Thursday, February 13, 2014

Antara Amy Tan dan Gogol

Oleh: Lisa Soeranto

"Tata, pinjemin aku buku lagi dong. Terserah, apa aja."  Lalu sampailah di tangan saya sebuah novel tentang kehidupan imigran dari Asia (India) yang hijrah ke Paman Sam. Novel berjudul "The Namesake" ditulis oleh Jhumpa Lahiri berdasarkan inspirasi kisah hidupnya. Mulai dari falsafah pemberian nama, keterikatan dengan tradisi Benghali yang sangat dijaga orangtuanya (terutama ibunya) sekalipun berada ribuan kilometer jauhnya dari tanahair, hingga problematika penyesuaian diri terhadap kehidupan praktis sehari-hari.

Lawan Dari Maut - The Opposite Of FateSaya mulai membacanya dan sebelum terlampau jauh, saya teringat sebuah buku yang saya beli beberapa tahun yang lalu di lapak diskon. Jenisnya otobiografi dari penulis keturunan China, generasi kedua dari kaum imigran seperti Jhumpa Lahiri juga. Namanya Amy Tan, ia menulis "The Opposite of Fate" yang terbit tahun 2003 di Amerika. 
Pada 2006, karya Amy itu diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul "Lawan Dari Maut". 


Amy menulis banyak novel yang terinspirasi oleh kehidupan orangtua (terutama ibunya). Salah satunya, "The Joy Luck Club" (TJLC) yang terinspirasi oleh kehidupan ibunya dan teman-temannya seperantauan di tanah asing tersebut. TJLC yang menjadi best seller, kemudian diangkat menjadi sebuah filem layar lebar oleh sutradara Amerika kelahiran China, Wayne Wang pada 1993. TJLC bercerita tentang empat wanita China perantauan yang tinggal di Amerika dengan anak perempuan mereka yang masing-masing lahir di Amerika.  

The Joy Luck Club (film).jpg
Poster Filem The Joy Luck Club
Di dalam otobiografinya, Amy Tan menggambarkan kehidupan mereka yang sarat dengan keyakinan-keyakinan akan adanya takdir, nasib-nasib buruk, dan arwah-arwah nenek moyang yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. 

Sekalipun ayah Amy adalah seorang penginjil, ibunya, Daisy, ternyata masih menyimpan kepercayaan-kepercayaan lama, yang masih bisa dijadikan tempatnya bersandar di kala resah. 

TheJoyLuckClub.jpgPada saat Daisy kehilangan suami dan anak laki-lakinya (kakak Amy) karena tumor otak, Amy mulai mengangkat tragedi-tragedi yang menimpa hidupnya dan berbicara tentang kutukan. Untuk melawan kutukan itu ia mulai menyebut-nyebut arwah masa lalu, mulai berdoa di depan lukisan ibunya, menemui seorang geomancer yang akan memeriksa arsitektur spiritual alias fengshui rumahnya, dan juga mendatangi para penyembuh iman. 

Menurut Amy, semenjak ayahnya meninggal, semakin banyak hantu yang melompat dari masa lalu ibunya: gagasan tentang pembalasan karma, reinkarnasi, dan hadirnya hantu-hantu  yang ditandai dengan gogongan anjing mereka, benda yang salah letak, pintu terbanting jika ada nama tertentu yang terucap. Hal tersebut juga yang dianggap Amy berefek pada dirinya yang sering berimajinasi atau mungin juga berhalusinasi: merasa mendengar suara langkah atau pintu-pintu yang dibanting.

Menurut saya, Amy Tan mengungkapkan keseharian kehidupan mereka sebagai kaum imigran dengan cara yang sangat santai dan memandang dari sisi yang positif. Bahkan sepanjang otobiografinya, ia tidak memberi kesan bahwa mereka terintimidasi oleh kenyataan bahwa mereka adalah kaum pendatang. 

Amy Tan dan ibunya
Amy memberi gambaran bahwa mereka berada di Amerika karena mereka juga berhak atas kesetaraan, seberapun dalamnya perbedaan-perbedaan yang ada dari sisi genetis, kebudayaan, dan bahasa ibu. Tentang kesenjangan bahasa, ia pun dapat menceritakan dengan tanpa tekanan. Ia tak hidup serta merta untuk menurut pada standar yang ditetapkan oleh negara di mana ia berpijak melainkan pada kepercayaan dirinya. Mungkin itu juga diperoleh dari ibunya.  



Dalam bukunya Amy menyatakan, 

"Anda harus tahu bahwa ibuku sering menggunakan kata-kata bahasa Inggris yang sebenarnya tidak dimengerti olehnya. Ia membaca laporan-laporan dari Forbes, mendengarkan berita Wall Street Week, berbicara setiap hari dengan pialang sahamnya, dan membaca buku-buku Shirley MacLaine dengan mudah - segala macam hal yang tak kupahami. Namun, beberapa temaku berkata bahwa mereka bisa memahami lima puluh persen perkataan ibuku. Beberapa yang lain berkata mereka dapat memahami delapan puluh sampai sembilan puluh persen. Beberapa lagi berkata mereka sama sekali tidak mengerti, seakan ibuku berbicara dalam bahasa Mandarin dan bukannya bahasa Inggris. Namun bagiku, bahasa Inggris ibuku benar-benar jelas dan normal. Itulah bahasa yang kukenal sejak kecil. Di telingaku , bahasa Inggris ibuku terasa jelas, tajam, penuh pengamatan dan penggambaran. Itulah bahasa yang telah membantu membentuk caraku memandang dan mengungkapkan berbagai hal, serta memahami dunia ini".

Amy Tan tampak santai menjalani takdirnya, sejak ia tahu bahwa ia terlahir dari pasangan imigran yang merupakan kombinasi dari seorang ibu yang unik dan masih bersandar pada kepercayaan asli leluhurnya dengan ayah yang disiplin dan kuat keimanan kristianinya. Semua ia terima sebagai takdir yang menyenangkan dan pada saat bersamaan ia juga memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi pilihan dalam hidupnya. Masa  remaja yang penuh  kesalahan, menjadi penulis ternama yang harus siap menerima kritikan pedas, bahkan saat ia harus menerima kenyataan bahwa ia pada akhirnya harus menderita penyakit Lyme yang serius, semua itu adalah jalan hidup yang diterimanya dengan positif dan tetap optimis.

Di bagian awal otobiografinya, Amy Tan menulis,  

"Ibuku percaya pada kehendak Tuhan selama bertahun-tahun. Rasanya seakan-akan ia telah membuka keran alam semesta dan kebaikan terus mengucur keluar. Ia berkata imanlah yang membuat segala hal yang baik itu muncul dalam lehidupan kami, tapi semula kupikir ia mengatakan "takdir (fate)", karena ia tidak bisa melafalkan bunyi "th" dalam katan "faith". Tapi kemudian aku berpendapat mungkin semuanya memang karena takdir semata, bahwa iman hanyalah ilusi untuk menunjukkan bahwa kita masih memegang kendali. Aku menemukan bahwa yang paling banter bisa aku miliki hanyalah harapan, dan dengan itu aku tidak menyangkal adanya kemungkinan, baik maupun buruk. Jadi maksudku, kalau saja ada pilihan, Tuhan yang Baik atau siapapun Dia, di sanalah letak jawaban semuanya."

Front CoverKembali pada novel Jhumpa Lahiri. The Namesake berisi cerita yang mungkin terasa umum dijumpai di keluarga-keluarga kaum imigran, yaitu lagi-lagi berkaitan dengan pola pikir dan latar belakang budaya negeri asal. Pergolakan batin terasa kuat sepanjang cerita dengan tokoh utama Gogol yang kemudian bernama Nikhil. 

Sungguh berbeda dengan proses adaptasi Amy tan dalam kisah pribadinya, Gogol digambarkan sebagai manusia yang tak benar-benar bisa merasakan nyaman di dalam "cangkang"nya yang bernama Benghali. Sepanjang hidupnya ia ingin melepaskan driri dari takdir turunan itu. Mungkin kah itu juga penggambaran ekstrem dari proses pencarian jati diri Jhumpa Lahiri?

Secara budaya, China dan India tentu saja berbeda. India, khususnya Benghali, memiliki tradisi pemberian nama yang khas. Begitu bayi lahir dalam sebuah keluarga, ia tak akan segera diberi nama. Bayi hingga usia tertentu (bisa hingga menjelang masuk sekolah dasar) akan dipanggil dengan nama panggilan yang biasa saja. Nama resmi atau yang disebut sebagai nama bagus, harus benar-benar dipilih dengan serius karena harus pantas disandang sepanjang hidup anak itu nanti saat berkiprah di masyarakat. 

Demikian juga Gogol. Sekalipun lahir dan tinggal di Amerika, ia tak luput dari tradisi tersebut. Ia belum dinamakan secara resmi oleh orangtuanya yang sedang menunggu sebuah surat dari nenek buyutnya yang telah menyediakan pilihan nama bagus bagi cicitnya. Namun surat tak kunjung datang hingga nenek buyutnya meninggal. 

Maka, Gogol yang mendapati dirinya dengan nama panggilan yang aneh (bukan nama Amerika, bukan pula India; melainkan Rusia), tetap bernama Gogol untuk waktu yang cukup lama karena setelah kejadian surat nenek buyut yang hilang di tengah jalan itu, orangtuanya tak kunjung menemukan nama bagus.  

Saat didaftarkan di sekolah, orangtuanya tak ingin mendaftarkan Gogol sebagai Gogol (sesuai nama resminya di paspor), melainkan dengan nama bagus, Nikhil. Rencana itu ditolak pihak sekolah. Gogol kecil  juga merasa tak mengenali dirinya sebagai Nikhil, nama yang tiba-tiba harus disandangnya. Maka sepanjang masa sekolahnya Gogol dikenal, baik secara resmi atau panggilan, tetap dipanggil Gogol. 

Namun saat memasuki perguruan tinggi, Gogol mendaftarkan pergantian namanya secara resmi melalui proses legalisasi di pengadilan. Kehidupan sebagai mahasiswa dimulai dengan nama Nikhil. Meski demikian, Gogol-baru-yang-kini-bernama-Nikhil ini tetap tak bisa lepas dari kenyataan bahwa sebenarnya dia masih Gogol yang dulu - seorang anak yang masih bingung dengan konsep dirinya.

The Namesake lekat dibalut proses pencarian jati diri yang rumit, meskipun -pada akhirnya- ada penemuan. Sepanjang sejarahnya hingga usia dewasa, Gogol mencoba mencari tahu posisinya baik dalam keluarga Beghali maupun di masyarakat Amerika. 

Semua prestasi sekolah dan karirnya tak melahirkan rasa percaya diri dan bangga akan asal-usunya. Gogol tetap saja seorang penyendiri di dunia yang ramai. Ia tahu ia berbeda, dan masalahnya ia terlalu berkutat dengan perasaan berbeda itu, lupa bahwa menjadi berbeda adalah sebuah kenyataan yang harus diterima. Masalahnya yang lebih gawat adalah dia ingin "membeli" apa yang menurutnya akan menjadi persamaan atau kesetaraan dengan orang-orang lain.

Jhumpa Lahiri
Melalui cara pandang Gogol, Jhumpa Lahir menggambarkan kehidupan keluarga Gogol sebagai keluarga yang selalu serius cenderung kaku. Semua langkah terasa diayunkan dengan hati-hati dan berat. Yang terasa adalah situasi-situasi yang selalu penuh kemuraman yang menekan, sekalipun ada kisah-kisah perayaan, seperti beberapa pesta ritual tradisi Bengali atau bahkan Thanksgiving dan Natal yang belakangan diadopsi keluarga Gogol. Kehidupan kelompok imigran India dari kacamata Gogol menjadi terlihat puritan, akibat problematika kegalauan Gogol.

Sama seperti novel Amy Tan, The Namesake juga diangkat ke layar lebar oleh sutradara wanita kelahiran India yang tinggal di New York, Mira Nair. Filem ini diputar di Amerika pada 2007. 


Poster Filem The Namesake
Proses pencarian jati diri dengan memakai "hal kecil tapi penting" seperti nama menurut saya adalah brilian, karena bisa merepresentasikan kegelisahan semua manusia saat ia merasa tidak berada di tempat dan/atau saat yang seharusnya. Dari situ, bisa menjadi pijakan awal manusia bergerak untuk menuju diri yang lebih berarti buat dirinya dan orang lain. 

Di bagian terakhir The Namesake, digambarkan  Gogol, berusia 32 tahun, baru mulai tergerak untuk membaca buku karya Nikolai Gogol yang diberikan almarhum ayahnya saat dia ulang tahun ke-14.

Dengan merenungkan anti kimaks kisah Gogol ini,  pembaca akan tahu bahwa pencarian jati dirinya telah mendekati garis akhir. Gogol -atau siapapun- ternyata tak perlu berlari kelelahan menjauh dari keluarga (yang nota bene berarti menjauh dari dirinya yang orisinil) demi menjadi diri sendiri... hanya untuk kemudian pulang dan menyadari bahwa penerimaan diri sejak awal adalah hakekat dari akhir dari pencarin jati diri.*






Wednesday, February 12, 2014

Pertemuan KBK #26 Januari 2014, Tentang Membangun Indonesia Bersama Pak Didid

Ini pertemuan pertama di 2014. Sesuai kesepakatan semula, pertemuan bertempat di Sekolah Citra Alam Ciganjur, Jakarta Selatan. Tidak banyak yang datang. Kami hanya bersembilan orang, yaitu: Tata, Agung, Tita, Lisa, Arfi, Lis, Nuris, Fahmi, dan Furqon. Menjadi sepuluh orang dengan seorang tamu istimewa; Doktor Daddi Heryono Gunawan. Kami memanggilnya: Pak Didid.

Pak Didid adalah Dosen Fakultas Sosiologi Universitas Indonesia dan salah satu peneliti pada Lembaga Kajian Terorisme dan Konflik Sosial, Fakultas Psikologi di universitas yang sama. Sehari-hari, beliau bekerja sebagai Wakil Sekretaris Pribadi Presiden RI di Istana Negara. Pak Didid juga aktif menulis di media dan menjadi pembicara di banyak seminar dan diskusi.

Menjadi hal yang istimewa mendapati kehadiran Pak Didid dalam pertemuan Klub Buku Kita kali ini. Sungguh, ini adalah awal pertemuan yang baik di 2014.

Namun sebelum mengobrol, seperti biasa pada sesi awal kami bahas kuliner. Ada banyak camilan yang dihidangkan kali ini – padahal yang hadir hanya sedikit. Jika ditulis menjadi panjang daftarnya. Ada empek-empek Palembang, jagung rebus, gethuk singkong, kacang rebus, pie susu Bali, gemblong, kue unti, peyek kacang, peyek rebon. Ada juga minuman tradisional yaitu beras kencur dan kunyit asam.





Yang selalu hadir adalah bumbu pecel cap Gentong bikinan Nuris. Tapi kali ini, Nuris bawa juga bumbu urap. Sementara sayuran rebus pun beragam. Ada kubis, kacang panjang, tauge, kecipir, kangkung, dan yang istimewa ada daun beluntas.


Beluntas

Menurut wikipedia, beluntas merupakan tumbuhan semak yang bercabang banyak, berusuk halus, dan berbulu lembut. Umumnya tumbuhan ini ditanam sebagai tanaman pagar atau bahkan tumbuh liar, tingginya bisa mencapai 3 meter apabila tidak dipangkas, sehingga seringkali ditanam sebagai pagar pekarangan. Perbanyakannya dapat dilakukan dengan setek batang pada batang yang cukup tua

Beluntas (Pluchea Indica) adalah anggota keluarga bunga aster (Asteraceae) atau sering disebut bunga bintang. Ini adalah salah satu keluarga tanaman terbesar dan beragam. Peneliti menemukan ada sekitar 20ribu jenis spesies di planet bumi.

Begini penampakannya saat masih segar:


Hebatnya, kebanyakan anggota keluarga bunga aster bisa dimakan atau dimanfaatkan untuk pengobatan herbal. Sebut saja, bunga matahari, bunga krisan, dandelion atau ya topik kita kali ini - beluntas. Sayangnya, keluarga bunga aster mengandung zat alkaloid aktif yang bisa terkandung dalam akar, bunga, biji, atau daun sehingga kalau dikonsumsi rasanya menjadi agak pahit.

Pada beluntas, alkaloid berada pada bagian daun dan ditambah dengan zat tanin seperti yang terkandung dalam daun teh, daun beluntas getir jika dimakan. Bau daun beluntas juga agak menyengat karena mengandung minyak atsiri.

Beberapa khasiat beluntas yang sudah dikenal adalah mengatasi bau badan dan bau mulut tak sedap, mengatasi keputihan pada wanita, mengatasi nyeri haid, dan meningkatkan nafsu makan.

Meski bisa dimakan dan berkhasiat sebagai pengobatan, tampaknya belum ada yang berniat mengomersialkan daun beluntas. Nuris, pembawa pecel beluntas bilang, ia hanya minta ke tetangga yang berbaik hati memperbolehkannya memetik daun-daun beluntas untuk sajian KBK kali ini. Kehadiran si beluntas mendapat sambutan positif, Lisa, mengaku makan pecel dengan lahap gara-gara ada si beluntas. Dan, pecel pun licin tandas di akhir pertemuan KBK.

Begitulah sekilas kehadiran beluntas dalam sajian KBK. Berikutnya adalah tentang kehadiran Pak Didid yang memukau kami dengan kisah-kisah tentang Bali.


Kenapa Bali? Pak Didid mengaku lebih tertarik bicara soal Bali, karena selama beberapa tahun terakhir dia sungguh mempelajari masyarakat Bali. Bali adalah fokus utama disertasi saat meraih gelar Doktoral di Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Ini disertasi Pak Didid dalam bentuk buku: 


Pak Didid mulai perbicangan dengan menuturkan soal pencitraan Bali yang bertolak belakang dengan latar sejarah yang ada. Selama ini – atau setidaknya bagi generasi pasca kemerdekaan Indonesia, Bali dikenal sebagai daerah wisata yang cantik, tenang, dan nyaman. Pendeknya, semua tahu dan bahkan nyaris seluruh dunia mengenal Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata. 

Namun, kata Pak Didid, Bali sebenarnya punya latar sejarah yang mengerikan. Menurut Pak Didid, korban yang jatuh akibat G30S/PKI pada 1965 sebenarnya lebih banyak dibanding di Jawa. Dan jika merunut ke belakang lagi, sejarah Bali sarat dengan kekerasan dan kesadisan. Sebut saja Perang Puputan yang terjadi dua kali di Badung (1906) dan di Klungkung (1908) dimana para pejuang sungguh berjuang hingga titik darah penghabisan.

Kata “puputan” sendiri artinya berjuang sampai habis-habisan (puput), intinya saat itu mereka berjuang demi mempertahankan tanah air dari cengkeraman Belanda.

Menyimak Cerita Pak Didid 

Citra kekerasan yang ada di Bali membuat Belanda harus memikirkan suatu cara untuk 
menutupinya. Terlebih saat itu Ratu Willhelmina sudah mencanangkan adanya politik etis yang menyatakan bahwa Belanda memiliki hutang budi kepada negara jajahannya, dan oleh karenanya memiliki tanggung jawab untuk mensejahterakan rakyatnya.

Sebuah konsep khusus ditemukan untuk Bali, yaitu menjadikannya sebagai daerah tujuan wisata. Ini berangkat dari pemikiran tentang kebudayaan Bali sendiri yang pada 
kenyataannya tidak terpengaruh budaya-budaya besar yang mengelilinginya.

Sejak dua perang puputan itu, Belanda lantas mengubah kebijakan kolonialnya menjadi “Baliseering” atau Balinisasi Bali. Intinya adalah membiarkan dan bahkan melindungi orang Bali untuk meeruskan pola hidupnya sendiri yang “indah dan bebas” dari gangguan apapun. Sejak itulah, Belanda melihat Bali sebagai “museum hidup” - dunia yang mesti dilidungi dan dipertahankan keberadaannya.

Promosi wisata kemudian dibikin besar-besaran, brosur-brosur dicetak, beragam penelitian diadakan untuk membentuk citra Bali sebagai daerah yang sungguh berbudaya, sebagai daerah tujuan wisata yang cantik.

Begitu kuatnya pelaksanaan kebijakan itu, hingga sesudah Indonesia merdeka, kita dan bahkan dunia mengenal sebagai kawasan wisata yang indah. Bahkan lebih dikenal ketimbang Indonesia sendiri. Kita tidak peduli bahwa dengan itu masyarakat Bali justru kehilangan identitas. Kita melupakan bahwa Bali yang sekarang adalah Bali yang dibangun sesuai pemikiran Belanda.

Pada masa Orde Baru, lagi-lagi pemerintah mengonfirmasi kebijakan Belanda dengan mengonstruksi Bali secara besar-besaran, mirip cara Belanda. Di samping promosi wisata yang gencar, juga terlihat dengan dibangunnya kawasan Nusa Dua menjadi satu daerah wisata khusus tempat banyak seminar baik skala nasional hingga internasional sering diadakan.

Di masa kini, kenyataan Bali sebagai tujuan wisata menimbulkan konsekuensi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang harus ditanggung sendiri oleh masyarakat Bali. Dari sisi ekonomi dimana wisata digemborkan sebagai pendapatan utama, misalnya, terjadi ketimpangan pendapatan yang besar antara penduduk yang di perkotaan maupun di perdesaan.

Menurut penelitian, transaksi wisata berhenti sampai di kota karena wisatawan sering menggunakan jasa paket wisata yang kebanyakan diatur oleh pengusaha pariwisata di kota. Akibatnya penduduk di perdesaan nyaris tidak mendapat sepeser pun keuntungan. Mereka hanya menjadi obyek wisata dan bahkan harus mengeluarkan ongkos untuk menjaga agar lingkungan tetap eksotis di mata wisatawan.

Akibat kebijakan yang terus menerus dilakukan tanpa melihat kenyataan dan masa lalu Bali, hingga kini masyarakat di Bali merasa tidak sanggup hidup tanpa pariwisata.

Sebagai akademisi, Pak Didid menganjurkan untuk me-rekonstruksi Bali kembali bukan dari sudut pandang warisan kolonial ataupun dari pemerintah melainkan dari sudut pandang Bali sendiri. “Ini bukan saja tentang Bali. Melainkan tentang bagaimana kita menjadikan Indonesia yang baru. Ini tentang keterbukaan, kita harus melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia beragam. Jadi ini juga soal pluralisme”, tegas Pak Didid.

Konsep “Indonesia in the making” menurut Pak Didid, adalah tanggung jawab bersama, bukan melulu kepentingan sekelompok elit pemerintah. Dalam hidup sehari-hari, Pak Didid mengajak kita untuk menerjemahkan keindonesiaan seturut kemampuan masing-masing. 

Membuat kelompok baca buku seperti KBK adalah salah satu keikutsertaan yang positif dalam membangun Indonesia.“Karena komunitas buku adalah salah satu lokomotif perubahan,” ujar Pak Didid.

Waduh, tentu saja kami bangga mendengarnya. Namun, bukan itu saja yang membuat kami senang. Semua yang hadir merasa semakin terbuka mata dan pikirannya setelah mendengar dan berdiskusi dengan Pak Didid.

“Sungguh bersyukur saya bisa ikut mendengar Pak Didid bicara,” begitu kata Lisa. Yang lain pun mengamini dan berharap Pak Didid bersedia hadir lagi dalam pertemuan KBK yang akan datang.

Apa jawaban Pak Didid? “Ya, tentu saja saya mau, asal ada kacang rebus lagi,” katanya melalui pesan di telepon genggam. Baik, Pak, nanti pasti kami sediakan  :)

Di penghujung acara, kami membagi doorprize. Arfi beruntung mendapatkan pembakar dari Bali. Senyumnya sumringah saat namanya disebut sebagai pemenang doorprize,

  


Kami juga memberi ucapan terima kasih pada Pak Didid berupa bumbu pecel Gentong dan bubuk Jahe Merah. 


Pak Didid sendiri memberikan kenang-kenangan berupa dua buku tentang keindahan Indonesia kepada KBK yang selanjutnya disumbangkan kepada Perpustakaan Sekolah Citra Alam Ciganjur. Terima kasih, Pak Didid.

Dari Pak Didid ke KBK diterima Lisa

Dari Lisa ke Sekolah Citra Alam Ciganjur diterima ibu Anisa

Berikutnya adalah sesi foto bersama, sampai bertemu di bulan Februari :)



Monday, January 27, 2014

Kisah Anak yang Tak Terlahir

Oleh: Fertina Nurisa Mitra

Judul: Doa Ibu
Penulis: Sekar Ayu Asmara
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2009
Tebal: 270 hal.

Melihat judulnya, Doa Ibu, bukan berarti buku ini mengisahkan cerita haru biru antara anak dan Ibu. Sang penulis, Sekar Ayu Asmara, meyakinkan itu. Di balik judulnya yang manis, Doa Ibu merupakan kisah berjenis misteri yang akan semakin memunculkan misteri di tiap babnya.

Kisah ini berpusat pada dua tokoh utama; Ijen dan Madrim. Ijen adalah seorang pemuda berumur sekitar 25 tahun yang merupakan seorang pelukis dan tinggal bersama keempat temannya sesama pelukis. Sedangkan Madrim adalah istri seorang ternama dan terpandang. Ia punya satu anak yang sedang menapaki karirnya. 


Awalnya kedua tokoh utama ini sama-sama memiliki kehidupan yang sempurna dan bahagia. Tetapi setelah masing-masing mengalami satu kejadian, pelan-pelan hidup mereka yang sebenarnya mulai terungkap dan meluluhlantahkan fakta kehidupan mereka. 

Dimulai dengan pernikahan sahabat Ijen yang bernama Khaled dengan Dewanti. Ketika prosesi resepsi belum juga rampung, tiba-tiba lampu ruangan padam dan saat itu Dewanti tiba-tiba menghilang di depan ratusan pasang mata. 


Sementara itu dalam kehidupan Madrim, ketika semua berjalan dalam kendalinya, tiba-tiba suaminya yang sudah ia nikahi selama 20 tahun meninggal. Di hari pemakaman suaminya, tiba-tiba pula datang seorang wanita dan seorang anak yang menyebut suaminya dengan sebutan "Ayah".  Kejadian yang tidak pernah Madrim sangka selama usia pernikahan mereka.

Ijen mencari kehilangan Dewanti yang berakibat bunuh diri pada sahabatnya, Khaled. Pencarian Ijen menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serta misteri-misteri baru. Bukan menghasilkan, melainkan membuat Ijen semakin kehilangan. Satu-persatu sahabatnya ikut raib. 


Sedangkan, Madrim sebaliknya. Semakin ia mencari kebenaran yang hakiki dari kebohongan suaminya selama sepuluh tahun, ia semakin menemukan makna yang sebenarnya di balik itu semua - di balik kematian suaminya dan di balik kesedihan putri semata wayangnya, Sinta. 


Yang paling menimbulkan misteri di antara semuanya, rupanya hanya Ijen yang bisa mendengar suara "ruh" yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya hingga ada suatu kejadian yang menjelaskan semuanya.
            
Alur dalam buku ini sangat dijaga oleh penulisnya, dari awal sampai akhir ketegangan terus meningkat. Penulis banyak memberikan "bumbu" misteri yang selalu menimbulkan pertanyaan. Ketika intensitas semakin tinggi, kita akan sulit melepas kisahnya. 

Mungkin awalnya, kita akan terkesan membaca kisah horor, terlebih saat sampai di tengah cerita. Tapi justru itu salah satu "bumbu" yang melengkapi satu sama lain, hingga menghasilkan kisah misteri.

Penulis juga sangat piawai menyimpan jawaban. Ia tidak mau memanjakan pembaca dengan jawaban meski pada pertanyaan kecil atau selintaspun. Sebaliknya, penulis membebaskan pembaca dengan imajinasi dan pemikirannya, sebelum akhirnya ia berikan jawabannya. Menarik.



Sebagai tambahan, jika belum mengenal Sekar Ayu Asmara, dia lah penulis buku dari salah satu film thriler di Indonesia berjudul Pintu Terlarang dan penulis naskah dari film berjudul Biola Tak Berdawai. Sebelum membaca buku Doa Ibu, terlebih dahulu saya membaca Pintu Terlarang. 

Meski punya genre yang berbeda, Doa Ibu bergenre misteri dan Pintu Terlarang bergenre psychological thriller, tetapi kedua buku ini sama-sama menarik. Sama-sama menegangkan, sama-sama menimbulkan pertanyaan dan penasaran; juga sama-sama punya jeroan yang mirip. Sang penulis selalu memasukan unsur seniman, kesenian, wartawan, dan humanisme ke dalam ceritanya. 


Buat, saya buku ini sangat menghibur dan juga memuaskan hasrat saya akan buku bacaan misteri, terlebih yang saya jarang temui untuk karangan penulis Indonesia.*


Melawan Dengan Restoran atau Pulang?

Oleh: Lisa Soeranto

Mana yang dulu ada : telur atau ayam? Pertanyaan atau tebak-tebakan ini juga berlaku untuk memilih antara membaca novel dengan latar belakang sejarah atau membaca sejarahnya dulu.

Saat membaca Pulang, karya Leila S. Chudori yang diterbitkan KPG pada 2012 lalu, semua yang tergambar dalam benak adalah perluasan imajinasi tokoh-tokoh nyata dan kehidupan nyata kaum eksil. Di bagian akhir buku, Leila menyatakan mendapatkan inspirasi cerita dari tokoh-tokoh asli di balik pendirian restoran bernama "Indonesia" di tengah kota Paris, Prancis, surganya kaum eksil negara mana pun kala itu.

Membaca novel berlatar belakang historis bisa jadi memberi gambaran yang lebih hidup tentang suasana sejarah di masa tertentu, meski menjadi tak jelas, bagian mana yang sesuai, dan mana yang lebay. Penulis novel tentu berhak memberi bumbu rahasia agar "masakannya" memiliki aroma dan rasa khas yang tidak dimiliki penulis lain.

Semua alur yang ada dalam Pulang adalah alur kejadian dari kisah Sobron Aidit (adik kandung D.N. Aidit) dan kawan-kawan. Tentu sekali lagi dengan penyangatan di beberapa plot untuk dramatisasi dari kejadian sesungguhnya.

Saya tak akan menyoroti Pulang seperti para peresensi terampil lain, karena resensi bukan keahlian saya sama sekali. Kemampuan saya hanya merasakan apa efek buku terhadap saya sebagai pembacanya. Apa yang saya rasakan saat dan/atau setelah membaca sebuah buku.

Seperti nasehat seorang guru, kyai di Jawa Timur, yang mengingatkan bahwa mempelajari ilmu dari seorang alim (alim berarti yang benar-benar berilmu) tidak boleh, ibaratnya, hanya sekedar diminum lalu disemprotkan isinya ke luar. Namun harus diminum, dirasakan di lidah, lalu ditelan. Sehingga ilmu itu menjadi bagian dari diri kita untuk kemudian diamalkan. Bukan sekedar dipelajari untuk langsung dipakai menunjuk (biasanya kesalahan) orang lain.

Ilmu dipelajari untuk menganalisa diri sendiri, sehingga menjadi bagian dari edukasi diri, yang akan mengubah perilaku diri sebagai pembelajar yang bisa berkembang menjadi orang yang lebih baik. Dalam psikologi, ini disebut dengan istilah internalisasi (tidak berhenti pada kemampuan mengakuisisi ilmu pengetahuan); menjadi berperilaku lebih baik adalah tujuan dari sebuah pembelajaran.

Jadi, saat membaca Pulang, saya langsung mengaitkan dengan salah satu  buku rujukannya berjudul: Melawan Dengan Restoran - Kisah Sobron Aidit dan Kaun Pelarian G 30S PKI di Perancis terbitan MediaKita pada 2007. Saya baca buku itu sekitar satu tahun lalu.

Secara otomatis, saya juga mencoba memilah mana yang sesungguhnya terjadi dan mana yang merupakan bagian dari romantika yang dibangun penulis. Kehidupan percintaan tokoh-tokohnya, menurut saya, menjadi terlalu "khas Prancis" dengan bumbu di ruang yang privat. Mungkin saja, itu untuk menggambarkan suasana Paris sebagai kota romantis, atau juga untuk menguatkan karakter (petualang, nyentrik, atau "nyeni") dari para tokoh.

Dengan pernyataan itu, saya sesungguhnya ingin menyatakan betapa riskannya jika kita membaca sebuah novel berlatar belakang sejarah, tanpa memiliki pengetahuan cukup tentang sejarah yang dimaksud.

Novel adalah buku kedua yang boleh dibaca setelah kamu membaca sejarah asli. Atau, segera cari tahulah sejarah yang sesungguhnya begitu selesai membaca novel sejarah. Seringkali imajinasi bisa menjadi fakta yang seolah hidup nyata jika didongengkan terus menerus di otak kita. Padahal itu hanya fakta dalam ruang imajinasi penulis atau petutur cerita.

Kurang lebih begitu.

Meskipun perlu kehati-hatian lagi, karena sejarah seringkali juga dituliskan oleh si penguasa dengan vested interest masing-masing, namun ada cukup banyak rujukan yang bisa memberi jalan tengah untuk memahami kejadian sesungguhnya (biografi atau otobiografi, atau bahkan kesaksian).

Melawan Dengan Restoran (MDR) karya Sobron Aidit dan Budi Kurniawan adalah sebuah buku berukuran unik (18,7cm x 11,7 m) setebal 154 halaman. Ia ditulis dengan alur dan kisah yang melompat-lompat.

Kelemahannya adalah kurangnya detil yang menggambarkan apa dan bagaimana perjuangan sesungguhnya selain perjuangan untuk tetap bisa hidup di negara asing. Pastinya ada nilai-nilai perjuangan yang bisa dikuak, yaitu perjuangan asasi nilai kemanusiaan yang berhak untuk menorehkan sejarahnya sendiri.  

Tapi beberapa detil yang kurang pada MDR bisa kita temui dalam Pulang. Meskipun sekali lagi, tak dipungkiri akan ada banyak dramatisasi atau imajinasi yang dibuat seolah nyata.

Kedua buku itu menjadi lebih nendang jika kita pernah merasakan auranya secara langsung. Entah saat hidup di era Orde Baru pasca Pemberontakan PKI 1965 saat era Restoran Indonesia berjuang mempertahankan diri dari stigma dan teror (dalam Pulang, diberi nama Restoran Tanah Air). Atau saat titik perubahan Ode Baru ke Era Reformasi yang ditandai dengan demonstrasi 1998.

Pada akhirnya kita harus mau melangkah pada pertanyaan yang lebih dalam, dari sekedar kesenangan membaca sebuah kisah, yaitu: apa yang bisa dipelajari dari ini semua? Setelah tahu ada ketidakadilan, kesedihan, kesengsaraan, apa yang bisa kita bangun untuk memperbaiki keadaan?

P.S.: Terimakasih Tata atas pinjaman novel Pulang.



Wednesday, January 8, 2014

Pertemuan KBK #Desember 2013 : Bicara Buku Anak dengan Pak Surasono

Oleh: Elisabet Tata


Klub Buku Kita (KBK) menutup tahun dengan pertemuan yang istimewa dan menyenangkan. 
Tema kali ini adalah tentang buku cerita anak. Masing-masing anggota yang hadir akan berbagi cerita tentang buku cerita anak favorit. 

Kami bertemu di kediaman keluarga Agung & Tita di Bekasi. Perjalanan cukup lancar berbekal petunjuk dari Tita, jarak tempuh dari meeting point di SPBU Fatmawati sekitar satu jam saja dengan kecepatan rata-rata 80km/jam sambil ngobrol di jalan.

Ada limabelas orang yang hadir dalam pertemuan KBK kali ini. Mereka adalah: Bintang, Tata, Lisa, Alifah, Furqon, Fachmi, Debby, Fatimah, Lis, Fertina, Ninda, Agung, Tita, Surasono, dan Sigid. Kami duduk santai di atas tikar yang digelar di ruang depan yang luas.

Yang membuat istimewa kali ini adalah kehadiran Surasono I. Soebari, penulis senior yang sudah berkiprah di dunia jurnalistik selama 30 tahun lebih. Pak Surasono, begitu kami memanggilnya, rencananya akan bicara tentang buku anak yang menjadi tema pertemuan kali ini. Sekedar informasi saja, selain sebagai jurnalis, Pak Surasono sudah menulis belasan buku baik buku anak, biografi, maupun pengetahuan populer.

Pak Surasono

Pada sekitar 1970-1980an, buku-buku anak karya Pak Surasono diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan menjadi buku ajar wajib di sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Buku terakhir karya Pak Surasono berjudul: “Pensiunpreuner: Pensiun Sukses” yang diterbitkan Penerbit Penebar Swadaya pada 2008 telah mengalami cetak ulang hingga tiga kali.

Dua buku karya Pak Surasono yang diterbitkan Diknas

Baiklah, kita kembali ke pertemuan KBK di Bekasi.

Ada tiga bagian dalam pertemuan kali ini. Yang pertama, acara kuliner. Sejak awal, setiap pertemuan KBK, acara ini sebenarnya selalu ada terselip di sela bedah buku. Meski soal kuliner disebut bukan yang utama kenyataannya, nyaris di setiap pertemuan kuliner menjadi acara favorit.

Sebagaimana kesepakatan pada awal mendirikan KBK, penganan yang tersaji dalam pertemuan sebisa mungkin adalah yang lokal. Ini dilakukan untuk turut mendukung gerakan locavore – suatu gerakan untuk kembali pada pangan lokal yang dilakukan oleh sekelompok kecil aktivis peduli pangan lokal.

Oleh karenanya, dalam setiap pertemuan, anggota KBK didorong untuk mengenal dan mau mengonsumsi camilan tradisional yang berasal dari pertanian lokal. Lisa, misalnya, membawa nasi sorgum.

Sorgum adalah tanaman rumput-rumputan yang penampakannya mirip tanaman jagung, karenanya ada yang menyebutnya sebagai jagung cantel. Peneliti menemukan ada 55 jenis sorgum. 

Jika ingin tahu penampakan sorgum, ini dia: 


Sorgum berasal dari pantai selatan Laut Tengah. Tak heran jika sorgum dikonsumsi dan bahkan menjadi bahan pangan penting di beberapa wilayah di Afrika dan Asia. Biji-biji sorgum diolah menjadi bahan pangan bagi ternak maupun manusia. Bisa diolah seperti nasi, dijadikan tepung untuk bahan kue, bahkan menjadi sirup untuk jenis sorgum yang manis.

Sebenarnya sorgum bisa dijadikan pangan alternatif pengganti beras. Kandungan proteinnya sekitar 10-11% lebih besar dibanding beras yang hanya 6-8% ataupun jagung yaitu 9%. Sorgum juga kaya vitamin B kompleks,  

Masih banyak anggota KBK yang belum kenal sorgum. Meski tidak banyak yang disajikan, kami bergantian mencicipinya. Lisa juga membawa biji sorgum yang masih mentah sehingga kami bisa memegang dan mengenal tekstur biji.

Saya sendiri membawa beberapa jajan pasar, ada nasi tiwul, cenil, jongkong, klepon, getuk, dan ketan hitam. Tidak banyak juga, tapi cukup untuk sekedar mengobati rasa ingin tahu. Camilan tradisional lain yang disajikan adalah cucur.

Nasi sorgum (dalam wadah merah) dan beragam jajan pasar

Eh, tapi di sela makanan tradisional, Ninda - putri Pak Surasono membawa kejutan manis yaitu seloyang apple struddle bikinannya sendiri. Ini camilan orang Austria dan sangat populer di Eropa. Camilan ini mengingatkan saya pada salah satu lagu dalam filem klasik "The Sound of Music" berjudul "My Favourit Things". Salah satu liriknya mengatakan bahwa apple struddle adalah makanan kesukaan Maria, si pengasuh anak yang baik dan pintar bernyanyi itu. 

Ini penampakan apple struddle bikinan Ninda; mau tahu rasanya? Sungguh lezat! 



Sesudah kehebohan soal kuliner di awal pertemuan, acara berikutnya adalah obrolan soal buku dan penulis. Pak Surasono menjadi pembicara utama kali ini. Beliau membagikan kertas berisi ringkasan pembicaraannya hari itu. Kami salut melihat kesungguhan beliau mempersiapkannya untuk acara ini.

Pak Surasono bilang, cerita anak adalah cerita yang ditulis untuk anak, berbicara tentang kehidupan anak dan sekitarnya. Ia berisi pesan moral seperti kejujuran, persahabatan, keberanian, dedikasi, kerja keras, petualangan, maupun bagaimana menghormati orang tua. Sebagai penulis anak, Pak Soerasono menegaskan bahwa cerita anak itu, “Ibarat obat yang bersalut gula,” katanya.

Keberadaan cerita anak, menurut Pak Surasono, sangat penting karena meletakkan pondasi atau dasar untuk bekal si anak dalam meniti kehidupan. Pak Surasono lantas memaparkan hasil penelitian psikolog Harvard University, David McClelland dalam bukunya “The Achieving Society”.

Di buku tersebut, McClelland menyebutkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang sempurna, masyarakat memerlukan tiga motivasi yaitu motivasi untuk berprestasi (virus n-Ach), motivasi untuk berkuasa (n-Pow), dan motivasi untuk berafiliasi/bersahabat (n-Afil).

Usai meneliti dongeng dan cerita anak di Inggris dan Spanyol, McClelland menyimpulkan bahwa dongeng yang mengandung virus n-Ach mampu membangkitkan motivasi dan semangat bagi generasi mendatang. Jenis bacaan yang dibaca saat kanak-kanak dipercaya mampu menentukan kemajuan dan kemunduran bangsa di masa depan.

Pak Surasono mengaku senang bisa ikut dalam pertemuan KBK yang bertemakan cerita anak kali ini. Ia sungguh berharap agar semua anak-anak Indonesia bisa membaca buku-buku bacaan yang bermutu untuk kehidupan bangsa yang lebih baik di masa mendatang.

Saat ini, Pak Surasono sedang mempersiapkan satu novel yang bisa dibaca oleh remaja hingga orang dewasa. Novel itu bertemakan semangat pantang menyerah dan toleransi. Dua hal yang relevan untuk menyikapi kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang majemuk ini. Kita nantikan terbitnya ya..


Suasana Diskusi

Usai diskusi dengan Pak Surasono soal buku anak. Secara bergantian kami saling berbagi cerita soal isi buku anak yang kami bawa. Masing-masing bicara, masing-masing turut berkomentar. Ternyata buku anak yang kami bawa cukup beragam. Seringkali kami tergelak karena cerita anak sungguh menarik dan lucu.

Searah jarum jam: Fertina, Lis, Furqon, dan Lisa

Waktu berlalu tak terasa sudah saatnya untuk makan siang. Kami jeda sejenak untuk menikmati sup padang yang sudah disiapkan tuan rumah. Sembari makan, kami mengobrol sana sini.

Usai makan siang, acara berlanjut dengan lebih santai. Beberapa masih asyik mengobrol, tapi ada satu lingkaran kecil di salah satu sudut ruang. Rupanya mereka menggelar kursus singkat merajut. Asyik sekali melihat mereka merajut.


Sebelum pertemuan diakhiri, doorprize diundi. Pak Surasono berbaik hati menyumbang buku karyanya berjudul “Pensiunpreuner: Pensiun Sukses”. Debby beruntung mendapatkannya. 


Pertemuan di Bekasi ini kiranya jadi penutup tahun yang manis bagi KBK. Kami bersenang-senang sekaligus memperluas wacana tidak hanya soal bacaan anak, tapi juga soal kuliner tradisional plus ketrampilan merajut. Seperti biasa, kami membawa pulang makanan yang tidak habis dimakan. 


Dan inilah sesi foto bersama yang selalu dinanti


Terima kasih Tita dan mas Agung sebagai tuan rumah, terima kasih untuk kehadiran teman-teman, terima kasih Pak Surasono, terima kasih Ninda untuk seloyang apple struddle yang lezat :)

Sampai bertemu di 2014!