untuk anak-anak,khususnya mereka yang tinggal di sekitar rumah Hartono. RBK lebih nyata, dalam arti tidak melulu di dunia maya. Aktivitasnya berupa pertemuan rutin setiap Minggu pagi selama sekitar dua jam.

Kegiatan RBK bertempat di garasi rumah Hartono. Bersama Indriyani, isterinya dan beberapa relawan, Hartono mengajak anak-anak untuk rajin baca buku dan mengajarkan macam-macam kegiatan kreatif. Agar anak-anak tak bosan, sesekali mereka diajak jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata. Cuplikan kegiatan RBK itulah yang kami saksikan melalui filem pendek.

***

Agenda berikutnya adalah inti pertemuan KBK: berbagi isi buku yang telah dibaca.

Dimulai dari Pak Rizal. Buku “The Seven Habits of Effective People” karya Stephen Covey adalah buku pilihannya. “Buku ini memotivasi saya untuk mengubah kebiasaan lama menjadi menjadi kebiasaan baru yang lebih baik. Saya meminta mahasiswa saya untuk membacanya,” ujarnya.

Hartono memilih buku karya Bre Redana,“Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada”. Menurut Hartono, buku ini adalah catatan kecil Bre sebagai Ketua Pengurus Dewan Pelatih PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih. Tapi bukan pesan soal ketrampilan memainkan jurus-jurus silat seperti yang tertulis dibuku yang ingin disampaikan, melainkan lebih pada filosofi jurus silat sebagai pegangan dalam kehidupan.

“Buku ini memberi nasihat agar saat menjalani hidup ini kita melakukannya begitu saja, tidak usah terlalu dipikir.Just do it. Jangan terlalu ambisi. Begitu kita mulai berambisi saat melakukan sesuatu. Hampir bisa dipastikan akan menghadapi kegagalan”, begitu papar Hartono.

Suasana Diskusi

Sementara Nuris Andri, masih juga seperti dalam pertemuan KBK yang lalu, selalu suka dengan buku karya penulis Jepang. Kali ini ia bawa dua buku karya sastrawan besar Jepang, Ryunosuke Akutagawa, yaitu “Rashomon”dan “Kappa”.

Kappa adalah makhluk rekaan Akutagawa yang berwujud aneh. Dunia kappa berisi kappa-kappa dengan beragam karakter. Menurut Nuris, kehidupan di dunia kappa adalah cermin dari kehidupan dunia manusia. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sana.

Bintang, anggota yunior KBK, kembali membawa buku biografi berbentuk cerita bergambar. Kali ini ia membawa kisah tentang “Neil Armstrong”, astronot yang pertama kali mendarat di bulan.

Sementara Nadhief, yang juga anggota yunior KBK, membawa dua buku: “Tom Sawyer” dan “The Jungle Child”. Ia mengaku suka baca kisah-kisah petualangan Tom Sawyer yang seru dan mengasyikkan.

Lis membawa buku berjudul “Cincin Merah di Barat Sonne” karya Andi Arsana. Buku ini merupakan kisah Andi sebagai seorang peneliti saat berlayar dengan kapal bernama Sonne mengarungi Samudera Hindia selama 28 hari untuk memetakan dasar laut. Judul buku itu menggambarkan pemandangan menjelang matahari terbenam dari atas kapal Sonne.

Andi seorang ahli geodesi, namun ia mampu memaparkan hal-hal teknis dengan bahasa yang mudah dimengerti. “Menurut buku ini, seorang ahli tidak layak disebut ‘ahli’ jika tidak mampu mengajarkan keahliannya pada orang lain,” papar Lis. Nyatanya, menurut Lis, hal-hal teknis terkait soal pemetaan dituliskan dengan baik dan mudah dipahami.

Farida membawa buku berjudul "Agar Bidadari Cemburu Padamu" karya Salim A. Fillah. Ini buku bernafaskan Islam yang memberika saran bagaimana perempuan dan laki-laki sebaiknya berperilaku berdasarkan keadilan syari'ah Allah.

Lisa membawa buku berbahasa Inggris berjudul The Geography of Bliss karya EricWeiner, jurnalis New York Times. Didorong keinginannya untuk menemukan kebahagiaan, Weiner berkeliling ke sepuluh negara.

Negara pertama yang dikunjungi Weiner adalah Belanda. Di negara kincir angin itu Weiner mewawancarai seorang Professor untuk mendapat rujukan ilmiah tentang kebahagiaan. Uniknya, si Professor sendiri ternyata belum menemukan kebahagiaan meski ia bisa bicara panjang lebar tentang kebahagiaan.

Bagi Lisa, buku karya Weiner membawa kebahagiaan tersendiri karena memuat kisah-kisah unik dan lucu dari beragam negara.

Indri membawa buku berjudul “Perempuan Penjunjung Separuh Langit” karya suami-isteri Nicolas D. Kristof dan Sheryl WuDunn terbitan Gramedia Pustaka Utama pada 2010. Buku aslinya berjudul “Half the Sky: Turning Oppresion into Opportunity for Women Worldwide”diterbitkan satu tahun sebelumnya. Kristof dan WuDunn adalah pasangan suami isteri pertama peraih Pulitzer Award pada 1990 untuk liputan Gerakan Tiananment di Cina.

Keduanya berkolaborasi lagi melakukan perjalanan jurnalistik di beberapa negara seperti Thailand, India, Kamboja, Pakistan dan Afrika Selatan untuk menuliskan kisah-kisah kekerasan terhadap perempuan. Pada 2012,Half the Sky diwujudkan dalam bentuk filem seri dan diputar di saluran televisi lokal di Amerika. Tahun ini, filem itu akan diputar juga di berbagai negara lain.

Indri bilang ini, “Ini buku bagus, bahkan kita bisa meniru gagasannya karena banyak kisah-kisah perempuan di Indonesia yang bisa dijadikan bahan penulisan”.

Nah, sekarang giliran saya berbagi isi buku. Saya membawa novel karya Okky Madasari berjudul Entrok. Entrok adalah sebutan untuk kutang perempuan di masa lalu. Marni rela jadi satu-satunya kuli panggul perempuan dipasar untuk membeli entrok. Berkat kegigihannya, Marni berhasil juga beli entrok.Pencapaian pertama Marni itu mendorong ambisinya untuk jadi orang kaya.

Membaca Entrok menguras emosi saya. Kehidupan Marni luarbiasa. Ia sungguh berjuang mengumpulkan uang dan mempertahankan kehidupan rumah tangga bersama suami pengangguran yang suka main perempuan.

Yang menarik adalah hubungan Marni dan Rahayu, anak perempuan satu-satunya. Meski banyak perbedaan antara ibu dan anak itu, kesamaan mereka adalah bunyi sepatu-sepatu tinggi yang dituliskan “senantiasa mengganggu dan merusak jiwa” dan bahkan sanggup “mengubah warna langit dan sawah menjadi merah” serta “mengubah darah menjadi kuning”.

Secara garis besar, Entrok sebenarnya tentang militerisme di masa Orde Baru. Saya sendiri kagum pada gaya Okky bercerita. Ia menciptakan karakter-karakter yang kuat dan kemudian mematuhinya saat menyusun cerita. Novel Okky terakhir berjudul “Maryam” yang berkisah tentang pengungsi Ahmadiyah meraih Khatulistiwa Literary Award 2012.

Hampir semua yang datang dalam Pertemuan KBK aktif bicara. Membuat pertemuan kali ini jadi seru. Akbar, meski tidak bawa buku tapi semangat cerita bagaimana ia suka buku petualangan seorang bagpacker di berbagai negara. Banyak perjalanan hidup bisa diambil dari sana. Barangkali kisah-kisah itu cocok dengan karakter Akbar sebagai seorang biker. Saat mendatangi pertemuan KBK, ia juga naik sepeda saja.

Dewi yang bekerja pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kementerian Dalam Negeri, cerita tentang perempuan-perempuan perdesaan yang ia temui selama kerja lapangan. Ia berharap kisah-kisah perempuan tangguh itu kelak dibukukan untuk pembelajaran bersama.

***

Di penghujung pertemuan, door prize diundi. Haris Juhaeri mendapat buku “100 Kata” dari penerbit Antipasti dan Arimbi mendapat “Dilema: Kisah 2 Dunia dari Kapal Pesiar”. Dua buku yang sama kami serahkan kepada Pak Rizal sebagai kenang-kenangan dan ucapan terima kasih. Nuris, juragan bumbu pecel cap Gentong itu juga menyerahkan satu kemasan bumbu pecel pada Pak Rizal.

Waktu beranjak siang, Pak Rizal menyilakan kami makan siang. Menunya Lontong Sayur Daun Paku. Nikmatnya bukan main. Lekas saja piring-piring yang tersaji licin tandas.

Pertemuan KBK kali ini memang luar biasa. Semua senang, dapat wawasan baru dan dapat kawan baru. Perut kenyang pula. Sampai berjumpa di pertemuan KBK berikutnya!


Membaca Biografi, 20 Januari 2013



Akhirnya kami berkumpul kembali. Seharusnya Desember 2012 lalu Klub Buku Kita (KBK) sudah mengadakan pertemuan, tapi banyak hal ia diundur. Dan jadilah pertemuan Januari membuka perjalanan KBK di tahun 2013.

Tidak ada tamu khusus yang diundang sebagai pembicara. Pertemuan kali ini milik kami saja, jadi isinya adalah berbagi isi buku dan mengobrol santai. Di Minggu pagi, 20 Januari yang menyenangkan - tidak hujan dan lalu lintas lengang - itu kami saling bertemu di rumah Lisa, Cinere-Depok. 

Sesuai kesepakatan, biografi jadi tema pertemuan. Masing-masing anggota akan berbagi biografi yang dipilihnya. Namun sebelumnya kami ngobrol dulu untuk menyepakati apa itu biografi sebelum nantinya berbagi resensi secara lisan.

Berikut adalah isi obrolan itu - mengenai biografi sepanjang pengetahuan kami,  

Biografi berasal dari dua kata yaitu bios yang artinya hidup dan graphien yang artinya tulisan. Jadi biografi adalah tulisan tentang (riwayat) hidup seseorang atau tulisan mengenai perjalanan hidup seseorang. Bisa panjang ataupun pendek. Bisa berupa kisah hidup sejak lahir hingga mati atau penggalan kisah hidupnya saja namun bisa juga berupa kisah perjalanan karir seseorang.  

Ada beberapa jenis biografi berdasar persoalan yang ditulis yaitu biografi politik yang ditulis berdasarkan sudut pandang politik, biografi intelektual yang ditulis berdasarkan hasil riset/pemikiran tokoh, dan biografi jurnalistik/sastra yang ditulis berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh. Jenis biografi yang terakhir itulah yang biasanya paling diminati karena lebih ringan dibanding dua yang pertama.  

Biografi menarik karena membuat pembaca bisa mengambil hikmah dari jatuh bangunnya perjalanan ataupun perjuangan seseorang untuk bisa mendapatkan sesuatu.

Meski begitu, seseorang yang dikisahkan dalam tulisan itu pun tidak harus selalu orang yang terkenal. Kisah-kisah orang biasa sebagaimana dituturkan oleh Malcolm Gladwell, seorang penulis dan jurnalis yang bekerja untuk The New Yorker sebuah majalah Amerika yang terbit sejak 1925, bisa dijadikan contoh.

Biografi selalu dituliskan oleh orang lain. Namun, seseorang juga bisa menuliskan riwayat hidupnya sendiri. Nah, biografi seperti itu disebut Autobiografi. Di masa kini, jadi rahasia umum ada orang yang meminta seorang ghost writer untuk menuliskan kisah hidupnya dan mengklaimnya sebagai sebuah autobiografi. Ghost writer adalah seorang penulis yang dibayar untuk menulis atas nama si pembayar. Nama ghost writer sendiri tidak akan pernah tercantum - ibarat hantu (ghost) yang tidak terlihat. 

Sebagaimana yang dilakukan Malcolm Gladwell dalam tulisannya, riwayat hidup seseorang bukanlah kisah fiktif. Ia nyata terjadi dan bukan rekaan. Tulisan Gladwell sendiri punya ciri kaya informasi detil karena dibuat dengan riset mendalam.

Satu kisah perjalanan seseorang yang kemudian dibumbui dengan tulisan rekaan atau kisah imajinasi penulis bukan lagi sebuah biografi ataupun autobiografi. Buku berjudul “9 Summers and 10 Autumns” karya Iwan Setiawan misalnya. Meski ditulis berdasar kisah hidup penulis sendiri namun ia menambahkan imajinasinya pada beberapa bagian dan dengan demikian buku itu bukan lagi sebuah autobiografi. Iwan mengakuinya dan menambahkan kata “Sebuah Novel” pada sampul bukunya sebagai penegasan bahwa ini adalah kisah fiktif.


Begitulah kami mencapai beberapa kesepakatan soal apa itu biografi. Selanjutnya kami berbagi cerita buku masing-masing.

Hartono membawa buku berjudul "The Sampoerna Legacy", ini kisah Liem Seeng Tee, pendiri imperium rokok kretek Dji-Sam-Soe. Cerita buku disusun oleh puterinya, Michelle Sampoerna dan ditulis serta diberi ilustrasi oleh Diana Hollingsworth Gessler. 

Perjuangan Liem Seeng Tee membesarkan bisnis rokoknya memberikan kesan mendalam bagi Hartono. Sepanjang hidupnya, Liem Seeng Tee percaya bahwa angka Sembilan memberi keberuntungan dan mendekati kesempurnaan. Itulah sebabnya produk rokoknya diberi nama Dji-Sam-Soe atau Dua-Tiga-Empat yang jika dijumlahkan menjadi sembilan.

Perhitungan untuk mendekati kesempurnaan itulah yang membekas di benak Hartono. Ia jadi percaya bahwa apapun yang akan kita lakukan dalam hidup hendaknya diperhitungkan terlebih dahulu baik buruknya.

Nuris Andri membawa buku berjudul "Shinsengumi", karya Romulus Hillsborough. Ini buku yang menceritakan tentang pasukan terakhir sebelum era shogun berakhir di Jepang. Meskipun ini cerita mengenai satu kelompok pasukan yang berjumlah 12 orang, namun ada satu tokoh yaitu Saito Hajime yang disukai Nuris. Ia terkesan dengan Saito Hajime karena punya prinsip yang kuat.

Lisa punya buku berjudul "Jungle Child" karya Sabine Kuegler, seorang penulis wanita asal Jerman. Ini sebuah autobiografi. Sabine menuturkan sendiri masa kecilnya saat ikut orang tuanya yang bertugas sebagai misionaris di Papua, Indonesia. Menghabiskan sepuluh tahun di Papua membuat Sabine merasa sebagai orang Papua ketimbang orang Jerman. Saat pulang kembali ke tanah airnya, Sabine mengalami kegelisahan budaya. Isi buku itu bercerita tentang dinamika psikologis Sabine.

Lisa menyukai tulisan Sabine karena kisah Sabine mirip dengan apa yang terjadi pada dirinya dan beberapa kawannya yang ketika kecil mengikuti orang tuanya bertugas di luar negeri.

Biografi yang dibawa Lis dan Bintang bentuknya bukan melulu tulisan, melainkan cerita bergambar. Biografi semacam ini sah saja. Pembuat biografi menginginkan agar pesannya sampai ke masyarakat, bagaimana caranya beragam. Bisa dibuat cerita bergambar, ataupun tulisan yang dipenuhi ilustrasi gambar seperti buku The Sampoerna Legacy, ataupun tulisan dengan foto-foto. Intinya memudahkan dan membuat nyaman pembaca. 

Jika Lis membawa biografi "Gus Dur", Bintang membawa biografi "Bill Gates", pendiri Microsoft. 

Bintang anggota KBK termuda. Usianya baru 10 tahun. Ketekunan dan ketertarikan Bill Gates pada piranti lunak komputer membuat Bintang suka membaca buku itu. Ini karena Bintang juga suka utak-atik komputer. Jika besar, ia ingin seperti Bill Gates dan punya perusahaan komputer sendiri.

Tata membawa buku berjudul "Gerakan Sabuk Hijau" karya Wangari Maathai. Ini bukan autobiografi riwayat hidup, melainkan tulisan tentang sepenggal kisah hidup Wangari. Yaitu saat Wangari mewujudkan cita-citanya untuk memperjuangkan lingkungan dan kaum perempuan melalui gerakan penanaman pohon di Kenya, Afrika. Kegiatan itu diberinama Gerakan Sabuk Hijau. 

Wangari mulanya hanya ingin memperbaiki kondisi gizi buruk yang menimpa kampung halamannya, tempat ia melewatkan masa kecilnya dengan bahagia. Ia bertekad mengembalikan kebahagiaan masa kecilnya dengan memperbaiki lingkungan. Caranya, ya itu tadi, "hanya" dengan menanam pohon untuk memunculkan mata air dan mendapatkan kayu bakar serta menanam kembali tanaman pangan lokal untuk ketahanan pangan masyarakat. 

Upaya Wangari dan perempuan Kenya mendapatkan perhatian tidak hanya di Afrika namun juga dunia luar. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNEP) yang kemudian memintanya untuk membuat replika kegiatan serupa. Kini, Gerakan Sabuk Hijau menjadi inspirasi di banyak negara untuk menanam pohon demi perbaikan lingkungan dan masyarakat.

Cerita Neneng lain lagi. Sebagai guru agama, ia banyak membaca biografi ulama dan nabi-nabi. Usai membaca, biasanya ia akan menceritakan kembali isinya pada anak muridnya. Dari semua biografi yang dibacanya itu ia mendapat satu benang merah, yaitu bahwa berdakwah hendaknya tidak menggunakan kekerasan melainkan kasih sayang.

Siti Munisah bercerita tentang biografi "Muhammad Iqbal", seorang filsuf, politisi, dan penyair dari Pakistan. Nisah menaruh hormat pada Iqbal. Ia mengingat pesan Iqbal agar manusia selalu melakukan yang terbaik bagi kebaikan umat. Sebenarnya ini buku yang dibacanya saat SMA namun hingga sekarang masih member kesan mendalam. Iqbal adalah seorang pemikir. Saat mendapati sedang dalam masalah, Iqbal lebih suka diam dan menyendiri. Tanpa disadari ternyata Nisah pun sering meniru kebiasaan itu, begitu kesaksian teman yang mengamati perilaku Nisah di kantor. 

Begitulah kami berbincang dan berbagi kisah. Meski ada juga yang tak membawa biografi, namun dalam diskusi kami saling melengkapi, memberikan pendapat, dan mengkritisi satu sama lain.

Untuk menyemarakkan pertemuan, seperti biasa diadakan doorprize dari Penerbit Marjin Kiri. Yang beruntung kali ini adalah Annisa Muzzizah. Ia mendapatkan buku Gerakan Sabuk Hijau karya Wangari Maathai. 

Tak seru jika kami hanya berbicara dan berbicara. Beragam camilan tradisional tersaji di hadapan kami. Itu potluck yang kami bawa. Kali ini didominasi oleh camilan dari singkong - ada yang digoreng, direbus begitu saja, ada yang direbus kemudian diberi gula jawa, ada yang dijadikan combro. Camilan lainnya bolu kukus gula merah, peyek kacang, dan cucur. Eh, ada juga buah salak. Pendeknya camilan KBK selalu eksotis dan bikin suasana jadi asyik dan seru. Minumannya pun luar biasa: teh serai yang tersaji dalam cangkir-cangkir klasik.

Terima kasih buat semua dan sampai jumpa di pertemuan berikutnya!